Review: Hotel Neo Candi, Semarang

Nama Hotel Neo Candi berada pada urutan pertama dalam daftar search result pencarian hotel melalui web Traveloka berdasarkan… you know me, daftar harga dari rendah ke tinggi. Tarifnya Rp 251.217,00 saja per malam.

Gue lihat sekilas informasi hotel yang terletak di Jalan S. Parman no. 56 itu. Menurut peta, hotel hanya terpaut jarak 1.5 kilometer dari Klenteng Sam Poo Kong, atau sekitar 2 kilometer dari Simpang Lima. Gue lalu cek peta BRT Trans Semarang… oh, ada halte Gajahmungkur di dekat hotel. Cukup strategis buat gue. Maka, tanpa perlu berlama-lama kayak nembak gebetan terus akhirnya ditolak, gue segera memesan 1 buah kamar Single Standard di Hotel Neo Candi, Semarang, untuk tanggal 2-3 Januari 2015.

Penampilan menu pencarian hotel di Traveloka

Penampilan menu pencarian hotel di Traveloka

Gue masukkan kode voucher yang diberikan oleh Traveloka dan… JREEENGGG!!! Harga berubah menjadi Rp 50.233 saja, Sis! Segera berjalan cepat menuju ATM terdekat sebelum tenggat waktu pembayarannya habis. Pembayaran selesai. Kembali ke kamar kost, mengecek email baru dari Traveloka berisi rincian pemesanan. Ada instruksi untuk mencetak voucher tersebut, tapi… well, ini sudah larut malam. Lagipula gue pikir nggak usah cetak juga nggak masalah. Sejauh ini, pengalaman gue gitu sih. Tinggal book online, datang ke hotelnya, bilang mau check-in, petugas resepsionis akan memeriksa datanya, lalu selesai.

Dari seberang Museum Ranggawarsita, gue bergerak menuju Hotel Neo Candi menggunakan bus kota model lama yang belum memiliki fasilitas pendingin ruangan. Tarif sampai ke Hotel Neo Candi adalah Rp 5.000,00 — kalau nggak salah #mulaipikun.

Wan Wan Emoticons 14

Dari depan, Hotel Neo Candi tampak minimalis. Berdiri bersandingan dengan sebuah supermarket bertitel Superindo. Jadi kalau tetiba mau beli kebutuhan harian yang tidak disediakan hotel, pembalut misalnya, bisa melipir ke sebelah.

Guyuran warna putih pada dinding eksteriornya menghadirkan kesan modern dan minimalis. Kesan segar dan trendi diciptakan melalui aksen warna merah di beberapa titik. Sebuah cafe bernama Nest’Co melekat erat di bagian hotel yang menghadap ke jalan raya. Cafe itu masih merupakan bagian dari Hotel Neo Candi. Hotelnya sendiri berada di bawah naungan jaringan Aston, merujuk kepada tulisan berbunyi “by Aston” yang tertera di bawah nama hotel.

Hotel Neo Candi, Semarang, tampak depan [sumber: neohotels.com]

Hotel Neo Candi, Semarang, tampak depan [sumber: neohotels.com]

DSC_3918

Gue masuk ke dalam melalui pintu yang berada di samping hotel (jika dilihat dari arah jalan raya). Disambut dengan sebuah lobi yang bersih, nyaman, dan modern. Gue segera menghadap ke meja resepsionis untuk check-in, saat itu kebetulan sedang ada penghuni hotel yang sedang check-out sehingga gue diminta menunggu beberapa menit, duduk-duduk lucu di atas sofanya yang empuk.

Staf Hotel Neo Candi khas dengan balutan seragam warna hitam. Gaya, misterius, dan… seksi. Staf pria mengenakan topi bundar sebagai aksesoris tambahan, tetap dengan warna hitam, sementara staf wanita tampil lebih trendi lagi dengan rambut berwarna putih. Gadis berambut putih itu bahkan kayaknya jadi semacam ikon hotel, karena gue menemukan gambar karikaturnya di beberapa bagian hotel.

Staf Hotel Neo Candi, Semarang [sumber: neohotels.com]

Staf Hotel Neo Candi, Semarang [sumber: neohotels.com]

Kerepotan sempat terjadi saat mas-mas resepsionis meminta nomor pemesanan. Saat itu koneksi internet di henfon sedang dimatikan. Gue juga lupa screenshot. Jadi harus hidupin internet dulu, buka Gmail dulu, nunggu loading dulu, dan… oh, si mas berbaju hitam itu mencoba membantu dengan menanyakan channel pemesanan dan nama pemesan. Pada akhirnya gue tetap harus memberikan nomor pemesanan itu sih.

