Lika-Liku Menjadi Hotel Reviewer

Mumpung lagi masa karantina diri #dirumahaja dan statistik blog anjlok karena orang-orang lagi nggak traveling, gue mau share tentang hal-hal personal yang sudah sekian lama mengendap di bawah tumpukan cerita perjalanan dan ulasan. Kalo di tulisan sebelumnya gue udah share tentang gimana gue menjalani hari-hari #workfromhome, kali ini gue mau cerita tentang gimana gue menjalani hobi sebagai seorang pengulas hotel. Ini juga merupakan salah satu pertanyaan yang sering diajukan pembaca, rekan blogger, atau fans #yhaaa.

Menjadi seorang pengulas hotel, atau istilah kerennya hotel reviewer, sudah gue mulai dari sekitar tahun 2016. Hanya saja, saat itu gue belum mengulas hotel secara serius. Gue sama sekali nggak memikirkan estetika dan konsistensi. Ulasan hotel gue pun nggak semuanya dibagikan di Instagram, sebagian hanya mengisi linimasa blog ini.

Perlu kalian ketahui, gue sama sekali nggak pernah kepikiran untuk membangun konten spesifik hotel di blog atau media sosial. Blog ini, thetravelearn.com, gue bangun untuk membagikan kisah-kisah perjalanan pribadi gue. Semua itu berawal dari keisengan.

Seperti biasa, celotehan ini juga bisa disimak di podcast berikut:


Hotel Mula-Mula yang Diulas

The BnB Kelapa Gading (puji Tuhan sekarang hotelnya masih bertahan) adalah hotel pertama yang gue ulas di blog ini. Saat itu, tahun 2013, gue menginap gratis di The BnB Kelapa Gading. Sama sekali bukan sebagai blogger atau influencer, namun urusan pekerjaan lepas. Nah, coba deh kalian tengok tulisannya. Meski alat dokumentasi gue masih seadanya (saat itu memakai handycam, hadiah dari juara 1 lomba blog VoucherHotel) dan cara mengambil fotonya juga masih sangat amatir, tapi foto-foto yang gue ambil udah detil. Dari reception area, restoran, kamar dan fasilitasnya, sampai fasilitas hotel, semua terabadikan.

Area restoran All Sedayu Hotel Kelapa Gading

Di sini, gue pun baru sadar, kalo ternyata dari dulu gue memang udah punya naluri mengambil foto dengan detil. Boleh dong ya gue bangga sama diri sendiri kalo gue ini memang dari sononya adalah seorang reviewer hotel―dan beberapa objek lain, seperti misalnya transportasi dan aplikasi―yang cukup rinci.

Apa yang gue pikirkan saat mengambil foto? Kalian, para pembaca. Gue membayangkan apa aja yang mau gue tunjukin sama kalian. Gue melihat sesuatu dengan berkeliling, melihat sesuatu dengan penuh perhatian, lalu bertanya sama diri sendiri, “Apakah objek itu perlu gue foto?” Tips ini bisa dicoba buat kalian yang mau mempertajam insting atau naluri mengambil foto.

Indonesian main course | All Sedayu Hotel Kelapa Gading

Masih di tahun 2013, gue mengulas Naval Hotel dan Amaris Hotel Cihampelas. Dua-duanya ada di Bandung dan gue book secara gratis menggunakan voucher hotel RajaKamar sebagai Juara 1 Rajakamar Blog Competition. Iya, saat itu adalah masa-masa kejayaan gue sebelum negara api menyerang hahahaha. Gue pribadi juga kaget, karena saat itu gue adalah blogger baru yang masih bau brambang bawang. Mungkin kalo ada blogger award, gue bisa masuk nominasi Blogger Pendatang Baru Terbaik.

Oke, cukup bragging-nya. Selanjutnya di tahun 2015, gue mengulas Hotel Neo Candi Semarang yang seinget gue juga dapet gratisan. Kalo nggak salah berkat kerjasama dengan Traveloka. Beberapa waktu kemudian, gue ke Solo dan nginep di Red Planet Hotel Solo yang saat itu masih bernama Tune Hotels, gue book melalui Travelio. Ini juga kalo nggak salah dapet voucher nginep 1 malem setelah menghadiri acara launching Travelio. Kayaknya lho yhaaaaaa.

Bisa sambil baca koran di lobi hotel Neo Dipatiukur Bandung

Nah, itu adalah hotel-hotel pertama yang gue ulas, belum termasuk hostel-hostel di Malaysia yang gue inapi di tahun 2014. Di situ, gue nggak nginep sebagai endorser pihak hotel. Kalo pun ada kerjasama, kerjasamanya adalah dengan pihak OTA. Oh iya, tahun 2015 gue juga nginep gratis di Max One Hotel Palembang, tapi gue sama sekali lupa nulis review-nya, maapkeun.

Selanjutnya, kita akan memasuki fase di mana gue mulai menjadi endorser bagi pihak hotel. Panjang ya, fyuh… Ya gini nih kalo Nugi udah mulai cerita. Detil dan kronologis sampai bikin kabur apa fokus ceritanya.


Awal Mula Menjadi Hotel Reviewer

RedDoorz was my first client.

