Perjuangan Haru Menuju Merbabu [Bagian 3]: Kepingan Surga di Kentheng Songo

Tetap eksis meski tiris

Tetap eksis meski tiris

Mendekati puncak, hujan berangsur reda, tepatnya saat kami tiba di titik pendakian yang berbatu-batu itu. Gue seneng banget bisa lepas dari jeratan jas hujan yang membatasi dan merepotkan mobilitas gue.

Tak ada lagi hutan. Kini kami berjalan melalui jalan setapak yang terjal dan berbatu-batu, sementara tanaman-tanaman rendah ada di kanan dan kiri kami, tumbuh menyelimuti tanah hingga sampai ke bawah lembah sana.  Seiring dengan ketinggian yang semakin bertambah, semakin indah pulalah panorama yang terbentang di depan mata kami. Tingkap-tingkap langit mulai terbuka. Tak tampak lagi mendung yang bergelayut di atas kepala kami. Sepertinya Merbabu tak lagi malu-malu, saat langit biru berpadu dengan kabut tipis dan hamparan hijau yang membius kalbu.

 

Momen-momen hore saat berada di jalur bonus Merbabu.

Momen-momen hore saat berada di jalur bonus Merbabu.

Menit-menit menuju puncak, kami dipertemukan dengan medan terjal dan berbatu-batu, namun masih dapat dilalui dengan cukup mudah. Sendal gunung merek lokal yang gue pakai mampu menapak dengan cukup kuat tanpa tergelincir di setiap bebatuan.

Kami kemudian sampai di sebuah padang sabana yang membekukan indra. Cakep banget! Bayangkan hamparan sabana yang hijau menyelimuti tanah bergelombang. Bergoyang pasrah dibelai sang bayu. Gunung Merapi yang berdiri tenang, mengamati dari kejauhan. Berlatarkan tirai biru raksasa dan deretan awan yang membubung di udara bagai ombak imajiner yang bergulung di samudera khayangan.

Oke, nggak usah dibayangin, gue kasih aja fotonya.

Padang sabana di persimpangan Puncak Syarif dan Kentheng Songo, Merbabu.

Padang sabana di persimpangan Puncak Syarif dan Kentheng Songo, Merbabu.

Di kloter pertama ini, gue tiba bersama mas Hery, Aji, Mpok, Ipin, dan Rini. Kloter selanjutnya mungkin masih ngurus tiket pesawat ke Mekkah. Membuyarkan kami yang terpana dengan panorama dan ditenggelamkan dalam Lautan Selfie, sebuah suara berseru-seru memanggil-manggil kami dari kejauhan.

Ah, itu mas Adi. Berdiri di Puncak Syarif bersama Vandra dan regu Jawa Timuran.

“Kentheng Songo masih lurus terus!” teriaknya. Hebat, suaranya terhantar sempurna sampai ke tempat kami.

Mungkin kami dikira kebingungan ya. Saking lamanya berdiam diri.

Tergoda, Mpok kemudian menyusul mas Adi ke Puncak Syarif, menyeret Aji, Ipin, dan Rini bersamanya. Gue? Makasih deh, di sini aja udah cukup. Terpaku memandangi lukisan agung Tuhan Yang Maha Terpuji. Menikmati menit-menit keringat yang lenyap terangkat angin semilir. Rebahan di atas permadani sabana berbantalkan keril-keril yang ditinggalkan pada kami. Iya, kami, gue dan mas Hery yang nyaris melayang terbawa angin.

*kemudian disambit*

Saat tingkap langit mulai terbuka - Gunung Merbabu

Saat tingkap langit mulai terbuka – Gunung Merbabu

Lepas dari zona nyaman sabana, langkah kami menuju Puncak Kentheng Songo kemudian terhambat dengan sebongkah tebing batu yang ujug-ujug nongol di ujung jalan kenangan.

Gue melongo.

INI SIK KUDU CLIMBING!

Jembatan Setan belum ada apa-apanya dibandingkan dengan tebing berbatu yang berdiri gagah menghadang langkah kami menuju puncak. Gue mencoba memanjat naik, mempertimbangkan kondisi, lalu tersenyum kecut melihat secuil bidang berbatu yang miring dan hanya bisa dilalui oleh satu kaki. Gue dan mas Hery tiba lebih dulu, sementara yang lain masih tertinggal cukup jauh di belakang.

MANA YANG KATANYA MAU NUNGGUIN TEMENNYA? HAH? *ngomong sama layar henfon*

Gue clingak clinguk nggak jelas, ragu memilih batu mana yang harus gue jadikan tempat berpijak. Membaca keraguan gue, mas Hery berinisiatif untuk naik lebih dulu. Dua langkah pertama memang mudah, karena ada bebatuan yang masih cukup aman untuk dipijak. Nah, meniti tebingnya itu yang menantang! Kaki, tangan, dan mata harus bekerjasama untuk membawa tubuh merayap menuju titik aman. Dari bawah, gue melihat mas Hery beringsut dengan hati-hati, bergerak ke kiri dengan perlahan tapi pasti.

Bersetubuh dengan bumi - Gunung Merbabu

Bersetubuh dengan bumi – Gunung Merbabu

Gue mengikuti langkahnya kemudian. Sempat deg-degan saat berada di bagian yang paling sulit karena gue salah mengambil langkah. Ransel berat yang terpanggul di balik punggung membuat bagian ini lebih menantang lagi. Kalau lengah, tubuh akan mengalah dengan beban tas dan jatuh bebas ke bawah. Syukurlah gue dapat memperbaiki posisi kaki, sehingga dapat kembali merayap sampai titik aman.

Kami meletakkan keril-keril kami di atas bebatuan. Rombongan mulai berdatangan satu per satu. Kami bekerjasama, menerima uluran backpack dari anggota yang lain untuk kami letakkan di titik aman lebih dulu, sehingga mereka dapat meniti tebing dengan lebih mudah. Kami mengambil posisi di beberapa titik yang berbeda untuk mengoper barang-barang bawaan dan membantu teman-teman melalui jalur jahanam ini. Gue berjaga di titik aman, siap mengulurkan tangan pada siapa saja yang membutuhkan bantuan untuk naik ke atas. Duh, anaknya cari aman banget, hihihi.

Syukurlah, semua member dapat melalui medan menantang itu dengan selamat, termasuk bang Pandu yang tubuhnya memang paling berkembang di antara kami semua.

Guyon lho, mas.

Perjuangan kami berbuah manis. Dia tidak mendusta. Karena lepas dari momen-momen genting di dalam pendakian, Puncak Gafatar / Kentheng Songo menghadiahi kami dengan panorama gunung terbaik yang pernah ada dalam hidup. Cungguh.

Terharu di Puncak Merbabu

Terharu di Puncak Merbabu

Ini adalah sebuah hasil yang melampaui ekspektasi. Selimut hijau yang membalut punggung pegunungan. Gunung-gunung yang menyembul menggapai langit. Awan-awan putih yang bergulung menembus pegunungan. Bernaungkan langit sayu yang memadukan warna biru dan kelabu.

Di dalam hati, tebersit sebait puji pada Ilahi atas pencapaian ini. “You made it, Gie!”

Rasa syukur dan sukacita meluap menjebol tanggul diri. Sang pengabadi imaji mulai beraksi. Dari Puncak Kentheng Songo ini, hingga Puncak Triangulasi.

Semua perjuangan pun terbayar lunas di Puncak Gunung Merbabu.

Semua perjuangan pun terbayar lunas di Puncak Gunung Merbabu.

Punggung pegunungan dan awan yang berkejar-kejaran dari Puncak Gunung Merbabu.

Punggung pegunungan dan awan yang berkejar-kejaran dari Puncak Gunung Merbabu.

Bergantian, kami berfoto. Sendiri. Keroyokan. Pegang papan. Pegang spanduk. Berbagai pose. Berbagai ekspresi. Sampai bikin video. Biar bisa jadi seleb instagram.

Puas memenuhi panggilan eksistensi diri, kami segera menuruni puncak tanpa repot-repot menunggu momen matahari lenyap dari bumi.

Penuh kemenangan di Puncak Gafatar / Kentheng Songo

Penuh kemenangan di Puncak Gafatar / Kentheng Songo

Foto sendiri di Puncak Triangulasi, Gunung Merbabu.

Foto sendiri di Puncak Kentheng Songo Gunung Merbabu.

BACKSTRIP di Puncak Triangulasi, Gunung Merbabu.

BACKSTRIP di Puncak Triangulasi, Gunung Merbabu.

Foto keroyokan di Puncak Kentheng Songo, Gunung Merbabu.

Foto keroyokan di Puncak Kentheng Songo, Gunung Merbabu.

Nggak seperti saat mendaki naik, kami turun melalui Jalur Selo. Jalur ini beda banget dengan Jalur Wekas. Alih-alih terjal dan berbatu, Jalur Selo ini justru diisi dengan turunan curam dan lapisan tanah basah. Bikin frustasi deh!

Medan seperti Jalur Selo ini memang menguji kesabaran. Mau jalan cepat, nggak bisa. Mau perosotan atau gelundungan sampai bawah, juga nggak bisa. Kami harus berjalan timik-timik melalui turunan curam, banyak menggunakan otot paha untuk menahan beban tubuh dan melawan gravitasi. Menit-menit pertama, oke, masih cukup sabar. Ngedumelnya cuma di dalam hati, atau di status twitter. Lama-lama…

“AAARRRGGGHHH!!!”

“Anjrit!”

“Dooohhh!”

“Sialan!”

“Ra uwis-uwis!”

Menuruni Jalur Selo yang bikin frustasi! - Gunung Merbabu

Menuruni Jalur Selo yang bikin frustasi! – Gunung Merbabu

Gue berjalan beriringan bareng Aji, Jabbar, mas Hery, dan Nico. One Direction formasi baru. Saling ngetawain, saling membalas umpatan, saling lempar-lemparan kantong sampah. Member yang lain menyusul saat kami kelamaan istirahat di sebuah tanah lapang sebelum menyambut turunan berikutnya. Astagfirullah.

Saat gelap mulai merambat, kami beristirahat. Menggelar matras di Sabana Dua, di tengah tenda-tenda para pendaki yang lain. Kami keluarkan nesting, kompor, bahan makanan, lalu masak mi rebus. Lalu ngopi-ngopi. Lalu tiduran. Lah. Namun karena anak-anak barisan berikutnya nggak nyampai-nyampai, Vandra menyarankan kami — Nico, Jabbar, gue, mas Hery, Aji, Mpok, Kiki, Rini, Ipin, Ikhsan, Alvin — melanjutkan perjalanan ke basecamp Selo lebih dulu. Sementara Vandra sendiri dan Doni bertahan di Sabana, menunggu anak-anak yang lain.

“Medannya masih kayak gini nggak, mas?” tanya gue sama Vandra.

“Errr, nanti turunan curam dikit lagi, terus naik dikit, turunan dikit lagi, terus landai kok.”

Yah, semoga memang seperti itu.

Perjalanan menuruni Merbabu melalui Jalur Selo semakin merepotkan karena dilakukan dalam gelap berbekalkan headlamp. Kepala gue capek terus-terusan jalan sambil agak  nunduk biar sinar lampunya menerangi jalanan. Turunan semakin curam, hingga kami harus berjalan sambil berpegangan pada tanah dan merosot hati-hati. Gue udah nggak peduli lagi dengan lumpur yang nempel di telapak tangan, celana, atau keril. Aku lelah. Kami bahkan sempat berputar balik karena melalui jalur yang salah, berujung pada turunan yang sudah terlalu curam untuk dilalui.

MANA YANG KATANYA LANDAI?

Kami terus berjalan, semakin menjauhi Sabana Dua. Namun kami tak kunjung sampai ke Basecamp Selo, kami mulai kehabisan tenaga. Entah udah jam berapa, tapi kedua paha gue rasanya pegel banget. Langkah mulai lunglai, berjalan lemas menuruni gunung. Jalan dikit, istirahat. Jalan lagi sepelemparan batu, selonjoran. Nemu bidang lapang lagi, istirahat lagi.

 

Minggu, 3 Mei 2015

Lalu, setelah perjalanan monoton selama berjam-jam tersebut, kami tiba di Pos 1 dan akhirnya memasuki medan yang lebih bersahabat. Beberapa puluh menit kemudian, kami akhirnya bertemu dengan rumah-rumah penduduk dan resmi tiba di Basecamp Selo. Kantong sampah berat yang beranak pinak itu pun dilemparkan ke tempat pembakaran dengan penuh rasa lega.

