Salah satu hal yang kusuka dari tinggal di Bandung adalah pohon-pohonnya yang besar dan rindang, berjajar menjadi peneduh di jalan-jalan kecilnya yang berliku dan menciptakan nuansa romantis tersendiri. Aku paling suka motoran di anak-anak Jalan R.E. Martadinata, sebutlah Jalan Bengawan, Jalan Banda, Jalan Aceh, dan sekitarnya. Perjalanan yang sebenarnya biasa saja bisa terasa lebih menyenangkan karena kanopi pepohonan membuat jalan menjadi teduh. Apalagi ketika pagi masih sejuk atau menjelang sore ketika cahaya matahari menembus sela-sela daun dan menghasilkan bayangan yang bergerak mengikuti angin, atau sehabis hujan beuh…
Kalau diperhatikan lebih jauh, ternyata ada satu jenis tanaman yang cukup sering kutemui di jalan-jalan itu: petai cina.
Namanya memang mengandung kata “petai”, tetapi jangan membayangkan pohon petai yang biasa menghasilkan papan-papan petai berukuran besar itu. Petai cina atau lamtoro (Leucaena leucocephala) memiliki bentuk daun kecil-kecil yang sekilas menyerupai daun mimosa. Tanaman ini mungkin terasa biasa karena kita bisa menemukannya di banyak tempat. Di taman, di sisi jalan, di lahan kosong, atau tumbuh di antara tanaman lainnya.
Justru karena terlalu biasa, mungkin kita sering lupa memperhatikannya. Padahal, petai cina bukan sekadar tanaman penghijau atau peneduh.
Ternyata, Petai Cina adalah Agen Ganda!
Sebagai tanaman yang memiliki sistem perakaran cukup kuat dan mampu tumbuh di berbagai kondisi, petai cina dapat membantu menjaga struktur tanah dan mengurangi risiko erosi. Ini menjadi salah satu fungsi yang menarik, terutama jika kita mengingat kondisi geografis Bandung dan kawasan sekitarnya yang memiliki banyak wilayah berbukit. Pepohonannya juga memberikan keteduhan dan membantu menciptakan lingkungan yang lebih nyaman.
Sementara itu, sebagai tanaman legum, petai cina memiliki kemampuan yang berkaitan dengan pengikatan nitrogen sehingga dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah.
Manfaatnya bahkan tidak berhenti di situ.
Petai cina juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Daun mudanya dapat dikonsumsi sebagai lalapan atau diolah menjadi berbagai masakan, termasuk tumisan. Bagian tanaman tertentu juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Dengan kata lain, satu tanaman bisa menjalankan beberapa fungsi sekaligus: meneduhkan, membantu menjaga tanah, mendukung kesuburan, menyediakan pangan, dan menjadi sumber pakan. Mungkin ini salah satu hal menarik dari tanaman yang tumbuh di sekitar kita: manfaatnya sering kali jauh lebih besar daripada yang terlihat.
Ketika Alam Tidak Hanya Berfungsi Secara Ekologis
Pemikiran itu kembali muncul di kepalaku setelah mengikuti webinar EcoBloggerSquad pada Jumat lalu bersama The Asia Foundation dan Perkumpulan Kawan Pesisir Raja Ampat.
Dalam webinar tersebut, pembahasan mengenai mangrove membuatku melihat tanaman dari perspektif yang sedikit berbeda. Selama ini, ketika mendengar kata mangrove atau bakau, yang biasanya langsung muncul di kepala adalah hutan pesisir, akar-akar yang mencengkeram lumpur, habitat ikan dan biota laut, serta perannya dalam melindungi kawasan pesisir.
Semua itu memang benar. Mangrove punya fungsi ekologis yang sangat besar. Ia menjadi bagian dari ekosistem pesisir dan membantu melindungi wilayah pantai dari berbagai tekanan lingkungan.
Tetapi ternyata, cerita tentang mangrove tidak berhenti pada fungsi ekologisnya.
Dalam sesi webinar tersebut, Daniel Kbarek, Program Officer The Asia Foundation, membagikan perspektif menarik bahwa mangrove juga dapat memiliki fungsi sebagai sumber pangan. Mangrove dapat diolah menjadi berbagai produk, mulai dari camilan, minuman, hingga tepung. Bahkan, ada pula pemanfaatan yang berkaitan dengan produksi madu.
Mendengar hal tersebut membuatku teringat pada petai cina yang sering kulihat di Bandung. Ada semacam kesamaan sederhana di antara keduanya. Kita sering melihat tanaman dari fungsi yang paling mudah dikenali. Pohon adalah peneduh. Mangrove adalah pelindung pantai. Tanaman adalah penghijauan. Hutan adalah kawasan yang harus dilindungi. Padahal, hubungan manusia dengan alam bisa jauh lebih kompleks daripada itu.
