10 Hal yang Bisa Dilakukan di Pontianak, Kalimantan Barat [Part 1]

Beberapa hari sebelum berangkat menuju Pontianak, Kalimantan Barat, gue googling tempat-tempat wisata apa aja yang ada di kota ekuator itu. Salah satu rekomendasi yang muncul pada halaman 1 pencarian Google adalah sebuah blog post dari mas Rijal Fahmi Mohamadi, catperku.com. Gue baca dengan cepat hingga tiba di bagian komentar.

Gue menemukan komentar gue sendiri di tulisan mas Fahmi yang udah ditulis dua tahun lalu itu. “Waaaaaa, sebagai pecinta kopi dan sungai (dan pembenci durian), gue wajib banget ikut ngopi di cafe perahu yang menyusuri Sungai Kapuas dan nongkrong di warkop Gadjah Mada,” begitu tulis gue di kolom komentar itu.

Gue lalu tersenyum-senyum sendiri membayangkan bahwa, dalam hitungan hari, gue akan benar-benar mengalami apa yang gue tuliskan di kolom komentar. Ingin rasanya membalas lagi komentar mas Fahmi di situ, “Mas, akhirnya aku bisa mewujudkan salah satu keinginanku.”

Perlahan, keping-keping mimpi itu mulai terangkai menjadi sebuah mozaik raksasa yang kian utuh…

Namun niat itu gue urungkan karena masih trauma dengan “sesumbar rencana traveling” di media sosial. Cukuplah gue, Tuhan, dan orang-orang tertentu aja yang tahu. Selebihnya, biar menjadi kejutan ketika kaki ini benar-benar sudah menapak bumi Borneo.

 

Makan Chai Kue di Jalan Siam

Sabtu malam, 22 April 2017, gue sudah berada di sebuah kedai Chai Kue yang digadang-gadang sebagai salah satu yang terbaik di Pontianak. Lokasi kedai makan itu ada di Jalan Siam, yang juga nggak jauh dari lokasi Hotel HARRIS Pontianak di Jalan Gadjah Mada.

Gini nih cara makan Chai Kue sama Kembang Tahu

Okay, these are some signature dishes of Pontianak, West Borneo: the white cakes are Chai Kue, also known as Choi Pan. There are two kinds of Chai Kue: fried or steamed. Both are tasty, but I love fried Choi Pan better. . Choi Pan ini cocok jadi cemilan rame-rame. Isinya bengkuang, menciptakan citarasa gurih dengan sedikit manis. Cara makannya, tuang bumbu cair (dan sambel kalo mau) ke dalam mangkok kecil. Sumpit Choi Pan rapat dengan sumpit, lalu cocol. Begitu pun dengan Kembang Tahu, penganan cokelat itu. Rasanya lebih gue suka daripada Choi Pan sendiri, hehe. . Meanwhile, karena masih lapar, I ordered Fried Mie Tiaw as the "desert" 😁😁😁 Oh ya, semua makanan di atas halal. . . #thetravelearn #travel #traveling #travelgram #travelpics #travelphotography #igtravel #instatravel #food #foodpics #foodphoto #foodporn #foodphotography #foodgram #foodgasm #instafood #foodie #pontianak #kalimantan #kalimantanbarat #borneo #chinese #chinesefood #indonesia #WonderfulIndonesia

A post shared by Matius Teguh Nugroho (@nugisuke) on

Adalah Yonky, member Couchsurfing Pontianak yang membawa gue dengan sepeda motor matic-nya menuju warung makan itu. Gue bela-belain nemuin Yonky lebih dulu di depan lobi hotel meski gue sendiri belum mandi. Pemuda yang berusia 3 tahun lebih muda itu sudah menunggu agak lama di sebuah kedai kopi di seberang hotel.

Gue hanya bisa terdiam patuh ketika Yonky memesan seporsi Chai Kue goreng, Chai Kue rebus, dan kembang tahu. Udah deh, gue ngikut aja dia mau pesen apa, karena gue juga nggak tahu makanan apa aja yang recommended di sini.

Chai Kue (Choi Pan) khas Pontianak

Sembari sajian disiapkan dan kemudian datang satu per satu, kami larut dalam sebuah obrolan ringan untuk lebih mengenal satu sama lain. Saat ini Yonky masih bekerja sebagai pekerja paruh waktu untuk membantu proyek-proyek yang berhubungan dengan bidangnya di teknologi pertanian, atau semacamnya itulah, hehehe. Ternyata nggak hanya di kalangan anak lulusan ilmu sosial, tren freelancer ini juga diminati anak-anak lulusan ilmu eksak karena beberapa temen gue pun — lulusan Teknik Geofisika-lah, teknik itulah, teknik anulah — masih bertahan sebagai pekerja lepas. Mungkin, idealisme kami yang masih kuat di masa muda ini membuat kami enggan terikat dengan satu perusahaan tertentu.

Yonky pernah mengikuti program pertukaran pelajar di Jepang dan mengungkapkan rencananya untuk melanjutkan studi S2 di Negeri Sakura. Semangat, bro! Aku neng burimu.

Mie Tiaw (Kew Tiaw) Sapi Pontianak

Bicara soal makanan yang kami pesan, gue paling suka dengan Kembang Tahu, hehe. Chai Kue-nya juga enak kok, tapi gue lebih suka yang goreng. Chai Kue, juga dikenal dengan Choi Pan di daerah lain, memiliki beberapa variasi isi. Namun yang kami icip saat itu, dan merupakan yang paling populer, adalah isi bengkuang.

Tuangkan cairan bumbu ke dalam mangkok kecil yang sudah disediakan, tambahkan sambel secukupnya bila mau, lalu cocol Chai Kue yang terjepit mantap pada kedua gagang sumpit. Endeeesss! Chai Kue atau Choi Pan ini halal. Tapi kalau masih ragu, ada Chai Kue di Gleam Café yang sudah memiliki sertifikasi halal dari MUI.

Karena masih laper, gue memesan seporsi Mie Tiaw (Kwetiaw) Sapi Goreng. Enak, namun citarasanya lebih manis daripada kwetiaw di Jakarta atau Bandung. Total semua pesanan kami termasuk es teh manis? Rp 62.000,00 aja, Travelearners!

 

Rumah Radakng

Di dalam tulisan sebelumnya, gue udah bercerita bagaimana pelayanan prima Hotel HARRIS Pontianak hingga bersedia mengantarkan gue ke gereja. Tak disangka, rupanya gereja yang berada di bilangan Jalan Moh. Yamin itu berada persis di samping Bunderan Tugu Pontianak dan Rumah Radakng, salah satu obyek wisata wajib di Pontianak.

Rumah Radakng, Pontianak

Tuhan itu pengertian banget ya. Dia tahu umat-Nya ingin beribadah. Kebingungan akan transportasi umum menuju lokasi pun sirna saat tiba-tiba Bu Arie, Manager On Duty hari itu, menawarkan mobil hotel untuk membantu gue berkeliling kota. Nah, di Pontianak ini ada banyak banget gereja. Bahkan, tanpa bermaksud apa-apa ‘nih, gue melihat lebih banyak gereja daripada masjid. Jadi, buat Travelearners yang seiman, jangan bolos ibadah ya kalau lagi jalan-jalan di Pontianak. Ibadah pagi, sore, malam; gereja konservatif atau moderat; ada semua!

Maka, begitu ibadah berakhir pukul 12:00, gue nggak buru-buru meminta driver untuk kembali menjemput, namun langsung mengarahkan langkah kaki menuju Rumah Radakng di bawah teriknya matahari Pontianak siang itu.

Lantai atas Rumah Radakng, Pontianak

Rumah Radakng di Jalan Sutan Syahrir, Pontianak, merupakan sebuah rumah adat khas Suku Dayak di Kalimantan Barat yang diresmikan tahun 2013. Jadi, ini bukan rumah adat kuno yang asli dipertahankan dari jaman penjajahan ya. Dengan tinggi 7 meter dan memanjang hingga 138 meter, Rumah Radakng menjadi rumah adat terbesar di Indonesia! Ia juga menjadi ikon kota Pontianak yang ke-2 setelah Tugu Khatulistiwa.

Psst, kalau nanti Patung Kuntilanak-nya jadi dibangun, mungkin predikat landmark kota Pontianak juga akan bergeser lagi 😀

Kebetulan, sedang ada semacam bazar saat gue datang berkunjung hari Minggu itu. Ada banyak remaja, beberapa di antaranya berseragam, dan booth-booth yang berjejer di kedua sisinya. Karena nggak ada yang terlalu menarik di bawah, maka gue naik ke atas untuk mencari tahu ada apa. Bagian atas ini adalah tubuh rumah yang sesungguhnya, karena bagian bawah hanyalah kolong rumah yang terbuka. Sayangnya ruangan di lantai atas juga sepenuhnya terkunci, jadi cuma bisa mondar-mandir atau duduk-duduk di balkon.

