Petualangan di Purwokerto #2

Usai mandi dan tidur-tidur ayam, gue dengan bersemangat melanjutkan petualangan gue di kota yang berjuluk Kota Satria ini. Mengenakan kaos oblong dan celana selutut yang bikin penampilan makin kayak bocah SMA, gue melenggang santai melalui Jl. Gatot Subroto yang mulus, diapit oleh trotoar yang rapi di kedua sisinya. Tak terlalu banyak kendaraan yang melintas, membuat gue semakin menyukai suasana kota ini. Tenang, bersih, cocok untuk sedikit melipir dari hiruk pikuk kota besar yang membosankan. Gue lalu berbelok ke kiri, masuk ke Jl. Masjid yang membujur lurus hingga ke Alun-Alun — tujuan petualangan gue malam ini. Ada banyak warung makan dan beberapa cafe yang gue jumpai di sepanjang jalan, semakin mengukuhkan pernyataan temen gue yang mengatakan bahwa ada banyak cafe anak muda di Purwokerto.

 Sebuah tempat makan ayam-ayaman (bukan cabe-cabean) di kiri jalan mengundang perhatian gue. Warung makan bernama Niki Sae itu terlihat ramai oleh pengunjung, yang membuat gue menarik kesimpulan: ini adalah sebuah tempat makan yang cukup dikenal warga Purwokerto. Rumah makan itu terdiri atas dua bagian: bagian luar dan bagian dalam. Bagian luarnya diisi oleh hanya beberapa set meja, meja pemesanan (sekaligus pembayaran), dan dapur. Pengunjung memilih sendiri daging ayam mana yang akan dia santap, yang lalu akan diolah sesuai selera dan keinginan pemesan juga. Gue memilih sepotong paha yang gue minta untuk diolah dengan kremesan. Mbak-mbaknya tanya gue mau pakai sambel terasi atau enggak, dan gue iyakan dengan mantap.

 Sembari menunggu pesanan datang, gue menyempatkan buat take some pictures. Eh, ternyata pesenan gue datang tak lama kemudian: sepotong paha ayam goreng dengan setangkup nasi, lalapan, kremesan, sambal biasa, dan sambal terasi. Tiga item terakhir diletakkan dalam sebuah mangkuk kecil. Aroma terasi yang menguar tajam sangat menggugah selera, membuat gue nggak sabar buat segera cicipin.

Suasana tempat makannya. Anak kecilnya sadar kamera banget ye :/

Suasana tempat makannya. Anak kecilnya sadar kamera banget ye :/

Selamat makaaannn!!!

Selamat makaaannn!!!

Gue cuil sekerat daging paha ayam itu, ambil sejumput nasi dengan jari-jari tangan, lalu dicocol dengan sambel ulek biasa. Hmmph! Enak banget! Gue lalu cobain sambel terasinya, dan… Sempurna! Aromanya, rasanya yang khas, dipadukan dengan ayam goreng kremesnya yang gurih. Iya emang pedes banget, tapi nikmat! Maklum, gue kan fanatik sambel. Bahkan sampai nasi dan ayamnya udah habis, sambelnya masih cukup banyak, masing-masing cuma abis separo karena kuatnya rasa pedas hingga gue nggak kuat ngabisin. Rasa pedas yang masih menempel itu gue netralkan kembali dengan segelas Es Jeruk yang juga masuk dalam daftar pesanan gue.

 Tiba saatnya main hitung-hitungan dengan bapak-bapak kasir, sang empunya warung, beretnis Tiong Hoa. Harganya setara dengan kelezatannya sih, sekitar Rp 23.000,00. Jadi gue ya rela-rela aja ngeluarin uang segitu, karena emang enak banget! Bahkan buat sambel terasinya pun, ehem, gue yakin ada harganya sendiri. Buat yang suka pete, dicocol sama pete enak banget deh kayaknya, seperti yang dilakukan oleh beberapa pengunjung.

 Selesai dengan makan malam, gue segera beranjak menuju Alun-Alun.

 Seperti alun-alun yang lain, alun-alun Purwokerto berbentuk persegi, dengan beberapa pohon beringin di salah satu sisinya. Mengelilingi alun-alun, ada kantor Bupati Banyumas, masjid raya, dan Jl. Jenderal Sudirman. Beberapa penjual makanan menggelar lapak-lapak mereka di tepi alun-alun, seperti jagung bakar, ronde, dan makanan ringan lainnya, sementara pengunjung dapat menikmati santapan di atas sebuah tikar. Beberapa penyewa mobil-mobilan dan otoped juga ikut berusaha mengumpulkan pundi-pundi uang dengan menempati sisi alun-alun yang berbatasan dengan Jl. Jenderal Sudirman, mengingatkan gue dengan Jl. Kartini, Salatiga (baca di sini). Sayangnya, entah karena mendung atau memang udah biasa kayak gitu, nyaris nggak ada yang bermain-main dengan wahana itu. Ada juga penjaja sepeda tandem dengan hiasan lampu berwarna-warni seperti di alun-alun kidul Yogyakarta, yang sama-sama kesepian menunggu pelanggan, sama kesepiannya dengan penantian gue akan jodoh yang tak kunjung datang #fakkk

 Sisi alun-alun yang menghadap Jl. Jenderal Sudirman itu memiliki trotoar yang luas, tampak semarak dengan lampu-lampu hias dan layar raksasa yang berdiri gagah menyimbolkan arus modernisasi yang mulai merasuki kota Purwokerto. Di seberangnya sedang dikerjakan megaproyek Rita Supermall dan Arion Swiss-Belhotel yang pasti bakal keren banget kalau udah jadi nanti. Kawasan alun-alun akan semakin menjadi kawasan paling hidup di kota, menjadi denyut nadi Purwokerto seperti halnya kawasan Malioboro di Yogyakarta.

Suasana alun-alun Purwokerto kala malam

Suasana alun-alun Purwokerto kala malam

Trotoar yang lebar, mobil-mobilan, dan layar raksasa yang entah apa istilahnya

Trotoar yang lebar, mobil-mobilan, dan layar raksasa yang entah apa istilahnya

Beberapa menit duduk menunggu dan berjalan-jalan ingin mengetahui keadaan (sampai disamperin tukang minta-minta, kali ini dengan alasan mau pulang kampung), temen gue dateng. Kami lalu ngobrol selama beberapa saat di bawah salah satu pohon beringin sambil menikmati suasana kota. Sekitar pukul setengah sepuluh, kami memutuskan untuk menyudahi obrolan. Tadinya gue berniat menuju Gang Sadar alias GS, lokalisasi populer di Purwokerto. Tapi karena gue takut ditawar sama tante-tante girang atau om-om senang, gue buang jauh-jauh niat itu *nggak tahu diri* *ditimpuk sendal sekontainer*

Gue kembali berjalan melalui jalanan yang tadi gue lintasi, kali ini tampak semakin sepi. Bahkan ada momen-momen sunyi saat gue melewati Jl. Jenderal Gatot Subroto, saat benar-benar tak ada kendaraan yang melintas atau sekedar menyorotkan lampu depannya dari kejauhan. Padahal ini baru sekitar jam setengah sepuluh loh. Tapi, gue menikmati banget suasana lengang seperti ini. Menikmati jalanan yang mulus, trotoar yang bersih, tata kota yang rapi, tanpa ada banyak noise. Nanti, saat gue punya kesempatan buat ngetrip ke luar negeri, gue pengen menyempatkan diri buat jalan-jalan atau bersepeda dan menikmati keindahan kota dalam kesunyian. Mungkin bisa pas di Brunei atau Malaysia.

Amin 🙂

Iklan

15 thoughts on “Petualangan di Purwokerto #2

  1. Rp 23.000 itu menurut saya agak mahal untuk Nasi+Ayam Goreng+Es Jeruk untuk tempat makan seperti itu di Purwokerto. Apa harga ayam gorengnya > Rp 15.000 ya?

    Skilas alun-alun kota Purwokerto mirip alun-alun kota Magelang dan Temanggung ya? Ada yang menyewakan mobil-mobilan dan layar LCD besar.

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s