Pattaya, Thailand, Travel, Wisata

#ViziTrip Part 2: Menjelajah Pattaya Dalam 1 Hari (Big Bee Farm, Silverlake Vineyard, dan Nong Nooch Village)

vizitrip goes to pattaya!

Hey, travelearners! Siapa nih yang udah nunggu-nunggu episode kedua #ViziTrip? Buat yang baru pertama kali mampir ke sini, di bagian pertama kemarin gue cerita tentang perjalanan gue dari Bandung ke Bandara Soekarno-Hatta, penerbangan Jakarta-Bangkok dengan Thai Lion Air, perjalanan dari Don Mueang Airport menuju hotel, dan gimana gue menghabiskan malam pertama di Bangkok. Di bagian kedua ini, gue akan ceritain perjalanan kami di hari kedua, di mana kami menjelajah Pattaya dalam 1 hari! Mau tau apa aja yang gue kunjungi di Pattaya?

Jam 5 pagi, gue memaksakan diri move on dari enaknya kamar tidur di Thomson Hotel & Residences dengan kelopak mata yang berat, mata yang terasa agak pedas, dan kantung mata yang menggantung. Kalau ini perjalanan gue sendiri, gue kayaknya bakal baru bangun jam 8 atau 9 pagi, dah. Hari pertama kemarin capek banget. Di hari pertama aja gue udah kurang tidur karena harus bangun jam 3 pagi, lalu melakukan perjalanan seharian dan baru istirahat sekitar jam 9 malem karena makan malam dulu di The Mall. Setelah itu gue baru mandi, dan gue bukan tipikal orang yang bisa langsung tidur setelah mandi. Kenapa nggak mandi dulu baru tidur, Gie? Keburu mall-nya tutup dan gue kelaperan, Tong.

:suram:

Jadi kebayang, kan, gimana lelahnya gue menghadapi netizen baper?

Selesai mandi, gue packing, sarapan, lalu check-out. Gue sempet menanyakan itinerari ini sama mbak Antika, sih. Karena menurut gue, agenda dari pihak tur kurang efektif. Kenapa harus check-out kalau besoknya nginep di sini lagi? Kenapa nggak ke Pattaya di hari ketiga aja biar kami istirahat di hari kedua? Ya, intinya gue kemudian tersadar bahwa pihak penyelenggara tur udah lebih tau medan daripada Padang, lah. Perencanaan kayak gini juga pasti udah melalui tahap penggodhokan yang sengit. Jadi gue yang sok tau ini lebih baik manut kayak burung perkutut.

my breakfast at thomson hotel & residences hua mak, bangkok
dining room | thomson hotel & residences hua mark, bangkok

Ngomong-ngomong, menu sarapan di Thomson Hotel & Residences Bangkok oke juga. Tersedia nasi putih dan nasi goreng. Ada lauk sayuran, telur, dan daging. Buah, jus, dan kopi juga ada sesuai yang diharapkan. Gue sendiri cuma ngambil nasi goreng, kwetiaw goreng, telur, sosis, dan semacam tumis bunga kol dengan daging. Nggak ada kue-kue basah, tapi ada roti tawar. Nggak perlu ragu sama kehalalan, wong ini udah jadi hotel langganan paket tur orang Indonesia.

Njir, ini baru bagian pembukaan dan gue udah nulis sepanjang ini.


Mengunjungi Big Bee Farm, Pattaya

Sebetulnya belum masuk wilayah kota Pattaya ding, tapi masih di Bang Lamung, Chonburi. Biar nggak bingung, gue kasih tau aja kalau Chonburi adalah nama provinsi, lokasinya memang dekat dengan Bangkok. Kalau di Indonesia, Chonburi ini ibarat Jawa Barat atau Banten. Ibukotanya adalah kota Chonburi, tapi Pattaya memang jadi kota yang paling terkenal dan berkembang. Dari Thomson Hotel & Residences kami di Hua Mak, waktu yang diperlukan adalah kurang dari 2 jam perjalanan. Kami melalui jalan tol (highway) yang, kalau dilihat sekilas, mirip Jalan Tol Purbaleunyi yang menghubungkan Bandung-Jakarta.

:peace:

Big Bee Farm terletak di antara Bangkok dan Pattaya, jadi memang cocok agenda kunjungannya ditempatkan di urutan pertama (atau terakhir). Di bagian depan, ada patung lebah raksasa yang, tanpa disuruh, langsung jadi spot berfoto sejuta umat. Inget ya, gue nggak cuma traveling berempat, kami ikut tur bareng rombongan buibuk dan pakbapak, terus ada 2 kelompok kecil anak-anak muda sebaya, dan sepasang suami istri. Eh, ternyata sampai sekarang gue masih inget mereka semua.

selfie on the bus
vizitrip team in front of the giant bee
left: taking a photo for myself, right: information board

Di Big Bee Farm, kami disambut oleh seorang tour assistant perempuan yang Bahasa Indonesia-nya bagus bangeeettt! Sama sekali nggak ada medhok Thailand, bahkan kosakata bahasa slang dan tren terkini Indonesia pun dikuasai. Pak Aheng aja (tour guide kami) kalah, deh. Kalau dia nggak bilang dia orang lokal, gue akan mengira dia bener-bener orang Indonesia yang kerja di sana. Mungkin akan gue kira orang Batak atau Manado karena raut mukanya cukup tegas. Tonton videonya di bawah buat menjawab rasa penasaranmu!

Gue sama sekali nggak tau soal Big Bee Farm, juga nggak kebayang apa yang bisa dilakukan serombongan turis di tempat macam ini. Thailand ini bener-bener pinter memanfaatkan tempat yang biasa-biasa aja menjadi tempat wisata. Bahkan, menurut mbak Antika, Big Bee Farm ini adalah tempat wajib kunjung buat rombongan tur.

the tour assistant speaks bahasa indonesia so well!
improve our knowledge about bee at big bee farm, pattaya

Setelah seluruh peserta siap (baca: udah puas foto-foto dan pipis di toilet), mbak-mbak You-Know-Who itu mengajak kami memasuki komplek kecilnya untuk:

  • Belajar tentang jenis-jenis lebah dan mengenali ratunya
  • Belajar tentang alat membuat royal jelly dan produk-produk turunan madu lainnya
  • Belajar tentang proses metamorfosis lebah.

Kesan pertama gue cukup bagus. Walau mungkin kami agak dipaksa mampir ke sini, tapi gue memandang Big Bee Farm sebagai obyek wisata edukasi yang cocok buat anak-anak dan keluarga.

Setelah itu, kami dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan kecil di mana kegiatan dokumentasi (foto/video) nggak boleh dilakukan. Di ruangan ini, kami duduk mengelilingi sebuah meja yang di atasnya sudah tersedia beberapa sampel produk yang mereka hasilkan. Kami lalu mencoba sampel madu, royal jelly, dan serbuk sari (yang dicampur ke dalam madu, bukan dikunyah gitu aja wkwkwk).

Mbak You-Know-Who menjelaskan tentang manfaat dari produk-produk itu. Serbuk sari, misalnya, berkhasiat untuk menyembuhkan asam lambung, rambut rontok, memperlancar metabolisme, dan mendukung program diet. Untuk menyembuhkan alergi dingin, aduk 2 sendok teh serbuk sari ke dalam air panas lalu hirup uapnya. Sementara itu, royal jelly membantu menyembuhkan kram, kebas, kesemutan, dan regenerasi sel. Tau nggak? Gue bisa nulis ini semua karena gue catet di buku, udah kayak anak kuliahan dengerin pelajaran dari dosen. Antusias banget waktu itu, gue nggak sungkan duduk di barisan pertama.

Mbak You-Know-Who juga kasih tau gimana caranya membedakan madu asli dan madu palsu. Madu asli nggak akan putus saat dituang, juga nggak akan larut saat dicampur dalam air. Tempatkan madu asli pada piring atau bidang datar lainnya yang punya cekungan, lalu kocok atau putar-putar. Madu asli akan membentuk “lukisan” sarang lebah di dasar piring. Kalau cara membedakan janji palsu dan janji asli gimana, mbak?