Happy Sunday! Have you had a Sunday sermon today? Speaking of Pontianak, you'll find many churches here. Some are wrapped in a pretty architecture design, just like this one, which is a HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) church. . Tuhan itu memang pengen gue tetap beribadah di mana pun, hehe. Hasil browsing di internet, ada GBI El Shaddai di Jl. M. Yamin yang punya jadwal ibadah pukul 10 pagi. Agak jauh memang, namun pihak hotel @harrispontianak bersedia mengantar sampai di tempat 😁😁😁 Ternyata, gerejanya berada tepat di sebelah Rumah Radakng, Rumah Melayu, dan gedung cantik HKBP ini. Benarlah kata ayat, "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan Kebenaran-Nya, maka semua akan ditambahkan kepadamu." . . #thetravelearn #traveling #travelgram #travelpics #travelphotography #igtravel #instatravel #church #building #buildinglover #buildingporn #architecture #architecturelovers #architecturephoto #architecture_hunter #pontianak #christian #kalimantan #kalimantanbarat #indonesia #WonderfulIndonesia #discover #discoverglobe #discoverearth #discoverindonesia

A post shared by Matius Teguh Nugroho (@nugisuke) on

Ya udah, gue pun memilih duduk bersandarkan dinding untuk beristirahat sambil cek-cek berita online hari ini di Sindonews, cek notif semua aplikasi perpesanan, merespon semua notifikasi, check-in di Foursquare, duh… ngartis banget ya, mas 😀

Bagian belakang Rumah Radakng, Pontianak

Di rumah yang sebenarnya, tangga ini digunakan untuk naik-turun penghuni

Bagian belakang Rumah Radakng, Pontianak

Walau nggak menyajikan pemandangan kota 360 derajat, tapi panorama dari lantai atas Rumah Radakng ini lumayan untuk mengisi memori di SD Card kamera terus diunggah ke Instagram. Dari lantai atas ini, kita bisa melihat Gereja HKBP Kotabaru Pontianak yang berdiri di seberang Rumah Radakng dalam desain arsitektur klasiknya.

 

Rumah Adat Melayu

Menurut penuturan Yonky, ada 3 suku utama yang mendiami kota Pontianak: Dayak, Tionghoa, dan Melayu. Maka, pas banget ketika tepat di samping Rumah Radakng, berdirilah Rumah Adat Melayu yang tampil khas dengan balutan warna kuningnya. Bangunan yang menempati lahan seluas 1,4 hektar ini sudah lebih dulu ada daripada Rumah Radakng, karena diresmikan pada tahun 2005.

Trotoar di depan Rumah Adat Melayu, Pontianak

Rumah Adat Melayu, Pontianak

Rumah Adat Melayu, Pontianak

Sayangnya saat itu sedang berlangsung sebuah resepsi pernikahan Minang di Rumah Adat Melayu. Gue hanya mencukupkan diri dengan mengambil foto dari luar. Eh, bisa aja sih ya masuk ke dalem, pura-pura jadi tamu undangan, terus makan-makan dengan muka tak bersalah 😀

“Bolak-balek, bang?”

Celetukan gadis itu menghentikan langkah gue yang bergegas kembali ke arah luar. Ah, cewek yang bertugas sebagai penerima tamu itu rupanya diam-diam mengamati gue, mungkin sebagai pengusir bosan karena duduk sendirian di luar.

Gue berhenti, lalu melemparkan senyum padanya.

“Iya, ambil foto doang,” jawab gue saat itu. “Lagi ada nikahan ya?”

“Iya, adat Minang.”

“Oh, pengantennya orang Minang?”

“Dapet besan orang sana,” jawabnya, menghilangkan rasa penasaran gue.

Karena udah ngobrol, sebuah pemikiran pun merasuk ke dalam kepala. “Eh boleh foto?” tanya gue padanya. Tentulah, maksud gue adalah memfoto dirinya.

Gadis itu mengangguk, lalu mengedik ke arah dalam. Oh, dia sedikit salah paham.

“Eh, maksudnya foto kamu,” gue berkata dengan lebih jelas.

Dia tersenyum malu-malu, lalu berdiri di samping meja penerima tamu dengan senyuman terlebarnya.

Cekrek!

 

Bersambung.

Iklan

24 thoughts on “10 Hal yang Bisa Dilakukan di Pontianak, Kalimantan Barat [Part 1]

  1. pernah ke rumah betang itu tapi cuma sebentar jadi tidak sempat menggali banyak info tentang ceritanya..
    mudah2an bisa kembali kesana buat menjelajahi pontianak suatu saat nanti

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s