Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta terlihat agak lengang pagi itu. Padahal, sehari sebelumnya, atau malah beberapa jam sebelumnya, ia masih carut-marut karena dampak erupsi Gunung Anak Krakatau yang membuat bandara ditutup selama 2 hari sejak hari Minggu. Seluruh penerbangan dibatalkan, tak ada pesawat yang dapat mendarat dan lepas landas di bandara terbesar Indonesia itu. Namun pagi itu, 8 September 2026, bandara sudah kembali dibuka.
Aku tiba pukul 8 pagi setelah berangkat pukul 5:30 dari Bandung. Tergolong cepat, hanya 2,5 jam, padahal aku sudah mempersiapkan diri akan kemacetan yang mungkin terjadi karena puncak jam berangkat kerja dan sisa-sisa kekacauan penutupan bandara. Dulu di tahun 2018, aku pernah tersendat macet dalam perjalananku dari Bandung ke Bandara Soekarno-Hatta yang membuat perjalanan molor jadi 4 jam. Mana mules pula! Tapi, nyatanya perjalanan berlangsung sangat lancar pagi itu.
Saat memasuki bangunan Terminal 1, aku melihat baris-baris antrean check-in penumpang tertib dan terkendali. Bandara sudah benar-benar beroperasi normal rupanya. Aku pun merapatkan diri pada lajur antrean paling kiri untuk penerbangan ke Bali pukul 11:10 dengan maskapai Lion Air. Penerbangan dilengkapi dengan bagasi gratis 10 kg, jadi aku menitipkan koper kabinku meski sebetulnya bisa kubawa sendiri.
Selesai check-in, karena masih ada banyak waktu sebelum boarding, aku memutuskan keluar untuk menyeruput kopi sambil menyelesaikan beberapa pekerjaan di laptop. Aku memilih Kopitiam Baba & Nyonya yang ada di dalam bangunan shelter kalayang (skytrain). Secangkir kopi tarik C harganya hampir Rp45 ribu. Untung di-reimburse kantor, hehe.
Sekitar pukul 10, aku kembali masuk ke dalam bangunan utama untuk menuju boarding room. Ah, rindu sekali aku dengan lorong dengan lantai terakota dan tiang-tiang putih yang menyangga langit-langit tinggi berwarna hitam itu. Sudah lama tak ke sini, aku jadi lupa bahwa seharusnya aku tak perlu keluar, karena di dalam airside ada deretan kedai makan dan tempat ngopi yang lebih nyaman, dan tentunya lebih dekat ke ruang tunggu.
Namanya LCC, low cost carrier, tak ada yang istimewa di dalam penerbangan ini. Tak ada makanan, in-flight entertainment, atau fasilitas apapun untuk diceritakan. Puji Tuhan penerbangan berjalan tepat waktu, lancar, dengan pendaratan yang mulus tak sampai 2 jam kemudian atau pukul 14:05 WITA. Sayangnya aku duduk di tengah, bukan window seat, jadi tidak bisa mendokumentasikan pemandangan indah jelang mendarat.
Tak ada garbarata yang menyambut kami di Terminal Domestik Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Sebagai gantinya, sebuah bus sudah menunggu kami, dan mengantarkan kami menuju pintu masuk kedatangan domestik.
Bangunan terminal domestik dengan desain arsitektur khas Bali menyambutku. Begitu memasuki ruangan, aroma pedupaan yang kuat langsung menyerbu indera penciuman dari berbagai penjuru, juga sebuah altar pemujaan tepat setelah pintu masuk.
Aku mengikuti papan navigasi menuju arrival hall dan pengambilan bagasi. Bangunan terminal kedatangan ini cukup compact dengan layout sederhana. Setelah area pengambilan bagasi, langsung pintu keluar. Di depannya ada sebuah plaza kecil, dan kalau ke kanan akan ada area komersil dengan jajaran tempat makan dan ATM.
Aku terus berjalan melalui deretan restoran itu. Niat untuk makan siang kuurungkan karena suasana yang tidak membuatku nyaman. I Gusti Ngurah Rai International Airport ini agaknya mengusung konsep ramah lingkungan. Sebetulnya bagus, tapi masalahnya Bali panaaasss, dan saat itu aku sedang membutuhkan bandara seperti Soekarno-Hatta yang full AC dan dingin, bukan bangunan berkonsep open air seperti ini.
Aku menaiki eskalator mengikuti petunjuk menuju pintu keluar. Di sisi kiri, ada area taman dengan kolam yang mungkin akan menyenangkan kalau bukan di tengah siang bolong seperti ini. Setelah bolak-balik dan memeriksa titik pick-up taksi online, aku memutuskan untuk naik “taksi” bandara. Harga semula Rp300 ribu aku tawar sampai Rp150 ribu agar setara dengan ongkos taksol. Aku bersikukuh meski awalnya meminta Rp200 ribu, lalu Rp170 ribu, tapi pada akhirnya aku yang menang hahaha. Mobilnya besar, bukan tipe-tipe mobil minimalis seperti yang banyak ditemukan di Bandung.
Akhirnya, aku tiba di hotel tempatku bermalam hari ini, Tanaga Coliving. Ulasan selengkapnya, ada di tulisan berikutnya. Terima kasih sudah membaca, keep learning by traveling.