“Mau yang dua buah ranjang atau satu ranjang besar aja, Mas?” tanya staf hotel itu kemudian.

“Satu ranjang besar aja.”

Setelah proses check-in selesai, gue diberikan dua buah card key dan password wifi. Entah kenapa diberikan 2 buah kunci, karena keduanya tampak sama aja. Mungkin sebagai kunci cadangan. Mungkin.

Gue lalu bergerak menuju kamar yang berada di lantai 3 dengan menggunakan lift. Pintunya tidak otomatis tertutup, jadi harus tekan tombol dulu. Tapi itu nggak masalah. Justru lebih aman, ya ‘kan?

Lorong kamar Hotel Neo Candi di lantai 3

Lorong kamar Hotel Neo Candi di lantai 3

Keluar dari lift, gue dihadapkan dengan sebuah lorong dengan kamar-kamar hotel yang berderet di kedua sisinya. Lantai lorong dilapisi dengan permadani lembut sehingga meminimalisir suara berisik langkah sepatu pengunjung hotel. Sorot lampunya yang berwarna keperakan memberi sentuhan mewah dan elegan pada dinding hotel.

Sampai di depan pintu kamar, gue masukkan card key ke dalam slot sesuai instruksi yang tertera di belakang kartu. Lampu hijau pada kenop sesaat menyala, lalu kemudian mati dan digantikan dengan lampu berwarna merah yang kedip-kedip. Gue coba buka pintu, nggak bisa. Gue tarik kartunya keluar, lalu dimasukkan lagi, coba dibuka lagi, dan tetap nggak bisa. Hingga beberapa kali mencoba dan terus gagal, gue akhirnya menyerah dan dengan enggan turun kembali ke lantai dasar untuk bertanya kepada staf hotel.

Staf hotel berbaik hati ikut memeriksa naik memeriksa kamar. Dia meminta tolong kepada staf hotel wanita untuk in-charge sebentar. Dia meminta kunci kamar dan mencoba membukanya, dan ndilalah… duh, gue kayak orang bego banget — kartu harus segera ditarik keluar setelah dimasukkan ke dalam slot. Jadi nggak dibiarkan di dalam slot #mulaipaham.

Kamar terbuka. Gue bersorak riang gembira di dalam hati menyambut sebuah kamar berukuran 21 meter persegi yang bersih, adem, dan nyamaaannn.

Kamar Single Standard Hotel Neo Candi, Semarang [sumber: neohotels.com]

Kamar Single Standard Hotel Neo Candi, Semarang [sumber: neohotels.com]

Kamar Single Standard Hotel Neo Candi, Semarang, dilihat dari pintu masuk [sumber: neohotels.com]

Kamar Single Standard Hotel Neo Candi, Semarang, dilihat dari pintu masuk [sumber: neohotels.com]

Kamar Single Standard Hotel Neo Candi dilengkapi dengan sebuah ranjang besar yang dilapisi oleh sprei berbahan katun, pendingin ruangan yang bekerja dengan baik, televisi layar datar berukuran 32 inch dengan seabrek saluran lokal dan internasional.

Ranjang diapit oleh sepasang meja kayu built-in, sementara pesawat telepon IDD, buku catatan, alat tulis, dan buku menu tergeletak rapi di atasnya. Sebuah potret besar kehidupan urban yang gemerlap terpampang lebar di atas headboard. Ada sebuah jendela besar dengan tirai putih di satu sisi dinding kamar untuk menikmati pemandangan atau mengetahui kondisi di luar.

Telepon, note, alat tulis, dan buku menu

Telepon, note, alat tulis, dan buku menu

Di bawah pesawat televisi, terdapat sebuah meja kayu panjang, lengkap dengan satu buah kursi, menjadi tempat meletakkan seperangkat water heater; 2 buah cangkir berwarna hitam dengan sepasang sendok pengaduk; beberapa sachet kopi, teh celup, krimer, dan gula; dan sebotol besar air mineral. Sebuah colokan universal tertanam pada sisi dindingnya.

Keberadaan sachet-sachet minuman instan tersebut sedikit memberikan kelegaan karena ternyata kamar yang gue pesan ini belum termasuk dengan sarapan. Tinggal beli sebiji roti tiga ribuan, gue udah bisa sarapan dengan cukup. Meski, seingat gue, ada tulisan berbunyi “breakfast included” pada saat gue melakukan pemesanan.

Seperangkat alat ngeteh dan ngopi-ngopi ganteng

Seperangkat alat ngeteh dan ngopi-ngopi ganteng

Televisi 32 inch dan meja kerja

Televisi 32 inch dan meja kerja

Kamar mandi terletak di sudut ruangan, di sebelah kiri pintu masuk dari arah luar. Wastafelnya tampil mewah dengan pencahayaan keemasan. Dilengkapi dengan cermin, sepasang handuk putih, peralatan mandi, tempat sampah, tissue, dua botol air mineral kemasan 600 ml, sepasang gelas kaca, dan… HAIR DRYER! Colokan listriknya ada di sudut kiri wastafel pada area kering, jadi nggak usah takut korsleting atau kesetrum. Hair dryer-nya bermanfaat banget lho! Meski nggak gue pakai untuk mengeringkan rambut (atau bulu-bulu yang lain, bulu kaki misalnya), tapi akhirnya gue pakai juga untuk… mengeringkan sendal. Habis kehujanan.

Fasilitas di dalam wastafel hotel. Itu sikat gigi dan odol milik gue pribadi ya.

Fasilitas di dalam wastafel hotel. Itu sikat gigi dan odol milik gue pribadi ya.

Kamar mandi dilengkapi dengan shower minimalis yang tertanam pada dinding dan sekotak sabun cair yang juga dapat digunakan untuk shampoo. Air panasnya berfungsi dengan sangat baik. Sisi kamar mandi yang menghadap ranjang dibuat dengan dinding kaca transparan. Jadi bisa mandi sambil nonton TV, atau nonton TV sambil lihatin yang mandi.

*gagal jadi traveler syariah*

Sayang gue sendirian 😦

Tapi tenang, ada tirainya kok. Jadi kalau nggak mau mandi sambil dilihatin, tinggal turunkan tirai penutupnya.

Kamar mandi dan dinding kacanya! :D

Kamar mandi dan dinding kacanya! 😀

Wastafel dan toilet yang berdampingan

Wastafel dan toilet yang berdampingan

Gantungan baju terletak di samping pintu kamar mandi. Di bawahnya, terdapat kotak penyimpanan yang saat itu diisi dengan sepasang sendal berwarna hitam oleh pihak hotel. Ada sebuah kotak keamanan (safety box) di samping kotak penyimpanan terbuka, dilengkapi dengan penampang tombol-tombol angka untuk mengatur kode keamanan.

Safety Box Hotel Neo Candi, Semarang [pic: neohotels.com]

Safety Box Hotel Neo Candi, Semarang [pic: neohotels.com]

Gue puas dengan Hotel Neo Candi, Semarang, ini. Pelayanannya ramah, fasilitasnya lengkap, hotelnya nyaman dan bersih! Lokasinya memang nggak deket-deket amat dengan pusat kota (10 menit berkendara ke Simpang Lima), tapi tetap mudah diakses karena ada halte BRT Trans Semarang tak jauh dari hotel. Deket kok, nggak bakal kecapekan jalan deh. Bahkan koridor yang melalui Jalan S. Parman ini adalah koridor yang akan langsung mengantarkanmu menuju Simpang Tugu Muda / Lawang Sewu!

Nah, Hotel Neo Candi ini memang punya web sendiri, tapi gue cek nggak ada menu pemesanan online. Jadi, gue sarankan untuk memesan via Traveloka aja. Harganya bisa lebih murah lho! Bahkan sekarang Traveloka juga masih menjalankan program promosinya untuk launching layanan hotel ini. Double murahnya! Kalau sekalian pesan tiket pesawat… wah, bisa dapat bonus lagi. Asyik, ‘kan? 😀

 

Usai mandi dan gegoleran manja di atas kasur, hujan deras dan berangin mengguyur kota Semarang dan mengagalkan rencana gue untuk menikmati sore di Simpang Tugu Muda lalu makan malam di Warung Semawis. Bener ya, hujan adalah musuh bersama para pejalan. Alhasil, yah.. gue cuma bisa tidur-tiduran di dalam kamar hotel sambil chatting, ngeteh, browsing, dan nonton Need for Speed dari TV kabel.

Ini mah namanya #staycation atuh!

Wan Wan Emoticons 35

21 thoughts on “Review: Hotel Neo Candi, Semarang

  1. Boleh dicoba. Thanks reviewnya.
    Meski tidak termasuk breakfast, nggak apa-apa deh. Nanti kita akali soal sarapan :haha
    Oleh-oleh tahu petis dong, Bro! *datang-datang minta oleh-oleh*

  2. aaaa Hotel Neo, dulu pernah iseng waktu baru buka nginep disini karna ada promo dan bosan di kosan. Hotelnya asik dibawahnya ada super indo, jadi kalo ga dapet sarapan pun bisa beli makanan di super indonya…

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s