Akomodasi, Bandung, Indonesia, Jawa Barat, Travel, Wisata

Mengunjungi 3 Tempat Wisata Kekinian yang Instagrammable di Bandung

Selalu ada yang baru di Bandung! Mungkin itu sebabnya orang-orang Jabodetabek dan Jawa Barat nggak bosen buat piknik mingguan atau bulanan ke Parijs van Java ini. Dari sekedar café baru, taman baru, landmark baru, sampai tempat-tempat wisata baru — alami atau artifisial — bisa dapat dengan mudah ditemukan di Bandung yang dinamis ini.

Dalam tulisan ini, gue akan mengulas beberapa tempat wisata hits nan kekinian di Bandung yang gue kunjungi dalam rentang waktu 1 tahun terakhir, hehehe. Yang pasti, semuanya instagrammable! Btw judulnya click bait banget nggak sik? Biasa aja ya? Ya udah.

:desperate::desperate:

 

Amazing Art World

Trick Eye 3D Museum udah jamak di negara-negara tetangga dan beberapa kota di Indonesia, misalnya Museum de Mata di Jogja. Nah, sejak 1 Januari 2017, Bandung juga punya sebuah museum 3D yang beralamat di Jalan Setiabudi 293-295, bernama: Amazing Art World. Obyek wisata ini dibangun oleh sebuah perusahaan dari Korea Selatan dan menjadi proyek ketiganya setelah Amazing Art di Hainan (Tiongkok, 2013) dan Art in Island di Manila (Filipina, 2014).

ilusi monas (monumen nasional_ di amazing art world bandung
tolooonggg, aku dikejar-kejar gaduuunnn — eh, raksasa!
putra duyung yang terhilang
bermacam-macam tema ada di amazing art world bandung

Mengutip dari laman resminya, Amazing Art World Bandung memiliki luas 2 hektar dan menjadi museum 3D terluas di dunia! Di dalamnya terdapat 6 galeri, 13 zona, dan 150 titik berfoto, seperti: Aqua Zone, Dinosaurs Zone, Animal Zone, Roma Italia Zone, Horror Zone, Main Hall (ilusi hutan, air terjun, piramida, permadani terbang), Black Art Zone, Fantasy Zone, Love Zone, dan Winter Zone. Lukisan-lukisannya dibuat oleh 20 pelukis dan para professional dari Korea Selatan yang udah menghasilkan 500 karya.

Amazing Art World Bandung dilengkapi dengan lahan parkir yang dapat memuat ratusan mobil, toilet, musholla, café, restoran, dan toko suvenir. Vendor makanan yang tersedia adalah Alas Daun, Morning Glory Café, dan Pick & Eat. Harga tiket masuknya adalah Rp100.000 (Senin-Jumat) atau Rp130.000 (Sabtu-Minggu) untuk umum dan Rp80.000 (Senin-Jumat) atau Rp100.000 (Sabtu-Minggu) untuk pelajar. Ada harga khusus untuk pembelian tiket grup minimal 20 orang. Tiket dapat dibeli langsung atau secara online.

sakit sakit enak gitu nyuntiknya #eh
keluarkan aku! keluarkan aku!
trust me, i’m not a good food for you ma’am

Gue berkunjung ke Amazing Art World Bandung pada bulan April 2017 dalam rangkaian media trip Hotel Grand Cordela Bandung. Saat itu harga tiketnya masih promo, Rp75.000 saja. Banyak netizen yang bilang kalau gue adalah peserta yang paling ekspresif di foto-foto di atas, hehe.

 

Taman Lembah Dewata

Dari Amazing Art World, kita lanjutkan perjalanan ke atas menuju Taman Lembah Dewata yang beralamat di Jalan Raya Tangkuban Perahu km 3,7 Cibogo, Lembang. Yang satu ini baru banget gue kunjungi pada bulan Mei 2018 kemarin.

instamodel be like…
perahu-perahu kayuh di taman lembah dewata lembang

Saat itu, gue dan 1 orang teman berangkat dari lokasi staycation kami di Loka Hostel, Ciumbuleuit, dengan GrabCar. Gue suka banget sama driver-nya. Dia langsung mengoptimalkan Google Maps untuk mencapai lokasi tanpa banyak nanya sama kami yang juga baru pertama kali ke tempat itu. Orangnya masih terbilang muda, mungkin usia 30-an, bersih, dan nggak banyak ngobrol basa-basi sama kami. Btw ini bukan tulisan buat endorse GrabCar ya.

Taman Lembah Dewata ini tempat wisata hits yang masih baru, kekinian banget pokoknya. Pas kami sampai, driver-nya juga penasaran itu tempat apaan. Tiket masuknya hanya Rp10.000, jauh lebih murah daripada tiket masuk Farmhouse atau Floating Market Lembang. Begitu mempelajari kondisi lapangan, gue pun sadar bahwa tempat ini ditata dengan menyisipkan unsur Hindu atau ke-Bali-Bali-an melalui kehadiran gapura, patung dewa-dewi, dan miniatur Candi Borobudur.

yok ikut abang naik kereta, neng

Namun atraksi utama Taman Lembah Dewata yang membuat gue tertarik adalah kehadiran sebuah danau buatan yang cukup luas. Danau yang tenang itu dikelilingi oleh medan hijau yang berbukit-bukit dan jalur pejalan kaki. Ada 2 spot berfoto dengan latar danau: observation deck di depan restoran (yang akan pertama kali kamu lihat) dan sebuah dermaga kecil yang menjorok ke danau di bagian sisi kiri dari arah kedatangan. Ada perahu-perahu kayuh yang tertambat di tepi danau yang bisa disewa pengunjung. Saat itu kami nggak main perahu sih, jadi nggak tau ongkosnya berapa.

Di sisi kiri danau dari arah kedatangan, ada kereta wisata yang dirancang dengan desain lokomotif klasik. Kereta bisa dijalankan untuk berkeliling taman jika ada massa yang cukup. Sekali lagi, karena kami cuma berdua dan saat itu juga nggak ada pengunjung lainnya, kami pun nggak mencoba kereta itu dan nggak tau juga ongkosnya berapa. Nggak ada petugas yang standby atau papan harga.

memandangi kesalahanmu
taman lembah dewata punya banyak spot ucul kayak gini

Puas (sementara) dengan danau dan kereta api, gue makan siang di restoran yang tersedia sementara Yuda (yang lagi berpuasa) nemenin gue makan, hahaha. Gue pesen Ayam Bakar Majapahit sesuai rekomendasi seorang bapak-bapak Tionghoa yang saat itu lagi makan bareng sama keluarganya di restoran. Gue nggak tau apakah dia pengelolanya, tapi rekomendasinya manteeeppp! Ayamnya dilumuri bumbu dengan sensasi manis seperti gudeg. Ditambah susu jahe panas, biaya makan siang gue cuma Rp50.000. Gue nggak akan protes karena saat itu makanannya enak dan gue lagi berada di tempat wisata.

Di depan restoran ada sepeda-sepeda dan becak-becak mini yang juga dapat disewa pengunjung. Selain restoran, di sayap kanan danau juga ada warung kelontong yang menjual makanan ringan dan minuman. Oh iya, konter penukaran tiket ada di warung itu. Tiket yang sudah dibeli dapat ditukarkan dengan air mineral atau Teh Pucuk Harum. Kalau tertarik mau naik kereta, perahu, sepeda, atau becak, kamu bisa memanggil teteh-teteh berseragam yang wara-wiri di area taman.

ayam bakar majapahit yang endeeuuss!
restoran di taman lembah dewata
toilet di samping restoran

Gue dan Yuda lalu melanjutkan penjelajahan kecil kami dengan naik ke sebuah bukit kecil di belakang restoran, mengikuti papan petunjuk yang berbunyi View Maze. Pemandangan labirinnya biasa aja sih, gue lebih suka pas foto menghadap ke arah danau.

Taman Lembah Dewata ini dulunya adalah sebuah equestrian (peternakan kuda) semata sebelum dikembangkan jadi seperti ini. Kabar baiknya, Ganesha Equestrian-nya masih ada dan bebas dikunjungi. Boleh masuk area kandang, namun harus didampingi. Kami sendiri cuma duduk-duduk santai mengamati akang equestrian berlatih dengan kudanya. Suasananya tenang, sejuk, Yuda sampai ketiduran di bangku.

menuju area equestrian
abang penunggang kuda
berfoto bersama ilalang dan rerumputan tinggi

Sebelum mengakhiri kunjungan, kami naik ke sebuah bukit kecil di ujung danau. Jalurnya sudah dirapikan dengan tangga beton, jadi nggak susah untuk mendakinya, cuma capek aja. Lumayan, bisa foto-foto ala di gunung bersama ilalang dan rerumputan tinggi. Tadinya kami mau menunggu sunset sebelum turun. Namun karena awan mendungnya tampak semakin meyakinkan, kami lalu buru-buru kembali ke restoran. Keputusan yang tepat, karena setelah itu hujan turun deras mengguyur Lembang.

 

Orchid Forest Cikole, Lembang

Dari Taman Lembah Dewata, kita naik lagi sedikit menuju Orchid Forest Cikole yang lokasinya persis di sebelah Terminal Wisata Grafika Cikole, Lembang. Dibandingkan Taman Lembah Dewata, harga tiket masuk (HTM) Orchid Forest ini terbilang mahal, Rp30.000,00. Gue bilang mahal bukan karena perkara nominal semata, tapi karena yang ditawarkan nggak sesuai harapan gue.

:beg::beg:

1 pangeran dan 3 putrinya
payung warna-warni di orchid forest cikole lembang
foodcourt orchid forest cikole lembang
full team di rumah pohon orchid forest cikole
seorang pemuda tanggung nyaris putus asa menunggu pasangan hidupnya

Gue mampir ke Orchid Forest Cikole pada tanggal 1 Juni 2018 bareng temen-temen komsel gereja sebelum kami camping selama 1 malam di Terminal Wisata Grafika Cikole. Kalau bukan karena ajakan mereka, mungkin gue nggak akan pernah ke Orchid Forest Cikole ini. Isinya kayak obyek-obyek wisata serupa yang udah banyak di Bandung: hutan pinus dengan spot-spot foto artifisial. Tiket Rp30.000 dapat ditukar dengan 1 botol air mineral ukuran 330 ml.

Atraksi utama Orchid Forest Cikole adalah jembatan kayu berundak yang memanjang dari salah satu gundukan menuju ke rumah pohon. Kalau malam, jembatan kayu ini will be illuminated (gue nggak tau padanan kosakata bahasa Indonesia yang pas) dengan lampu-lampu keemasan di sepanjang jalurnya. Sayangnya saat itu kami ke Orchid Forest saat siang hari. Selain itu, ada juga flying fox, undak-undakan batu seperti reruntuhan candi, café, dan foodcourt. Harga makanan di foodcourt-nya nggak mahal-mahal amat, sekitar Rp20.000 atau Rp30.000. Sayangnya saat itu vendor yang jual makanan berat lagi tutup semua, kami terpaksa cuma makan indomie rebus yang sialnya juga kalah nikmat dengan indomie rebus di warkop langganan gue.

jembatan kayu orchid forest cikole
candi-candian di orchid forest cikole
senja bersama pepohonan
camping di terminal wisata grafika cikole

Terus apa kabar dengan si “hutan anggrek” seperti yang digaungkan namanya? Iya sih, ada tanaman-tanaman anggrek, tapi cuma sepetak kecil gitu. Nggak perlu repot-repot bawa temen pecinta anggrek daripada dia kecewa karena koleksi anggrek di rumahnya bisa jauh lebih komplit. Kami nggak terlalu lama di sini. Dari pintu keluar, kami naik shuttle car gratis (semacam angkot yang difungsikan buat fasilitas transportasi pengunjung seperti ontang-anting atau wara-wiri di Kawah Putih) menuju tempat parkir. Lumayan euy kalau harus jalan lagi, areanya luas. Dari tempat parkir ke pintu masuk (loket pembelian tiket) aja jalannya udah lumayan. Jangan sampai ketauan bawa makanan atau minuman ya, nanti ditahan di loket kayak gue kemarin.

 

Rekomendasi Penginapan: Hotel Vio Pasteur

Kalau kamu perhatikan, ketiga tempat wisata di atas semuanya terletak di kawasan Bandung utara. Makanya, sebaiknya kamu pun mencari penginapan yang letaknya di deket-deket sana.

Terletak di Jalan Dr. Djundjunan 154 Pasteur, Sukajadi, Hotel Vio Pasteur adalah akomodasi yang tepat. Agen travel shuttle (Cititrans, Xtrans, Lintas Shuttle, DayTrans, dsb) cuma sepelemparan batu. Stasiun dan Bandara Husein Sastranegara Bandung juga deket. Jadi lokasinya emang persis di tengah-tengah akses transportasi umum dan tempat-tempat wisata di atas. Pusat perbelanjaan (Bandung Trade Center, PVJ Mall, Istana Plaza, café-café) dan kawasan kuliner juga banyak tersedia.

:star::star:

lobi hotel vio pasteur bandung
tangga yang menghubungkan lobi dan restoran di lantai mezanine
bersantap malam di violet restaurant

Hotel Vio Pasteur punya lobi yang luas dan nyaman dengan banyak seating area. Ada konter penjualan minuman dingin dan beberapa surat kabar. Lobi terhubung dengan Violet Restaurant melalui tangga manual. Sementara kamar dapat diakses dengan elevator (lift).

Violet Restaurant digunakan untuk sarapan tamu, makan siang, dan makan malam untuk umum. Ruangannya memang nggak terlalu luas, tapi saat itu masih dapat mengakomodasi seluruh tamu dan nggak terkesan sumpek. Ada 2 meja di area outdoor kalau misalnya tamu mau sarapan sambil memandangi jalan raya. Menu sarapannya terdiri dari nasi, ayam, sayur, mie goreng, omelet on demand, roti tawar, bubur ayam, buah-buahan, dan minuman (jus, kopi, teh). Di luar sarapan, gue juga cobain sapo tahu dan nasi timbel. Rasanya enak dan porsinya mengenyangkan. Violet Restaurant juga melayani room service untuk tamu yang ingin makanan atau minuman pesanannya diantar ke kamar.

Baca Juga: Pengalaman Menginap di Hotel Vio Cimanuk, Dekat Gedung Sate Bandung

sarapan lengkap di hotel vio pasteur bandung
violet restaurant | hotel vio pasteur bandung

outdoor seating area for breakfast with view
nasi timbel dan es kelapa muda
sapo tahu dan minuman hijau menyegarkan yang gue lupa namanya

Di Hotel Vio Pasteur, kamu bisa nginep di Family Deluxe Room yang bisa memuat sampai 3 orang dewasa! Ini berkat kehadiran 1 ranjang King Size dan 1 single bed di dalam kamar yang luas ini. Kamar juga dilengkapi dengan hanging corner, safety box, slippers, teko listrik, complimentary water, complimentary drink (kopi dan teh), meja kayu memanjang di bawah TV, dan seperangkat meja-kursi kerja.

Asyiknya lagi, kamar Deluxe Family Hotel Vio Pasteur ini juga punya jendela floor-to-ceiling di dua sisi dindingnya, oke banget buat mempercantik feed Instagram, hihi. Area working space juga ada di sudut ruangan, jadi bisa laptopan sambil mengamati lalu lintas jalan raya di bawah sana. Toilet dan bilik pancurannya cukup luas, air panas berfungsi baik dan mudah diatur.

kasur di kamar hotel vio pasteur ini nyaman banget
complimentary water, coffee, and tea
meja kerja di sudut kamar hotel vio pasteur
kamar mandi hotel vio pasteur bandung

Secara keseluruhan, gue puas banget nginep di Hotel Vio Pasteur. Lokasinya strategis, kamarnya luas, suasananya nyaman, fasilitasnya juga udah cukup lengkap buat traveler yang ingin jalan-jalan di Bandung.

 

Gimana, di antara ketiga tempat wisata di atas, mana yang paling menarik buat kamu? Oke nggak ‘nih rekomendasi hotel gue?

Iklan

29 tanggapan untuk “Mengunjungi 3 Tempat Wisata Kekinian yang Instagrammable di Bandung”

  1. Rabbit House masih masuk tempat yang instagrammable kekinian di Bandung gak mas? (Beneran nanya, bukan sarkas lho 🙂 )

    Taman Lembah Dewata ini baru denger (padahal orang Bandung haha). Kelihatannya lebih seru daripada Floating Market. Total budget untuk jalan-jalan di situ per orang berapa ya (termasuk makan)? Makasih

  2. Bandung semakin berbenah, menambah destinasi wisata, menombok kekurangan wisata alam dengan musium seni, sungguh strategi yang cantik. Semoga jalan atau infrastrukturnya juga dibenahi jadi tidak akan bertambah macet

  3. aku malah lebih tertarik ke taman lembah dewata. Lebih santai dan tidak terlalu ramai. Tinggal bersantai dan menikmati suasanya saja, kemudian kehidupan berjalan lebih lambat…wwkwkwkwkk

  4. Ini keren banget, bener sih kata mas Teguh ini. Kekinian bet..he
    Next lah sekalian ke rumah bibi jalan-jalan di Bandung..
    Itu memang lagi hits banget yang ada di Lembang, Bandung ya, Mas..

    Lucu yang pas posisi di suntik itu..he
    Harusnya posisinya lebih atas, Mas..wkwk

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.