Saat itu tahun 2016. Gue mau ke Jakarta dan butuh tempat bermalam. Lalu gue mikir, “Daripada gue bayar hotel, gimana kalo gue coba propose hotelnya biar kasih free stay dan gue bayar dengan review?” Rasa percaya diri gue sebagai blogger sudah tumbuh. Gue merasa blog gue punya tingkat kunjungan dan prestasi yang bisa dibanggakan. Singkat cerita, salah satu email gue direspon oleh RedDoorz. Gue belum paham bahwa RedDoorz adalah sebuah virtual hotel operator.

Ulasannya bisa dibaca di: RedDoorz, Gaya Baru Hotel Murah

RedDoorz Premium near Bandung Station

Begitu di Jakarta, gue diminta buat ke kantor RedDoorz di kawasan Thamrin/Sudirman, ketemu pimpinannya yang orang India, dan melakukan tanda tangan perjanjian. Sistemnya adalah reimburse. Maka dari itulah pengalaman pertama ini unforgettable. Bukan cuma pengalaman pertama, tapi juga prosesnya di mana gue mendatangi sendiri kantornya.

Setelah RedDoorz, klien selanjutnya adalah Gloria Suites dan LeGreen Suite. Yep, gue belum berani mengajukan penawaran ke hotel-hotel bintang 3 ke atas karena merasa masih baru dan belum ada apa-apanya.

Lho, tapi kok bisa nginep di Hotel Grand Tjokro Bandung? Itu ‘kan hotel bintang 4.

Itu bukan kerjasama. Cukuplah gue katakan bahwa gue hanya menikmati kompensasi yang diberikan.

Saat kabut tipis beringsut mundur dari kota Bandung

Mulai pertengahan 2017, karir (((karir))) gue menanjak. Bulan April 2017, gue berencana ke Pontianak demi memanfaatkan long weekend. Rencana ke Pontianak ini juga merupakan perjalanan impulsif, pokoknya ke mana aja asal tiket pesawatnya murah! Karena gue udah beberapa kali diundang oleh mas Yosua Tanuwiria ke acara-acara Tauzia Hotel Management (sekarang mas Yosua udah pindah kerja) tapi belum sempet datang ke satu pun acaranya karena kendala waktu sebagai karyawan kantoran hakiki, jadi gue iseng colek-colek aja. Eh, tiba-tiba gue langsung ditelfon sama Hotel HARRIS Pontianak. Jadi selama 3 hari 2 malam di Pontianak, gue nginep di sana.

Setelah itu, gue mulai lebih konsisten mengulas hotel sebagai blogger/instagrammer/influencer yang memang bekerjasama dengan pihak hotel. Masa-masa tersibuk gue adalah semester pertama tahun 2018 dan semester kedua tahun 2019. Saking padetnya, tiap weekend gue staycation! Ada aja hotel di Bandung atau Jakarta yang approve penawaran gue. Gue sampai merasa kejar setoran dan blog ini sempat kehilangan jatidirinya sebagai blog perjalanan, thanks to bang Bobby virustraveling yang udah mengingatkan.

THR yang habis walking tour di Dafam Express Jaksa

THR berfoto di tangga lobi Dafam Express Jaksa

 

Kemudian, gue diajak gabung ke grup Teman Hotel Reviewer sama koh Halim Chandra @hotelindoo. Di sana, gue bisa kenalan dan berjejaring bersama teman-teman hotel reviewer lainnya yang keren-keren! Ada @kepinhelmy dan partner-nya @krisnabrataa, Ridho @hotelopedia, Agus @fndfamilytrip, Jun @stayaddict, Faiz @doyandolan_91, Tasya @anastasiamaurin, dan bunda Ety @ngamar_bareng. Selain mereka, gue juga jadi kenal sama hotel reviewer lainnya kayak koh James @jamesandlenny dan mas Denny @namaku_de.


Bagaimana Mekanisme Kerjasama dengan Hotel?

Hampir semua kerjasama yang terjalin adalah buah dari perjuangan gue yang kirim penawaran demi penawaran ke email dan atau DM Instagram. Hanya sebagian kecil yang undangan, misalnya Putri Duyung Cottage Ancol, Hotel Grand Cordela Bandung, Ibis Budget Jakarta Tanah Abang, Nomad Hostel Kemang, Brits Hotel Karawang, Red Planet Hotel Pasar Baru Jakarta, Ibis Jakarta Kemayoran, All Sedayu Hotel Kelapa Gading, Hotel Des Indes Menteng, dan Azana Hotel Management. Sementara Novotel Mangga Dua dan Dafam Express Jakarta adalah buah dari gathering THR.

Novotel Jakarta Mangga Dua Square

Novotel Jakarta Mangga Dua Square

Sofa, coffee table, working area | Novotel Jakarta Mangga Dua Square

Lalu gimana gue menemukan hotel-hotel untuk di-propose? Pertama, gue browsing selayaknya tamu biasa di Booking.com, masukin tanggal dan kota (antara Bandung atau Jakarta) yang gue mau. Lalu, gue cari website hotelnya biar tahu alamat email hotel yang bersangkutan. Setelah dapat email-nya, baru gue lancarkan serangan dengan mengirim penawaran. Belakangan ini, gue coba kontak dulu via DM Instagram. Kalo mereka bilang tertarik, barulah gue kirim penawaran lengkapnya via email.

Itu karena banyak yang nggak merespon, broh! Jadi daripada gue udah keburu kirim email panjang lebar lengkap dengan attachment, mending gue tanyain dulu di Instagram. At least gue tau bahwa mereka punya medsos yang aktif dan paham kerjasama yang gue maksud.

Novotel Jakarta Mangga Dua Square

Enjoying a quiet and relaxing ambience of Premiere Lounge Novotel Jakarta Mangga Dua Square

Lalu gimana dengan rate card gue? Mulai semester kedua 2019, ini adalah ketentuan yang gue tawarkan ke hotel. Gue meminta:

  • Minimal 2 malam menginap, sudah termasuk sarapan
  • Lunch & dinner
  • Ongkos transportasi PP (jika hotel terletak di luar Bandung, kecuali bila gue memang ke kota itu atas kemauan sendiri)
  • Fee menulis (opsional)
  • Voucher untuk giveaway (opsional).

Sebagai gantinya, gue akan memberikan 1 tulisan permanen di blog, minimal 6 IG feed, IG Stories, dan review di Google. Dulu juga sama review di TripAdvisor, tapi sekarang udah males nulis di TA karena udah nggak ada loyalty program ke AirAsia, hahaha. Waktu 2 malam menjadi kewajiban supaya gue nggak buru-buru, punya waktu yang cukup buat menjelajah hotel dan mengumpulkan foto. Kalo cuma semalem, berat! Gue ceritain di bagian berikutnya.

Paket steamboat di Best Western Premier La Grande Bandung

Complimentary cake bersama paket steamboat

Ada beberapa hotel yang mengukir pengalaman menginap nggak terlupakan! Terima kasih untuk Red Planet Hotel Pasar Baru, Harris Hotel Pontianak, Best Western Premier La Grande Bandung, Shakti Hotel Bandung, Nomad Hostel Kemang, Ibis Jakarta Kemayoran, dan Hotel Des Indes Menteng. Kalian bener-bener memberi penghargaan yang layak buat gue sebagai seorang blogger. Di Harris Hotel Pontianak, misalnya. Gue nggak hanya dikasih 2 malam, tapi juga antar-jemput dari dan ke bandara, half-day tour ke Tugu Khatulistiwa dan Rumah Radakng, bahkan juga diantar ke gereja! Ingat, saat itu baru April 2017.


Review Hotel Sendirian? Bisa Banget, Tapi Capek…

Gue nggak punya tim tersembunyi seperti beberapa hotel reviewer. Gue bergerak sendiri, hanya berbekal kamera lawas Canon EOS 1000D, tripod, dan hape produksi Taiwan. Sekarang, gue akan mengajak kalian membayangkan bagaimana proses gue bekerja.

Tempat tidur di kamar Executive Deluxe Hotel Des Indes Menteng

Bukan sembarang kopi, tapi kopi Tanamera!

Selesai check-in dan masuk ke dalam kamar, gue nggak akan buru-buru menggeletakkan tas dan mengobrak-abrik kasur meski keinginan itu kuat tergurat. Gue letakkan tas dan alas kaki di sudut belakang pintu kamar, keluarkan kamera, lalu mulai mengambil foto seluruh fasilitas kamar dan kamar mandi. Singkatnya, gue sedang mengabadikan kamar saat kondisinya masih rapi. Kelar dengan foto, gue akan melanjutkan dengan membuat beberapa IG Stories sederhana dalam bentuk video.

Malamnya, gue biasanya tidur larut. Entah kenapa, suka aja berlama-lama terjaga di dalam kamar hotel, apalagi kalo hotelnya punya pemandangan kota kayak Best Western Bandung. Gue mengamati jalanan kota yang hening dari balik jendela kamar di lantai 19 sambil menyesap kopi dan menonton TV kabel.

Besoknya, gue harus bangun pagi-pagi agar bisa menjadi yang pertama datang ke restoran! Sarapan biasa dimulai jam 6 pagi. Gue nggak mandi, bahkan juga nggak cuci muka dan sikat gigi, toh juga tetep ganteng. Nggak khawatir juga sama bau mulut karena gue sendirian dan bau mulut akan segera tersamarkan dengan bau makanan yang gue santap. Kenapa harus jadi yang pertama? Supaya suasana restoran bagus diabadikan dan kondisi buffet juga masih rapi, belum terobrak-abrik. Meski kadang gue kecelek juga karena di beberapa kesempatan restoran cukup riuh meski gue udah datang pagi, seperti pas di Zest Hotel Bandung.

Pertama, gue ambil seluruh foto makanan dan sudut restoran yang menarik, jadi memang harus berkeliling. Setelah itu gue duduk dan mengambil sebanyak mungkin makanan yang tersedia. Yang biasanya nggak gue ambil adalah roti tawar dan sereal karena di mana-mana sama aja. Setelah seluruh makanan terkumpul, gue ambil foto dulu secara (agak) flat lay. Kalo udah puas foto dan buat video IG Stories, barulah gue mulai makan. Saat itu biasanya tamu-tamu yang lain mulai berdatangan.

Sarapan pilihan gue di Pomelotel Jakarta

Flat lay mode, saat sarapan di Zest Hotel Bandung

Karena kapasitas perut gue terbatas, biasanya gue butuh waktu 2 jam untuk menghabiskan seluruh makanan yang gue ambil. Gue harus makan dengan bertahap, diselingi dengan upload video IG Stories di hape. Gue biasanya memang cuma ambil foto makanan aja di restoran, karena sekarang ada baris khusus di tata letak feed Instagram gue yang dikhususkan buat foto makanan.

Dari sarapan, gue kembali ke kamar buat leyeh-leyeh bentar, foto ala bangun pagi di kasur dengan bantuan tripod, mandi, leyeh-leyeh lagi, lalu tidur lagi hehe.

Sementara foto-foto di tempat lain―reception area, kolam renang, ruang kebugaran, fasilitas lainnya―gue sesuaikan dengan mood dan ketersediaan waktu. Kadang juga gue sesuaikan dengan waktu terbaik mengambil foto. Pas di Mercure Nexa Bandung, misalnya, lobinya tampil lebih cantik dari sore hari (saat cahaya sunset masuk melalui dinding kaca) sampai malam hari (saat pencahayaan bekerja dan membuat ruangan tampil elegan).

Reception area | Mercure Nexa Bandung Supratman

Cobain fitness di All Sedayu Hotel Kelapa Gading

“Gie, kenapa sih suka banget foto punggung di shower?”

Setiap orang pasti punya angle atau bagian tubuh favorit saat difoto, ‘kan? Ada yang bagian samping wajah, atau dada, bahu, dsb. Nah, buat kasus gue, jawabannya adalah punggung, ini juga gue sadari secara nggak sengaja. Gue merasa punggung adalah salah satu bagian tubuh gue yang tampak bagus di foto.

“Terus siapa yang fotoin?”

Hampir semuanya adalah TRIPOD, sobat setiaku uwuwuwu. Keahlian gue memposisikan tripod sudah cukup membanggakan. Foto-foto punggung di bawah ini adalah hasilnya.

Iya, memang ada beberapa kali yang difotoin, tapi ini dikit bangeeettt. Like, bahkan nggak sampai 5, karena memang gue biasanya nginep sendiri. Gue baru mulai ngajak-ngajakin orang buat ikut nginep itu sejak di Ibis Jakarta Kemayoran buat nemenin sekaligus bantu ngabisin makanan. Itu pun nggak lantas tiap kali gue nginep setelah itu terus selalu ditemenin.

Di beberapa kesempatan, gue juga staycation bareng influencer lainnya, yaitu di Putri Duyung Cottage, Grand Cordela Hotel Bandung, Brits Hotel Karawang, Ibis Budget Jakarta Tanah Abang, Sandalwood Boutique Hotel, Novotel Mangga Dua, Dafam Express Jakarta, dan Hotel Des Indes Menteng.

Bersama Ady @kokotraveler, mas @namaku_de, @onihoironi, dan Chris di Hotel Des Indes Menteng

Bersama travel-travel blogger Jakarta lainnya saat 1st Anniversary Ibis Budget Jakarta Tanah Abang

Dari kiri ke kanan, belakang ke depan: (alm) mas Arie, Jose, mbak Pungky, mbak Noe, Uni Dzalika, gue

“Nggak takut foto kayak gitu, Gie? Lo bisa jadi sasaran penculikan om-om homo.”

Sebenernya iya, sedikit. Makanya, sejak pertengahan tahun kemarin, gue mengurangi foto punggung. Beberapa temen gue udah rame kasih wejangan, hahaha. Gue hanya foto punggung saat setting-nya mendukung, biasanya di hotel-hotel bintang 4 ke atas yang bilik shower-nya elegan. Makanya, di beberapa hotel kayak Zest Hotel Bandung dan Sany Rosa Hotel, gue nggak ada foto punggung.

Dan sekarang, setelah punya Ara, kayaknya gue bakal bener-bener stop foto punggung sampai kami menikah atau tinggal serumah. Kalo pun ada, gue akan foto dengan tetap memakai kaos sleeveless atau bahkan kaos biasa seperti ini. Walaupun bisa dibilang foto punggung ini adalah signature gue. Coba, hotel reviewer mana lagi yang konsisten foto punggung di shower? Hehe.

Kamar mandi Dafam Express Jakarta

Nyaman menggunakan kamar mandi All Sedayu Hotel Kelapa Gading

Sebagian besar hotel biasanya “melepas” gue gitu aja buat mengeksplor sendiri, yang mana juga nggak jadi masalah karena gue justru leluasa mengatur waktu. Hanya sedikit juga pihak Marketing/Marketing Communication/manajer terkait lainnya yang bertemu gue selama masa review. Biasanya juga nggak ada perbedaan dalam jam check-out. Jadi, disyukuri aja saat hotelnya memperbolehkan gue late check-out, dianggap sebagai bonus. Tapi kalo enggak ya nggak masalah, itu peraturan mereka dan nggak ada dalam perjanjian.


Mengolah Foto Menjadi Ulasan di Blog dan Media Sosial

Foto-foto hotel (dan perjalanan gue secara umum) yang gue upload di feed Instagram atau Facebook adalah SELALU LATE POST. Nah, jadi sekarang kalo lihat foto gue lagi di hotel anu saat scroll timeline, nggak usah lagi DM atau komentar, “Lagi di situ?” Perhatikan video IG Stories gue, itulah laporan aktual yang akurat. Kalo pun gue live report di feed, biasanya hanya di Facebook, dan fotonya nggak diedit, tapi ini jarang banget.

Kenapa selalu late post? Karena gue mau menikmati staycation dan perjalanan gue. Gue nggak mau menghabiskan waktu saat staycation dengan sibuk sendiri di gadget, kecuali urusan pekerjaan kantor.

Paid minibar | All Sedayu Hotel Kelapa Gading

Selain itu, kamera gue itu kamera lawas, Canon EOS 1000D yang nggak mendukung fitur Bluetooth, WiFi, bahkan USB port. Gue harus mencabut SD Card dari dalam kamera ke slot SD Card di laptop. Proses ini seringkali gue lakukan setiap hari untuk mencegah insiden kehilangan foto. Dari laptop, fotonya masih harus gue transfer ke smartphone dengan kabel data. Nah, yang ini gue lakukan setelah perjalanan berakhir.

Saat seluruh foto sudah tersimpan di memori smartphone, barulah gue edit dengan aplikasi Lightroom. Ada 2 dari 5 preset yang biasanya gue pake, kelimanya gue beli dari rekan di komunitas Travel Bloggers Indonesia, bang Richo Sinaga. Urutan upload di Instagram pun nggak sembarangan. Dalam setiap baris, urutan fotonya adalah (dari kiri ke kanan): foto outdoor bernuansa biru/hijau – foto makanan – foto kamar/kamar mandi/lobi/bagian indoor lainnya. Biasanya yang pertama kali gue upload adalah foto kamar.

Working space yang luas di kamar Best Western Premier La Grande Bandung

Setelah seluruh foto gue upload di Instagram, barulah gue menyiapkan ulasannya buat gue publish di blog. Makanya, gue kurang suka juga kalo ada hotel yang ngejar-ngejar minta ulasan blog di-upload sesegera mungkin. Gue paham sih, mereka antusias, but I need time to finish my work. Give me at least a month to publish it.

Dulu, feed Instagram gue nggak serapi itu. Foto-fotonya nggak gue edit. Urutannya berantakan. Malah di beberapa hotel, gue sengaja nggak bawa kamera biar foto-foto aja pake hape. Sekarang, kamera selalu gue jadikan alat dokumentasi primer untuk menghasilkan konsistensi tone warna dan kualitas foto. Smartphone adalah back-up saat ada beberapa kondisi yang lebih bagus ditangkap dengan kamera hape.


Nggak nyangka, lika-liku gue sebagai seorang pengulas hotel ini bisa menghasilkan satu tulisan dengan lebih dari 2.500 kata! Jadi, makasih banget buat yang udah betah baca sampai di paragraf ini. Maaf kalo ada bagian yang memuakkan. Pandemi corona ini bikin gue kangen staycation, kangen bobok ganteng, kangen mandi air panas. Sebenernya gue merasa cukup aman selama staycation-nya di Bandung, cuma belum ada deal lagi.

Buat kamu yang tertarik jadi hotel reviewer, perhatikan 2 hal ini: waktu dan usaha. Kalo kamu belum ada modal, hotel-hotel juga nggak akan ujug-ujug ngajak kamu kerjasama atau menerima tawaran kamu. Modal ini bisa followers IG, blog, atau Youtube. Kamu mungkin harus bikin portofolio dulu dengan mengulas hotel-hotel yang kamu bayar sendiri. Jadi, good luck with that! Keep learning by traveling…

Ada request lagi buat tulisan di blog ini selama masa-masa corona?

54 komentar

  1. adieriyanto · · Balas

    Konsistensi hampir selalu menjadi pembuka jalan untuk kesempatan-kesempatan baik berikutnya. Saat ini, meski tak sebanyak dulu ya, blogger atau instagramer atau pegiat media sosial lainnya sering terjebak untuk secara tidak sabar ingin menikmati fasilitas, kesempatan, dan privilige seperti mereka-mereka yang berusaha merintis sesuatu dari awal, dari bawah, dari belum apa-apa.

    Ya semoga sih setelah membaca ini, orang jadi paham yang namanya proses. Btw, rapi ya tulisannya. Tinggal edit-edit dikit tentang EYD aja, kecuali dialeg lo gw.

    1. Amin, mas. Semoga bisa jadi insight buat mereka yang mau merintis.

      Ehehe makasih, mas. Kalo mau koreksi langsung juga boleh, nanti kubenerin. Ada beberapa EYD yg memang kubingung 😁

  2. sayangnya kita belum pernah ketemu yang master, pengen belajar banyak dari master kalau kayak gini…padahal saling sapa terus di blog..learning by doing bener bener deh pajenengan niku..

    1. Yang master ini siapa contohnya, mas? Siapa tau aku udah pernah ketemu hehe

  3. Saya pernah sih menawarkan diri melalui email terkait menginap di hotel. Berhubung tulisan ulasanku di blog tidak detai, sekadar menulis pengalaman di sana dan rata-rata semalam. Biasanya opsi yang saya tawarkan adalah, apakah ada harga khusus. Misalkan potongan harga mencapai 50% hahahahhahaha.

    Kalau semacam reddorz dll, saya malah suka asal tulis tanpa pernah kerjasama dengan pemilik hotelnya. Tulisan dari hotel-hotel budget murah ini banyak yang membaca di blogku yang satu ahahhahah

    1. Nah betul, mas. RedDoorz dan hotel2 budget memang banyak yang cari. Buat blog bagus.

  4. Menginspirasi sekali, thanks for sharing 😊

    1. Sama-sama, kak. Terima kasih sudah mampir, ya.

  5. Wah ternyata prosesnya panjang sekali

  6. Komplit dan detil banget nulisnya, tapi enak dibaca sampai kalimat terakhir. Lika-liku jadi hotel reviewer memang seseru itu, ya. Aku pribadi belum pernah bikin penawaran ke hotel sampai hari ini. Kadang kepikiran juga kalau pas ada momen liburan ke satu kota gitu. Tapi karena portofolio hotel review aku juga ngga banyak, jadinya kurang pede aja hahaha. Dan kayaknya aku lebih menikmati jadi penghuni hotel biasa, bayar sendiri, dan ngga ada kewajiban untuk review. Setiap hotel yang aku inapi rata-rata tetap aku tulis review-nya karena ingin berbagi informasi aja buat pembaca blogku. Begitu siy, Mas Nugie.

    1. Sama, mbak. Endorse apa bukan, hotel yg kuinapi kalo menarik pasti ku-review. Meski, yah, hampir semuanya endorse sih.

      Dan setuju, review itu bebaaannn. Makanya kalo aku lagi kangen staycation tapi gak mood review, aku book hotel murah di Bandung, atau hotel yg pernah kuinapi sebelumnya.

      Makasih apresiasinya, mbak. Makasih juga udah mampir.

      1. Sama-sama, Mas Nugie. Memang betul banget, terkadang kita butuhnya menikmati momen berharga seperti istirahat berkualitas di hotel, bukan malah kerja di hotel ya hahahaha😂. Tantangan banget nih bagi para content creator yang selalu memburu konten buat diabadikan😀.

      2. Iya betul, mbak. Sekarang bahkan ada 1 temen hotel reviewer-ku yang mau hiatus dulu, menolak semua tawaran, demi mau menikmati waktu.

      3. Nah iya, pasti lelah juga kalau jor-joran ya. Semoga dirimu juga bisa quality time tiap nginep di hotel impian😀

      4. Amin, semoga corona segera berlalu ya 🙂

      5. Iya… Aamiin.. Aamiin. Supaya semua normal kembali😊

  7. Dedikasi dan konsistensi akhirnya membuahkan hasil ya bro..
    Inspiring!! Btw, gue baru 3x nulis review hotel di blog.. Ya masih amatiran sih reviewnya, foto2nya belum niat, skdr sharing aja sebagai tamu.. But,, kenapa tiba2 gue review hotel? itu semata2 terinspirasi dari lu bro.. Biasanya ya cuma buat nginep aja,, skrg kalau lagi nggak males sekalian gue review..

    Wah signature photo-nya bakalan hilang nih, ciri khas paling kuat dari postingan hotel lu padahal 😀 ..

    -Traveler Paruh Waktu

    1. Lanjutkan, Bar! Itu akan sangat bermanfaat buat orang lain. Minimal foto kamarnya lengkap jadi kebayang nyaman enggaknya sebagai tamu.

      Makasih ya, i’m flattered 😂

  8. Next kalau foto punggungnya Nugi balik ke peradaban , dipastikan daku fotografernya 😂😂😂

    Thank you for sharing, Beb… Jadi ngerti perjuanganmu merintis semua ini…

    Love youu😘😘😘

    1. Either you or tripod, ya. Makasih dukungannya 😘😘😘

  9. wah join grup THR itu kece yaaa.. banyak reviewer keren.

    1. Hehe iya senang dipertemukan dengan orang-orang keren, koh

  10. Detail banget ceritanya, btw kurang-kurangin foto punggung biar gak diculik om om homo #vangke 🤣✌

    1. Wkwkwkwk ahsiaaappp

  11. Tulisannya Nugi emang selalu detail! Suka bacanya.

    Btw, emang nge-review hotel sendirian itu capek. Orang lihatnya staycation, something luxury, foto-fotonya cakep, padahal di baliknya keringetan dan otaknya muter terus yaaa. Makanya aku salut sama orang-orang macem kamu yang konsisten nginep di hotel kemudian di-review. Apalagi nginepnya sendirian.
    Eh, tapi kalo nginep berdua juga belum tentu nge-review karena lebih menikmati waktu barengan. Eh, curcol

    1. Terima kasih, Diniiiiii.

      Iya, capek. Orang-orang gak tau gimana capek dan beratnya saat review.
      Hahaha, ciyeee nginep berdua sama siapa nih 😀

  12. Terima kasih untuk tulisannya Mas, ini sangat menginsipirasi bagi yang ingin berkarya sebagai hotel reviewer ataupun yang sekedar ingin nginap gratis.

    1. Sama-sama, bro. Senang bisa bermanfaat.

  13. Kalau soal review detail binti panjang kali lebar, sepertinya blog mas Nugie juaranya 😂 dari mulai review transportasi umum sampai review hotel dan makanan bisa detail bangetttt hehehe 😁

    By the way baru kali ini saya pakai fasilitas podcast instead of baca postnya, seru juga ternyata ~ semoga semakin banyak yang akan menerima penawaran mas untuk review hotel-hotel mereka, dan semoga semakin mantap lagi kualitas jasa review-nya 😄 yang penting konsisten dan soon enough, akan membuahkan hasil maksimal. Good luck, mas.

    1. Hahaha. Makasih ya buat apresiasi dan doanya. Amin amin, semoga blog ini juga semakin bermanfaat buat semua pembaca.

  14. Baru aku mau tanya via DM, eh kebetulan ngepost di ig dan langsung meluncurrrr.. Thank you udah sharing tentang lika-liku jadi hotel reviewer, sukses terus!!

    1. Haha mau nanya apa nih? Semoga terjawab ya di tulisan ini. Makasih udah mampir 😁

  15. Akhirnya inget mau komen di sini hehe. Lengkap Nug!
    Masih penasaran aja proses datang dan lapor ke resepsionis itu selalu mulus ya nampaknya? Aku mudah “ceni” anaknya. Eh apa ya ceni ini, mudah down haha. Pernah pas lapor ke resto untuk makan malam mereka pada bingung dan aku dipingpong. Kesannya ngehe banget lol.

    1. Nah, mas. Kalo untuk resepsionis seingatku nggak pernah ada masalah, kalo buat makan pernah, meski akhirnya sukses.

      Solusinya gini. Sebelum datang, tanyakan dipesankan atas nama siapa, kalo perlu minta bukti reservasi atau surat perjanjian. Lalu tanya gimana mekanisme makan siang/malam. Kita datang dan pilih sendiri, datang dan dipilihkan, atau di kamar? Siapa CP-nya?

      Lupa cantumin ini di tulisan karena mostly gak kasih makan siang/malam, baru-baru ini aja 😀

  16. Wah daftar hotelnya sudah banyak.. total sdh brp hotel yg direview sevara profesional mas?

    Di 3-6 bulan ke depan kayaknya bakalan susah mengajukan proposal ya mas? budget hotel utk promo marketing mungkin di-cut dulu… gimana menurut mas ttg kemungkinan kerjasama review utk 6 bulan ke depan?

    Kami dulu pernah kerjasama dgn sebuah hotel, Marcomnya malah nemenin kami di hampir setiap sesi, jadi malah kagok ehhh… meski kami tahu memang niat dia baik yah..

    Thanks utk sharingnya mas, sy juga nanti mau bikin ahh tulisan ttg tips mereview hotel deh atau behind the scenenya.. hihihi

    1. Begitu corona reda, aku akan langsung staycation mas, bayar sendiri hahaha. Selama 6 bulan ke depan kalo gak ada deal, review bayar sendiri aja.

      Soal berapa hotel yang udah ku-review, jujur nggak kuhitung hehe.

      Semangat, mas!

  17. dansontheroad · · Balas

    Waduh, kira punggung kamu sekarang milik Ara? Kesian kepada followers kamu semua haha

    1. Udah jadi aset Ara sekarang xD

    2. Aku juga bbrp kali dapat kerjasama dengan hotel, kalau pas waktunya tepat ya aku datengin, tapi kalau mengajukan proposal secara pribadi buat barter dengan feed ig & tulisan blog aku belum berani, masih belum PD aja. Terima kasih informasi nya kak.

  18. Muantapp lika-likunya. Gue pun sebenarnya sudah mulai review hotel dari jaman baheula, bahkan sebelum pakai domain siogie.com. Tapi review singkat jelas padat banget, mungkin ngga sampai 150 kata hahaha.

    Yang bikin menyesal adalah kerajinan gue menulis blog sempat terhenti ketika gue merantau selama beberapa tahun dan berapa banyak hotel yang ngga ke review :((.

    Semangat~

    1. Waduh, kok bisa terhenti di perantauan mas? Kalo aku malah nambah semangat 😂😂😂

      Makasih ya udah mampir dimari.

  19. Fanny Fristhika Nila · · Balas

    Aku sesekali mereview hotel, Krn menurutku traveling ga mungkin tanpa menginap di hotel. Makanya hotel tempat menginap pasti jd bahanku juga. Tapi Krn traveling ga mungkin dilakuin setiap bulan, makanya sebulan sekali biasanya aku staycation Ama keluarga.

    Banyak hotel2 yg blm aku tulis di blog, Krn sbnrnya ga sempet, kalah Ama kesibukan kantor :(. Tp ada jg hotel yg aku ga tulis Krn aku ngerasa biasa aja. Ga ada unik ato something yg bikin aku keinget trus Ama hotel itu. Utk yg begitu, aku memilih utk ga ush ditulis di blog. Cukup di IG.

    Ini mumpung sedang Corona, kayaknya setelah Yangon selesai aku tulis, bbrp hotel yg blm sempet aku review, bakal aku tulis deh. Cuma susahnya, kalo udh kelamaan, jujur aja aku sndiri kdg lupa feeling yg dirasain hahahahhaha… Tergantung dr foto jadinya.. 😀

    1. Jujur sebagian hotel yg ku-endorse juga malas kutulis karena biasa aja. Tapi karena udah perjanjian, jadi harus profesional.

      Sebagai bagian dari traveling, hotel memang nggak terpisahkan.

      Aku juga gitu, mbak. Menggunakan foto sebagai cara untuk mengingat 😂😂😂

  20. Aku tuh sebenere juga suka staycation, tapi syaratnya harus ada temennya. Kalau pun sendirian aku harus selektif banget milih hotel. Nggak mau hotel2 kuno dan besar2 hiii ;(

    1. Hampir semua hotel yg kuinapi hotel jaringan yang notabene modern kok 😀

  21. Edan sih, ini artikel terbaik yang ku baca selama masa pandemi alay ini mas.

    Setelah baca ini, sepertinya menarik ya. Apalagi kalau ku pantengin feed mu mas, terutama kalau pas nongol gambar hotel-hotel lucu yang jarang ada reviewnya. Btw ada yang belum dijelasin deh, penawaran yang dibuat kayak gimana sih? Aku penasaran, kok bisa hotelnya jadi mau? wkwkwk

    Oh jadi itu alesan kenapa udah nggak foto punggung lagi wkwkwkw. Semoga langgeng mas 🙂

    Oh ya, saran nih, podcastnya kurang kenceng suaranya wkwkwk. Jadi, ku dengerin bentar doang. Soalnya isinya kayak tulisannya ya. Kalau aku salah, kasih tau, bagian mana yang menarik buat di dengerin terkait pertanyaan ku di atas mas wkwkwk

    1. Halo, papa. Lama gak mampir nih hehe, apa kabar.

      Penawaran itu intinya kasih tau apa aja yg bisa kukasih, apa yg wajib mereka kasih, dan apa baiknya kerjasama bareng aku. Jadi aku kasih statistik blog, prestasi, dsb.

      Iya, podcast memang isinya sama aja. Itu cuma alternatif buat yg lebih suka nyimak daripada baca 😀
      Soal volume, nanti kuperbaiki lagi. Thank you ya udah mampir.

  22. ainunisnaeni · · Balas

    dari yang awalnya ‘coba-coba kirim penawaran’ nggak nyangka responnya positif dan terus berlanjut sampe sekarang.
    hahaha emang iya gie, dari sekian banyak reviewer hotel cuman kamu aja yang nunjukin gaya foto punggung.
    biasanya kalo hotel yang aku inepi masih oke, emang yang bikin penasaran ya keliling keliling hotel kali aja ada spot yang oke

    1. Iya bener. Makanya jangan kapok dengan mencoba ya 😁😁😁
      Foto punggung akan kembali lagi pada saatnya

  23. dgoreinnamah · · Balas

    Keren tulisannya.
    Saya akui mengulas hotel dan makanan adalah hal tersulit buat saya. Itulah mengapa saya lebih banyak menulis soal itinerary dan juga review suatu tempat wisata alam. Namun bukan berarti saya berhenti belajar me-riview hotel.

    Dari kamu saya belajar bagaimana cara mengulas hotel yang baik dan mendapat banyak kosakata baru mengenai item-item yang ada di hotel.

    Saya sempat tertawa saat bagian ‘kehilanhan jati diri blog’. Saya sempat rasakan itu dari blogmu. Untung sekarang sudah kembali. Menulis review tanpa terlalu memberi kesan jualan itu memang agak susah. Perlu jam terbang tinggi memang biar bridging-nya halus.

    Setuju juga soal ‘dipaksa’ untuk cepat posting. Saya pun orang yang tidak suka diminta buru-buru seperti itu. Untung saja selama belajar review hotel, saya selalu mendapat kesempatan menginap gratis dari kantor, jadi belajar menulisnya lebih enak.

    Terima kasih ya sudah berbagi
    Tuhan berkati

    1. Halo, bang. Thank you sudah rajin mampir di sini ya. Seneng kalo review-review gue bisa bermanfaat. Gak cuma kasih rekomendasi, tapi juga bisa jadi bahan pembelajaran bersama 🙂

  24. gue user baru, follow back dong ,thank u

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Khairunnisa Siregar's

Learn from yesterday, live for today, and hope for tomorrow

Jilbab Backpacker

Travel - Halal Lifestyle Blog

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

Ferdi Cullen-The Microtraveller

A microtraveller is a journey local or overseas that is short, flexible, simple, cheap – yet still fun, exciting, challenging, refreshing and rewarding

Pink Traveler

Kemasi ranselmu dan pergilah melihat dunia

#FDCG

SEBUAH CATATAN TENGIK ANAK TEKNIK

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Andromeda Noholo

Catatan Perjalanan, Ulasan Tempat, dan Daily Blog

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

CERITA LIANA

Travel More, Share More

Casa Fasa

Travel & Life

Teppy and Her Other Sides

Eat well, live well, and be merry!

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

Jalancerita

Tiap Perjalanan Punya Cerita

Tukang Ngider

Ngider terus, terus ngider. Kuy, der!

Liza-Fathia.Com

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

Eka Hei

Selalu ada cerita dalam setiap langkah

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

Papan Pelangi

tempat berjalan dan bercerita

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

The Spiffy Traveler

Exploring Endless Paradise

Efenerr

mari berjalan, kawan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Jalan-Jalan Terus!

Cerita Perjalanan Wisata dan Budaya

Travel Vlogger Indonesia

Travel Vlogger Indonesia, menginspirasi lewat travel vlog Indonesia, berbagi informasi liburan dan vlog jalan jalan!

Plus Ultra

Stories and photographs from places “further beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Fahmi Anhar

Travelogue

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Usemayjourney

Melihat, Mendengar, Memaknai

Winny Marlina

Winny Marlina– whatever you or dream can do, do it! travel

%d blogger menyukai ini: