Eh, Ada Little Tokyo di Jakarta!

Kalau negara tetangga punya Little India dan Chinatown, maka Jakarta juga nggak mau kalah. Jakarta bahkan menawarkan sebuah atraksi wisata sosial-budaya yang tidak dimiliki oleh negara-negara tetangga. Bukan Little India, atau Chinatown, tapi LITTLE TOKYO! Baru tahu? Sama gue juga sih *eh*

Lokasi Little Tokyo ini ada di kawasan Blok M, tepatnya di seberang Blok M Plaza atau belakang Blok M Square. Jadi, di balik kumuhnya kawasan Blok M itu, tersembunyi sebuah kawasan yang dihuni oleh kaum ekspatriat Jepang. Bar, kedai, dan tempat-tempat hiburan malam ala Jepang berjajar rapat di kawasan ini. Sebuah minimarket Jepang, bernama Papaya, juga berdiri di sini, mencukupi kebutuhan para penghuninya. Kamu yang mau cari bahan-bahan masakan ala Jepang, atau aneka jajanan seperti dorayaki, bisa beli di sini. Di depan minimarket-nya sendiri ada yang berjualan DVD-DVD Jepang (drama, anime, bokep), dengan penjualnya yang bisa berbahasa Jepang. Kalah gue.

Lapak DVD

Lapak DVD

Hari Sabtu malam kemarin, gue menyempatkan diri (lagi) untuk mengunjungi kawasan yang menarik ini. Saat itu sedang berlangsung acara Japanese Culture Festival di Little Tokyo, jadi gue semangat banget buat dateng. Ada apa aja di sana?

 

Stand-Stand Makanan

Yak!  Seperti yang gue duga, ada banyak stand makanan yang berderet di sepanjang jalan meramaikan acara festival. Ada takoyaki, okonomiyaki, dorayaki, katsu, onigiri, dan kawan-kawannya. Gue sendiri membeli sebungkus takoyaki dengan harga Rp 20.000,00. Agak mahal sih, mana nggak kenyang lagi. Sepotong dorayaki yang hanya segede apem atau surabi pun dijual Rp 9.000,00.

Ada juga yang jual semacam es serut bernama kakigori. Kuliner sesimpel itu, dengan tumpukan es serut dalam sebuah mangkok yang diberi sirup, harus ditebus dengan harga Rp 15.000,00. Beberapa brand minuman Jepang, seperti Pokka dan Mirai, juga mendirikan stand di festival. Tiga paket Mirai dijual dengan harga Rp 15.000,00 dan pembelinya diberikan bonus untuk berfoto di purikura (photo booth). Yang menarik lainnya adalah permen-permen berbentuk bunga mawar, terbuat dari apel, yang ditusuk dengan sebatang lidi seperti sate. Ringo ame namanya. Sayang harganya mahal, Rp 30.000,00 😦

Stand-Stand Asesoris

Selain makanan, beraneka macam asesoris ala Jepang juga dijajakan di sini. Baju-baju ala Jepang dijual mulai Rp 160.000,00. Errr, gue lupa deh namanya, semacam kimono tapi buat cowok, dipakai untuk sehari-hari. Sepasang uwabaki (sendal ala Jepang) dijual dengan harga Rp 110.000,00 *elus dompet*. Selain itu juga banyak dijual asesoris-asesoris unyu seperti pin, sarung henfon, wadah laptop, kipas, dll.

Yang paling menarik adalah stand yang menjual asesoris-asesoris cosplay mulai topeng hingga kostumnya. Gue menemukan topeng anggota akatsuki dan topeng Ichigo Kurasaki di situ. Memang banyak sih anak-anak cosplay atau yang berdandan visual key / harajuku yang berkeliaran di festival. Bisa jadi objek foto gratis yang menarik hehe.

Live Music

Panggung musik berdiri di depan Seven Eleven, dikerumuni oleh ratusan penggemar setianya. Irama musik ala japanese rock menghentak penuh semangat, dinyanyikan oleh band-band beraliran jepang yang personil-personilnya merupakan orang Jepang asli. Lucu deh denger mereka bicara bahasa Indonesia dengan masih mempertahankan logat Jepang-nya yang kental 😀

Karnaval

Saat gue keluar dari kerumunan penonton dan bergerak ke arah sudut Little Tokyo yang berbatasan dengan Blok M Square, tepat saat itu sedang dilakukan persiapan untuk karnaval. Beberapa petugas menarik tali-tali pengaman, memaksa pengunjung untuk melipir ke tepi jalan, hingga menyisakan sebuah ruang kosong yang memanjang di tengah jalan. Tahu akan ada sesuatu, gue dan para pengunjung langsung berdiri anteng di tepi jalan, sementara rombongan kirab budaya sedang bersiap-siap di sudut jalan.