Kami masuk ke sebuah rumah basecamp yang sudah disepakati di Sabana Dua tadi. Gue lupa namanya, pokoknya di kiri jalan kalau dari arah puncak dan memiliki tiga ruang besar untuk menampung para pendaki. Meski sebenarnya sang pemilik rumah sudah mengatakan basecamp nggak bakal cukup muat untuk menampung kami semua, tapi kami toh tetep masuk juga.

Pagi hari di basecamp Selo, Gunung Merbabu.

Pagi hari di basecamp Selo, Gunung Merbabu.

Pertama-tama kami berkumpul dalam satu ruangan besar di sisi paling kiri, meletakkan keril dan meluruskan kaki. Beberapa dari kami, termasuk gue, bahkan memesan sepiring nasi goreng dan teh manis panas untuk dinikmati sebelum lelap dalam tidur. Iseng-iseng cek, rupanya saat itu sudah lewat dari jam 2 pagi. Dahsyat memang, kami menuruni gunung selama nyaris 12 jam! Sekitar 10 jam mungkin. Entah medan pendakian yang susah, atau kaminya aja yang Pecel Lela — pendaki cepat letih, lesu, lambat.

Sambil menunggu pesanan datang, gue ngibrit ke kamar mandi yang ada di luar sisi kanan rumah. Akhirnya, setelah sepanjang perjalanan menahan kentut dan rasa mules, gue lega bisa mengeluarkan “sampah-sampah” itu tanpa hambatan, nggak peduli kalau gue harus mengeluarkan suara-suara gaib dan bisa didengar nyaring oleh siapapun yang lagi mandi di bilik sebelah.

Selesai menikmati nasi goreng yang sebenarnya biasa-biasa aja tapi mendadak terasa begitu nikmat, kami mulai mengatur posisi. Mpok, Kiki, Jabbar, dan Ipin bertahan di ruangan ini. Gue, Aji, dan Nico umpel-umpelan di satu ruang tambahan di bagian dalam. Sementara Rini pasrah merebahkan diri di sofa ruang tengah.

Sial banget saat gue buka keril dan mendapati kenyataan bahwa botol air mineral yang ada di dalam terbuka dengan sendirinya. Kemungkinan terdesak oleh barang-barang yang lain, lalu penutupnya terlepas dari kepala botol. Hasilnya? Sleeping bag gue basah. Barang-barang lain juga basah dan berbusa karena bercampur dengan sabun cair sachet yang sebagian isinya meluber keluar karena tergencet. Malam itu, kembali gue tertidur kedinginan beralaskan matras di atas sebidang dipan kayu yang keras.

 

Gue terbangun saat anggota yang lain sudah menyibukkan diri di ruangan utama. Hari sudah beranjak siang, dan mereka harus buru-buru mengejar waktu ke Stasiun Lempuyangan untuk kembali ke Jakarta. Kami sarapan dengan mi instan pagi itu. Rombongan yang tertinggal di belakang juga akhirnya tiba beberapa saat kemudian, kemungkinan mereka bermalam dan baru melanjutkan perjalanan saat pagi.

Bersiap menunggu elf. Oke, gue emang sadar kamera.

Bersiap menunggu elf. Oke, gue emang sadar kamera.

Namun elf yang harusnya membawa kami ke Jogja siang itu sedikit bermasalah, tiba-tiba meminta harga lebih yang berada di luar anggaran kami. Kondisi ini memaksa kepulangan kami sedikit tertunda karena harus mencari elf pengganti. Kami bergerak pergi meninggalkan Selo sekitar pukul 14.00 dengan sebuah elf yang dapat menampung kami ber-14 sekaligus. Mas Tigor dan anggota dari Jawa Timur lainnya — Vandra, Doni, Ikhsan, dan Alvin — sudah lebih dulu undur diri.

Kami tiba di Jogja hanya beberapa menit sebelum keberangkatan kereta api Gaya Baru Malam. Sementara mereka masuk ke dalam Stasiun Lempuyangan, gue berpamitan dan melanjutkan perjalanan ke agen bus Bandung Express di timur Tugu Pal Putih dengan ojek seharga Rp 15.000,00. Mihil.

Lalu, ehem, kembali demi mempersingkat waktu, ada baiknya perjuangan gue kembali ke Bandung ini gue ceritakan secara singkat dalam poin-poin berikut.

  • Tiba di agen Bandung Express, ternyata kantor agennya sudah nggak ada! Sia-sia gue bayar 15rebu!!!
  • Naik TransJogja ke Stasiun Tugu.
  • Salah turun! Harusnya turun di Halte Malioboro 1 aja, tapi malah turun di Pasar Kembang. Harus jalan kaki lagi deh.
  • Sampai di Stasiun Tugu, panik karena semua kereta ke Bandung udah habis! Duh, kenapa gue tadi pakai sok-sok nolak saat mas Ihsan nunjukkin kereta bisnis ke Bandung yang masih ada seharga 200ribuan?
  • Naik taksi ke Terminal Giwangan, Rp 50.000,00.
  • Ternyata ada bus ke Bandung non-patas. Masih akan ada bus yang berangkat satu jam kemudian.
  • Ngojek ke Jl. Mangkuyudan untuk mengembalikan perlengkapan gunung yang disewa, Rp 50.000 setelah gue tawar. Mana di tengah jalan hujan pula!
  • Sempetin makan malem di Terminal Giwangan. Harganya bikin nyesek.
  • Masuk dengan hore ke dalam bus Mandala seharga Rp 125.000,00.

Huft.

 

Senin, 4 Mei 2015

Perjalanan dengan bus non patas berlangsung selama 12 jam lebih! Jam 9 pagi, bus baru tiba di Terminal Cicaheum, Bandung. Gue lalu ngojek ke kost di Pasteur dengan ongkos Rp 40.000,00. Lalu ngojek lagi ke kantor dengan tarif Rp 15.000,00.

Rangkaian perjuangan menuju Merbabu ini nggak bakal gue lupakan. Pendakian kali ini begitu berkesan. Gue yang dari awal memantapkan hati untuk sekedar bersenang-senang bareng anggota komunitas, nyatanya dapat mencapai puncak dengan selamat, lalu dihadiahi secuil kepingan surga. Nggak masalah kalau pagi itu gue baru masuk kantor jam 10.30, pengalaman yang didapatkan memang layak diperjuangkan.

Foto penutup hari itu di basecamp Selo, Gunung Merbabu.

Foto penutup hari itu di basecamp Selo, Gunung Merbabu.

Terima kasih, Merbabu. Ingin rasanya kembali dalam pelukmu. Tapi, kaki ini rasanya kelu.

 

Habis~

Fotografer: Arifin Aji Pamungkas

Baca selengkapnya:

Perjuangan Haru Menuju Merbabu [Bagian 1]

Perjuangan Haru Menuju Merbabu [Bagian 2]

Iklan

34 thoughts on “Perjuangan Haru Menuju Merbabu [Bagian 3]: Kepingan Surga di Kentheng Songo

  1. Wih, itu yang climbing lumayan menegangkan ya, Bro. Tapi bagaimanapun, perjuangannya sepadan dengan apa yang didapat. Pemandangannya memang membius banget! Apalagi deskripsinya oke punya, keren dah!
    Dulu saya juga pernah baca tentang Kentheng Songo, katanya ada sesuatu yang berjumlah sembilan (semestinya), masih adakah di sana? Dan apa itu?
    Eh, di separuh cerita terakhir saya cekikikan sedikit tentang “beberapa apes” yang dirimu lalui. Maafkan, ya :hehe. Paling pol sih yang di bagian cari agen bus tapi ternyata agennya sudah tidak ada :hehe :peace *kemudian melipir*.

  2. Base camp Selo itu sebuah perkampungan ya, Mas? Jalan ke sana begitu berliku namun madih saja ada perkampungan. Duh gimana mobilitas penduduk tiap hari ya?

  3. Padang sabananya ketjeeeee!

    Tapi ngebayangin perjalanan menuju ke sabana jadi pengin pijit2 betis. Lha wong mendaki Gunung Bromo aja sudah enin kemis napanya, gimana kalo ke sini ya #DUH

    *trus di belakang ada yg protes gara2 nyebut Bromo itu gunung*

  4. Bagi saya, terharu itu ada ketika berjalan bersama-sama dengan teman seperjalanan, sepenanggungan, dalam suka dan duka pendakian 🙂

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s