
Aku terpukau melihat wajah baru Ho Chi Minh City sore itu. Aku dan Anh, kenalan lokalku di Vietnam, berkendara menyusuri Bulevar Tôn Đức Thắng yang bersisian dengan Sungai Saigon di sebelah kanannya. Jalannya lebar dengan aspal yang mulus, serasi bersanding dengan sungai besar nan bersih di sisinya. Warga kota menikmati sungai dengan berjalan santai melalui jalur pedestrian yang nyaman, lengkap dengan taman, sementara perahu-perahu motor wara-wiri mengantarkan penumpang menuju sudut lain kota. Menjulang menghampiri angkasa setinggi lebih dari 461 meter, Landmark 81 menjadi latar yang apik yang megah di kejauhan sana, membungkus panorama ini dengan balutan modernitas.
Anh mengarahkan sepeda motornya menaiki jalan layang sebelum akhirnya berbelok ke kanan. Kami berkendara melalui Cầu Ba Son, atau Jembatan Ba Son, melintas di atas Sungai Saigon. Jembatan ini terbilang anyar, baru saja dibuka di tahun 2022.


Ho Chi Minh City sudah jauh berbeda dibanding saat pertama kali kusambangi tahun 2015 silam. Kalau bukan karena motor-motor yang berjalan lambat-lambat di tepi sungai dan beberapa pedagang gerobak yang mengais rezeki di dekat taman, mungkin penampakannya sudah seperti di Korea Selatan.
Baca juga: Transportasi Umum di Ho Chi Minh City
Vietnam dan Pertumbuhannya yang Melesat
Mengutip CNBC, Asia Tenggara adalah rumah bagi sederet negara dengan pertumbuhan ekonomi nan cepat di dunia! Tahun 2022 saja, Vietnam mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8,02%, mengungguli negara kita yang “hanya” bertumbuh di angka 5,31% Year on Year (YoY). Bahkan di tahun 2020, ketika seisi bumi kolaps karena pandemi (termasuk Indonesia yang pertumbuhannya turun –2,07%), Vietnam tetap “kebal” dengan mencatat pertumbuhan sebesar 2,87%.

Apa yang Vietnam nikmati saat ini adalah buah dari reformasi ekonomi yang sudah dijalankan selama puluhan tahun. Kebijakan Negeri Paman Ho memudahkan dan menarik banyak investasi asing masuk ke negaranya, termasuk Samsung yang membangun pabriknya di Vietnam. Ekonomi negara ini ditopang oleh manufaktur, sementara pariwisata hanya menyumbang sekitar 10% saja. Dilansir dari Katadata, pertumbuhan startup Vietnam pada tahun 2019 adalah yang tertinggi di Asia Tenggara, nilai pendanaannya meroket hingga 158 persen!
Dengan pertumbuhan startup, manufaktur, dan pembangunan infrastruktur di Vietnam ini, maka ada satu hal yang harus dipertimbangkan——penggunaan energi.

Vietnam rupanya sudah merencanakan transisi energi menuju sumber energi terbarukan melalui Power Development Plan 8, sebuah wujud komitmen untuk meningkatkan penggunaan energi bayu (angin) dan gas. Sumber-sumber energi terbarukan seperti bayu dan sinar matahari (solar) diproyeksikan akan cukup memenuhi kebutuhan energi nasional hingga 31% pada 2030. Ketergantungan pada batubara sebagai sumber energi akan dikurangi.
Apa itu Energi Terbarukan?
Mungkin ada sebagian dari rekan-rekan travelearners di sini yang belum memahami apa itu energi terbarukan. Nggak apa-apa. Kita belajar bareng, yuk. Saya share apa yang sudah saya dapatkan dari kegiatan online gathering #EcoBloggerSquad hari Jumat, 17 November 2023 lalu, tentang Mengulik Energi Terbarukan yang Sedang Ramai Diperbincangkan.

Energi terbarukan adalah energi dari sumber daya alam yang sudah tersedia dan cepat tersedia kembali. Karena terus terbentuk oleh proses alam yang berkelanjutan, energi terbarukan ini tidak akan habis! Ada 6 sumber energi terbarukan di bumi ini, yaitu: tenaga air, tenaga angin (bayu), tenaga uap, tenaga panas bumi (geotermal), tenaga surya, dan bioenergi.
Penggunaan energi terbarukan harus senantiasa digalakkan karena merupakan kunci dalam menyelamatkan lingkungan. Energi terbarukan lebih rendah emisi, lebih ramah lingkungan, dan bahkan lebih rendah biaya daripada energi fosil (batubara, minyak bumi, gas alam). Penggunaannya mampu menurunkan 1,25% emisi CO₂ per kapita. Maka, energi terbarukan adalah kunci dalam mengontrol emisi gas rumah kaca (GRK).