Gue dan para pengunjung masih perlu menunggu agak lama rupanya, sampai bosen denger himbauan para petugas keamanan untuk menjaga barang-barang pribadi. Dan di tengah-tengah penantian itu, eh grup band-nya malah nyanyiin lagu Goodbye Days, lalu menyanyikan lagu OST Saint Seiya. Gue galau — antara tetap anteng menunggu kirab budaya, atau buru-buru merapat ke panggung musik.

Akhirnya, kirab budaya pun mulai bergerak. Sekelompok orang berjalan dengan menandu semacam kereta kecil. Ada 2 rombongan serupa, sementara satu rombongan lagi berisi para penabuh bedug dan genderang. Tunggu, ini kirab budaya Jepang atau iring-iringan takbiran? #pffft.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sementara gue ngelayap lagi ke sudut Little Tokyo yang belum terjamah (yang malah berujung dengan pertemuan gue dengan mantan yang lagi jalan sama pacar barunya #jleb), iring-iringan tadi berhenti di satu titik, sebelum akhirnya kembali beraksi untuk menutup festival hari itu.

Genderang-genderang ditabuh dengan penuh semangat di atas panggung oleh para penabuhnya yang bertelanjang dada, sementara sekelompok orang lainnya menari-nari di sisi panggung. Para penandu masih bertahan di depan panggung, dengan satu orang berdiri dan menari-nari di atasnya. Pengunjung berkerumun rapat dengan panggung sebagai pusat perhatiannya, hingga tak tersisa ruang untuk mereka yang ingin berjalan keluar dari keramaian.

Gue, berada di atas sebuah tumpuan agar dapat melihat pertunjukkan dengan lebih leluasa, larut dalam suasana malam itu. Genderang, nyanyian, dan seruan, menyatukan kaum ekspatriat dengan warga pribumi di ibukota. Untuk beberapa menit ke depan, gue larut dalam suasana malam ini. Sebuah atmosfer yang hangat, penuh gairah, dan sedikit magis. Ponsel demi ponsel diarahkan untuk mengabadikan momen itu, baik dalam bentuk gambar diam maupun bergerak.

Puncak acara malam itu

Puncak acara malam itu

Lalu, seiring dengan sang pembawa acara yang berucap “Sampai jumpa esok lagi,” kepadatan massa mulai terurai. Satu demi satu pengunjung — termasuk gue — bergerak menjauhi keramaian, keluar dari area Little Tokyo yang masih menyisakan sedikit kegaduhan di menit-menit terakhirnya.  Gue berjalan cepat menuju shelter Transjakarta, sebelum jam menunjukkan pukul 22.00 dan gue berubah menjadi Cinderella.

26 komentar

  1. Wah apa nih Little Tokyo? Baru pertama kali denger. Asik ga? 😀

    1. Haha. Baru tau kaaannn? Ini kawasan pemukiman warga Jepang gitu di Jakarta. Pokoknya berasa di Jepang deh. Coba dateng pas jam pulang kerja. Banyak warganya yg mampir ke kedai buat chit chat sambil minum sake.

      1. Iyaaa baru tau! Hahaha. Wah menarik. Definitely on my list now! 😉

  2. Dulu event semacam ini klo ga salah namanya Jakarta-Japan Matsuri. Saya pernah dateng dulu tahun 2009 di lapangan Monas. Kalau untuk little Japan ada lagi di ruko Dharmawangsa Square. Dulu (apa sekarang juga masih ya?) ada supermarket khusus Jepang namanya COSMOS, satu-satunya tempat jaman dulu kalau mau nyari nori atau kecap shoyu.

    1. Nah, ini beda lagi bro. Jak-Japan Matsuri udah beberapa bulan lalu diadain.

      1. mawi wijna · ·

        he? jadi setahun ada 2 kali gitu acara jepang-jepangan di Jakarta? Belum lama ini kan juga ada acara marathon Ekiden itu ya? Ckckck… dijajah Jepang lagi ni Jakarta :p

      2. Ah, gue baru inget. Ini nama acaranya Enchisai.
        Gak segede Matsuri, dan hanya berpatok di satu tempat. Di kawasan Little Tokyo itu doang.

    2. pricelia · · Balas

      bukannya nanti tggl 30 Juni ada ya? dikawasan little tokyo

  3. Festival Little Tokyo (Ennichisai) sudah ada sejak 4 tahun lalu, koq kita nggak ketemu ya? ntar ceritanya nyusul deh, keduluan nih 😉

    1. Ah itu dia namanya, Ennchisai. Mawi mana Mawi?
      Ah kakak datang juga kemarin. Lain kali kita janjian ya *kedip-kedip*

  4. Disini banyak banget club2 orang jepang, jadi pasti nya banyak jepang2 nongkrong yeeee, ce2 nya juga wow hahaha

    1. Yg kayak ginian mah favorit mas Cumi deh hehehe

  5. Daerah ini ada trus kan? Kalau dateng hari biasa tanpa ada festivl gitu, jadi biasa aja ya?

    1. Iya daerahnya ada terus. Pas nggak ada festival ya kayak sehari-hari aja. Di situ banyak bar Jepang, supermarket Jepang, dan yg jelas orang Jepang berkeliaran 😀

  6. Halim Santoso · · Balas

    Wahh ada Little Tokyo… Suk mampir ah kalo ke Jakarta 🙂

    1. Iya, mas. Bagus buat bahan blog hehe.

  7. makasih infonya bro,,,lgi gandrung sama girlband japan nich bro,, 😀

    1. Wah, gue malah nggak tau kalo girlband Jepang 😀

  8. fakhruddin · · Balas

    salam kenal saya fakh, kebetulan saya berdomisili di jakarta & sdh sejak 3 tahun selalu datang ketika diadakan festival tahunan little tokyo ini, btw kok kita ga ketemu ya? hehe

    1. Salam kenal, mas. Ahaha, mungkin saja kita berpapasan. Tapi karena belum kenal, jadi nggak sadar 😀
      Bisa jadi. Bisa jadi.

  9. […] paling menarik adalah saat berkunjung ke Little Tokyo. Kapan lagi bisa belanja di supermarket yang isinya produk Jepang semua? Beli dorayaki buat […]

  10. Wah gaya tulisan kamu bagus 😁
    Anyway soal jejepangan terutama culture en kreativitas mereka emang oke banget 😊

    1. Wah, terima kasih buat apresiasinya. Makasih ya udah mampir 😀

      Yes. Dari kecil gue udah terbius sama Jejepangan, khususnya anime dan musik. Sekarang tinggal wujudin mimpi ke sana!

  11. bang,chinatown di indonesia malah hampir setiap kota besar ada bang,lebih banyak kita drpd negri tetangga,btw gw emang udh curiga dr dlu kok banyak orang jepang daerah situ,ternyata ini…,thx infonya 🙂

    1. Betul, bro. Sayangnya kurang dipromosikan. Pemerintah atau Dinpar setempat belum sadar bahwa pecinan adalah aset pariwisata.

Tinggalkan Balasan ke Matius Teguh Nugroho Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Jilbab Backpacker

Travel-Architecture-Halal Lifestyle Blog

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

Ferdi Cullen-The Microtraveller

A microtraveller is a journey local or overseas that is short, flexible, simple, cheap – yet still fun, exciting, challenging, refreshing and rewarding

Pink Traveler

Kemasi ranselmu dan pergilah melihat dunia

#FDCG

SEBUAH CATATAN TENGIK ANAK TEKNIK

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Andromeda Noholo

Yang terjadi di Andromeda

fainun.com

Family Blogger Indonesia

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

CERITA LIANA

Travel More, Share More

Casa Fasa

Travel & Life

Teppy and Her Other Sides

Eat well, live well, and be merry!

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

Tukang Ngider

Ngider terus, terus ngider. KUY, DER!

Liza-Fathia.Com

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

Eka Hei

Selalu ada cerita dalam setiap langkah

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

Papan Pelangi

tempat berjalan dan bercerita

Peregrination

Jalan-Jalan | Kuliner | Review

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

The Spiffy Traveler

Exploring Endless Paradise

Efenerr

mari berjalan, kawan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Travel Blog Evi Indrawanto

Cerita Perjalanan Wisata dan Budaya

Plus Ultra

Stories and photographs from places “further beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Fahmi Anhar

Travelogue

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Usemayjourney

Melihat, Mendengar, Memaknai

Winny Marlina

Winny Marlina– whatever you or dream can do, do it! travel

%d blogger menyukai ini: