Rabu, 19 Agustus 2026 kemarin, saya berkesempatan menghadiri ASUS Blogger Bandung Mini Gathering yang berlangsung di Hotel de Java, Bandung. Acara yang dimulai sekitar pukul 12.00 dan berakhir sekitar 16.30 WIB ini secara khusus memperkenalkan ASUS ExpertBook Ultra, laptop bisnis premium yang menggabungkan desain tipis dan ringan, performa tinggi, ketahanan, serta berbagai fitur AI untuk menunjang produktivitas profesional. Tagline-nya: The Flagship of The Industry. Period. Ah mosok sih? Yuk, kita bedah bareng-bareng dalam tulisan ini.
Buat saya pribadi, acara ini cukup menarik karena penggunaan laptop dalam pekerjaan sehari-hari memang sudah tidak bisa dipisahkan.
Selain bekerja full-time, saya juga mengerjakan berbagai proyek freelance dan side project. Bahkan belakangan ini saya sedang mengerjakan beberapa itinerary perjalanan secara paralel. Jadi, laptop bukan cuma alat untuk mengetik dokumen atau browsing, tetapi benar-benar menjadi salah satu perangkat kerja utama.
Dari sesi demo yang diberikan ASUS, ada beberapa hal dari ExpertBook Ultra yang cukup menarik perhatian saya.
Makan Siang dan Perkenalan ASUS ExpertBook Ultra
Acara dimulai dengan makan siang bersama para blogger yang hadir. Setelah itu, tim ASUS memberikan sambutan dan memperkenalkan ExpertBook Ultra beserta berbagai teknologi yang dibawanya. Ada mas Aldy Ramadiansyah (Commercial Product Marketing), Bapak Muhammad Firman (Head of Commercial Public Relation), dan mas Said Dahda (Commercial Technical Public Relation) yang memimpin sesi penjelasan teknik dan demo. Mas Said ini udah familiar banget di tiap kegiatan ASUS Media Gathering, hehe.
Dari sisi desain, salah satu angka yang langsung menarik perhatian adalah bobotnya yang mulai dari 0,99 kg dengan ketebalan hanya 10,9 mm. Dengan ukuran seperti itu, laptop ini memang terasa ditujukan untuk pengguna profesional yang mobilitasnya tinggi. Saya sendiri cukup sering membawa laptop bepergian, baik untuk bekerja dari luar kantor maupun ketika melakukan perjalanan dinas. Jadi, selisih beberapa ratus gram saja sebenarnya cukup terasa ketika perangkat harus masuk ke dalam backpack dan dibawa seharian.
Menariknya lagi, ASUS ExpertBook Ultra memiliki screen-to-body ratio hingga 91%, sehingga layar 14 inci bisa ditempatkan dalam bodi yang tetap relatif ringkas dan tetap puas digunakan sebagai bioskop pribadi di kamar. Layarnya sendiri menggunakan 3K Tandem OLED dengan resolusi 2.880 × 1.800 piksel dan brightness hingga 1.400 nits HDR. Untuk pengguna yang bekerja dengan visual, presentasi, maupun konten, spesifikasi seperti ini tentu cukup menarik.
Laptopnya Benar-Benar Dibanting dan Diinjak
Namun, bagian yang paling bikin saya penasaran justru bukan presentasi spesifikasi. ASUS melakukan demo ketahanan secara langsung. ExpertBook Ultra diperlihatkan menghadapi perlakuan yang cukup ekstrem—mulai dari dibanting, diinjak, ditimpa beban berat, diitarik dengan beban, hingga ditetesi air.
Melihat laptop diperlakukan seperti itu tentu agak bikin ngilu.
Biasanya, ketika laptop baru ada di depan kita, jangankan diinjak, tersenggol sedikit saja sudah langsung panik. Tetapi ASUS ingin menunjukkan bahwa ExpertBook Ultra memang dirancang sebagai perangkat kerja yang tidak hanya mengejar desain tipis dan ringan.
Laptop ini juga memiliki ketahanan dengan standar MIL-STD-810H, sementara ASUS menyebut desainnya menggunakan Nano Ceramic Technology dengan tingkat ketahanan 9H. Tentu bukan berarti setelah membeli laptop ini kita bebas membanting atau menginjaknya. 😂 Demo tersebut lebih menunjukkan bahwa mobilitas tinggi tidak harus membuat kita terlalu khawatir terhadap perangkat yang dibawa. Terus, buat orang-orang ceroboh atau punya toddler sepertiku yang laptop-nya pernah ketumpahan air, kehujanan, diinjak-injak bocil, bahkan setengah dibanting, ketahanan ASUS ExpertBook Ultra Series ini bikin hat lebih tenang.
Group Demo: ASUS vs Kompetitor
Setelah demo utama, kami kembali ke meja masing-masing. Di setiap meja, ada tim ASUS yang mendampingi dan memberikan group demo. Bagian ini menurut saya justru cukup menarik karena kami tidak hanya melihat presentasi, tetapi juga diajak membandingkan performa ExpertBook Ultra secara langsung dengan dua laptop kompetitor dari brand yang saya sebut saja L dan D.
Beberapa skenario penggunaan diperlihatkan dan dibandingkan secara langsung. Terbukti, latar laptop ASUS ExpertBook lebih cerah dengan saturasi warna yang lebih kaya. Suaranya lebih menggelegar padahal bodinya lebih mungil dari 2 kompetitor. Trackpad-nya juga terbukti lebih nyaman dan responsif saat digunakan.
Menurut saya, pendekatan seperti ini lebih mudah dipahami daripada sekadar melihat tabel spesifikasi. Sebab ketika membeli laptop, pertanyaan kita sebenarnya bukan cuma: “Prosesornya berapa core?” Tetapi lebih ke:
“Kalau saya pakai buat kerja sehari-hari, memang terasa bedanya?”
ExpertBook Ultra sendiri menggunakan prosesor hingga Intel Core Ultra X9 Series 3 dengan Intel Arc Graphics dan NPU hingga 50 TOPS untuk pemrosesan AI. Untuk varian yang ditampilkan di pasar Indonesia, ASUS juga menawarkan konfigurasi seperti Intel Core Ultra X7 358H dengan 16 core dan 16 thread serta Intel AI Boost NPU hingga 50 TOPS. Artinya, laptop ini memang tidak hanya mengandalkan CPU untuk pekerjaan konvensional, tetapi juga sudah dipersiapkan untuk berbagai workload berbasis AI.
Fitur AI yang Lebih Menarik dari Sekadar “Bisa Pakai AI”
Nah, ini bagian yang menurut saya paling menarik. Siapa sih yang hari gini nggak kerja pakai AI? Saya aja pakai AI buat banyak hal, hehe.
ASUS ExpertBook Ultra bukan cuma membawa label “AI PC”, tetapi juga memiliki berbagai fitur yang memang dirancang untuk pekerjaan sehari-hari. Salah satunya adalah ASUS ExpertMeet. Buat orang yang sering mengikuti meeting, fitur ini menurut saya cukup berguna karena bisa membantu proses pencatatan dan transkripsi meeting. Bayangkan setelah meeting selama satu jam, kita tidak perlu lagi mengandalkan ingatan untuk mengingat semua pembicaraan. AI dapat membantu mengubah percakapan menjadi teks sehingga informasi meeting lebih mudah ditinjau kembali.
ASUS ExpertMeet juga memungkinkan kita memasang watermark, misalnya saat mempresentasikan dokumen perusahaan yang sifatnya confidential, dan business card (biar klien atau vendor tau siapa nama kita dan apa posisinya di perusahaan).
Ada pula MyExpertMeet yang menjadi bagian dari ekosistem AI ASUS untuk membantu produktivitas dalam meeting dan pekerjaan. Fitur seperti ini terasa semakin relevan di era ketika meeting online maupun offline menjadi bagian dari rutinitas pekerjaan. Daripada sibuk mengetik semua pembicaraan sambil berusaha tetap fokus mendengarkan, sebagian pekerjaan dokumentasi bisa dibantu oleh AI. ASUS sendiri juga membekali ExpertBook Ultra dengan AI ExpertMeet dan Knowledge Hub untuk kebutuhan produktivitas berbasis AI.
ASUS Zenni Claw: AI yang Tidak Sekadar Menjawab
Fitur AI lain yang diperkenalkan adalah ASUS Zenni Claw. Kalau selama ini kita mengenal AI terutama sebagai chatbot yang menjawab pertanyaan berdasarkan prompt, konsep Zenni Claw sedikit berbeda. ASUS menyebut Zenni Claw sebagai AI agent platform yang dirancang untuk membantu menyelesaikan pekerjaan secara bertahap, bukan sekadar memberikan jawaban.
Jadi, pengguna bisa memberikan tujuan, kemudian AI membantu memetakan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Misalnya, memintanya membuat deck presentasi, tinggal berikan prompt dan voila! Presentasi jadi dalam sekejap.
Yang membuat saya langsung tertarik tentu saja bagian travel.
ASUS Zenni Claw memiliki skill bawaan seperti Perencana Itinerary Perjalanan, selain berbagai kemampuan untuk pekerjaan, kehidupan sehari-hari, dan proyek kreatif. Sebagai orang yang memang mengerjakan itinerary secara profesional sebagai side project, saya langsung berpikir: “Nah, ini menarik.” 😂
Tentu saja AI agent tidak otomatis menggantikan pekerjaan seorang itinerary planner. Banyak hal dalam menyusun perjalanan yang tetap membutuhkan pengalaman, judgment, konteks kebutuhan klien, dan kemampuan melakukan cross-check informasi. Tetapi kemampuan AI untuk membantu menangani pekerjaan yang sifatnya repetitif tentu bisa menjadi sesuatu yang sangat membantu. Apalagi Zenni Claw mendukung pendekatan local maupun cloud AI, dengan kemampuan melakukan auto-routing sesuai kebutuhan.