Sayangnya, pemanfaatan energi terbarukan di Asia Tenggara masih rendah, hanya 14,2% di tahun 2020. Bandingkan dengan penggunaan energi fosil yang mencapai 83% (ASEAN Center for Energy). Ketergantungan besar pada energi fosil ini perlu dikelola dan dikurangi agar kita “kebal” terhadap kenaikan harga bahan bakar dunia.
Energi Terbarukan di Indonesia
Syukurlah, pemerintah Republik Indonesia pun sadar akan gentingnya transisi energi ke sumber terbarukan ini. Bersama dengan negara-negara lainnya di dunia, Indonesia menandatangani Paris Agreement 2016 yang lalu disahkan dalam Undang-Undang no. 16 tahun 2016. Dari kesepakatan tersebut, Indonesia memublikasikan Nationally Determined Contribution (NDC) yang berisi target dan strategi negara dalam mencapai Net Zero Emission (NZE). Keempat poinnya adalah:
- Pembangkit listrik dengan energi terbarukan
- Instalasi panel surya atap
- Penggunaan bioenergi di sektor transportasi
- Bahan baku pembangkit dari biomassa.

Untuk mempercepat tercapainya target NZE tersebut, negara kita pun menawarkan Bali Compact pada forum transisi energi G20. Ada 9 prinsip yang disepakati. Ehem, daftar prinsipnya akan sangat panjang untuk dijabarkan di sini, tapi semuanya pro dengan energi terbarukan dan penyelamatan lingkungan. Indonesia juga bermitra dengan sederet negara maju melalui program kemitraan Just Energy Transition Partnership (JETP) yang diluncurkan dalam KTT G20. Komitmen pendanaannya mencapai USD 20 miliar, lho!
Lalu, bagaimana penerapannya sejauh ini? Bulan lalu, uji terbang pesawat komersil dengan Sustainable Aviation Fuel (SAF) sukses dilakukan. SAF adalah energi terbarukan berbasis bioenergi. Bahan bakar dengan komponen nabati ini disebut Bioavtur, dan diproduksi di Green Refinery Kilang Cilacap oleh PT Kilang Pertamina Internasional (KPI). Green Refinery RU IV Cilacap ini sudah dikembangkan sejak Februari 2022. Produk utamanya adalah Green Diesel yang bahan bakunya 100% terbarukan!


Indonesia juga patut berbangga, karena Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terbesar se-Asia ada di Indonesia, tepatnya di PLTS Terapung Cirata, kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Setelah menjalani uji coba pada Oktober 2023 lalu, rencananya PLTS ini akan mulai beroperasi pada awal 2024. Pembangkit listrik tenaga surya apung pertama di Asia Tenggara ini dibangun di atas area seluas kurang lebih 250 hektar dengan lebih dari 340.000 panel surya. PLTS Cirata diproyeksikan mampu menekan emisi karbon hingga lebih dari 200.000 ton per tahun. Membanggakan banget!
Potensi geotermal Indonesia pun tak main-main, karena disebut sebagai yang terbesar ke-2 di dunia. Negara kita diperkirakan menyimpan 40% cadangan panas bumi dunia karena lokasi kita di Ring of Fire (Cincin Api). Menurut data dari Badan Geologi Kementerian ESDM per Desember 2020, total potensi energi panas bumi Indonesia mencapai tak kurang dari 23,7 GW. Hingga saat ini, Indonesia sudah memiliki 16 PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi) yang beroperasi dengan total kapasitas 2,1 GW, terbesar ke-2 setelah Amerika Serikat. Di Pulau Jawa sendiri, ada PLTP Dieng, PLTP Darajat, PLTP Salak, dan PLTP Karaha. Wow, 3 dari 4 PLTP di Pulau Jawa ada di Jawa Barat.
Sekarang, Mari Bicarakan Bioenergi
Dibandingkan kelima sumber energi terbarukan lainnya, bioenergi mungkin yang paling kurang familiar. Padahal, sumbernya adalah yang paling mudah kita temukan sehari-hari. Bioenergi adalah energi terbarukan yang berasal dari sumber biologis atau biomassa, utamanya tanaman. Ada banyak sekali contohnya, dari kayu, tebu, kelapa sawit, sampai minyak jelantah!

