Jumat sore, 22 Agustus 2024, aku sudah duduk anteng di bangku depan taksi daring menuruni Jalan Padasuka menuju Terminal Cicaheum, Bandung. Ada sukacita yang membuncah di dalam dada. Dengan ransel hitam yang kembali penuh terisi itu, aku akan melakukan perjalanan darat ke Yogyakarta dengan bus patas Bandung Express, sebuah layanan bus malam dengan harga terjangkau.
Dulu, saat masih berstatus sebagai mahasiswa, perjalanan ini ajeg kulakukan setidaknya dua kali dalam setahun. Selain letak stasiun yang jauh dari kost di Jatinangor, saat itu pelayanan dan fasilitas kereta api belum senyaman saat ini. Mau murah dengan kereta api ekonomi, harus mau desak-desakan di dalam gerbong tak ber-AC semalaman. Bisa ngemper di lantai aja udah syukur. Mau nyaman dengan kereta api bisnis, harganya masih cukup mahal dan harus berkendara selama 1 jam ke Stasiun Bandung.
Bus patas, khususnya Bandung Express, menjadi opsi terbaik dengan harga di bawah Rp100 ribu dan lokasi titik penjemputan di Cileunyi. Tinggal ngangkot Rp3.000 dari Jatinangor. Selama bertahun-tahun, Bandung Express menjadi langganan untuk pulang ke rumah dan berangkat kembali ke tanah perantauan. Namun ketika aku sudah bekerja dan nge-kost di kota Bandung—beneran Bandung kota—dan layanan perkeretaapian yang sudah membaik dengan harga yang pernah lebih murah dari harga bus patas ini, Bandung Express pun kutinggalkan dulu selama beberapa waktu. Senang, tahun 2024 aku bisa kembali bersua dengannya.
Bus Bandung Express yang Tak Banyak Berubah
Badan bongsornya sudah menunggu ketika aku tiba di Terminal Cicaheum. Guyuran warna putih dan hijau tua itu memercikkan kenangan satu dekade yang lalu. Aku segera masuk ke dalam bus begitu aku menyelesaikan pembayaran dan mendapatkan tiket kertas.
Sekarang, harganya Rp120 ribu. Tak ada lagi kelas tanpa AC, tak ada lagi keberangkatan via jalur utara seperti yang dulu biasa kuambil. Sejak pandemi, pengurangan layanan itu belum kembali seperti semula, dan sepertinya tak akan kembali seperti dulu. Dulu, harga untuk bus non-AC adalah Rp70 ribu dan Rp90 ribu untuk bus AC. Dengan perjalanan yang dilakukan di malam hari, perjalanan dengan bus non-AC masih memungkinkan untuk diambil.
Pukul 17:45, aku sudah duduk manis di kursiku, baris kedua dari depan di sisi paling kanan. Fasilitasnya tak berubah, standar bus ber-AC Indonesia. Malahan, tak ada selimut dan bantal, padahal dulu biasanya ada. Tak ada stopkontak, air mineral, atau fasilitas lainnya. Jadi siapkan perbekalanmu dengan lengkap.
Yah, setidaknya armada bus berfungsi baik, bukan bus tua reyot yang jalannya iyik-iyik. AC berfungsi baik, ada toilet untuk buang air kecil. Tak ada banyak penumpang yang berangkat dari Bandung.
Pukul 17:59, bus bertolak dari Terminal Cicaheum, Bandung. Aku memperbaiki posisi duduk agar nyaman di kursi selama kurang lebih 8 jam ke depan. Bus berangkat di tengah waktu puncak pulang kerja, sehingga ia berkali-kali merayap sabar di belakang barisan sepeda motor melalui Jalan A.H. Nasution yang tidak lebar itu. Aku memasang headphone bluetooth menutupi kedua lubang telinga, mengusir kebosanan dengan alunan musik K-pop.
Lepas dari Simpang Tol Cileunyi dan memasuki daerah Rancaekek di penghujung kabupaten Bandung, barulah ia melaju dengan lancar jaya.
Malam Romantis Melalui Jalur Selatan Jawa
Jelang pukul 21:30, bus merapat di Rumah Makan dan Mie Bakso SR1 di Rajapolah, kabupaten Tasikmalaya. Bersama dengan (hampir) seluruh penumpang lainnya, aku beranjak keluar dari dalam bus untuk makan malam, buang air, dan beristirahat. Bandung Express sama sekali tidak mengakomodasi makan malam, sehingga semua harus beli atas biaya penuh sendiri, berbeda dengan bus Budiman yang kunaiki untuk kepulangan ke Bandung.
Tapi harga makanan di rumah makan nggak mahal-mahal amat, nggak semencekik harga di bandara. Aku memilih ayam opor dan telur ceplok dengan hanya segelas teh tawar panas. Ah, rasanya nikmat sekali…
Ini adalah salah satu momen dalam perjalanan yang aku rindukan. Sendirian mampir makan, atau jajan, malam-malam di titik antah-berantah dalam sebuah perjalanan panjang. Aku menikmati makan larut malamku sambil mengamati lalu lintas jalan di depan sana. Suasananya teduh karena sudah larut malam meski di tempat makan, memberikan atmosfer yang menentramkan sambil sedikit menikmati denyut kehidupan di kota kecil.
Setelah selesai makan malam, aku berkeliling untuk dokumentasi, dan baru sadar ada beberapa warung tenda di seberang sana. Tahu gitu tadi makan di sana aja, harganya pasti lebih terjangkau, dan ada nasi goreng yang kudambakan.
Tak berapa lama kemudian, bus kembali melanjutkan perjalanan.
Dengan jalurnya yang hanya selebar dua lajur, banyak liku, dan cenderung lebih hijau daripada Jalur Pantai Utara, perjalanan melalui jalur selatan ini terasa lebih syahdu dan romantis. Kota-kota yang dilalui—Ciamis, Tasikmalaya, Banjaran, Kutoarjo–lebih tenang dan bersahaja dari kota-kota pantura. Bus melaju dengan lancar tanpa tersendat kemacetan.
Bus atau Kereta Api, Mana yang Lebih Baik?
Ada masanya aku selalu melakukan perjalanan ke kampung halaman dengan kereta api, khususnya kelas ekonomi. Dengan harga kurang dari Rp100 ribu, aku sudah bisa menikmati layanan kendaraan umum yang nyaman dengan AC, kabin yang bersih, stopkontak, toilet, dan on-board catering di mana kita bisa menikmati makan malam dengan segelas kopi panas. Sementara kalau naik bus Bandung Express, kalau mau AC ongkosnya di atas Rp100 ribu. Nggak ada stopkontak dan on-board catering. Lalu, perjalanan dengan bus membuatku malas wara-wiri ke toilet.
Namun, waktu berubah. Belakangan ini, harga kereta api sudah tak semurah dulu. Untuk perjalanan ini aja, masak harga kereta api ekonomi aja di atas Rp200 ribu? Sementara bus patas, tetap tersedia di harga mulai dari di bawah Rp100 ribu. Titik keberangkatannya pun jauh lebih dekat daripada Stasiun Kiaracondong apalagi Stasiun Bandung. Tinggal meluncur syuuurrr ke bawah, sampailah aku di Terminal Bus Cicaheum.
Ditambah, saat ini skena bus patas Indonesia sedang menggairahkan! Bus patas kini hadir dengan berbagai fasilitas yang tidak ada di kereta api dengan harga yang setara. Aku sebenarnya sangat tertarik menjajal sleeper bus dengan fasilitas mewah itu. Apalagi, baru-baru ini Cititrans meluncurkan bus patas dengan rute Bandung-Yogyakarta dengan harga Rp385 ribu yang nyariiisss saja kubeli karena salah lihat harga. Kirain Rp285 ribu eh ternyata angka di depannya kurang satu. Mungkin lain kali di kesempatan lebih baik, karena kali itu aku berangkat di akhir bulan.
Ini bukan tulisan kerjasama dengan Cititrans. Tapi bila ternyata tulisan ini laris di Google dan sampai di layar komputer salah satu petinggi Cititrans, siapa tau aku bisa dinotis, hehe. Biar bisa bikin vlog review perjalanan macam NonstopEurotrip atau SuperAlbs Travel.
Meskipun, ada satu kelebihan kereta api yang tak akan bisa disaingi bus patas semewah apapun fasilitasnya, selain jaminan akan bebas kemacetan. Hanya saat naik kereta api lah, aku bisa mengisi waktu dengan bekerja atau laptopan sepanjang perjalanan, kegiatan ini nggak akan bisa aku lakoni di dalam bus karena kondisi medan yang tidak stabil. Bahkan saat melalui jalanan beraspal rata sekalipun, rasanya tetap tak akan sestabil ketika melaju di atas rel kereta api. Apalagi, tahu sendiri bagaimana kontur daratan di Pulau Jawa, baik itu jalur pantura atau pantai selatan. Naik-turun dan penuh liku, bre!
Jadi, dari Bandung ke Jogja mau naik kereta api atau bus patas, semua tergantung kebutuhan, kemampuan, dan selera. Untuk yang membutuhkan bus patas dengan harga terjangkau untuk rute Bandung-Jogja atau sebaliknya, juga kota-kota lainnya di Jawa Tengah, bus Bandung Express dan Budiman bisa jadi pilihan. Semoga tulisan ini bisa menjadi referensi, keep learning by traveling~














Ha…ha…ha…
setuju mas… semua ada minus plus nya… aku sendiri memang lebih suka KA.. jd kecil kemungkinan aku bakal naik bus kecuali yg sleeper.. itu juga liat sikon, kalo sedang buru2, aku tetep prefer KA sih.
naik bus ini jujurnya aku sering mabok… apalagi kalo jalannya ndut2an akibat macet..duuuh peniiing kepala… makanya sebisa mungkin aku sangat menghindari bus . ini kayaknya option paling terkahir kalo ga ada option lain hahahahah
Akuuu sebenernya pengen banget naik sleeper bus biar pengalamannya beda dan baru. Semoga di kesempatan berikutnya.