Bandung, English Posts, Indonesia, Jawa Barat, Review, Travel

[Bi-Lingual Post] A Mini Guide of Husein Sastranegara International Airport, Bandung

welcome to bandung international airport

Meskipun memiliki predikat sebagai ibu kota provinsi sekaligus salah satu kota terbesar di Indonesia, sampai saat ini Bandung belum memiliki sarana transportasi umum yang ramah untuk para pelancong tunggal yang menghubungkan bandara dengan pusat kota. Boro-boro Skytrain atau kereta bandara (seperti yang ada di Jakarta, Medan, Padang, dan Yogyakarta), bus bandara aja nggak punya. Parahnya lagi, lokasi Bandara Internasional Husein Sastranegara ini nggak persis di pinggir jalan raya, kita harus berjalan kaki kurang lebih 15 menit dari jalan utama.

Despite its position as a provincial capital and one of Indonesian largest cities, Bandung doesn’t have a reliable mode of public transportation for a solo budget traveler to connect the airport to the city center and vice versa. Don’t expect a Skytrain or an airport train (where Jakarta, Medan, Padang, and Yogyakarta provide), the city doesn’t even have an airport bus. Worse, the Husein Sastranegara International Airport is located approximately 15 minutes-walk from the main road.

front view of bandung international airport

Ada yang bilang ke gue bahwa kendala yang pemerintah kota hadapi adalah posisi Bandara Husein Sastranegara Bandung sebagai milik TNI Angkatan Udara. Well, Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta juga gitu, pun Bandara Ahmad Yani Semarang, tapi kedua kota menyediakan BRT (bus rapid transit) yang melalui bandara. Bandara Jogja bahkan punya kereta Prambanan Ekspres yang menghubungkan bandara dengan pusat kota, bahkan dengan kota-kota di sekitarnya. Jadi, gue pikir masalahnya nggak sesimpel itu.

There’s someone told me that the obstacle in solving this problem is the fact that Husein Sastranegara Airport belongs to the Indonesian national air force. Well, so do Yogyakarta’s Adi Sutjipto International Airport and Semarang’s Ahmad Yani Airport. But both cities provide a bus rapid system to serve the airport. The Yogyakarta’s Airport even has a commuter train named Prambanan Ekspres to connect the airport to city center of Jogja and its surrounding cities. So, I guess the problem is not that simple.

 

Ada Pilihan Apa Saja di Bandara Bandung? (What Choices Do We Have?)

Opsi paling konvensional dari bandara menuju titik tujuanmu adalah taksi bandara alias Taksi Primkopau yang ongkosnya langsung melenyapkan gairah buat liburan di Bandung. Dengan banyaknya laporan negatif sampai saat ini, gue nggak perlu repot-repot mencoba peruntungan dengan sekedar bertanya atau bahkan mencoba langsung. Kalau kamu nggak keberatan dengan tariff taksi bandara, berarti kamu bukan pembaca yang butuh panduan ini.

The most conventional way to commute from airport to your destination is taking an airport taxi named Taksi Primkopau. But the price is so crazy that your desire to explore Bandung might vanish in seconds! Regarding the negative testimonials about it, I don’t bother to give it a try once, I don’t even ask. If their price is not a problem for you, then you don’t need this special guide.

picking up and dropping off passengers

Ojek pangkalan menawarkan harga yang lebih masuk akal. Dari tempat tinggal gue di kawasan Pasteur menuju bandara, ongkosnya Rp20.000,00 – Rp25.000,00. Untuk rute sebaliknya, harganya bisa naik sampai Rp50.000,00. Sebagai informasi, jarak Pasteur dari bandara hanya sekitar 34 kilometer. Tapi kalau kamu buru-buru dan pergi seorang diri, ini adalah opsi terbaik.

The motorcycle taxi (called “ojek” in Indonesia) offers a more reasonable price. From where I live in Pasteur to the airport, the driver charged me for Rp20.000,00 – Rp25.000,00. For the opposite direction, the price goes up to Rp50.000,00. Fyi, Pasteur is just 3 – 4 kilometers away! But if you are in a hurry, this is the best bet you can get.

information center of bandung international airport

Baru-baru ini, Grab sudah membuka layanan khusus dari bandara. Hampiri booth mereka di depan Terminal Kedatangan, daftarkan dirimu pada selembar kertas, lalu buka aplikasi untuk melihat ongkos perjalanan dari bandara menuju tujuanmu. Petugas akan memanggil namamu. Saat gue mencoba layanan ini, ongkos yang tertera di aplikasi adalah Rp100.000,00 karena lagi banyak permintaan dan sedang turun hujan. Kalau kamu pergi bareng temen atau keluarga, opsi ini mungkin bisa dipertimbangkan. Eh tapi, salah seorang temen gue bilang kalau di tengah jalan sopirnya (layanan Grab bandara ini menggunakan armada taksi) akan meminta harga lebih mahal dari yang tertera di aplikasi. Waduh…

Currently, Grab officially opened a special service to transport passengers from the airport. Go to their booth in front of the arrival gate, register yourself on a paper, and open the application to see how much the system will charge you for your journey. An officer will call your name. When I tried to calculate the fare, the application displayed Rp100.000,00 for my trip due to high demands and bad weather. If you’re traveling with your family or friends, you may consider this option. Oh, but a friend of mine told me that, in the middle of the way, the driver will charge you more than stated on the apps. Yes, this Grab airport service use regular taxis as their fleet.

the direction sign. where are you going?

Cara paling murah dari bandara menuju tempat tujuan adalah dengan GrabBike dan Gojek. Dari Pasteur menuju Bandara Husein Sastranegara Bandung, ongkosnya cuma Rp10.000, lalu turun lagi jadi Rp5.000,00 setelah dipotong diskon Grab. Sayangnya, banyak driver GrabBike yang nggak berani menurunkan penumpang di depan bandara. Mereka bisa dikeroyok atau handphone-nya disita! Temen gue pernah mengalaminya. Parah banget, ‘kan?

Nah, mereka cuma berani menyampaikan kita sampai pertigaan Abdulrahman Saleh (yang ada taman atau monumennya) atau Maleber (yang dekat jalur kereta api). Dari situ, kita harus berjalan kaki selama kurang lebih 15 menit. Kalau kamu nggak membawa banyak barang, cara ini udah yang paling bagus. Ngomong-ngomong, saat gue mau balik ke kost dari pertigaan Abdulrahman Saleh — entah aplikasinya lagi error atau lalu lintas saat itu lagi kacau banget — gue terus-terusan dapet driver yang posisinya jauh banget. Coba buka Gojek, malah sama sekali nggak dapet driver. Akhirnya gue naik angkot sampai Istana Plaza.

a quiet corner of the airport

The cheapest mode of transportation from your hotel (where you stay or live) to the airport and vice versa is by GrabBike and Gojek. From Pasteur to Husein Sastranegara Airport, the cost is as cheap as Rp10.000, and then it changed to Rp5.000,00 after I applied a discount code. Unfortunately, many drivers will not drop you at the exact point. They can be physically bullied, their phones can be taken away, by some conventional taxi and ojek drivers. It’s horrible, isn’t it?

Usually, they will drop you at the junction of Jalan Abdulrahman Saleh (where you can see a park / monument) or Maleber (where you can see a railway). From the junction, you have to walk for about 15 minutes. If you don’t bring many luggage, you’re safe and will enjoy your walk. Anyway, when I was going home from the junction — I didn’t know if the Grab apps was in trouble or the traffic was total mess — but I kept getting drivers too far away from when I was. I changed to Gojek, and it’s worse, I didn’t even get a single driver! Finally, I waved an “angkot” to bring me to Istana Plaza.

restaurants lined the street

Selain GrabBike dan Gojek, angkot juga menjadi mode angkutan umum yang murah menuju Bandara Husein Sastranegara. Apalagi kalau kamu berangkat dari kawasan Pasteur, Jalan Pajajaran, Jalan Pasir Kaliki, Stasiun Bandung, dan Maleber yang notabene dekat dari bandara. Ketentuannya sama kayak naik GrabBike dan Gojek: kamu turun di pertigaan Abdulrahman Saleh atau perlintasan kereta api Maleber.

Butuh hotel di kawasan Pasteur? Ke Hotel Vio aja. Klik untuk baca ulasan gue.

Apart from GrabBike and Gojek, “angkot” is another cheap way to get to Husein Sastranegara Airport. It is quite recommended if you stay around Pasteur, Jalan Pajajaran, Jalan Pasir Kaliki, Bandung Railway Station, or Maleber which located near the airport. The same rule applies as you ride GrabBike or Gojek: the driver will drop you at the junction of Abdulrahman Saleh or Maleber near the railway. There is no any angkots to have some routes passing the airport.

 

Fasilitas Bandara (Airport Facilities)

Walaupun fasilitas transportasinya belum lebih baik, secara umum Bandara Husein Sastranegara udah lebih nyaman daripada sebelumnya. Interiornya sudah lebih modern, bersih, dan nyaman. AC-nya adem lah, hehehe. Ada tempat duduk yang nyaman di ruang tunggu, PC gratis dengan sambungan internet nirkabel, ATM, toilet yang bersih, dan Duty Free Shops.

Relax, despite lacks of public transportation, generally speaking Husein Sastranegara Airport is getting better than before. There are a lot of improvements! The airport is modern, clean, comfortable, and cool enough. There are convenience seating area in the boarding room, free PC with internet connection, ATM, clean toilet, and Duty Free Shops.

Butuh hotel dekat bandara Bandung? Need a hotel near the airport? Check out Triple Seven Bed & Breakfast. Murah tapi instagrammable, inexpensive yet eye-catching!

food vendors lined the corridor

Makanan dan minuman banyak tersedia — baik di dalam ruang tunggu, di dalam gedung bandara, maupun di depan bangunan bandara. Dalam penerbangan ke Kuala Lumpur pada Februari 2017 lalu, gue sarapan dengan roti dan kopi di dalam ruang tunggu. Sementara di selasar depan Gerbang Kedatangan juga ada beberapa vendor, di antaranya adalah Exelso, Roti O, Kebab Company, dan Wietiam Kopi. Sementara di luar bangunan bandara, setidaknya ada Solaria, Starbucks, dan yang terbaru — UPNORMAL Coffee & Roaster.

Food and beverages are available in the boarding room, in the airport, and outside the airport. On my flight to Kuala Lumpur on February 2017, I had a bread and a cup of coffee for my breakfast inside the boarding room. Food vendors are lined the arrival gate, such as Exelso, Roti O, Kebab Company, and Wietiam Kopi. While outside the building, at least there is Solaria, Starbucks, and the newest one — UPNORMAL Coffee & Roaster.

upnormal coffee & roaster just across the building
exclusive merchandise and souvenirs corner
indoor & outdoor seating
order then pay it directly
which one do you want?

Hari Sabtu kemarin gue coba mampir ke UPNORMAL Coffee & Roaster. Dari segi penampilan, gue suka banget balutan warna hijau toska untuk desain interiornya. Ada ruang duduk di dalam dan di luar. Buat seporsi Nasi Goreng Upnormal dan secangkir Black Coffee panas, gue hanya perlu membayar Rp45.000,00. Udah termasuk murah buat makan-makan di bandara dengan nyaman dan enak.

Last Saturday, I gave a try to UPNORMAL Coffee & Roaster. I love the touch of turquoise blue on its interior design, it is so refreshing! Indoor and outdoor seating area are available. I ordered Nasi Goreng Upnormal and a cup of hot Black Coffee for just Rp45.000,00 (tax and service are already included). I consider UPNORMAL as one of the most affordable way to have a meal at the airport.

FOOD AND BEVERAGES AT BANDUNG AIRPORT Mengesampingkan kurang baiknya fasilitas transportasi umum dari & menuju Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung, bandara ini sudah lebih baik sekarang. Bangunannya bersih, modern, luas, adem, dan banyak pilihan makanan & minuman. Di dalam boarding room, di selasar arrival / departure hall, sampai di luar gedung bandara, beragam pilihan tersedia. Yang terbaru adalah @warunk_upnormal coffee roaster ini. Tempatnya nyaman, ada indoor & outdoor seating area, dan gue suka banget percikan warna toskanya. Secangkir Black Coffee dan Nasi Goreng Upnormal dapat dinikmati cukup dengan Rp45.000, sudah termasuk pajak. . . #thetravelearn #food #foodpics #foodphoto #foodblogfeed #foodporn #foodgasm #foodblogger #bandungfoodies #bandungfoodspot

A post shared by Matius Teguh Nugroho (@nugisuke) on

fried rice, coffee, and laptop for my saturday night

So, how is your experience about Husein Sastranegara International Airport in Bandung? Let me know your thoughts and please kindly share on comment section below.

Iklan

28 tanggapan untuk “[Bi-Lingual Post] A Mini Guide of Husein Sastranegara International Airport, Bandung”

  1. wah, menarik banget kak. selalu lengkap dan.. saya suka artikel yang bi-lingual gini.
    memudahkan bule buat baca artikelmu hihi

    penasaran, harga upnormalnya masih normal kek di upnormal yg lainnya kak?
    btw, banyak amat itu kata normal 😀

    1. Iya, artikel ini memang ditujukan buat pembaca Indonesia dan luar negeri hehe. Soalnya Bandung banyak dikunjungi bule juga.

      Yup, sama kayak Upnormal lainnya kok. Haha, nggak sadar banyak kata “normal” 😀

      1. haha mantep, asik keknya kalo nanti-nanti semua artikel dibikin kek gitu ya kak 😀
        aku sempat bikin 2 bahasa juga cuma engga dilanjutin lg haha

        asyik!
        bisa ngopi murah di bandara haha

  2. Untuk jajaran restoran nya sudah mulai banyak ya? Kalau saya dulu 5 tahun lalu ke Bandung via Bandara ini cuman ada rumah makan Padang gitu. Tapi alhamdulillah sekali ya kalau udah ada Gojek dan Grab masuk di sini kalau gak namanya taksi di sini aduh benar benar bikin kantong.bolong.

  3. Repot ya kalo akses bandaranya susah gini hehe.
    Mau manggil grab kalo di bandara/stasiun bandung juga deg-degan, pada gak mau ambil orderan 😦

    Cheers,
    Dee Rahma – heydeerahma.com

  4. Belum pernah ke Bandung naik pesawat sejauh ini. Kalau gak bus ya kereta. Misal naik pesawat turunnya di Tangerang atau Jakarta, baru nanti sambung bus atau kereta. Haha.

    Tapi, untuk ukuran ibukota provinsi harusnya kan disediakan BRT, atau paling tidak kerjasama Damri, seperti Juanda di Surabaya yang bisa tembus ke Terminal Bungurasih. Kalau bus antar Terminal 1 dan 2 gratis sih. Wacana untuk membangun Skytrain pun embuh kapan mulai direalisasikan. Sementara, kalau dari Bandara Abdurrahman Saleh Malang udah banyak transportasi online yang lalu lalang harga normal.

    Tapi, asyik gak angkot yang bisa tembus bandara ini? 🙂

    1. Betul, itu maksudku. Minimal ada damri atau bus khusus yang sampai persis di depan bandara.

      Kalo ngangkot, harus jalan dulu 10 menitan mas. Buat backpacker sih nggak masalah, tapi kalo barang bawaannya ribet jadi malesin hehe

      1. Tapi, angkotnya gede dan gak reot kan, ya? Bisa dibayangin, bawa barang bejibun, tapi masih kudu uyel-uyelan dengan pedagang sayur atau ibu-ibu dari pasar, kan gak lucu masuk bandara bau badan gak keruan. Haha.

  5. Saya belum pernah sih turun langsung di bandara airport.
    Jadi dulu waktu ke bandung via Jakarta.
    Nah dari Jakarta baru deh ke Bandung dengan carter mobil 😀
    Tapi kalo diliat udah bagus sih bandaranya.

  6. beruntungnya aku setiap ke Bandung naiknya kereta karena dari Jakarta nggak perlu naik pesawat, sekalipun naik pesawat mungkin sekali kedip berasa udah sampai kali ya. tapi boleh lah lain kali nyobain Jakarta – Bandung via udara.

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.