10 Hal yang Bisa Dilakukan di Pontianak, Kalimantan Barat [Part 2]

Sebetulnya, gue pengen ke Tugu Khatulistiwa bareng Yonky. Perjalanan dengan seorang kawan tentu lebih menyenangkan daripada dengan seorang driver hotel, begitu pikir gue waktu itu. Namun, sampai gue bosen di Rumah Adat Melayu pun, Yonky masih sibuk dengan agendanya, sehingga gue akhirnya meminta driver Hotel Harris Pontianak, bang Daus, untuk menjemput dan mengantarkan ke Tugu Khatulistiwa.

Bang Daus tiba nggak lama kemudian. Tanpa banyak basa-basi, mobil lalu meluncur menuju Tugu Khatulistiwa yang berada di sisi lain kota.

Seperti kota-kota lainnya yang dibelah dua oleh sebuah sungai besar, Pontianak pun begitu, ada kesenjangan di antara kedua sisi kotanya. Kami melaju menyeberang jembatan Tol Kapuas yang tak selebar dan semegah Jembatan Ampera, Palembang. Sementara di bawah sana, perkampungan padat penduduk mengapit kedua sisi sungai yang lebar. Jembatan Tol Kapuas hanya memiliki 2 lajur, ditambah 2 lajur kecil untuk kendaraan roda dua di masing-masing tepi.

Hotel HARRIS Pontianak berada di sisi kota Pontianak yang modern. Deretan hotel, café, warung kopi, gedung perkantoran, dan gereja mengisi kedua sisi jalan-jalannya. Usai menyeberang sungai, kami berada di sisi kota yang lebih bersahaja tanpa banyak bangunan modern dan tempat-tempat hiburan. Jalan-jalannya kecil, trotoar pun tak serapi di sisi sebelah.

 

Tugu Khatulistiwa Pontianak

Dari pusat kota, perjalanan menuju Tugu memakan waktu sekitar 20 menit. Maklum, Tugu ini memang berada di daerah pinggiran kota. Perjalanan menuju Tugu melalui Keraton Kadriyah dan Masjid Jami, sehingga ketiga obyek ini dapat digabungkan dalam satu agenda seharian.

Tugu Khatulistiwa (Equator Monument), Pontianak

Nggak ada tiket masuk untuk memasuki Tugu Khatulistiwa. Pengunjung cukup membayar biaya parkir sebesar Rp 5.000,00. Dari tempat parkir, kami berjalan cepat menghampiri Tugu di bawah guyuran sinar matahari Pontianak yang ganas!

Ada 2 buah tugu di sini, yang satu berada di luar, yang satu lagi berada di dalam bangunan. Tugu di dalam bangunan adalah Tugu Khatulistiwa yang sesungguhnya, namun Tugu di luar lebih menarik buat difoto, hehe. Keempat tonggaknya terbuat dari kayu ulin / belian, menyangga 2 buah lingkaran yang menunjukkan arah utara dan selatan.

Suka sama bajunya? Open Order 90K (belum termasuk ongkir), tanpa minimum kuota 😀

Tugu yang asli dibangun pada akhir Maret 1928, dengan tonggak tertingginya mencapai ukuran 4.4 meter. Sementara duplikasi yang lebih besar, berukuran 5 kali tinggi, baru dibangun tahun 1991.

Nggak banyak yang bisa dilakukan di dalam gedung, pengunjung bisa berfoto dan membaca panel-panel berisi informasi antariksa dan foto-foto memorabilia Tugu Khatulistiwa. Sebetulnya bisa meminta sertifikat di sini, sebagai kenang-kenangan bahwa kita sudah menjejakkan kaki di garis khatulistiwa, tapi gue lupaaaaaa aaaaaaaaakkk.

Titik Kulminasi Khatulistiwa 2017

Tugu Khatulistiwa dilihat dari Titik Kulminasi

Banyak wisatawan Malaysia yang ke sini lho, apalagi karena Pontianak berbagi satu daratan Borneo dengan Malaysia dan Brunei Darussalam. Ada 12 negara yang dilalui Garis Khatulistiwa, tapi hanya Pontianak yang menjadi kota khatulistiwa. Woo-hoo!

