Itinerary 2 Minggu di Amerika Serikat & Inggris

Beberapa hari lalu, saya membaca sebuah utas di Threads yang bertanya, “Kalau punya waktu dua minggu, lebih baik fokus di Amerika Serikat atau sekalian lanjut ke Inggris?”

Pertanyaan itu langsung membuat saya membayangkan sebuah perjalanan impian. Bukan perjalanan yang terlalu padat hingga setiap hari harus berlari mengejar objek wisata, tetapi juga tidak terlalu santai sampai banyak waktu terbuang. Setelah membaca puluhan komentar, saya akhirnya menyusun itinerary versi saya sendiri: tujuh hari di Amerika Serikat dan tujuh hari di Inggris.

Hari 1: Tiba di New York

Karena biasanya penerbangan dari Asia cukup melelahkan, hari pertama saya akan dibuat ringan. Setelah check-in hotel di Manhattan, saya akan berjalan santai mengelilingi area Times Square, Bryant Park, dan Grand Central Terminal.

Tujuannya bukan berburu checklist wisata, melainkan menyesuaikan diri dengan ritme kota. New York adalah kota yang paling nikmat dinikmati sambil berjalan kaki. Duduk di taman, mengamati orang berlalu-lalang, dan merasakan energi kota yang nyaris tidak pernah tidur.

Malam hari ditutup dengan makan malam sederhana sebelum beristirahat lebih awal.

Hari 2: Manhattan Klasik

Hari kedua didedikasikan untuk ikon-ikon New York.

Pagi dimulai dari Central Park, dilanjutkan ke Museum Mile atau salah satu museum yang menarik perhatian. Siang hari saya akan turun ke Fifth Avenue dan Rockefeller Center sebelum menuju Top of the Rock atau Empire State Building menjelang sore.

Momen favorit saya biasanya bukan saat berada di puncak gedung pencakar langit, melainkan ketika matahari mulai tenggelam dan lampu-lampu kota perlahan menyala.

Hari 3: Downtown Manhattan dan Chelsea

Hari ketiga adalah hari untuk menjelajahi sisi New York yang lebih santai.

Pagi hari berjalan di High Line, taman unik yang dibangun di atas jalur kereta tua. Dari sana perjalanan berlanjut ke Chelsea Market yang selalu ramai dengan berbagai pilihan makanan.

Di sinilah saya ingin mampir ke Bar Suzette. Setelah berjalan cukup jauh sepanjang pagi, menikmati crêpe hangat dan secangkir kopi terasa seperti hadiah kecil yang sempurna. Tempat seperti ini mengingatkan bahwa pengalaman kuliner sering kali sama berkesannya dengan mengunjungi landmark terkenal.

Sore hari bisa dilanjutkan ke Hudson Yards atau naik kapal melihat Patung Liberty dari kejauhan.

Hari 4: Brooklyn dan DUMBO

Hari keempat lebih santai.

Menyeberangi Brooklyn Bridge di pagi hari, menikmati pemandangan skyline Manhattan dari DUMBO, lalu menghabiskan waktu di kafe-kafe lokal. Saya termasuk orang yang lebih suka menikmati suasana kota daripada mengejar terlalu banyak objek wisata.

Malamnya kembali ke Manhattan untuk menikmati Broadway atau sekadar berjalan-jalan menikmati suasana malam.

Hari 5: Washington D.C. Day Trip

Dari New York, saya akan naik kereta cepat menuju Washington D.C.

Satu hari cukup untuk melihat White House, National Mall, Lincoln Memorial, dan beberapa museum Smithsonian yang gratis. Meski singkat, perjalanan ini memberi perspektif berbeda dibanding New York yang sangat dinamis.

Malam hari kembali ke New York.

Hari 6: Hari Bebas di New York

Hari keenam saya sengaja kosongkan.

Bisa digunakan untuk berbelanja, mengunjungi tempat yang belum sempat didatangi, atau sekadar menikmati pagi yang santai di kafe lokal. Dalam perjalanan panjang, hari tanpa agenda sering kali justru menjadi hari yang paling menyenangkan.

Hari 7: Terbang ke London

Pagi terakhir di New York dimanfaatkan untuk sarapan santai sebelum menuju bandara.

Penerbangan menuju London biasanya tiba keesokan paginya karena perbedaan zona waktu.


Inggris

Hari 8: London Pertama Kali

Setelah tiba di London, saya tidak akan langsung memaksakan diri mengunjungi banyak tempat.

Cukup berjalan di sekitar Westminster, melihat Big Ben, Houses of Parliament, dan menyusuri tepi Sungai Thames. London adalah kota yang paling nikmat dinikmati dengan berjalan kaki.

Malam hari menikmati suasana Covent Garden sebelum kembali ke hotel.

Hari 9: Ikon London

Hari ini fokus pada objek wisata utama.

Buckingham Palace, St James’s Park, Trafalgar Square, hingga British Museum. Jika masih punya energi, sore hari bisa naik London Eye untuk melihat kota dari ketinggian.

Hari 10: Notting Hill dan Portobello Road

Ini adalah salah satu area favorit saya di London.

Rumah-rumah berwarna pastel, toko buku independen, dan suasana lingkungan yang jauh lebih santai dibanding pusat kota. Cocok untuk menghabiskan setengah hari tanpa terburu-buru.

Hari 11: Day Trip ke Oxford

Naik kereta sekitar satu jam dari London.

Oxford menawarkan suasana kota universitas yang sangat berbeda. Berjalan di antara bangunan-bangunan tua dan perpustakaan bersejarah selalu terasa seperti masuk ke halaman novel.

Malam kembali ke London.

Hari 12: Menuju Manchester

Hari ini waktunya berpindah kota.

Kereta dari London ke Manchester hanya memakan waktu sekitar dua jam lebih sedikit. Setelah check-in hotel, saya akan menghabiskan sore hari menjelajahi pusat kota, Northern Quarter, dan kanal-kanal tua yang menjadi bagian dari sejarah industri Inggris.

Hari 13: Menjelajahi Manchester

Pagi hari bisa mengunjungi museum atau stadion sepak bola bagi yang menyukai olahraga.

Siang hingga sore saya akan berburu kuliner. Salah satu tempat yang menarik perhatian saya adalah www.oodlesnoodlesmcr.com. Setelah hampir dua minggu menikmati makanan Barat, menemukan hidangan bercita rasa Asia biasanya terasa sangat menyenangkan. Ada rasa familiar yang membuat tubuh seperti diingatkan pada rumah.

Malam hari menikmati suasana kota sebelum perjalanan segera berakhir.

Hari 14: Kembali Pulang

Hari terakhir tidak perlu dipenuhi agenda besar.

Sarapan santai, berjalan sebentar menikmati udara pagi Manchester, lalu menuju bandara dengan koper yang mungkin sedikit lebih berat dibanding saat berangkat.

Karena pada akhirnya, oleh-oleh terbaik dari perjalanan bukanlah barang yang dibeli. Melainkan cerita, pengalaman, dan kenangan yang akan terus diceritakan berulang kali setelah kita kembali ke rumah.

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Matius Teguh Nugroho

keep learning by traveling

Duo Kembara

Cerita Si Kembar dan Mommy Ara menghadirkan kebaikan

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

Teppy & Her Other Sides

Stories, thoughts, places...

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

LIZA FATHIA

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

papanpelangi.id

sebuah blog perjalanan

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Jurnal Evi Indrawanto

Traveling, Budaya, dan Lika-Liku Wirausaha.

Plus Ultra

Stories and photographs from places “further beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Seeing, feeling, and exploring places and cultures of the world

Winny Marlina

Winny Marlina - Whatever you or dream can do, do it! lets travel

Olive's Journey

What I See, Eat, & Read

tindak tanduk arsitek

Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.

dananwahyu.com

Menyatukan Jarak dan Waktu