
Masih teringat jelas di benakku hari itu, di awal Oktober 2013. Pagi-pagi buta, aku dan rekan perjalananku sudah duduk anteng di dalam taksi konvensional menuju Bandara Soekarno-Hatta. Jantungku berdebar, menyambut penerbangan perdana seumur hidup. Jetstar, sebuah nama yang tak pernah kudengar sebelumnya, menjadi maskapai bersejarah itu. Belum genap 12 tahun kemudian, aku terkesiap menerima kabar dari istri bahwa low cost carrier di bawah naungan Qantas Group Australia itu menghentikan operasinya.
Kamis, 31 Juli 2025, seperti halnya aku yang menjalani hari terakhirku bekerja di kantor, Jetstar Asia melayani penerbangan terakhirnya untuk rute Singapura-Kuala Lumpur. Momen penuh haru itu lalu dibingkai dengan pelukan, tangisan, dan lambaian tangan.
Jetstar Asia memang hanya 3x melayaniku, namun ketiganya adalah 3 penerbangan paling bersejarah di dalam hidup. Pertama, penerbangan perdana dengan rute Jakarta-Singapura. Kedua, penerbangan dari Jakarta ke Singapura lalu dari Haikou (Hainan, Cina) kembali Singapura di tahun 2019. Hainan, Cina, adalah perjalanan pertamaku dengan visa, setelah sebelumnya cuma “berani” eksplor Asia Tenggara, Macau, dan Hong Kong yang cukup bermodal paspor. Tulisan ini menjadi sebuah tribut untuk Jetstar Asia dan seluruh staf yang pernah bekerja di bawah sayapnya.
Kesan Pertama dengan Jetstar: “Lho, Kok…?”
Sebenarnya, AirAsia sudah banyak menebar harga promo tiket penerbangan di tahun 2013. Namun, di tanggal keberangkatan yang kuinginkan, Jetstar lah yang menawarkan harga sesuai anggaran. So, Jetstar it is. Kelak, ternyata memang maskapai yang khas dengan warna oranye ini kutemukan sering membuat jiwa traveler terguncang dengan promo tiket Jakarta-Singapura seharga Rp300 ribuan saja!

Berjalan memasuki badan pesawat dengan melalui tangga—bukan melalui garbarata sesuai bayanganku—aku dihadapkan dengan kabin yang sederhana. Lapisan karet yang membalut kursinya sudah bocel-bocel di beberapa titik. Kompartemen atas kepalanya pun sudah agak kusam termakan usia dan perawatan secukupnya.
Insight terbesar untukku? Para pramugarinya tak lagi muda, mungkin sudah berusia 40an atau bahkan 50an tahun. Kenyataan itu mematahkan stereotipku kalau seorang flight attendant harus muda, cantik atau ganteng, dengan postur tubuh ideal. Well, cici-cici pramugari Jetstar itu nggak yang jelek juga, tapi juga bukan yang terelok. Aku yang mengira bahwa semua kru kabin yang bertugas di satu negara pasti warga negara yang bersangkutan juga dipatahkan oleh pengalaman itu karena… mereka nampaknya Singaporean.
Tak sampai 2 jam mengudara, pesawat mendarat dengan selamat di Changi International Airport, Singapura, negara pertama yang kukunjungi. Tapi, ehem, ada pengalaman yang sedikit… raising concern? Haha, bahasa Gen Z banget. Karena, pintu kabinnya sempat macet dibuka. Pramugari harus bekerja keras mendorongnya, mungkin dengan trik khusus, sampai akhirnya berhasil terbuka. Astaga, gimana kalau pintunya macet beneran dan nggak bisa dibuka sama sekali?
Jetstar tak memberikan pengalaman penerbangan perdana terbaik yang manis dan sesuai harapan, namun justru itulah. Ia membuka mataku, meluaskan wawasanku. Pramugari dan pramugara nggak harus muda dan rupawan—aku beberapa kali bertemu flight attendant prianya yang juga… ordinary. Menurutku, itu bentuk apresiasi mereka terhadap talenta, dan memberikan kesempatan yang sama kepada siapapun yang cakap dan berkomitmen.
Terlambat yang Membawa Berkat
Berbanding terbalik dengan penerbangan pertama di mana aku datang sangat sangat sangat tepat waktu (baca: sudah siap dari 3 jam sebelum jadwal penerbangan), 1 November 2019 malam kuhabiskan dengan berlari-lari dari shelter skytrain menuju konter check-in Jetstar di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta. Aku sudah terlambat, sangaaattt terlambat. Jadwal penerbangan pukul 21:55, eh jam 21:07 aku baru sampai stasiun skytrain.

Untungnya, juga anehnya, konter check-in yang layar digitalnya sudah tertulis “CLOSED” itu nyatanya masih mau melayaniku—dan 2 anak muda lain yang sama-sama terlambat dan kejar-kejaran di sepanjang bandara. Puji Tuhan, ternyata penerbangannya delayed. Bahkan setelah kami tiba di boarding room, para penumpangnya masih menunggu. Masih ada waktu untukku duduk mengatur napas, sebelum akhirnya kami masuk ke dalam bus yang mengantarkan kami menuju pesawat.
Tengah malam, aku mendarat di Bandara Internasional Changi sebelum melanjutkan penerbangan ke Hainan pagi harinya.
Selengkapnya tentang drama perjalanan ini bisa dibaca di tulisan ini.
Aku kembali terbang dengan Jetstar untuk rute kembali ke Singapura, masih dari Meilan International Airport, Haikou, Hainan. Bedanya, kali ini aku memesan on-board meals (makanan) dalam penerbangan Jetstar. Harganya memang lebih mahal dari makanan dan minuman AirAsia — asli sih, itu harga di AirAsia murah banget. Terus, juga nggak ada opsi minuman hangat. Tapi karena aku takut kelaparan dan, saat itu, sudah di kondisi di mana aku ada budget untuk pemesanan makanan, jadi mau menjajal pengalaman baru.

Sayangnya, aku nyaris tak ada foto untuk penerbangan itu, dan tidak ada rincian detil di dalam e-ticket yang dikirimkan di email. Jadi, mohon maaf tidak ada dokumentasi atau informasi lebih lanjut terkait pengalaman ini.
Bonus: ternyata aku punya 2 lagi penerbangan dengan Jetstar, haha.
Hari Minggu malam, 29 Januari 2017, aku menjalani penerbangan dari Singapura ke Jakarta bersama grup open trip yang kupimpin. Saat itu, kami juga hampir saja terlambat. Aku berlari-lari di sepanjang lorong ruang-ruang tunggu karena status penerbangan kami sudah Last Call. Sebagai trip leader, aku sengaja berlari mendahului rombongan agar bisa memastikan kami berlima tak ada yang tertinggal.

Dengan jadwal penerbangan yang sama, aku terbang lagi dengan Jetstar pada Selasa malam, 20 November 2018. Lagi-lagi setelah mengantarkan grup open trip (yang kala itu temanku sendiri beserta putra dan rekannya) menjelajahi Singapura. Aku sengaja memilih jadwal penerbangan lebih larut daripada mereka yang berangkat sore agar bisa memiliki waktu lebih lama menikmati Bandara Changi. Toh, udah kadung cuti juga. Ngapain buru-buru balik? Hehe.
Penjelajahanku di Changi hari itu bisa dibaca di sini.
Kalian punya pengalaman apa sama Jetstar? Ceritain di kolom komentar, dong.
Ah, Jetstar. See? Kau menjadi salah satu rujukanku akan sebuah penerbangan berbiaya rendah, terutama menuju dan dari Singapura. Maka, ketika kau sekarang tak lagi beroperasi di region ini, seperti ada yang hilang dari kisah hidupku. Tapi, namanya bisnis, aku paham kau tak lagi sanggup terus terbang tertatih-tatih sementara biaya pemasok terus meroket. Kau bukan badan amal. Kau harus bersaing dengan kolegamu, Scoot dan AirAsia. Malah, sekarang mungkin ketambahan lagi—Lion Air, Citilink, dan TransNusa. Untuk Jetstar Japan dan Jetstar Australia, kuat-kuat ya bre.

Jetstar, kau sudah menjadi sebuah piksel yang ikut mewarnai kehidupanku. Namamu, selamanya akan terus tersemat di kalbu. Lancar-lancar untuk semua urusan dengan mantan calon penumpangmu yang sudah kadung membeli tiket. Good luck untuk seluruh stafmu yang kini berjuang mengirimkan lembar-lembar lamaran pekerjaan digital. Jetstar, terima kasih sudah membersamai perjalananku selama 10 tahun ini, mari kita semua keep learning by traveling~














Ikut prihatin dengan semua orang yang sudah memasarkan Jetstar di Indonesia. Mudah-mudahan bisa menambah portfolio dengan baik.
aku beneran lupa pernah naik ini atau ga 😂😂. Kayaknya sih ga yaaa. Soalnya jestar pasti transit di SG kan? Tp pas lihat video trakhir mereka di IG, ikut ngerasa sedih. Ntah kenapa langsung kepikiran staff2 yg bekerja di sana. Semoga mendapat ganti kerja yg lebih baik.
Sayang sekali gak bisa terbang ke Singapore naik Jetstar lagi. Tapi emang terlalu murah yaa tiketnya dan gak sebanding dengan biaya pembelian avtur dll. Lalu untuk beli meals di mereka harga berapakah?
salut dengan Jetstar yang masih mempekerjakan pramugari dengan usia cantik.
Ikut deg2an mas baca tulisan closed tapi alhamdulillah masih melayani penumpangnya yaa. Itu pas emang masih persiapan ya. Apalagi sekarang tu keknya maskapai penerbangan walau delay penumpang tu keknya tetep aja disuruh masuk gitu gak sih? Sampai kadang gak nyadar udah sejam gk terbang2 gitu (eh itu pengalamanku haha :P)
Wah sedih juga ya Jetstar ini, harapan para pelancong buat keliling dunia malah mengucapkan selamat tinggal. Ini sebenarnya krn apa sih? Regulasi pemerintah yg aneh buat usaha penerbangan luar?
Setuju banget sebagai penumpang mah kita gak ngarepin pramugari cakep2 cantik2 melainkan yang jiwanya melayani, gk terlalu peduli usia juga, asalkan bisa bantuin kita dengan baik.
Setau saya Jetstar Asia (3K) memang cabangnya Jetstar yg berkantor di Singapur, jd krunya memang mostly Singaporean. Beda sama Jetstar (JQ) yg pusatnya di Australia. CMIIW.
Kalo saya pernah beli tiketnya Jetstar dua kali tpi blm kesampean terbangnya nih. Padahal pengen coba ngerasain jg..
waktu tau Jetstar akan menghentikan operasinya dari Surabaya dan Singapura, asli dah kaget dan nggak nyangka. Memang harga Jetstar terjangkau tapi aku belum pernah cobain sama sekali. Karena waktu itu, timingya yang nggak pas sama keinginanku. ehh belum cobain, malah udah berhenti. sedihh
pas baca ini, jadi kebayang pokoknya sebisa mungkin, kalau lagi traveling, banyak-banyakin memori foto ya. meskipun cuman di pesawat. Karena ada kenangannya nantinya, apalagi kalau maskapai itu meninggalkan kesan yang berarti buat kita selama traveling
Duh, belum sempat naik Jetstar sudah pergi saja dia, walaupun penerbangan perdana cukup mengagetkan ternyata Nugie naik lagi dan lagi yaa…apalagi harga tiketnya miring untuk traveler..
Baru saja berdecak kagum karena masih ada maskapai yang memperkerjakan orang-orang diatas 40 tahun. Rasanya kagum dan takjub, mereka sangat menghargai orang yang memang cakap nan terampil tanpa mempersoalkan terkait usia ya.
Jetstar ini pasti sangat memberikan kesan mendalam, meski di penerbangan perdana ada hal yang bikin deg-degan. Justru di situ seni nya yes. Perjalanan makin berwarna dan terkenang sepanjang masa.
Turut sedih sekali mendengar kabar buruk terhadap maskapai tersebut. Semoga para pekerjanya segera mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik juga ya.