:siul:

how to test honey | big bee farm, pattaya
big bee farm, pattaya
recognizing the queen bee | big bee farm, pattaya

Selesai presentasi, saatnya mbak You-Know-Who melancarkan agresi promosi, hihihi. Ia sudah menyiapkan beberapa produk satuan dan paket produk di atas meja dan di dalam rak di belakangnya. Pertama-tama sih gue masih biasa-biasa aja, ya. Namanya juga industri komersil, pasti akan memanfaatkan banyak celah buat promosi supaya lebih banyak dapet untung. Tapi lama kelamaan―mbak You-Know-Who mulai keliatan ngotot dan maksa bahkan agak ngambek, hehe. Beberapa staf di dalam ruangan juga membantu mempromosikan produk dengan bahasa Indonesia sederhana.

Meski pakbapak dan buibuk itu nggak kayak #sobatmiskin, tapi mereka nggak serta merta tertarik buat beli juga, lho. Satu hal yang mereka pikirkan adalah bagasi, mereka akan pulang ke Indonesia naik AirAsia. Gue agak bingung sih, kenapa nggak pilih maskapai murah yang udah include bagasi kayak Thai Lion Air? I mean, mereka adalah kalangan usia yang biasanya bakal belanja saat jalan-jalan di luar negeri, harusnya antisipasi bagasi. Yang paling berminat adalah sepasang suami-istri Tionghoa itu. Tapi setelah dirayu-rayu dan kami terasa seperti “terpenjara” di ruangan itu, ada juga beberapa bapak yang membeli produknya meski hanya produk-produk satuan. Harganya mahal, cuy! Jutaan Rupiah gitu lah.

shopping area of big bee farm, pattaya

Kami kemudian digiring keluar melalui minimarket internal mereka. Ada kedai makan kecil-kecilan juga. Harganya lebih murah dari yang di dalam ruangan, sih, tapi sebagian besar produk oplosan/campuran. Dan, tetep masih terasa mahal buat gue, hiks…

:wait:

Oke, ini baru tempat pertama dan gue udah nulis sepanjang ini.


Mampir di Silverlake Vineyard, Pattaya

Dari Big Bee Farm menuju Silverlake Vineyard cuma butuh waktu sekitar 30 menit. Kami menghabiskan banyak waktu di Big Bee Farm sampai bisa duduk-duduk santai, tapi di Silverlake Vineyard yang instagrammable ini malah cuma bentar banget. C’est la vie, begitulah hidup. Kadang kita nggak mendapat apa yang kita inginkan.

Silverlake Vineyard ini terasa kayak resor wisata keluarga di Lembang. Ada banyak hotspot di area depan buat foto-foto, kayak botol anggur besar bertuliskan huruf S, mobil combi klasik, gazebo dan bangku-bangku taman yang menghadap ke arah danau dan pegunungan, dan patung malaikat. Banyak pengunjung yang duduk-duduk di gazebo dan bangku-bangku itu. Ngomong-ngomong, cuacanya panas bangeeettt!

:sweating:

enjoying the scenery at silverlake vineyard, pattaya
the angels guarding the complex | silverlake vineyard

Ada bangunan berwarna terakota bergaya klasik yang merupakan tempat coffee shop dan kedai penjualan es anggur. Kedua kedai disatukan oleh sebuah kanopi berdesain lengkung. Gue nggak beli apa-apa dari situ, cuma nyomot es anggur dari mbak Antika, huahahaha. Setelah melalui bangunan itu, ada sebuah plaza kecil dengan air mancur di tengah-tengahnya dan beberapa bangunan lainnya yang gue nggak tau fungsinya.

Melalui plaza kecil itu, ada area duduk luar ruangan dengan pemandangan yang bagus bangeeettt! Dari area terujung itu, kita bisa menikmati indahnya pegunungan, danau, dan perkebunan anggur. Kalau masih pagi atau udah senja, pasti nikmat menikmati suasana di situ dengan santai dan secangkir kopi (tetep). Dari situ, Laser Buddha yang terletak persis di Silverlake Vineyard juga kelihatan, lho.

the terracotta main building | silverlake vineyard, pattaya
the area is so tempting | silverlake vineyard, pattaya

Silverlake Vineyard menyediakan layanan “tram” yang membawa pengunjung berkeliling perkebunan. Gue kasih tanda petik karena ini bukan tram beneran, cuma semacam angkot terbuka atau odong-odong begitu. Sayangnya karena keterbatasan waktu, gue nggak sempet cobain “tram” itu. Tiketnya bisa dibeli di bangunan dekat plaza. Kata Pak Aheng, butuh waktu lama kalau mau naik “tram” karena dia baru jalan kalau udah terisi penuh. Entah memang begitu atau cuma akal-akalan dia menghibur kami, hehe.

panoramic view of the silverlake vineyard and the lake, pattaya

Sekali lagi, karena keterbatasan waktu juga, kami juga nggak mampir ke Laser Buddha meskipun udah deket bangeeettt, sebelahan gitu lho. Pakbapak buibuk juga pada protes. Jadi buat kalian yang ke Pattaya dengan itinerari sendiri dan punya banyak waktu, kalian bisa cobain “tram” di Silverlake Vineyard terus mampir ke Laser Buddha. Habis itu share ke gue gimana pengalamannya, hehe.


Makan Siang di Nong Nooch Village

Kalau ngomong liburan di Pattaya, pasti bakal akrab sama tempat yang satu ini. Nong Nooch Village adalah sebuah one stop entertainment buat liburan keluarga. Kalau googling, kita akan melihat foto-foto taman dan kebun bunga yang luaaasss banget dan dibentuk sedemikian rupa kayak labirin. Cek di website resminya, Nong Nooch Tropical Garden and Cultural Village ini punya segudang atraksi mulai dari:

  • Cars Garden
  • Dinosaur Valley
  • Taman-taman tematik:
    • French Garden & Italian Garden
    • Stonehenge Garden, Mammoth Garden, Flamingo Garden, Butterfly Hill
    • Bromeliad Display Garden, Adenium Garden, Riverside Garden, Cycad Valley
    • Flower Display Garden & Suspension Bridge, Sky Walk, Sansevieria Garden
    • Granite Marble and Ant Tower
    • Variety Garden, Bonsai Garden, Topiary Trees, Floating Garden, European Garden
    • Hortus Botanicus, Orchid Garden, Palms of The World, Caribbean Walk, Cactus Garden, dan masih ada lagi yang belum gue sebut
  • Animals Kingdom
  • Kegiatan yang bisa dilakukan: naik paddle boat, memberi makan Arapaima, naik gajah keliling taman, berkeliling dengan sepeda atau bus, Reduce Global Warming Project, sampai Nong Nooch Camp
  • Pertunjukkan Elephant Show dan Thai Cultural Performances.

Wakgelaseh, banyak banget yang bisa dilakukan! Kalau kamu mau puas eksplor, sediakan waktu sehari deh. Kalau perlu, sehari semalem. Eh, bisa lho nginep di Nong Nooch Village, karena ada beberapa vila sama resor, bahkan ada lakeside villa yang cakep! Sayangnya gue nggak eksplor taman-taman di atas, untungnya gue juga nggak terlalu tertarik, sih. Agenda tur kami di Nong Nooch Village cuma makan siang sama nonton pertunjukkan.

Pembelian tiket nggak dilayani resmi oleh website mereka. Jadi harus datang langsung atau menggunakan jasa pihak ketiga, rekomendasi gue adalah hotels2thailand. Buat Admission Fee + Show, harga untuk dewasa mulai 350 THB aja (fluktuatif). Cara kedua, pesan paket tur lengkap kayak dari Vizitrip ini. Harga tur 4 hari 3 malam Bangkok-Pattaya di Vizitrip ini dibanderol kurang dari Rp 2 juta lho! Udah termasuk menginap 3 malam di hotel bintang 3, makan mevvah 4 kali (di luar sarapan hotel), antar-jemput bandara, tour guide, driver, dan seluruh tiket masuk yang gue ceritakan di dalam seri perjalanan #ViziTrip ini. (iklan baris)

ticketing counter, nong nooch village pattaya
tourists sitting on the floor | nong nooch village pattaya
tourist buses | nong nooch village pattaya

Ada 4 tempat makan (termasuk 1 foodcourt) di Nong Nooch Village. Kalau melihat dari foto-foto di website mereka, kayaknya kami makan di Catleya Restaurant. Pilihan menunya lebih banyak daging daripada sayur, wkwkwk. Dagingnya ada macem-macem, tapi sayurnya cuma 1 atau 2 jenis dan nggak gue suka. Menu pendampingnya ada tom yum sama chicken curry. Rugi lho jauh-jauh ke Thailand nggak makan tom yum, gratis pula. Rasanya seger dan ada sensasi mint! Ada semacam es campur tapi nggak gue coba karena gue udah muak sama kemanisan gue sendiri.

:ngakak:

Jam 13:15, kami beranjak dari restoran menuju lokasi pertunjukkan di Nong Nooch Theater. Jadwal pertunjukkan kami adalah jam 13:30. Ada 4 jadwal yang bisa dipilih, yaitu 10:30, 13:30, 15:30, dan 16:30. Durasi keseluruhan show (elephant show dan cultural show ini sepaket) adalah sekitar 1 jam. Seandainya pilih show yang jam 15:30, kami bakal lebih puas di Silverlake Vineyard dan bisa mampir ke Laser Buddha. Tapi sebagai timbal baliknya, mungkin agenda ke Floating Market dan museum 3D Art in Paradise ditiadakan. Nggak apa-apa sih, nggak spektakuler juga, haha.

our group having lunch, nong nooch village pattaya
tom yum and chicken curry | catleya restaurant, nong nooch village pattaya

Bhaique, karena panjang tulisan ini udah melebihi tahun lahir gue sendiri, bagian kedua gue cukupkan sampai di sini dulu. Kebetulan vlog bagian kedua juga cuma sampai makan siang. Pantau terus thetravelearn.com buat tau kelanjutan perjalanan ini di mana gue akan menceritakan jalannya pertunjukkan di Nong Nooch Theater, jalan-jalan di Pattaya Floating Market, mampir ke Art in Paradise, menghabiskan malam di Pattaya sampai check-in di Weston Hotel Pattaya. Klik tombol Follow/Subscribe, dan jangan lupa share kalau kamu suka tulisan-tulisan gue supaya gue bisa terus berkarya. Keep learning by traveling…

Iklan

35 tanggapan untuk “#ViziTrip Part 2: Menjelajah Pattaya Dalam 1 Hari (Big Bee Farm, Silverlake Vineyard, dan Nong Nooch Village)”

  1. Barengan orang lain ya, pantesan kok menyempatkan diri mampir ke bee farm. Ahahaha

    Nah vineyard-nya malah lebih bagus. Sayang ya malah lebih lama di tempat lebah.

    Kayaknya klo soal Thailand saya mesti berguru sama dirimu nih

  2. kalau satu tempat bisa nulis sepanjang itu, kenapa gak dipisah-pisahina aja sih tulisannyaa.. biar lebih mendalam gitu dehh..
    trus vizitrip ini murce juga ya, cuma 2 juta buat 4 hari 3 malam. mantap lahh

    1. Kalo dipisah-pisahin terlalu pendek, kak. Itu aku nulisnya ngalir aja kok, nggak ditarget 1 tempat harus berapa kata.

      Terus aku juga nggak suka cerita mendalam tentang suatu tempat sih. Sukanya cerita perjalananan dengan mendalam, ehehe.

  3. Aku lebih tertarik Silverlake Vineyard-nya. Bisa glundang glundung seharian kalau disitu pasti. Maklum, ku selalu jatuh cinta dengan danau dan kehidupan di sekitarnya. Semacam tempat sempurna untuk membesarkan anak-anak #halah

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.