 

Ngopi-Ngopi di Tepi Sungai Kapuas

Udah puas di Tugu Khatulistiwa, jangan buru-buru pulang dulu. Bang Daus mengajak gue melipir ke tepi sungai, melalui Titik Kulminasi Khatulistiwa (Equinox) yang terjadi akhir Maret lalu. Gue ceritain singkat buat yang belum paham, kulminasi adalah kondisi di mana matahari berada persis di atas garis Khatulistiwa. Saat kulminasi terjadi, bayangan akan lenyap dan telur dapat berdiri tegak tanpa harus dipegangi, yaaayyy! Kalau yang itu sih, dipegang dulu baru tegak #eh.

Nah, titik kulminasi tahun ini sudah bergeser beberapa meter dari titik Tugu Khatulistiwa.

Kalo udah puas di Tugu Khatulistiwa, jangan buru-buru pulang. Melipir dulu deh ke "promenade" Sungai Kapuas. Yes, Tugu Khatulistiwa ini terletak di tepi sungai! Seru kan? . Di sini, kamu bisa menikmati Sungai Kapuas yang bergelombang tenang, kapal-kapal yang hilir mudik, atau menyusuri promenade yang nyaman untuk pejalan kaki. . Pas banget, lagi ada kapal warung kopi. Gue pun masuk ke dalam kapal, memesan secangkir kopi hitam dan pop mie. Cuma ada itu sih, wkwkwk. Harganya, hm.. Rp 20.000,00. Lalu tetiba pengunjung lainnya ikutan masuk. . . #thetravelearn #travel #traveling #travelgram #travelpics #travelphotography #igtravel #instatravel #traveler #travelblog #travelblogger #backpacker #backpackerlife #backpackerstory #wanderer #wanderlust #river #kapuas #pontianak #kalimantan #kalimantanbarat #borneo #indonesia #WonderfulIndonesia #disvover #discoverglobe #discoverearth #discoverindonesia

A post shared by Matius Teguh Nugroho (@nugisuke) on

Kawasan tepi Sungai Kapuas ini cantik. Ada promenade atau jalur pedestrian, kelihatannya belum lama dibangun, yasyik buat jalan-jalan santai di tepi sungai. Asal jangan pas siang bolong kayak sekarang aja sik, hehe. Dari promenade, kami menyaksikan pemandangan kapal-kapal besar yang berjalan melintasi Sungai Kapuas yang agung.

Pas banget, ada kedai kopi perahu yang sedang menambatkan hatinya, eh, perahunya di promenade. Gue dan Bang Daus masuk, duduk rileks menikmati secangkir kopi dan Pop Mie. Beberapa pengunjung lalu menyusul kami dan ikut duduk di dalam perahu. Wah, kami bawa hoki nih, hihihi..

Selfie from the boat

Namun, sampai pengunjung udah agak rame dan bang Daus mulai mabuk sekali pun, perahu tak juga menunjukkan tanda-tanda akan berjalan. Maka, kami sudahi kunjungan lalu membayar secangkir kopi dan segelas Pop Mie yang kami nikmati: Rp 20.000,00. Oke sip, lain kali ke kopi perahu, gue mau bawa bekel makanan sendiri aja.

Ternyata, gue menikmati juga kunjungan ke Tugu ini bareng Bang Daus. Orangnya ramah, sepanjang jalan kami asyik berbincang seputar politik ibukota dan isu SARA yang sedang melanda negeri. Inilah salah satu hal yang gue suka dalam sebuah perjalanan, kesempatan untuk mendapat kawan baru dan mendapat sudut pandang baru yang lebih kaya.

 

Taman Alun Kapuas

Sebagai pecinta area publik terbuka nan rindang, apalagi berada di tepi sungai, gue nggak boleh melewatkan kunjungan ke Taman Alun Kapuas. Tempat ini populer sebagai tempat kumpul murah meriah bagi warga lokal Pontianak. Begitu sampai di sana, gue dan Yonky langsung dibuat pusing dengan lahan parkir yang tersedia.

Taman Alun Kapuas, Pontianak

Taman Alun Kapuas, Pontianak

Selfie with Yonky

Kami sendiri nggak terlalu menikmati tamannya, tapi ada air mancur di tepi taman yang berbatasan dengan sungai. Ada tulisan Taman Alun Kapuas juga, tapi karena selalu dipenuhi pengunjung lain, jadi males buat difoto. Dari tempat parkir, kami berjalan terus hingga ke tepi sungai. Pas banget, ada perahu yang sudah terisi penuh dan siap berlayar. Tanpa pikir panjang, gue ajak Yonky naik ke atas perahu.

Kami duduk di lantai atas yang terbuka dan lebih leluasa! Perahu berjalan pelan melintasi Sungai Kapuas, melalui rumah-rumah apung yang memadati kedua sisi sungai. Dari atas perahu, kami memperhatikan kehidupan sehari-sehari warga lokal Sungai Kapuas. Ibu-ibu mencuci baju dan memandikan anaknya di tepi sungai. Anak-anak bebas berenang, paddleboarding, melompat ke dalam sungai tanpa ada rasa gentar yang bergetar. Perahu-perahu warga hilir mudik, bersaing dengan kapal besar yang merayap lambat.

Video, klik untuk memutar:

The Life of Kapuas River . I took this shortage on my boat ride along Kapuas River from Taman Alun Kapuas, Pontianak. . Sungai ini tampak begitu hidup dengan perkampungan terapung, istana dan masjid kesultanan di tepi sungai, perahu warga lokal yang hilir mudik, atau anak-anak yang bebas bermain di sungai. Sunday, 23 April 2017 Click active link on bio for the full story. . . #thetravelearn #travel #travelgram #travelblog #travelblogger #instavideo #videogram #pontianak #kalimantanbarat #borneo #river #indonesia #wonderfulindonesia #pesonaindonesia #indonesiabagus #indonesiaindah #indonesiajuara #geonusantara #discoverindonesia #discover #discoverearth #discoverglobe #wanderlust #wanderer #adventure #adventuretime #adventuremode

A post shared by Matius Teguh Nugroho (@nugisuke) on

Di atas perahu menyusuri Sungai Kapuas, Pontianak

Polisi Air di Sungai Kapuas, Pontianak

Perjalanan menaiki perahu ini cukup lama rupanya. Perahu terus berjalan hingga melalui Jembatan Tol Kapuas, sebelum akhirnya berputar arah dan kembali ke tempat semula.

“Jelang Ramadhan dan Lebaran, warga di kedua tepi sungai saling adu tembak meriam,” tutur Yonky, menceritakan salah satu kebudayaan setempat.

Masjid Jami di tepi Sungai Kapuas

Kehidupan warga lokal di tepi Sungai Kapuas

Terang matahari mulai meredup, digantikan dengan rona warna jingga yang memenuhi cakrawala. Gue terpana, seiring dengan perahu yang melejut lembut menghadap arah terbenamnya sang surya. Gelap perlahan turun merayap, membungkus gedung-gedung dan kapal di kejauhan dalam siluet.

Menjelang akhir perjalanan, seorang awak kapal menarik biaya perjalanan kepada setiap penumpang, ditambah makanan dan minuman jika ada. Luar biasa, untuk pengalaman seperti ini, per orang hanya dimintai ongkos Rp 15.000,00. Ah, gue cinta elu, Pontianak!

Melejut menuju arah matahari terbenam

Dramatic sunset of Kapuas River

Taman Alun Kapuas di penghujung senja

 

Ngopi di “Jalan Kopi”

Dalam perjalanan berkeliling Pontianak di malam pertama, gue dan Yonky sempat melalui sebuah jalan kecil yang merupakan anak Jalan Gadjah Mada, Jalan Kopi-nya Pontianak. Jalan kecil itu dipenuhi, bener-bener dipenuhi, dengan deretan warung kopi di kedua sisinya. Menarik, karena semua warung itu terisi pengunjung!

Suasana di depan Taman Alun Kapuas

Penasaran dengan sensasi ngopi bareng warga lokal, di malam kedua ini pun gue meminta Yonky untuk membawa gue ke salah satu kedai kopi itu. Yang mana aja, terserah! Maka, usai menikmati seporsi cumi dan es cincau di Gleam Café, kami segera berpindah lapak ke jalan itu.

Yonky memilih kedai bernama Plan B, yang namanya sama dengan nama sebuah coffee shop di bilangan Bangsar, Kuala Lumpur. Kami memesan secangkir kopi, nugget, dan pisang keju. Meski cuma “kedai kopi”, tapi ada fasilitas wifi loh. Password-nya juga lucu. Silakan mampir sendiri kalau penasaran sama password-nya.

Kopi, nugget, dan pisang keju

With Yonky and friend (gue lupa siapa namanya, haha)

Salah satu rekan Yonky ikut bergabung bersama kami malam itu. Kami pun larut dalam obrolan ringan sampai sekitar pukul 10 malam. Bahkan, mereka sempat berwacana untuk membawakan gue arak Pontianak! Sayangnya wacana ini nggak terwujud sampai waktu kepulangan gue keesokan harinya 😀

Jalan di Pontianak yang dipenuhi deretan kedai kopi

Oh iya, ngomong-ngomong, gue masih butuh dukungan vote dari temen-temen di sini. Caranya gampang kok, klik di bawah ini, lalu scroll terus sampai bawah. Isi data diri dan nomor urut gue, yaitu nomor 4. Voter terbaik berkesempatan dapet hadiah paket liburan senilai Rp 1 juta! Terima kasih buat doa dan dukungannya 😀

Laman untuk vote: https://bangjoni-x-skyscanner.kickoffpages.com/

 

Sebagai pecinta kopi warung, rasanya gue akan betah tinggal berminggu-minggu di Pontianak, bahkan berbulan-bulan! Menjajal setiap kedai kopinya, menikmati sore di tepi Sungai Kapuas… Pokoknya, gue cinta Pontianak! Bersambung ~

Iklan

37 thoughts on “10 Hal yang Bisa Dilakukan di Pontianak, Kalimantan Barat [Part 2]

  1. Wah banyak juga kegiatan di ponti. Ke tugu khatulistiwa ada dapet sertifikat ga hehee…

    Minum kopi di pinggir sungai kapuas juga lumayan. Aku lihat pas scene film tukul widji di sana.

  2. Nah, akses yang MURAH ini yang harus dicontoh Palembang. Sekarang sih udah lumayan, naik kapal ke kampung Al-Munawwar bayar 10 ribu, tapi ya tetep kayaknya kudu nawar2 karena harga bukaannya tinggi.

    Sertifikat itu lucu juga ya hwhwhw, macam main olahraga ekstrim aja dapet sertifikat hahaha

  3. Titik Kulminasinya sekarang sudah cantik. Dulu waktu aku ke sini, masih berupa tembok sederhana. Dan satu lagi yang menarik di Pontianak warung kopinya itu ya, kita bisa beli setengah dengan judul Kopi Pancong 🙂

  4. Kok ya sedih ngeliet titik kulminasinya cuma gitu doang 😑
    Semacam ga niat
    Padahal kalo dikelola baik, pasti bakal jadi point of interest yang bagus
    Oya, itu minta sertifikat bayar berapa Nug?

  5. waaaaah, tugu khatulistiwaaa. dari SD kalo disebutkan kota pontianak pasti yang terbayang dengan garis khatulistiwaaa. tapi setelah memba novel tere liye yang berjudul aku, kau, dan sepucuk angpau merah, aku baru tahu kalo pontianak itu nama lain dari kuntilanak. heheheh. terus lebaran kemarin, ada sodara yang tinggal di sana mudik ke aceh dan dia bercerita banyak tentang ponti

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s