Enjoy Jakarta #6: Kota Tua, Tak Sebersih yang Saya Kira

Halo, backpacKeren dan travelista. Saatnya melanjutkan cerita perjalanan singkat saya di Jakarta beberapa hari lalu.

Hari sudah beranjak malam, saya mengakhiri sesi leyeh-leyeh dan bergerak ke kamar mandi Hotel Pancoran Jaya. Airnya suam-suam kuku, hangat enggak, dingin juga enggak,  tidak semantap air di hotel The BnB Kelapa Gading. Yeah, you’re in budget hotel now, what do you expect?

Berlagak ala orang kaya ibukota yang biasa ke mana-mana dengan hanya mengenakan kolor dan celana oblong, ditambah sebuah tas selempang kecil berisi handycam Spectra DX10 dan barang-barang lainnya, saya berjalan keluar kamar. Fyi, handycam ini merupakan buah perjuangan saya dari sebuah kontes travelblog yang diselenggarakan oleh Voucher Hotel beberapa bulan lalu. Kualitasnya nggak bagus-bagus amat sih, tapi lumayan untuk mendokumentasikan cerita perjalanan saya dalam wujud video. Malem ini, saya mau jajal buat foto-foto di Kota Tua.

Sampai di depan gang, saya menanyakan petunjuk arah pada bapak-bapak yang kebetulan lagi ada di situ. Syukurlah Kota Tua ternyata sangat dekat dengan lokasi hotel. Benarlah, sekitar 5 menit kemudian, saya sudah sampai di Gedung Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia. Saya baru tahu dua museum itu ada di kawasan Kota Tua juga. Sebuah keuntungan karena besok saya bisa puas eksplor tanpa jauh-jauh naik busway yang sumpek!

Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia

PHTO0058.JPG

Sepeda-sepeda motor diparkir dengan rapi di sepanjang kanan jalan. Oh iya, sekarang malam minggu, Kota Tua pasti ramai. Saya melenggang masuk ke dalam Kawasan Pejalan Kaki Kota Tua, melalui sebuah jalan kuno yang minim pencahayaan dan menjadi tempat tukang-tukang ramal dan seniman-seniman jalanan menjalankan aksinya. Menarik 😉

PHTO0061.JPG

Saya terus berjalan, melalui trio idiot bule cowok yang kompak mengenakan kaos tanpa lengan dan celana kolor, tampak agak kebingungan di depan sebuah toilet ke-mana-saja. Akhirnya salah satu dari mereka memutuskan untuk masuk ke dalam. Mungkin mereka tadi sedang berpikir, “Ini toiletnya oke nggak ya buat buang hajat?” Bisa jadi! Bisa jadi!

Sampailah saya di sebuah ruang lapang, semacam plaza, yang agaknya menjadi pusat kehidupan di Kota Tua ini. Orang-orang berkumpul di situ, nongkrong sambil tertawa-tawa, foto-foto, ngobrol-ngobrol, nembak gebetan, atau nonton pertunjukkan debus. Plaza dikelilingi oleh bangunan-bangunan klasik peninggalan Belanda, seperti Museum Wayang (wah, di sini juga? fix besok saya harus eksplor Kota Tua lagi), Cafe Batavia, dan Kantor Pos.

Nonton debus

Nonton debus

Museum wayang

Museum wayang

Satu hal yang membuat saya agak syok di Kota Tua. Ternyata Kota Tua tidak sebersih dan setertib yang saya kira. Sampah berserakan di mana-mana. Tenda-tenda putih dan acara musik modern berdiri di tengah plaza, yang menurut saya, mengganggu nuansa klasik di Kota Tua ini. Sementara untuk para pedagang, saya malah tidak masalah, mereka dibutuhkan untuk meramaikan suasana, dengan catatan mereka tetap menjaga kebersihan. Sayang banget, Kota Tua yang cantik ini harus ternoda dengan sampah ulah orang-orang bodoh dan egois yang tidak bertanggungjawab. Tengoklah Vietnam, atau Kamboja, yang meskipun belum semaju negara kita, namun mereka menjaga dan merawat bangunan-bangunan bersejarahnya dengan baik. Mudah-mudahan Pak Jokowi baca blog saya ini.

Bergerak ke sisi kanan, saya mendapati sebuah spot yang difungsikan sebagai sebuah pujasera dengan aneka menu kuliner Indonesia. Pas banget! Karena saya memang belum makan. Beberapa menit berjalan mondar-mandir demi menentukan pilihan, akhirnya saya putuskan untuk makan di sebuah gerai paling ujung yang menjajaka Lontong Sayur. Selain karena di situ sedang tidak ada orang (saya nggak mau makan sendirian sementara pengunjung yang lain asyik makan dengan pacar atau geng labil mereka), saya juga agak penasaran dengan lontong sayur, ditambah sedikit rasa kasihan kepada penjualnya yang terus berkoar-koar tanpa hasil, hehe. Lontong sayurnya enak sih, porsi ayamnya cukup besar, dengan harga yang saya rasa terjangkau.

Pujasera

Pujasera

Lontong Sayur + segelas Nutrisari dingin

Lontong Sayur + segelas Nutrisari dingin

Selain pujasera, ternyata Kota Tua saat malam minggu juga memiliki pasar kaget. Yah, ukurannya jauh dari ukuran pasar yang sesungguhnya, tapi yang jelas ada satu spot difungsikan sebagai tempat berjual-beli barang-barang murah. Ada baju, asesoris, sampai spiker abal-abal juga ada. Sayang nggak ada celana dalam, padahal saya mau beli, secara saya 3 hari di Jakarta nggak bawa pakaian dalam #pffft

PHTO0075.JPG

Sebuah kali mengalir di salah satu tepi Kota Tua, membelah di antara dua deret gedung-gedung tua yang eksotik. Di sepanjang tepi sungai, pengunjung duduk lesehan untuk bersantap malam atau sekedar nongkrong-nongkrong galau. Lagi, sangat disayangkan kalinya kotor dan jorok, bau busuk menguar dan mengurangi kenikmatan berjalan santai menyusuri Kota Tua. Andai Kota Tua ini bersih, ditambah dengan sungai bebas sampah, tempat ini akan menjadi sebuah destinasi wisata yang sempurna bagi penggemar arsitektur dan sejarah.

PHTO0077.JPG

Langit yang sudah berawan terlihat semakin kelam diselimuti awan mendung. Saya yang tadinya berencana meneruskan perjalanan ke Monas dan sekitarnya, terpaksa mengurungkan niat dan berjalan dongkol menuju hotel seiring dengan rintik-rintik air yang mulai berjatuhan ke bumi. Mungkin bisa saja sih kesampaian ke Monas, kalau saja saya tidak membuang-buang menit-menit berharga dengan berputar-putar mengelilingi shelter Transjakarta Kota yang entah di mana pintu masuknya. Mungkin itu cara Tuhan mencegah saya kehujanan di Monas.

 

Baca tulisan gue sebelumnya? Ingat gue sempat menaruh curiga terhadap hotel ini? Ternyata kecurigaan gue terbukti. Hotel ini memang tempat “begituan”. Saat gue lagi beristirahat sambil mencari-cari acara televisi yang oke, tiba-tiba aja gue menemukan sebuah saluran yang menampilkan adegan bercinta sepasang cewek lesbian dalam keadaan telanjang bulat! Apa yang terjadi selanjutnya? Nggak usah dibahas ya, nggak penting 🙂

Ternyata hasil jepretan Spectra DX10 ini kurang bagus. Meskipun warnanya lebih natural daripada Sony Xperia E Dual gue, tapi lebih redup, dan kecepatannya rendah saat menangkap gambar. Mobil yang sedang melaju akan ditangkap dalam keadaan blur. Fix gue harus beli kamera digital poket yang bagus tapi di bawah 2 juta. Ada rekomendasi 🙂

9 komentar

  1. Sayang sekaliya klo kotor begitu..jadi terkesan kurang terawat..

    1. Yup. Padahal katanya udah ditata Jokowi, tapi ternyata masih kotor.

  2. padahal kota tua bagus lhoo, mirip batavia jaman dulu, saya suka -,- sayang kadang yang dateng kayaknya sering seenaknya buang sampah.

    1. Nggak ada tempat sampah juga kayaknya, mas. Nggak lihat sih, ngumpet kali yak.

      1. ahh, iya dulu pas ke sana pertama kali juga pusing nyari tempat sampah 😐

  3. tapi sekarang lumayan bersih lho kalo siang hari. dulu (tahun 2007-an) kalau mau foto2 di depan museum fatahilah harus beli minuman biar ga diganggu penjualnya yg nguntit terus. kalau saya belum pernah ke kota tua di malam hari. sepertinya seru juga wisata malam, mungkin bisa sekalian uji nyali. hehehe

    1. Waktu itu siang hari juga masih kotor, mas. Ehehe.

  4. […] kota tua akan selalu menarik untuk gue kunjungi karena pasti memiliki seabrek bangunan kuno yang indah, […]

  5. […] halnya dengan kawasan Kota Tua. Kawasan ini sebenarnya adalah asset terbaik pariwisata kota Jakarta, menurut gue. Di antara […]

Tinggalkan Balasan ke nopan Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Jilbab Backpacker

Travel-Architecture-Halal Lifestyle Blog

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

Ferdi Cullen-The Microtraveller

A microtraveller is a journey local or overseas that is short, flexible, simple, cheap – yet still fun, exciting, challenging, refreshing and rewarding

Pink Traveler

Kemasi ranselmu dan pergilah melihat dunia

#FDCG

SEBUAH CATATAN TENGIK ANAK TEKNIK

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Andromeda Noholo

Yang terjadi di Andromeda

fainun.com

Family Blogger Indonesia

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

CERITA LIANA

Travel More, Share More

Casa Fasa

Travel & Life

Teppy and Her Other Sides

Eat well, live well, and be merry!

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

Tukang Ngider

Ngider terus, terus ngider. KUY, DER!

Liza-Fathia.Com

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

Eka Hei

Selalu ada cerita dalam setiap langkah

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

Papan Pelangi

tempat berjalan dan bercerita

Peregrination

Jalan-Jalan | Kuliner | Review

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

The Spiffy Traveler

Exploring Endless Paradise

Efenerr

mari berjalan, kawan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Travel Blog Evi Indrawanto

Cerita Perjalanan Wisata dan Budaya

Plus Ultra

Stories and photographs from places “further beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Fahmi Anhar

Travelogue

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Usemayjourney

Melihat, Mendengar, Memaknai

Winny Marlina

Winny Marlina– whatever you or dream can do, do it! travel

%d blogger menyukai ini: