Kami tergopoh-gopoh berlari menyusuri skybridge Stasiun Bandung menuju peron 3 tempat kereta api yang akan kami naiki sudah menanti. Kalau cuma bawa badan sendiri, nggak apa-apa. Masalahnya, saat itu saya dan Ara masing-masing harus menggendong satu anak kami, ditambah tas ransel kecil dan kantung plastik berisi perbekalan. Karena “hanya” kereta api lokal, saya tidak menyangka kami harus melalui adegan ini. Biasanya tinggal naik dari peron terdekat tanpa harus naik-turun jembatan.
Begitu sudah duduk di dalam gerbong kereta, saya auto menerima semburan omelan dari istri saya itu.
Beberapa menit sebelum keriweuhan itu terjadi, kami tiba dengan manis bersama taksi online tumpangan kami dari Grand Sovia Hotel. Sesungguhnya, hotel ini berada persis di seberang Pintu Utara Stasiun Bandung. Ternyata, penumpang kereta lokal harus masuk dari pintu selatan, jadi kami harus melalui rute memutar. Kalau hanya sendiri dan nggak terburu-buru, saya akan mengajak Ara jalan kaki. Berhubung sudah ada si kembar, kami harus naik taksi online Rp14 ribu.
Untungnya, bumi masih berputar, akses Pintu Selatan Stasiun Bandung saat ini sudah jauh lebih pantas daripada beberapa tahun lalu saat saya masih lajang. Dulu, entryway-nya itu terjal, berlubang-lubang, genangan air dan lumpur di sana-sini, mirip jalan di dusun Ara di kabupaten Banyuasin sana. Sekarang sudah diaspal mulus. Pun sudah ada penanda yang jelas di ujung entryway bahwa kita memasuki “PINTU SELATAN STASIUN BANDUNG”, bukan area antah-berantah di belakang stasiun di mana kios-kios jasa kurir melayani pelanggannya.
Kembara Si Kembar Perdana, Tanamkan Cinta Akan Kereta Api
Saya dan Ara tidak begitu saja mengajak si kembar kami, Aya dan Sae, naik kereta api. Ini bukan sekadar trip impulsif, trip karena kurang kerjaan, atau trip “jalan ke mana ngapain aja yang penting jalan.” Ada sebuah misi di balik perjalanan ini.
Saya suka kereta api, dan saya ingin memperkenalkan kecintaan saya ini pada anak-anak saya sejak dini.
Terserah apakah nanti mereka akan sama-sama suka atau tidak, saya nggak akan memaksakan. Yang penting, mereka paham kesukaan bapaknya ini jadi akan maklum dengan sikon-sikon tertentu di masa depan, contohnya ketika saya memasukkan setidaknya satu agenda naik kereta api dalam perjalanan keluarga kami berempat, hahaha.
Beberapa waktu lalu, Ara membelikan buku cerita anak berjudul “Naik Kereta Api Tut Tut Tut” terbitan DAR! Mizan untuk kedua anak kami, yang lalu sukses menjadi bahan bacaan favorit mereka. Sebagai penulis dan mantan jurnalis, istri saya memang sangat peduli dengan literasi dan minat baca anak kami. Sebulan sekali, dia membeli buku cerita untuk si kembar.
September adalah bulan ulang tahun pernikahan kami. Berhubung kami udah lama banget nggak staycation, lalu si kembar udah bisa diajak pergi tipis-tipis, kami memutuskan untuk merayakan hari jadi pernikahan kami yang ke-3 dengan menginap di hotel. Nggak usah luar kota, dalam kota Bandung aja dulu. Ara lalu mengusulkan untuk memasukkan agenda naik kereta api ke dalam itinerari, yang tentu saya sambut dengan senang hati.
Maka, kami memilih Grand Sovia Hotel di Jalan Kebon Kawung no. 16 menjadi lokasi staycation kami.
KA Commuter Line Bandung Raya
Ini adalah kali kedua saya dan Ara naik KA Commuter Line Bandung Raya atau KA Lokal Bandung Raya. Perjalanan pertama kami dengan rute Kiaracondong – Padalarang PP bisa dibaca di Kompasiana. Saat itu, Aya dan Sae masih newborn, kami pergi berkencan dengan menitipkan si kembar pada eyangnya yang saat itu masih tinggal bersama kami.
Sekilas tentang KA Commuter Line Bandung Raya, ini adalah layanan kereta api lokal yang menjangkau kawasan Kota Bandung, Kab. Bandung, dan Kab. Bandung Barat. Rutenya menjulur dari Cicalengka di ujung timur hingga Padalarang di ujung barat dengan frekwensi kedatangan sekitar 1 jam sekali. Layanannya belum terelektrifikasi seperti halnya Commuter Line Jabodetabek dan Commuter Line Yogyakarta, tapi stasiun-stasiunnya kini sudah direnovasi agar lebih layak menjadi sebuah stasiun rail transit system. Lebih rapi, bersih, modern, dan lengkap fasilitasnya. KA Commuter Line di Bandung masih menggunakan armada kereta api jarak jauh kelas ekonomi lama yang kursinya tegak lurus dengan susunan 3-2.
Pembelian tiket hanya dilayani via aplikasi Access by KAI, sudah tidak ada loket pembelian masuk. Ongkosnya Rp5.000,00 per tiket untuk dewasa, gratis untuk anak di bawah 3 tahun. Satu akun bisa untuk multiple passenger, jadi saya dan Ara nggak harus download aplikasi masing-masing.
Ada sedikit kendala saat akan melakukan pembayaran.
Saya berencana melakukan pembayaran dengan OVO. Tiap memilih opsi OVO untuk membayar, aplikasi selalu gagal. Pertama kali gagal, saya kira masalah sinyal. Tapi berkali-kali saya coba, hasilnya sama, sementara konektivitas nggak ada masalah. Ternyata sebelum memilih OVO, harus klik dulu kolom “Tambah pembayaran” di bagian Metode Pembayaran Saya di atas pilihan pembayaran Bayar dengan E-wallet. Setelah itu, aplikasi akan terhubung dengan e-wallet kita dan barulah bisa klik opsi OVO di bawahnya.
Bilang dong, bre. Contoh, ada papan notifikasi berbunyi, “Anda belum menambah metode pembayaran,” atau, “Aplikasi OVO Anda belum terhubung.” Jangan error-error aja tanpa informasi jelas.
Pengalaman Jalan-Jalan dengan Balita (Toddler)
Dengan usianya saat ini, Aya dan Sae sudah termasuk ke dalam golongan toddler atau balita, bukan lagi bayi. Mereka sudah bisa berjalan kaki, berkomunikasi secara terbatas, dan makan/minum dengan lebih banyak pilihan. Bukan lagi bayi yang harus digendong terus-terusan dan hanya bisa minum susu.
Sejauh ini, inilah perjalanan terjauh dan terlama kami bersama si kembar. Rasanya? Capeeekkk.
Dari hotel, kami sudah menyiapkan beberapa perbekalan yang kami masukkan ke dalam tas ransel kecil, yaitu:
- Diapers
- Tissue basah dan kering
- 1 setel baju ganti
- Cemilan anak
- Buku Kereta Api (bisa diganti mainan favorit anak)
- Air putih untuk anak
- Susu untuk anak
- Kantong plastik.
Sementara buat bekal emak dan bapaknya, kami sempatkan jajan di Indomaret begitu tiba di stasiun.
Jalan sama bocah itu harus banyak kompromi 🙂
Saya pengennya kami start jalan saat pagi jelang siang, misalnya jam 9 atau 10 pagi. Prakteknya, kami baru mulai jalan saat jam makan siang. Memang susah mau maksain soal waktu sama bocah. Mereka mau jalan udah syukur. Saya sudah siapkan pemikiran ini untuk nanti traveling jarak jauh biar saya nggak berekspektasi tinggi-tinggi. Bisa mendarat di negara tujuan dan kembali ke Indonesia dengan selamat aja udah bersyukur, hehe.
Meski sudah bisa jalan kaki sendiri, terkadang anak masih ingin atau butuh digendong. Butuh—saat kita harus berjalan cepat, berlari, atau melalui medan yang nggak ramah anak. Ingin—ketika mereka malu, takut, grogi, karena berhadapan dengan situasi yang benar-benar asing untuk mereka.
Makanya itinerary harus dirancang sedemikian rupa dengan meminimalisir agenda jalan kaki. Kurang-kurangi nyasar, riset sedetil mungkin sebelum memulai perjalanan. Saya missed cukup fatal ketika tiba kembali di Stasiun Bandung. Karena agak panik dan kaget dengan serbuan penumpang baru yang sudah memenuhi lorong pintu masuk terdekat dengan kursi kami, saya jadi jalan kaki ke arah pintu keluar yang jauh banget dari bangku kami. Detik-detik pertama, aman. Sampai kami dihadang dari penumpang baru dari pintu itu dan malah membuat kami harus jalan berdesak-desakan melawan arus sambil menggendong bocah.
Hal itu membuat Ara marah besar. Sepanjang perjalanan pulang, saya diceramahi untuk berani “pasang badan” kalau kondisinya kita yang benar dan orang lain yang salah itu harus mengalah.
Akhirnya, Berjumpa dengan Sang Komodo Merah “Whoosh”
Terlepas dengan drama di akhir perjalanan, agenda kami hari itu cukup lancar sesuai harapan. Si kembar, surprisingly, sangat kooperatif.
Malah bapaknya yang bikin ulah, wkwkwk.
Dari perjalanan kecil ini, saya juga jadi paham bahwa Aya dan Sae meskipun sama-sama menikmati perjalanan, rupanya punya detail minat yang berbeda. Aya antusias ketika di dalam perjalanan, melongok ke arah jendela dengan ingin tahu, menunjuk-nunjuk bila ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Sementara Sae, bermalas-malasan dalam pelukan ibunya. Sebaliknya, saat tiba di destinasi, Aya lebih banyak menghabiskan waktu dalam gendongan saya. Kali ini, giliran Sae yang semangat eksplor sana-sini. Memperhatikan abang petugas kebersihan stasiun, nimbrung teteh-teteh yang lagi ngobrol, wara-wiri di Indomaret, hingga menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri saat mendengar bel tanda kedatangan kereta api.
Saya sendiri adalah gabungan dari keduanya, meski lebih condong ke minat yang sama dengan Aya. Sae nampaknya memang mewarisi jiwa sosial ibunya.
Tiba di Stasiun Padalarang, kami sempatkan beristirahat dulu. Pas sekali, di aula keberangkatannya yang kecil itu ada jam dinding klasik berbentuk lingkaran, persis seperti yang ada di dalam buku Naik Kereta Api Tut Tut Tut. Kami menunjukkan itu pada si kembar. Mereka ternyata juga dengan cepat mengenalinya sebagai “jam” seperti yang sudah biasa kami ajarkan dengan membaca buku.
Mereka sama sekali tidak rewel dan tidak bandel selama perjalanan di dalam kereta api, hanya menguji kesabaran saat kami makan siang di outlet Indomaret Point Stasiun Kereta Cepat Padalarang karena nggak mau diem 😀 Jalan mondar-mandir ke sana kemari, pegang-pegang barang jualan di etalase, nimbrung pengunjung lain yang lagi makan. Harapan orangtuanya buat makan siang dengan tenang jadi buyar. Saya harus bolak-balik bangkit dari kursi, bilangin mereka, mengangkat mereka, gendong mereka, repeat.
Sebelum melakukan perjalanan ini, saya sudah riset dengan browsing di internet dan cek Google Maps untuk mencaritahu ada tempat makan apa saja yang layak di sekitar Stasiun Padalarang. Hasilnya? Tidak ada. Sama sekali nggak ada cafe, coffee shop, atau resto yang proper dalam walking distance yang ideal untuk pengunjung dengan anak kecil. Kalau di dalam stasiunnya sendiri? Nggak tahu, nggak banyak info di internet. Menurut Google Maps, ada Indomaret Point di seberang Stasiun Kereta Cepat. Ketika kami sudah tiba di lapangan, sama sekali tak terlihat papan nama Indomaret di seberang stasiun.
Kami bolak-balik menyeberang jalan raya di depan stasiun, lalu memutuskan untuk mencoba peruntungan dengan masuk ke dalam Stasiun Kereta Cepat Padalarang. Dari hasil browsing, ada tenant-tenant kuliner UMKM di dalam stasiun, tapi hanya booth atau stall, bukan outlet yang nyaman seperti Maxx Coffee atau Roti O di Stasiun Bandung. Lalu, nggak jelas juga apakah pengunjung nonpenumpang kereta cepat diperbolehkan masuk ke dalam stasiun.
Ternyata, boleh!
Dari depan pintu masuk di lantai dasar, kami naik eskalator ke atas mengikuti signage Keberangkatan (Departure). Begitu tiba di lantai 2, voila! Jajaran booth tempat makan itu ada di depan mata, termasuk Indomaret Point. Tentu saja kami memilih Indomaret Point di ujung lorong, paling besar dan paling proper dengan seating area. Dari luar, banner Indomaret Point memang sudah terlihat, tapi nggak kelihatan tempatnya ada di sebelah mananya stasiun. Rupanya di sini.
Kami membeli beberapa makanan ready-to-eat, sosis bakar, dan Es Cendolita. Saya memilih nasi ayam goreng dari sebuah resto sunda di sampingnya. Harganya memang agak mahal, Rp40 ribuan untuk seporsi nasi ayam goreng dengan lalapan dan tempe. Tapi karena nggak banyak pilihan (sebagian besar booth hanya menjajakan cemilan atau kopi) dan sudah lapar, ya sudah nikmati aja ayam gorengnya.
Setelah puas makan siang dan cukup beristirahat, saya segera membeli tiket pulang ke Stasiun Bandung. Kami pun beranjak dari Stasiun Kereta Cepat Padalarang kembali ke Stasiun Padalarang. Sayang, tidak boleh masuk stasiun dari stasiun kereta cepat, harus keluar dulu untuk pemeriksaan tiket kereta lokal dari petugas. Menurut saya, mekanisme ini harus diubah agar penumpang dari stasiun kereta cepat bisa transfer ke kereta lokal melalui skybridge, misalnya dengan menambah titik pemeriksaan tiket.
Waktu keberangkatan masih agak lama, sekitar satu jam, jadi kami menunggu cukup lama di peron. Tidak banyak kursi di peron, jadi saya membiarkan Ara saja yang duduk. Dalam kebosanan menunggu, Sae menghibur kami dengan menggerakkan badan ke kanan dan ke kiri setiap kali dia mendengar suara bel tanda kedatangan kereta api. Beberapa detik kemudian saat kereta api jarak jauh itu melintas dengan kecepatan tinggi, dia lari kelabakan menghampiri dan memeluk kaki saya karena ketakutan dengan suaranya yang sangat berisik.
Sae bukan satu-satunya penghibur saya sore itu. Sambil berdiri menggendong Aya, mata saya tak sengaja melihat Kereta Cepat Jakarta-Bandung “Whoosh” yang melintas di peron atas sana.
Saya terpukau, namun segera menguasai keadaan dan memberitahu Ara untuk melihat ke arah peron atas. Dia terpesona juga. Saya menikmati detik-detik moncong merah dan badan panjangnya melintasi peron hingga hilang dari pandangan. Beberapa menit kemudian, datang Komodo Merah lainnya dari peron seberang (sehingga sebagian badannya tidak terlihat). Namun kali ini, saya berhasil mengabadikan momennya dengan lebih layak.
Yah, meski belum kesampaian menaikinya, setidaknya saya sudah berhasil melihatnya dengan kepala sendiri kali ini. Ketika pertama kali ke Stasiun Padalarang beberapa bulan lalu, saya hanya bisa bertemu KA Feeder-nya. Dua kali ke sana, bertemu si kereta cepatnya. Nanti tiga kali ke sana, saya naiki sendiri kereta cepat itu, amiiinnn. Kali ini, Feeder KA Cepat saya temui di Stasiun Cimahi dalam perjalanan kami kembali ke Bandung. Sepasang KA Feeder wara-wiri di Stasiun Cimahi, tidak sekadar ngetem seperti saat saya pertama kali menemuinya.
Misi membawa Aya dan Sae jalan-jalan naik kereta api, sukses! Saya dan Ara juga jadi punya pengalaman merayakan hari jadi pernikahan yang lebih berkesan dan tak terlupakan. Selanjutnya, pengen bawa mereka naik kereta api jarak jauh ke luar kota, sekadar Jakarta, Pangandaran, atau Cirebon pun nggak apa-apa. Syukur-syukur bisa sekalian pulang kampung ke Jogja.
Tapi, anggaplah misi naik kereta api sudah accomplished, jadi bisa move on ke misi berikutnya: naik pesawat terbang. Apalagi, sebelum menginjak usia 2 tahun, harga tiket untuk mereka berdua masih hampir gratis! Naik pesawat ke tempat eyangnya di Palembang, boleh. Ke Singapore atau Kuala Lumpur, boleh bangeett 😀
KA Lokal Bandung Raya sudah cukup nyaman dan aman sebagai moda transportasi umum bersama anak. Tinggal dipermudah aksesnya dari Pintu Utara ke Pintu Selatan Stasiun Bandung, dan sebaliknya. Kursi ruang tunggu di peron stasiun juga perlu ditambah, seperti di Stasiun Padalarang agar ibu dan anak bisa menunggu dengan nyaman. Terima kasih sudah membaca ya, keep learning by traveling~














Kebayang pas kena omelan dari istri tercinta hihi.
Seru banget..akhirnya mission accomplished ajak si Kembar naik KA. Semoga misi berikutnya juga bisa teralisasi segera dan juga lancar jaya.
Btw, happy aniversary buat Kak Nugi dan istri!
Dulu saya bilangnya stasiun lama dan stasiun baru sebagai pembeda. Suka bingung kalau dibilang stasiun utara dan selatan hehehe. Berarti selatan yang lama?Beberapa kali kepikiran mau cobain naik ka lokal ke padalarang. Tapi, abis itu ngapain di Padalarang, ya? Soalnya kalau naik Whoosh, keluarga saya biasanya naik dari Tegaluar karena lebih dekat. Meskipun saya sendiri belum pernah ngerasain naik Whoosh
Yes, bepergian dengan anak kecil tuh emang harus banyak kompromi, udah gitu mesti siap salah dan kena ceramah istri.
Semoga segera terwujud ya, memberi pengalaman pada si kembar buat naik kereta api jarak jauh. Terus naik pesawat, mumpung belum kena tarif tiket anak-anak.
seru sih yaa kalo ajak toddler jalan-jalan, bakal jadi memori tersendiri utk mereka kelak, apalagi naik kereta api, seru sih, pasti gak akan bosan mereka tuh
Waaa….Aya dan Sae udah jalan-jalan pakai KA lokal, saya belum, wajib banget dicoba ini mah
Saya jadi inget semasa anak-anak saya masih kecil, saya juga ngebiasain mereka untuk jalan-jalan. Supaya mereka “kebal” dan gak mabuk perjalanan
Sayangnya transportasi publik belum seasyik sekarang, jadi kepaksa pakai mobil pribadi
Meski anak2ku udah pada remaja tapi aku masih inget persis gimana rempongnya bawa todler hampir kembar (beda setahun)
Lari2an ngejar anak-anak yang kalau meleng dikit udah hilang atau udah ngerjain apa aja. Waktu itu aku bawa mereka naik kereta malam dari jkt-jogja. Tengah malam pada bangun dan bikin “kekacauan”. Untung kacaunya bukan nangis atau tantrum, tapi ngoceeeh dan sukurnya penumpang lain malah terhibur atau pura2 terhibur wkwkwk.
Bawa printilan2 anak jinjing di tangan kanan dan kiri
Dan setuju, bawa balita emang harus kompromi.
Btw selamat menikmati masa2 ini ya, mas, nanti jadi momen yang paling dirindukan.
Waaah seru banget nih perjalanan naik kereta bersama anak-anak begini ya. Menjadi pengalaman baru yang bisa menumbuhkan rasa cinta anak-anak dengan naik kereta ya
kak Nugi kalo kena omel yayangnya kebayang gimana hahah.
unik dah perjalanan bersama keluarga yak, apalagi ini bawa todler pula. Persiapannya perlu matang dan ciamik. Ditunggu kisah perjalanan berikutnya kak
tamasya
makin lucuuuuu mereka berdua yaaa. dan syukurlah 2-2 nya anteng dan menikmati banget kayaknya pas diajak naik kereta api mas.. berkat udah dikenalin juga dr buku kali yaaa.
kebayang rempongnya kalo jalan bawa anak.. tp sebenernya kalo ortunya udah prepare dari awal, udah sounding anak juga, toh bisa lancar kayak kalian, drama dikit2 wajarlah ;p.
aku doain nanti bisa segera naik whoosh mas. aku sendiri juga belum kok hahahaha. ada plan mau ke bandung naik ini… tapi blm tahu jadi atau ga
Aku pernah ke st Bandung, tapi sbg destrinasi akhir aja. belum pernah nyobain KA Lokalnyaa…
Emang bener sih, baik banget buat ngenalin anak transportasi umum sejak dini. Kelak jadinya dia nggak kaget, dan nggak rewel kalo dibawa jauh. Paling nggak, itu yang aku rasain si sama anakku.
[…] nggak dibutuhkan sebuah hotel transit malah ada, kami aja nggak sempet cobain karena terlalu sibuk keretaan ke Padalarang. Yang cukup menghibur saya hanyalah meja dan kursi kerja yang […]
[…] cukup untuk saat ini, ketika aku bisa menyapa dan mengintip Stasiun Tegalluar. Aku sudah pernah ke Stasiun KCIC Padalarang sebelumnya, namun—meski lebih sepi dan mnim akses—aku lebih suka Stasiun Tegalluar. Lebih […]
[…] bahwa masjid ini memang berada persis di sisi rel kereta api. Stasiun Cimekar pun, yang melayani KRL Commuter Line Bandung Raya dan KA lokal lainnya, terletak tak jauh dari […]