Yes, kamu tidak salah dengar. Minyak jelantah dapat digunakan sebagai sumber energi terbarukan. Minyak jelantah memiliki komposisi kimia yang mirip dengan kelapa sawit sebagai bahan baku biodiesel. Selain itu, minyak jelantah juga merupakan limbah yang “berbiaya rendah” dan juga minim emisi gas rumah kaca. Pemanfaatan minyak jelantah sebagai bioenergi perlu ditingkatkan, karena setiap tahun terjadi peningkatan konsumsi minyak goreng rumah tangga sebesar 2,32% pada periode 2015-2020 (Badan Pusat Statistik). Jika digabungkan dengan UMKM, potensi minyak jelantah secara nasional adalah 1,2 juta kilo liter, atau setara dengan 8-10% kebutuhan biodiesel nasional.
Belakangan, muncul isu kerusakan lingkungan karena penggunaan biomassa dari hutan yang ditakutkan akan memicu deforestasi dengan metode co-firing. Tak hanya lingkungan, kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat adat pun terganggu. Sebagai contoh, untuk memasok 107 unit PLTU yang menerapkan co-firing 10%, dibutuhkan tak kurang dari 10,23 juta ton biomassa dari pelet kayu tiap tahunnya. Nah, minyak jelantah adalah sumber biomassa yang tidak menyebabkan kerusakan hutan.
Lalu bagaimana kita bisa berkontribusi dalam memanfaatkan minyak jelantah sebagai sumber bioenergi? Apakah kita olah sendiri? Tentu tidak. Minyak jelantah dari rumah tangga dan UMKM dikumpulkan pada pengepul. Pengepul akan menyetorkan minyak jelantah pada BUMD atau lembaga lain yang ditunjuk, sebelum dikirimkan ke SPBU, dan terakhir dikirim ke tempat pengolahan. Jadi, kalau tahu di komunitasmu atau tempat tinggalmu ada pengepul minyak jelantah untuk diolah jadi bioenergi, segera berkontribusi, karena memang penerapannya belum banyak ditemukan.


Siapa sangka, minyak jelantah yang selama ini kita anggap sampah ternyata masih ada manfaatnya untuk bumi. Campuran minyak sawit dan minyak jelantah mampu menurunkan emisi sebanyak 2,4% hingga 24% dari total target penurunan emisi sektor energi.
Selain Indonesia, Filipina pun sedang mengembangkan PLTS Apung di Danau Laguna yang, setelah beroperasi di tahun 2024 atau 2025 nanti, akan menggeser posisi PLTS Apung Danau Cirata. Ah, senangnya kalau seluruh Asia Tenggara sama-sama sehati dalam transisi energi untuk menyelamatkan bumi!

Setiap hari, kita memang menggunakan energi sebagai bahan bakar menjalani hari. Ya energi pikiran, energi batin, sampai energi listrik yang mengalir untuk menghidupkan setiap gawaimu. Apakah kita lantas abai? Tentu jangan. Gunakan energi dan listrik secara lebih bijak. Perbanyak jalan kaki, naik transportasi umum, dan tidak meminta handuk hotel dicuci setiap hari adalah 3 contoh hal sederhana yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Untukmu bumiku, kita bersama bergerak berdaya untuk transisi energi terbarukan yang ramah lingkungan. Keep learning by traveling~














Energi terbarukan ini jdi issue penting ya karena perubahan iklim sdh mencapai ambang batas. Bersyukur banyak negara yang sudah melakukan peralihan energi menjadi energi terbarukan
Butuh kerjasama masyarakat dunia untuk menyelamatkan lingkungan
Liat foto Cirata dari ketinggian aku takjub dan baru tahu kalau kita punya PLTS sebesar itu bahkan diperhitungkan di dunia. Harapannya ya ke depan makin banyak dibangun ya di provinsi lain, biar bumi kita yang lelah ini bisa bernapas dengan adanya sumber daya energi terbarukan.
Btw, semoga aku bisa ke Vietnam segera. Udah kepincut lamaaa banget sama kepadatan dan kefotogenican kotanya hwhw
Samaaa aku juga takjub, terus aku jadi tau jangan-jangan danau (waduk) besar yang selalu kulihat tiap kali mengudara di atas Bandung adalah Cirata.
Amin, ke Vietnam nggak mahal kok mas.
Keren ternyata Vietnam ya bisa sepesat itu pertumbuhannya. Indonesia insyaallah bisa menyusul meski memiliki bobot yang jauh lebih berat
Amin amin
Semakin banyak sumber energi terbarukan didapat semoga semakin bisa menyembuhkan bumi dan lingkungannya ini. Kalau Vietnam saja bisa memperbaiki diri seharusnya Indonesia jangan sampai kalah apalagi tertinggal
Ayooo negara-negara Asia Tenggara maju bersama!
Ten thumbs up untuk negeri Paman Ho. Selain mampu menarik investasi, mereka juga sudah berpikir jauh ke depan dengan mengurangi ketgergantungan pada sumber energi fosil. Saya melihat ini karena pemerintahnya yang serius dan mental masyarakatnya yang ga rese sih, jadi bisa satu visi. Semoga Indonesia bisa seperti ini. Keren banget mas ulasannya.
Terlepas dari mungkin pengaruh sistem pemerintahannya, masyarakat Vietnam memang cukup patuh sama negaranya. Makanya penanganan COVID-19 mereka terkontrol banget.
Wah gak nyangka, ternyata kemajuan energi terbarukan di Indonesia cukup lumayan
Karena Indonesia punya banyak sumber energi baru terbarukan, sayang nilai investasinya gede banget
Betul, mbak. Tapi untuk ukuran sebesar dan potensi sekaya ini, implementasinya masih kurang. Semoga semakin ditingkatkan penerapan energi terbarukan di Indonesia.
Energi terbarukan emang harus semakin digunakan ya kak
Agar dampak perubahan iklim nggak semakin meluas
Saatnya beralih dari energi fosil ke energi terbarukan
Betul kak, biar sumber energi kita terus ada dan nggak habis-habis.
Terima kasih, ka..
Aku suka taglinenya, Keep learning by traveling~
Dan suka dengan insight mengenai minyak jelantah.
Kondisi bumi yang sekarang ini sedang tidak baik-baik saja, tentu membutuhkan langkah nyata kita semua dalam rangka menyembuhkan bumi yang tua ini.
Semoga dengan ditemukannya banyak sumber dan pemanfaatan biomassa sehingga bisa menjadi energi yang kita butuhkan sehari-hari.
Terima kasih, kak. Karena aku selalu menemukan pelajaran dan pengalaman baru di setiap perjalananku.
Pemanasan global sudah semakin nakal, yuk gunakan energi terbarukan dengan optimal.
Semoga Kita bisa bergerak bersama untuk menyayangi bumi yaa..
Aku belum bisa konsisten Naik kendaraan umum euuii.. aga sulit kalau di Bandung.
Wahaha sama kak aku juga di Bandung. Memang agak laen kalau di sini mah.
Waaa…baru sadar kalok segrup di Blogger BDG. Salken…
Dukung untuk penerapan energi terbarukan ini, mengingat kondisi alam memang harus dengan alternatif energi lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidup ya
Yuk, dukung dan berkolaborasi bersama
Aku baru tahu lho kalau minyak jelantah bisa jadi sumber bioenergi?
Iyah benar di tempat ku ada pengepul minyak jelantah, wah mulai saat ini jadi mau lah ikutan ngumpulin minyak jelantah, yang dikira gak berguna ternyata bisa jadi sumber bioenergi
Samaaa aku juga baru tahu setelah ikutan webinar ini. Nah, yuk dikepul ke pengepul, tapi pastikan juga pengepulnya memang meneruskan ke bagian terkait pemerintah ya.
Ternyata vietnam mirip di Indonesia, ada penjual gerobak dan banyak pengendara motor juga.
Memang energi terbarukan perlu terus digali penggunaan nya demi lingkungan juga.
Betul, miriiippp. Malah di sana pengendara motornya lebih gahar hahaha.
Berasa ada di Indonesia kalau melihat….tetap semangat untuk mencari alternatif dan recycling demi lingkungan hidup.
Ikut bangga baca yg PLTS apung terbesar itu. Memang udah waktunya negara kita mikirin sumber energi lain yg ramah lingkungan kan.
Trus utk bahan bakar pesawat yg sudah pakai bioavtur, bakal ngaruh ke harga tiket ga ya ntr 😄?
Selama ini kan tiket JD mahal Krn avtur juga mahal.
Minyak jelantah aku udah mulai ngumpulin juga mas. Walopun lamaaa penuhnya, Krn memang kami sekeluarga udh ngurangin minyak. JD sekali pake cuma dikiiiit. Gapapa, begitu banyak, biasanya aku KSH ke petugas sampah, biar utk dia aja duitnya kalo memang mau dijual.