Belanja, Budaya, Kuliner, Pattaya, Thailand, Travel

#Vizitrip Part 3: Nong Nooch Show, Pattaya Floating Market, Museum 3D, Restoran Mewah, dan Ladyboy Cantik

Selamat datang kembali dalam seri cerita perjalanan #ViziTrip di Bangkok dan Pattaya, 5-8 September 2018. Di bagian sebelumnya, gue udah cerita tentang perjalanan kami dari Thomson Hotel & Residences Bangkok menuju Big Bee Farm, Silverlake Vineyard, sampai akhirnya makan siang di Nong Nooch Village Pattaya. Di bagian ini, gue akan melanjutkan bagaimana keseruan kami menyaksikan Nong Nooch Culture Show & Elephant Show, menyusuri Floating Market, mampir di museum 3D Art in Paradise, menikmati malam di Pattaya bersama wanita jadi-jadian, sampai check-in di Beston Hotel Pattaya.


Menyaksikan Nong Nooch Culture & Elephant Show

Jam 13:15, kami bergerak menuju Nong Nooch Theater untuk menyaksikan pertunjukkan dengan jadwal 13:30. Auditorium-nya besar dan ber-AC, nyamaaannn. Sayangnya posisi duduk kami kurang cihuy, nih. Agak di belakang, agak di pinggir. Kayaknya pihak turnya cari harga tiket yang murah, wkwkwk. Jadi monmaap, pemirseh, kalo foto-foto dan videonya nggak kelihatan jelas. Maklum, nggak punya lensa tele, jadi zoom in/out terbatas. Gue hanya punya kepekaan yang gue pake untuk menerawang hatimu.

:shy:

entering the nong nooch theater, pattaya
getting ready for the nong nooch culture show, pattaya

Tapi gue tetep menikmati pertunjukkannya yang memang keren banget! Kostumnya, tata panggungnya, tata cahayanya, musiknya, sampai latar belakangnya yang terniat itu. Gue jadi inget dengan ladyboy cabaret show yang gue tonton di Mambo Cabaret, Bangkok, tahun 2016 lalu. Bedanya, kabaret yang ini dimainkan oleh pria dan wanita normal ehehe. Gue nggak bisa menangkap dengan jelas narasi yang disampaikan dalam bahasa Inggris dan Thai itu, tapi kayaknya cerita yang dibawakan adalah kisah perjuangan bangsa Thailand melawan calon penjajah. Tonton aja videonya biar imajinasimu terpampang nyata.

nong nooch culture show, pattaya
nong nooch culture show, pattaya, has a great stage!
singing and dancing along the nong nooch culture show, pattaya
nong nooch culture show, pattaya, includes a live music attraction
nong nooch culture show, pattaya
nong nooch culture show, pattaya
seems familiar, right?
even the elephants joined the show!
approaching the end of the show

Selesai Nong Nooch Culture Show, kami dan penonton lainnya berduyun-duyun bergerak menuju lokasi Nong Nooch Elephant Show. Jadi culture show dan elephant show ini kayak udah sepaket, shay. Begitu udah mendekati area duduk penonton, gue langsung buru-buru ngacir biar dapet tempat duduk di barisan depan, hehe.

Seperti namanya, di Nong Nooch Elephant Show kami menyaksikan berbagai atraksi dari gajah-gajah yang gagah itu. Gajah beneran, kok. Bukan gajah-gajahan #eh. Dari yang sekadar joged-joged, main bola basket, main sepakbola, sampai melukis dong! Gajah-gajahnya pinter banget sampai bisa melukis, terus hasil lukisannya dijual dalam bentuk kaos gitu. Di sela-sela pertunjukkan, penonton juga bisa berfoto dalam belitan belalai gajah, naik gajah, ngerasain nikmatnya dipijitin gajah, atau ngasih makan gajah dari pakan yang dijual oleh petugas berkeliling. Gajah-gajah itu juga kadang ngajak bercanda para penonton dengan tiba-tiba datang mendekat dan menjulurkan belalainya ke arah tribun penonton. Oh iya, pasti, kalo mau foto-foto harus bayar lagi 100 THB. Thailand ini memang pinter banget meraup laba atraksi wisata.

:good:

Gue sih duduk manis aja menikmati pertunjukkan. Selain karena lagi on tight budget banget, gue juga kasihan sama gajah-gajahnya. Semoga mereka diperlakukan dengan layak oleh pengelola, ya.

the royal elephants of nong nooch village, pattaya
cute elephants and their buddies
an elephant was painting a tree!
elephants football? lets go!
visitors may take a photo for 100 THB
nong nooch elephant show, pattaya

Selesai sudah agenda kami di Nong Nooch Garden and Cultural Village. Kami segera menuju destinasi berikutnya: Pattaya Floating Market.


Menyusuri Floating Market Pattaya

Pasar terapung yang kami kunjungi ini bukan pasar terapung alami di Banjarmasin atau Bangkok, sih. Tapi pasar terapung buatan macam Lembang Floating Market yang harus masuk dengan membayar tiket. Dari hasil browsing, harga tiket masuk Pattaya Floating Market adalah 200 THB, atau sekitar Rp80.000-an. Apakah worth the price?

a royal chariot welcomes us at floating market pattaya
a statue of “nag” on the pond
flags of ASEAN at floating market pattaya
one of pretty wooden bridges of floating market pattaya

Setelah beres dengan urusan pertiketan, kami lantas memasuki bangunan depan yang berbentuk kapal kayu raksasa (bahtera). Keren deh kalo bisa foto di depan pasar (tapi harus nyeberang ke tengah jalan biar bangunannya kelihatan) atau di dalam pasar yang gue tunjukin di bawah ini. Gue agak kaget karena hal pertama yang kami jumpai begitu masuk adalah semacam kereta kerajaan yang dipamerkan khusus di salah satu ruangan. Nggak tau itu apa dan kenapa begitu. Dari area pameran, kami lalu bertemu dengan pertigaan huruf Y (masih di dalam bangunan).

Sebuah halaman yang cukup luas menyambut kami berikutnya. Dari halaman itu, kita bisa melihat bangunan utama Pattaya Floating Market yang cukup tinggi, patung makhluk semacam ular yang saling berbelit di tengah perairan, bendera-bendera negara Asia Tenggara, jembatan-jembatan lengkung yang dilalui pengunjung nan hilir mudik, dan perahu-perahu kayu yang wara-wiri mengantar pengunjung.

left: main building of floating market pattaya
right: my turkey satay
colorful lanterns at floating market pattaya
passengers of the boat taking a selfie
the “ark” of floating market pattaya
some corners were not as crowded as the others
a vendor on the boat, floating market pattaya

Bangunan utama Pattaya Floating Market terhubung dengan bangunan-bangunan di kanan-kiri dan belakangnya oleh jembatan. Seluruh bagian pasar terapung ini―lantai, dinding, dan jembatan-jembatannya―terbuat dari material kayu. Macam-macam komoditi dari makanan siap santap, oleh-oleh, pakaian, kerajinan tangan, bisa kamu temukan di sini. Meskipun namanya “pasar terapung”, tapi hampir seluruh penjual menggelar lapaknya di dalam bangunan. Hanya sedikit yang berjualan di atas perahu-perahu. Hampir seluruh pengunjung juga wisatawan Asia, sedikit banget turis bule atau Kaukasia.

Gue emang lagi on tight budget, tapi kok rasanya rugi banget ya ke sini tanpa beli sesuatu. Akhirnya gue beli 1 tusuk sate kalkun seharga 80 THB karena tampilannya menggoda. Sebenernya pengen beli 2 tusuk kalo harganya lebih murah lagi, ehehe. Untungnya satenya enak dan rasa pedesnya (sesuai permintaan gue) bener-bener terasa. Kata Pak Aheng, ada sate buaya juga di situ, tapi gue nggak nemu yang mana. Kalo buaya darat sih banyak.

inside the floating market pattaya
this is the first time i saw a flying fox in a market
live music performance in the afternoon
a quiet corner behind the floating market pattaya

Nggak banyak belanja membuat gue punya lebih banyak waktu buat blusukan mengenali Pattaya Floating Market sampai ke bagian terujung. Ternyata di belakang pasar ada jalan kecil yang tenang, rimbun, bernaung kanopi lengkung dari pepohonan. Sejuuukkk. Sementara di ujung lainnya, malah ada flying fox! Tadinya gue kira pondokan tinggi itu adalah semacam menara pandang gitu, ternyata itu adalah tempat memulai flying fox. Gue juga baru sadar setelah ada orang (ya iya, masak Nang Nak) yang meluncur shyuuuuuurrr. Kalo putus, nyebur dah tuh orang.

:ngakak:

Jadi, apakah worth the price? Kalo gue datang sendiri tanpa pacar tur, gue akan skip tempat ini.


Males Foto-Foto di Art in Paradise, Pattaya

Sebetulnya gue nggak suka berkunjung ke tempat-tempat wisata buatan kayak gini saat traveling ke luar negeri. Tapi gue lalu ingat kunjungan gue ke Amazing Art World Bandung tahun lalu, dan gue keasyikan foto-foto di sana, hahaha. Jadi ya udah, gue berpikir positif aja dengan agenda dari pihak penyelenggara tur ini. Siapa tau tempatnya seru.

Art in Paradise Pattaya beralamat di Moo 9, Pattaya 2nd Road, udah deket dengan area pantai. Harga tiketnya adalah 500 THB (dari hasil browsing di internet). Aneh, harganya sama dengan tiket Grand Palace Bangkok, tapi kenapa Pak Aheng mengeluhkan mahalnya tiket Grand Palace, ya? Padahal Grand Palace ini obyek wisata wajib banget buat yang pertama kali ke Bangkok.

art in paradise, pattaya
taking a sneak peak from my seat

Begitu memasuki gedung Art in Paradise Pattaya ini, kesan pertama gue adalah: ternyata tempatnya nggak segede yang di Bandung. Dari lahan parkirnya aja juga udah kelihatan bedanya. Tema-tema lukisan 3D yang ada di Art in Paradise juga sama dengan yang di Amazing Art World, misalnya tema laut, tema klasik, dsb. Lukisan museum 3D di Pattaya ini malah nggak segede yang di Bandung, cuma seukuran lukisan biasa, bahkan ada bingkainya pula. Gue juga jadi males foto-foto karena nggak nemu lukisan yang “merangsang” kegilaan gue.

Gue cuma sekali antusias waktu lihat spot foto di mana kepala kita bisa tampak terpenggal seperti jadi santapan raksasa. Gue buru-buru berpose persis dengan pose yang gue lakukan di Amazing Art World, dan hasilnya… BOCOOORRR! Gara-garanya, bagian yang menyembunyikan tubuh kita (supaya tampak terpenggal) nggak dilengkapi dengan semacam dinding pendek, jadinya leher gue kelihatan. Harus pose dengan kepala tegak biar lehernya nggak kelihatan, tapi aneh, karena kepala terpenggal nggak akan bisa berdiri tegak.

tried to enjoy the art in paradise, pattaya

Bagian yang lumayan lainnya adalah area terakhir berupa spot foto besar menyerupai air terjun. Sayangnya spot yang gue incar di situ selalu dipake sama babang-babang India, sementara spot-spot di sebelahnya (masih satu tema) kurang seru. Nah, pengunjung selain rombongan kami di Art in Paradise saat itu ya cuma turis-turis India itu. Kayaknya nggak ada turis Cina, apalagi bule berambut blonde. Udah gitu, turis-turis India di situ berfoto dengan agak alay. Ya masak di museum 3D fotonya selfie, bang? Nggak jadi dong, 3D-nya. Tapi mereka seakan nggak terlalu peduli dan udah kelihatan bahagia dengan itu.

:sigh:

Saran aja buat penyelenggara turnya, menurut gue agenda Art in Paradise ini bisa ditiadakan atau diganti dengan agenda lain seperti main-main di pantai atau ke Laser Buddha yang cuma kami lewatin di siang harinya. Main di pantai itu gratis, dan peserta bakal seneng. Gue bisa ngomong gini karena gue sempet denger celetukan beberapa peserta yang pengen ke pantai, atau bertanya-tanya kenapa mereka nggak ke pantai.

Eh tapi kalo browsing foto-foto di internet, sih, keren-keren aja Art in Paradise ini. Mungkin cuma masalah selera, atau mungkin mood gue lagi jelek saat itu.

:peace:

Oh iya, bedakan Vizitrip dengan penyelenggara tur, ya. Vizitrip itu platform-nya aja, bukan penyelenggara tur. Kalau penyelenggara tur diibaratkan sebagai pesawat terbang, maka Vizitrip itu website-nya aja buat booking online. Ada beberapa paket lainnya yang bisa kamu pilih di Vizitrip buat liburanmu di Bangkok, Thailand. (iklan baris)

a chinese temple in front of art in paradise, pattaya
sunset over the high rise buildings of pattaya

Gue, Reza, Aldi, dan Antika sempet duduk-duduk agak lama di tangga depan pintu masuk nungguin pakbapak dan buibuk lainnya keluar dari Art in Paradise. Supaya nggak bosen, gue mengisi waktu dengan berburu foto di area sekitar. Ada kuil bergaya Tionghoa yang berdiri tepat di depan Art in Paradise, tampil etnik dengan gedung yang menjulang modern di belakangnya. Gue arahkan lensa ke arah barat, dan di sana, langit sudah merekah dengan warna jingga di balik bangunan-bangunan hotel Pattaya yang menantang angkasa.

Reza sempat panik ketika menyadari bahwa kamera kepunyaannya tak lagi ada dalam genggaman. Ia tergopoh-gopoh masuk kembali ke dalam gedung, dan beruntung menemukan kameranya tergeletak di tempat semula ia meninggalkannya. Mujur kau, Nak.


Makan Malam di A-One The Royal Cruise Hotel

Nah, menu makan siang kami di hari pertama tur memang nggak terlalu istimewa, tapi makan malamnya… owsem banget! Gimana nggak awesome, kami diajak makan malam di restorannya A-One The Royal Cruise Hotel, hotel berbintang dengan bentuk bangunan menyerupai kapal pesiar yang harga kamar per malamnya mencapai jutaan Rupiah, hahaha. Lumayan bisa cobain restorannya.

Masing-masing meja sudah siap dengan alat makan dan gelas-gelas kaca berisi air putih. Kami berempat duduk bersama 2 orang peserta tur lainnya berusia sebaya. Ada beberapa pos di dalam ruang makan, yaitu: nasi dan lauk pauk utama, salad, sushi, kue gurih, kue manis, buah-buahan, es krim, dan barbekyu yang ada di area luar. Pos barbekyu ini yang terakhir gue tau setelah liat temen-temen gue datang dengan sepiring daging-dagingan. Untung aja masih sempet icipin karena harus ngantri dan nunggu dimasak chef-nya.

a-one hotel restaurant, pattaya
my sushi choice for dinner
variety of sushi at a-one hotel restaurant
savory bread | a-one hotel restaurant
meat and bread | a-one hotel restaurant
rice and main courses | a-one hotel restaurant
cakes | a-one hotel restaurant
seafood and barbeque | a-one hotel restaurant

my choice for dinner | a-one hotel restaurant

Gue sendiri nggak ambil terlalu banyak karena takut kekenyangan dan nggak sanggup ngabisin. Nggak mau jadi Food Waster. Cuma ambil nasi goreng dan lauk pauk secukupnya, roti, sushi, es krim (yang nggak sempet difoto), dan barbekyuan (juga nggak sempet difoto). Gue nggak ambil savoury bread karena nggak suka aja, nggak ada isinya sih.


Menikmati Malam di Pattaya

Dari A-One Restaurant, bus berangkat menuju sebuah tempat pertunjukkan 17+. Hanya ada beberapa orang (kalo nggak salah 5 orang) yang dipilih untuk nonton pertunjukkan itu. Jadi, sebetulnya tempat ini nggak ada di dalam agenda, namun karena permintaan beberapa peserta, akhirnya pihak penyelenggara tur mau mengantar beberapa orang tersebut. Eh, tapi nggak tau ding apakah mereka dibayari juga atau hanya diantar. Gue nggak ikut kok, kata nenek itu berbahaya.

:hero:

Peserta yang lain diturunkan di depan Alcazar Theater yang punya lahan parkir yang luas. Buat yang belum tau, Alcazar adalah tempat pertunjukkan kabaret ladyboy yang paling populer di Pattaya. Dari situ, kami diberikan free time sekitar 2 jam. Gue dan ketiga travelmate gue memilih buat menghabiskan waktu menyusuri Thanon Pattaya Sai 2 (Pattaya Road Sai 2) di depan Alcazar Cabaret Show itu.

common scene of pattaya at night
drank a chang beer while enjoying the street scene
visitors of a pattaya bar
central marina, pattaya

Di menit-menit pertama, kami menghabiskan waktu dengan mengasah keterampilan fotografi dengan kamera masing-masing di satu titik. Niat gue sih pengen slow speed photography yang menghasilkan foto jalan raya dengan garis-garis warna-warni itu. Entah karena jalanannya yang kurang rame atau guenya aja yang nggak becus, nggak ada hasil foto yang sesuai harapan. Padahal dulu gue beberapa kali berhasil, lho. Mungkin beginner’s luck.

:keren:

Setelah sama-sama bosen (terutama Antika yang nggak pegang kamera sendiri, hehe), kami jalan-jalan menyusuri jalanan sampai tiba di Central Marina. Di situ, kami duduk-duduk di atas tangga, gue beli sekaleng bir Chang, menikmati keramaian lalu lintas di depan kami selama beberapa saat. Nah, di pelataran Central Marina ada semacam pasar malam kecil, jadi kami jalan-jalan sebentar di situ. Kalo belum makan malem, mungkin kami bisa sekalian makan di situ karena banyak stall-stall makanan Thai murah meriah, tapi kami sendiri udah kenyang banget dari A-One Restaurant.

a night market at central marina pattaya
a night market at central marina pattaya
a night market at central marina pattaya
a night market at central marina pattaya
a night market at central marina pattaya
a night market at central marina pattaya
a night market at central marina pattaya

Beberapa menit sebelum jatah free time habis, kami berjalan kembali ke arah lokasi parkir bus. Gue sempat mengusulkan buat mampir ke pantai karena jaraknya udah deket, sekadar liat suasana dan foto-foto. Tapi karena waktu sudah mepet, akhirnya nggak jadi. Nah, beruntung banget, tepat pas kami sampai di Alcazar Theater, mas-mas (atau mbak-mbak?) ladyboy para pemain Alcazar lagi jumpa fans! Mereka semuanya tampil cantik dan seksi dengan gaun indah dan belahan dada merekah #eh. Serius, nggak ada bedanya sama cewek tulen! Sesi jumpa fans ini mereka gunakan buat mencari “penghasilan sampingan”, jadi mereka mempersilakan siapa aja yang mau foto bareng dengan membayar jumlah tertentu. Gue nggak tau karena nggak cobain foto, tapi banyak banget lho bapak-bapak yang antusias foto sama mereka sampe nempelin mukaknya ke dada mereka gitu. Kalo penasaran, cek aja video gue di atas ya.

Seiring dengan para ladyboy yang kembali masuk ke dalam gedung pertunjukkan, kami pun masuk ke dalam bus untuk check-in dan beristirahat di Beston Hotel Pattaya. Kata Pak Aheng, hotelnya jauh dari pusat kota, nggak ada apa-apa, makanya agenda tur dipadatkan dari pagi-pagi sampai malam. Tapi ternyata beberapa menit kemudian juga udah sampe, kok. Iya sih, memang bukan di kawasan pusat wisata atau pusat keramaian, tapi masih di wilayah kota Pattaya. Kirain hotel terpencil kayak di Dago atau Lembang gitu, Pak.

come to me darling
don’t you want to touch my breast?

Perjalanan gue di hari kedua (atau hari pertama tur) selesai di sini. Capek bacanya? Gue yang nulis lebih capek lagi, cuy! Akhirnya, di tulisan berikutnya gue bisa move on di hari ketiga. Pantau terus ya, karena gue akan menceritakan kunjungan kami di Wat Traimit, Wat Arun, dan Cooking Nanta Show!

Iklan

26 tanggapan untuk “#Vizitrip Part 3: Nong Nooch Show, Pattaya Floating Market, Museum 3D, Restoran Mewah, dan Ladyboy Cantik”

  1. Ladyboy, muka lady tapi betis boy..😆😆😆

    Disamping pariwisatanya, kita masyarakat Indonesia harus banyak belajar metode atau kerja keras pertanian di Thailand juga kali ya..😊😊 (diluar konteks)

  2. Lebih dari 2000 kata ya mas bro tulisannya? Potonya juga lumayan banyak. Postingan tulisanku pernah lebih dari 30 poto dan 2000 kata tapi susah ngeditnya berat..bahkan pernah hilang begitu saja saat ngedit..😣😣

      1. Kalau ke Ende atau ke Pulau Flores, di kabupaten/kota tertentu yang di tepi laut, bakal lihat rumah apung 😀 wkwkwkwkw rumah panggung yang kalau pas pasang naik pasti ‘panggung’nya itu berfungsi melindungi seisi rumah 😀

  3. Perasaan kurang happy pas mampir ke Art Paradise lumayan terbayar dengan menu dan tempat makan di hotel MEVVAH. Sayang, malah perut udah kekenyangan. Wkwk

    Tak kira floating marketnya juga bakal banyak yang naik perahu-perahu gitu. Oh ternyata, malah sebagian besar para pedangangnya jualan di gedung permanen. Feel floating marketnya jadi berasa ‘kurang dapet’.

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.