Alam bisa melindungi kita, sekaligus menyediakan sumber pangan dan penghidupan. Dan manusia, pada saat yang sama, memiliki tanggung jawab untuk memastikan pemanfaatan tersebut tidak justru merusak ekosistemnya.
Cerita dari Kampung Friwen
Hal lain yang menurutku menarik dari webinar tersebut adalah cerita yang disampaikan Steve Wawiyai, Program Manager Perkumpulan Kawan Pesisir Raja Ampat.
Steve bercerita tentang apa yang dilakukan di Kampung Friwen, Kabupaten Raja Ampat, Papua.
Di sana, perempuan tidak hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat dari program lingkungan, tetapi juga diberdayakan untuk ikut menjaga dan mengolah mangrove. Menurutku, bagian ini menarik. Sebab ketika kita membicarakan konservasi lingkungan, pembahasannya sering terdengar sangat jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Kita bicara mengenai ekosistem, keanekaragaman hayati, karbon, abrasi, perubahan iklim, dan berbagai istilah lingkungan lainnya.
Semua penting.
Tetapi bagi masyarakat yang hidup berdampingan langsung dengan alam, pertanyaan yang tidak kalah penting adalah: “Lalu, apa manfaat menjaga alam ini bagi kehidupan kami?”
Pemberdayaan masyarakat menjembatani dua hal tersebut. Mangrove tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dijaga karena memiliki nilai ekologis, tetapi juga sebagai bagian dari sumber daya yang dapat dikelola secara bijak untuk mendukung kehidupan masyarakat. Ketika perempuan di masyarakat dilibatkan dalam proses tersebut, konservasi tidak lagi hanya menjadi urusan pemerintah, organisasi lingkungan, atau kelompok tertentu. Ia menjadi bagian dari kehidupan masyarakat itu sendiri.
Ketika mangrove menjadi sumber kehidupan dan penghidupan bagi masyarakat Kampung Friwen, mangrove bukan hanya benteng alami yang melindungi wilayah pesisir dari abrasi dan menjadi habitat berbagai jenis biota.
Bagi masyarakat di Raja Ampat, mangrove juga merupakan bagian penting dari ruang hidup dan sumber penghidupan.
Namun, pemanfaatan mangrove perlu dilakukan secara bijak agar tidak mengancam keberlanjutannya. Salah satu
pendekatan yang dikembangkan adalah mendorong pemanfaatan hasil mangrove non-kayu menjadi produk bernilai
ekonomi, sehingga masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi tetapi juga menjaga ekosistem mangrove.
Melalui dukungan TAF bersama PKPRA, masyarakat didorong untuk mengembangkan berbagai produk turunan mangrove
dengan pendekatan yang berkelanjutan, berbasis pengetahuan lokal, serta memperhatikan keterlibatan perempuan dan
anak muda
Dari Jawa Barat sampai Raja Ampat
Mungkin terdengar terlalu jauh kalau menghubungkan petai cina di Bandung dengan mangrove di Raja Ampat. Yang satu tumbuh di pinggir jalan dan taman-taman kota. Yang satu lagi hidup di kawasan pesisir Papua yang secara geografis berada ribuan kilometer dari Bandung. Namun, semakin kupikirkan, keduanya punya satu kesamaan penting: keduanya mengingatkan kita bahwa sebuah tanaman bisa memiliki jauh lebih banyak nilai daripada yang terlihat dari permukaannya.
Petai cina yang selama ini mungkin hanya kulihat sebagai bagian dari lanskap Bandung ternyata dapat membantu menjaga tanah, memberikan keteduhan, mendukung kesuburan, menyediakan bahan pangan, dan menjadi pakan ternak. Mangrove yang selama ini mungkin hanya kulihat sebagai hutan di tepian laut ternyata juga dapat menjadi bagian dari sumber pangan dan penghidupan masyarakat.
Yang membedakan kemudian adalah bagaimana manusia memperlakukan sumber daya tersebut.
Apakah kita hanya mengambil manfaatnya?
Atau kita juga memahami bagaimana menjaganya agar tetap bisa memberikan manfaat dalam jangka panjang?
Pertanyaan ini terasa semakin relevan ketika kita berbicara tentang lingkungan. Sebab konservasi mungkin tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar dan jauh.
Kadang-kadang, ia bisa dimulai dari kemampuan kita untuk melihat kembali sesuatu yang sudah ada di sekitar kita. Pohon yang selama ini hanya kita anggap sebagai peneduh. Tanaman liar yang selama ini kita lewati begitu saja. Hutan mangrove yang mungkin hanya kita kenal dari foto-foto destinasi wisata. Semua memiliki fungsi yang lebih kompleks dalam kehidupan manusia dan lingkungan.
Semakin kita memahami berbagai fungsi tersebut, semakin mudah pula bagi kita untuk memahami mengapa alam perlu dijaga. Bukan hanya karena alam membutuhkan kita, tetapi karena pada akhirnya, kehidupan kita sendiri bergantung pada kemampuan alam untuk terus menjalankan fungsinya. Jadi, lain kali ketika melewati jalan kecil di Bandung dan melihat petai cina tumbuh di pinggir jalan, mungkin aku akan melihatnya sedikit berbeda. Bukan lagi sekadar pohon yang membuat jalan terasa lebih teduh. Tetapi sebagai pengingat kecil bahwa alam di sekitar kita sebenarnya sedang bekerja—memberi manfaat dengan caranya sendiri, bahkan ketika kita tidak menyadarinya.
Jaga Hutan, Jaga Perekonomian, Jaga Ketahanan Pangan
Pada akhirnya, mungkin inilah hal yang paling menarik dari cerita petai cina dan mangrove. Menjaga lingkungan tidak selalu harus dipahami sebagai aktivitas yang berjarak dari kehidupan sehari-hari. Ia bisa sangat dekat dengan apa yang kita makan, bagaimana masyarakat memperoleh penghasilan, dan bagaimana sebuah komunitas membangun masa depannya.
Tanaman yang tumbuh di sekitar kita bisa menjadi bagian dari sumber pangan. Hutan yang dijaga dengan baik bisa menjadi tempat masyarakat mencari penghidupan. Pengetahuan lokal tentang bagaimana memanfaatkan alam secara bijak bisa menjadi modal untuk membangun usaha yang tetap menjaga ekosistemnya. Karena itu, menjaga lingkungan sebenarnya bukan hanya tentang mempertahankan apa yang kita punya hari ini. Ia juga tentang membangun ketahanan pangan dan ekonomi untuk masa depan.
Momentum untuk kembali memikirkan hubungan antara lingkungan, pangan, dan ekonomi itu datang melalui Bangkok Climate Action Week (BKKCAW) 2026, yang berlangsung pada 3–11 Oktober 2026 di Bangkok. Tahun ini, BKKCAW mengangkat tema “Rai Likit, Economy we Shape, Climate we Share”, dengan berbagai pembahasan yang mempertemukan isu iklim dengan ekonomi, sistem pangan, komunitas, serta alam dan keanekaragaman hayati.
Menariknya, beberapa agenda BKKCAW tahun ini secara langsung memperlihatkan bagaimana hubungan tersebut bisa diwujudkan. Misalnya, Forest Market yang menampilkan produk-produk hasil usaha sosial berbasis hutan yang dikelola perempuan. Program tersebut menunjukkan bagaimana produk hutan dapat menciptakan penghidupan berkelanjutan sekaligus mempertahankan nilai ekonomi di dalam komunitas. Ada pula Sambal from the Forest, yang memperkenalkan hasil pangan dari berbagai lanskap hutan Indonesia sekaligus mengangkat bagaimana pengetahuan perempuan mengenai pangan dan sumber daya hutan dapat mendukung ketahanan pangan rumah tangga, usaha komunitas, penghidupan berkelanjutan, dan perlindungan keanekaragaman hayati.
Buatku, ini menarik karena menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai perubahan iklim tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang terasa besar dan abstrak. Kita bisa memulainya dari pertanyaan yang sangat sederhana:
Apa yang bisa kita makan dari alam tanpa merusaknya?
Bagaimana masyarakat di sekitar hutan, pesisir, dan lahan pertanian bisa mendapatkan penghasilan tanpa kehilangan sumber kehidupannya?
Dan bagaimana aktivitas ekonomi justru bisa menjadi alasan untuk menjaga alam, bukan mengeksploitasinya?
Petai cina yang tumbuh di pinggir jalan Bandung mungkin tidak akan menyelesaikan persoalan iklim. Mangrove di Friwen juga bukan solusi tunggal untuk seluruh persoalan lingkungan. Namun keduanya menunjukkan sebuah prinsip yang jauh lebih sederhana: alam yang sehat dapat menjadi fondasi bagi kehidupan yang sehat.
Maka, memasuki momentum Bangkok Climate Action Week 2026, mungkin sudah waktunya kita melihat isu lingkungan bukan hanya sebagai kewajiban untuk “menyelamatkan bumi”. Tetapi juga sebagai kesempatan untuk membangun sistem pangan yang lebih tangguh, menciptakan sumber penghasilan baru, memberdayakan komunitas, dan mengembangkan ekonomi yang tidak harus mengorbankan alam untuk tumbuh. Sebab pada akhirnya, menjaga alam dan membangun ekonomi tidak selalu harus menjadi dua pilihan yang berlawanan. Dengan pengetahuan, pengelolaan, dan keterlibatan masyarakat yang tepat, keduanya justru bisa berjalan bersama.













