Sudah lama saya ingin mampir ke Pasar Cihapit, salah satu pasar legendaris di Bandung yang kerap muncul di vlog kuliner dan cerita para pemburu makanan lokal. Namun, keinginan itu selalu tertunda—kadang karena pekerjaan, kadang karena hujan, atau sekadar karena saya malas menembus macet perjalanan. Hingga akhirnya, suatu siang di pertengahan minggu, saya berhasil juga menyelinap ke sana.
Saya mencuri waktu di sela jam istirahat kantor, yang untungnya tak terlalu jauh dari lokasi pasar. Sebenarnya niat awalnya sederhana: mencari makan siang yang berbeda biar nggak beli di situ-situ aja. Tapi rupanya, kunjungan singkat itu berubah jadi pengalaman kecil yang hangat dan berkesan.
Langit Bandung saat itu mendung. Udara terasa berat, tanda hujan sebentar lagi akan turun. Saya berjalan kaki dari tempat parkir menuju area pasar yang tak begitu luas, hanya sekitar satu blok kecil diapit toko-toko komersial—ada toko emas, konter HP, dan beberapa bangunan lawas yang seolah tak tersentuh waktu. Dari luar, Pasar Cihapit tidak terlihat seperti pasar yang istimewa. Bangunannya kecil, bahkan agak kusam. Kalau tidak tahu, orang akan terus berlalu. Tak akan menyangka bahwa di dalamnya tersimpan jejak sejarah dan cita rasa Bandung yang tak lekang oleh waktu.
Terhimpit Lorong Kecil Pasar Cihapit
Begitu melangkah masuk, suasananya berubah total. Lorong sempit menyambut saya—mirip gang kecil di tengah permukiman padat, tapi di satu sisi berjajar para pedagang yang menawarkan berbagai barang: sayuran, buah-buahan, rempah, dan daging segar. Lantainya basah karena tempias air hujan, dan aroma khas pasar langsung menyeruak—campuran antara daun pisang, bawang, dan tanah yang lembap.
Saya berjalan pelan, membiarkan diri terserap oleh kehidupan pasar yang begitu organik. Seorang ibu paruh baya sedang menata cabai merah di baskom biru, sementara dari kejauhan terdengar suara pedagang yang bercanda dengan pelanggan lamanya. Tak jauh di depan, seorang bapak mengenakan topi lusuh memotong daging sapi dengan keahlian seorang koki. Semuanya terasa hidup, riuh, tapi menyenangkan.
Di ujung lorong, ruang pasar tiba-tiba terbuka lebar seperti aula besar. Inilah bagian utama Pasar Cihapit—tempat sayur-mayur, buah, dan kebutuhan dapur lainnya ditata rapi. Pemandangan ini mengingatkan saya pada pasar-pasar tradisional di kota kecil, di mana interaksi masih lebih penting daripada transaksi. Tapi yang membuat Pasar Cihapit berbeda adalah apa yang ada di sisi kanannya.
Di sana, berjajar kedai-kedai modern nan apik, sebagian menempati kios lama yang direnovasi tanpa menghapus karakternya. Ada kedai makan Jepang dengan papan kayu bertuliskan aksara hiragana, kedai pho ala Vietnam dengan aroma kaldu yang menggoda, kedai kopi kecil yang wangi kopinya langsung menguar ke seluruh aula, juga kedai kue dan warung minuman segar yang ramai oleh anak muda. Semua tampak hidup berdampingan—pasar tradisional dan gaya hidup modern dalam harmoni yang aneh tapi menawan.
Saya berhenti sejenak, memandangi papan nama Warung Nasi Bu Eha. Nama itu sering saya dengar dari berbagai ulasan—konon salah satu warung tertua di Bandung, berdiri sejak masa Presiden Sukarno. Kabarnya, pelanggan warung ini dulu termasuk tokoh-tokoh penting. Dan benar saja, saat saya mendekat, warung ini paling ramai dibandingkan yang lain.
Pasar Cihapit, Saat yang Lama dan Baru Bertemu
Meja-meja kayu sederhana dipenuhi pengunjung. Di atas meja, deretan lauk-pauk menggoda mata: sambal goreng ati, rendang, ayam goreng, gepuk, ikan balado, juga sayur lodeh dan urap-urapan. Saya hanya mengambil telur balado, terong, dan bakwan, tapi tetap disajikan dengan lalapan melimpah dan teh tawar hangat. Harganya Rp23 ribu saja.
Murah untuk ukuran makan di pusat kota, apalagi di tempat yang kini jadi destinasi.
Saya duduk di pojok, menikmati aroma sambal dan suara sendok garpu beradu. Di luar, hujan akhirnya turun deras. Suara derasnya membaur dengan tawa para pengunjung dan bunyi langkah orang yang berlari menepi. Aneh, tapi di tengah kebisingan itu saya justru merasa damai. Ada sesuatu yang menenangkan dari suasana pasar ini—sederhana, tapi jujur.
Teh hangat di cangkir plastik itu menguarkan aroma samar melati. Saya menyesap pelan, sambil memperhatikan para pedagang yang tetap sibuk melayani pembeli meski hujan mengguyur. Tak semua tempat makan di pasar ini menerima QRIS—jadi saya bersyukur masih membawa uang tunai. Sebuah pengingat kecil bahwa di balik citra “hipster” Pasar Cihapit yang sering muncul di media sosial, tempat ini tetaplah pasar rakyat dengan ritme dan realitasnya sendiri.
Selesai makan, saya tak langsung pulang. Saya berkeliling sebentar, masuk ke kedai kopi di sisi kanan. Tempatnya mungil, hanya muat enam sampai delapan orang. Saya memesan kopi hitam manual brew, sambil memandangi pengunjung yang berlalu lalang. Hujan membuat semuanya terasa lebih lambat. Tapi justru dalam kelambatan itu, Bandung menunjukkan pesonanya yang paling jujur.
Saya teringat betapa banyak tempat di kota ini yang sudah berubah—gedung-gedung tinggi tumbuh di mana-mana, kafe-kafe baru bermunculan tiap bulan, tapi Pasar Cihapit tetap bertahan. Ia tak berusaha menjadi modern, tapi tetap bisa relevan. Ia tak kehilangan jiwanya meski pelan-pelan menyesuaikan diri.
Barangkali itulah yang membuat pasar ini begitu disukai. Ia bukan sekadar tempat belanja, tapi ruang di mana warga kota bisa merasa terhubung: dengan masa lalu, dengan cita rasa lokal, bahkan dengan diri sendiri.
Pasar Cihapit, Tunggu Aku Kembali
Di perjalanan kembali ke kantor, saya masih bisa merasakan aroma sambal terong dan teh tawar yang tersisa di lidah. Hujan sudah reda, jalanan kembali ramai. Saya menyadari satu hal—kadang, kita tak perlu pergi jauh untuk menemukan pengalaman berkesan. Kadang, semua itu bisa ditemukan hanya dengan sedikit keberanian untuk keluar dari rutinitas, dan menyusuri gang kecil menuju sebuah pasar tua di tengah kota.
Pasar Cihapit mungkin tampak sederhana dari luar. Tapi bagi saya, ia menyimpan sesuatu yang tak bisa dibeli dengan uang: kehangatan, kejujuran, dan kenangan kecil yang melekat lama setelah langkah pulang.














Baruuu 2 hari lalu aku nonton acara kulineran di TV swasta yang menayangkan warung bu Eha ini, Eh hari ini aku baca artikelnya di blog dirimu…
Aku salah seorang yang paling suka main ke pasar tradisional. Semenjak jadi emak2 bukan mau main lagi, tapi sekalian belanja bahan masakan.
Dibanding Mol, aku malah lebih seneng main ke pasar (dengan catatan ga rempong bawa bocil ya, haha)
Pokoknya pasar tradisional jangan sampe tergerus dan hilang sama online huhuuu
pasar Cihapit memang seterkenal itu akan keharmonisannya
beruntung kita yang mau makan jenis kuliner apa, di sana insyaallah tersedia
dulu suami sering minta diantar ke Cihapit yah terkenal itu. Kami ke sana dan suami beneran beberapa ngajak ke sana lagi
kuliner di sana banyak yang cocok di lidah suami katanya
Pasar Cihapit penjualnya hidup berdampingan mulai dari penjual pasar tradisional sampai penjual yang bergaya hidup modern. Jadi kita ke sana tuh paket komplit deh ya
Biasanya saya suka dengan kuliner di pasar gini. Rasanya tuh seringkali enak dan harganya murah. Tapi, memang bener deh kalau ke pasar tradisional tetap bawa uang tunai. Atau paling gak tanya dulu ke penjualnya bisa QRIS atau enggak
Saya juga seneng banget bisa menikmati Cihapit dari berbagai sisi. Mulai dari yang tradisional hingga sekian banyak kedai makan, cafe, dan mini outlet yang ada di sisi luar maupun di dalam pasar. Rasanya pengen balik dan terus balik karena ada sesuatu yang tertinggal dan belum sempat dihampiri.
Seindah ini seharusnya ada di buku ya Gi. Sadly saya juga gak punya waktu lebih untuk menulis ulang tentang Cihapit buat buku antologi “Jelajah Pasar Nusantara”
Akhirnya bisa ke Pasar Cihapit ya, Mas Nugie dengan tujuan cari makan siang. Dari namanya Pasar Cihapit, mungkin karena letaknnya terjepit atau terhimpit ya, Mas. Tapi suasana memang selalu bikin kangen. Apalagi kalau pasarnya sudah lama berdiri. Pasti banyak toko dan warung legend. Dan banyak orang ke suatu pasar karena pengin bernostalgia juga. Duh itu sambal terongnya.. saya juga suka hehehe.
bukan Mas, dinamain pasar Cihapit karena terletak di kelurahan Cihapit
Penamaan pasar di Bandung emang biasanya di sesuaikan dengan nama kelurahannya
hehehe banyak yang menulis tentang Cihapit tapi mencaci kreatornya (untung bukan Nugi ^^ ) yaitu Kang Emil
Pasar Cihapit ini direbranding Kang Emil dan teman-temannya alumni ITB sebagai tujuan wisata, dan sukses ((walau gak berlangsung sekejap ya?
Dulu saya sering ke sini karena deket anak saya kumon, sekarang malah males karena kebanyakan wisatawan 😀
Kayaknya kalo ke Pasar Cihapit, niatnya pengen makan cepat, eh malah betah ngider, ngendus aroma rempag, sama nguping obrolan pedagang. wkwkwkwk. Bandung plus hujan gerimis mesra, beuh… jadi bonus ya Mbak Erin.
Asiknya kulineran di sekitar pasar tuh begini ya, karena banyak aneka pilihannya.
apalagi kalau dari segi harga itu menyenangkan. Istilahnya sohib dah buat dompet hehe.
palingan ya jangan sampe kalap belanjanya, tetep inget menabung wkwkwk
Jajanan di pasar Cihapit beraneka ragam ya. Surga banget nih buatku. Soalnya, aku kalau ke pasar tuh suka banget mencari jajanan tradisional gitu.
Senang sekali kalau pasar tradisional yang direvitalisasi masih bisa mempertahankan ciri khasnya. Pasar Cihapit sepertinya masih mampu memadukan dua dunia itu dengan baik.
Kalau kembali lagi, boleh lah ajak kita pembaca, keliling shopping virtual, bang!
Baru tahu ada pasar Cihapit ini, kak. Kalo aku pernah cobain kuliner di pasar cisangkuy. Enak juga. Kapan2 pengin cobain deh ke sana, walo harus desek2an buat cari kuliner pilihan. 😁
Saya kalau ke pasar tradisional, paling suka jajanan pasarnya, murah dan enak.
Semoga keberadaan pasar Cihapit ini terus lestari ya, tradisional dan modern bisa bersanding, bersinergi dengan baik
asiikkk mampir cihapit .. aku kalo ke cihapit ga pernah lupa jajan mie baso restorja yang ada mangkal disitu karena cekernya yang mlotok lepas dari tulangnya hahaha. Pasar cihapit tuh kecil tapi ikonik banget dan emang bener c kulinernya itu loh membumi sekali, enak dan terasa humanis dekat dengan diri kita yang apa adanya. Ga perlu baju rapih, duit banyak atau tempat estetik tapi hati bisa senang dan nyaman