Koneksi Lengkap dan Bisa Dibawa Mobile
Satu hal lain yang menurut saya menarik dari ExpertBook Ultra adalah konektivitasnya. Untuk laptop yang bodinya sangat tipis, koneksi tetap menjadi salah satu hal yang sering dikorbankan. Namun ExpertBook Ultra tetap menawarkan berbagai port yang dibutuhkan untuk pekerjaan profesional.
Dalam sesi gathering, kami juga diperlihatkan fleksibilitas pengisian dayanya, termasuk kemungkinan menggunakan sumber daya eksternal seperti powerbank yang kompatibel. Ini terdengar seperti hal kecil, tetapi bagi orang yang sering bekerja mobile, kemampuan mengisi daya tanpa harus selalu mencari colokan listrik bisa sangat membantu. Bayangkan sedang bekerja di cafe, coworking space, lounge bandara, atau bahkan ketika perjalanan dinas. Semakin sedikit hal yang harus dikhawatirkan, semakin mudah kita fokus pada pekerjaan.
Ditutup dengan Coffee Break dan Kahoot
Setelah sesi demo dan diskusi produk, acara dilanjutkan dengan coffee break. Ini menjadi kesempatan untuk ngobrol santai dengan blogger lain sekaligus menikmati kopi sebelum masuk ke sesi terakhir. Kemudian tibalah sesi yang biasanya membuat suasana gathering berubah dari santai menjadi kompetitif: Kahoot quiz.
Saya tentu saja ikut. Sayangnya, saya tidak berhasil menjadi pemenang utama, malah banyak yang salah wkwk. Tapi setidaknya saya masih berhasil menjawab satu pertanyaan dengan benar sebelum sesi Kahoot dan mendapatkan merchandise tambahan. Lumayan. Tidak menang, tetapi tetap pulang membawa bonus. 😂
Bukan Sekadar Laptop Tipis dan Ringan
Saya yakin, nama “ASUS” sudah banyak teman-teman ketahui, juga sudah banyak yang menggunakan produknya. Tapi satu hal yang mungkin belum banyak teman-teman tahu, ASUS ternyata memiliki tren yang sangat positif urusan market share di Indonesia. Di tahun 2023, ASUS masih bertenggeer di posisi ke-8, lalu berturut-turut naik ke posisi 6 di tahun 2024 dan posisi 4 di tahun 2025. Tahun ini? Sudah di posisi dua! Dari 6% di tahun 2024, lalu berkembang 2 kali lipat menjadi 12% di tahun 2025. Di Q1 2026 saja, market share-nya naik menjadi 17%, lalu naik lagi ke 18% di Q2 2026 ini. Sepanjang tahun 2025, hanya ASUS yang pertumbuhannya positif. Growth YoY-nya hingga 117% lho!
Setelah mengikuti gathering ini, menurut saya ASUS ExpertBook Ultra menarik bukan hanya karena angka 0,99 kg atau ketebalannya yang hanya 10,9 mm. Yang lebih menarik adalah bagaimana ASUS mencoba menggabungkan beberapa kebutuhan profesional dalam satu perangkat: mobilitas, ketahanan, performa, layar berkualitas tinggi, konektivitas, keamanan, dan AI.
Buat pekerja yang mobilitasnya tinggi, bobot kurang dari 1 kg tentu menjadi nilai plus. Buat pekerja yang sering meeting, fitur seperti ExpertMeet bisa membantu proses dokumentasi. Buat orang yang mulai mengeksplorasi AI, kehadiran NPU hingga 50 TOPS dan ASUS Zenni Claw membuka kemungkinan workflow yang lebih jauh daripada sekadar bertanya kepada chatbot.
Buat saya pribadi? Saya malah penasaran dengan satu hal:
Seberapa jauh Zenni Claw bisa membantu pekerjaan itinerary yang selama ini saya kerjakan secara manual?
Karena kalau AI sudah bisa membantu membuat draft itinerary, memantau penerbangan, sampai mengerjakan berbagai tugas perjalanan melalui skills yang tersedia, mungkin suatu hari nanti laptop bukan cuma menjadi tempat saya mengerjakan itinerary, tapi bisa menjadi partner kerja yang ikut membantu mengerjakannya. Untuk saat ini, tentu saya masih harus mencoba dan mengeksplorasinya lebih jauh.
Yang jelas, ASUS Blogger Bandung Mini Gathering kali ini memberi saya gambaran bahwa laptop bisnis pun sekarang sudah bergerak jauh dari kesan “perangkat kantor yang membosankan”.
Ringan untuk dibawa. Tangguh untuk bekerja. Dan semakin pintar berkat AI.
Terima kasih ASUS atas kesempatan untuk mengikuti ASUS Blogger Bandung Mini Gathering di Hotel de Java, Bandung. Dan untuk Kahoot berikutnya… Saya akan belajar lagi. 😂













