1 Hari di Jakarta: LRT Jabodebek, Trinity Tower, dan Stasiun Tanah Abang Baru

Agenda menjelajah Jakarta seharian itu sudah lama merasuk pikiranku. Ada banyak sekali hal yang ingin kulihat dan kulakukan di ibukota, terakhir kali aku benar-benar bertualang di sana mungkin tahun 2019 silam. Selebihnya, hanyalah kunjungan-kunjungan singkat urusan pekerjaan yang tak mengukir banyak kesan dan cerita. Namun akhirnya, beberapa waktu lalu aku menyambanginya dengan lebih layak, mengunjungi FamilyMart Trinity Tower dan Stasiun Tanah Abang Baru, dua mimpi kecilku sebagai seorang pecinta kereta. 

Aku sengaja berangkat ke Jakarta pukul 4:15 subuh meski agenda meeting sebetulnya dijadwalkan pukul 11:00. Akan ada jeda waktu cukup lama antara estimasi kedatanganku di Jakarta hingga rapat benar-benar dimulai. Ya, memang itulah yang kuharapkan terjadi dalam perjalanan kali ini. Maka ketika sekitar pukul 7 pagi bus Baraya Travel yang kunaiki itu sudah menyusuri Jalan H. R. Rasuna Said, perasaan gembira membuncah di dadaku. 

Bus Baraya Travel dan momen kedatangan di Jakarta

Sebelum bus Baraya merapat di perhentian terakhirnya, aku minta diturunkan dari bus lalu sedikit berjalan kaki menuju Stasiun MRT Bundaran HI. Sempat bingung mau bayar MRT pakai apa karena aku tidak membawa kartu Flazz yang biasa ada di dompetku (berkat twins yang kapan hari menyerakkan semua isinya), namun lalu aku menemukan metode pembayaran digital melalui aplikasi Jaklingko. Aku masuk ke dalam stasiun bawah tanah itu, berbaur dengan keramaian pagi MRT yang masih terkendali.


Stasiun LRT Dukuh Atas

Hanya satu perhentian, aku sudah tiba di stasiun tujuan. Hiruk-pikuk para pekerja ibukota menyambutku begitu aku menyembul keluar dari Stasiun MRT Dukuh Atas. Titik yang mempertemukan MRT, LRT, KRL, dan BRT TransJakarta itu membuat ratusan orang pagi itu berderap dengan langkah cepat, kadang ada yang berlari, dari stasiun yang satu ke stasiun lainnya. 

Aku tak langsung masuk ke Stasiun LRT Dukuh Atas, sejenak mengamati dan meresapi denyut nadi Jakarta yang sedang berdegup kencang di pagi ini. 

Suasana sekitar Stasiun Dukuh Atas pagi itu
Terowongan Kendal, akses pejalan kaki antarmoda di kawasan Dukuh Atas

Orang-orang berderap masuk ke dalam stasiun bawah tanah Dukuh Atas. Berlalu-lalang dengan irama cepat memenuhi lorong Terowongan Kendal yang menjadi penghubung keempat stasiun. Berduyun-duyun masuk dan keluar dari Stasiun Sudirman yang berada dalam puncak kepadatan. Sebagian lainnya menyempatkan diri membeli sarapan dan menyeruput kopi dari gerobak dan kedai-kedai jalanan.

Kali ini, mau nggak mau aku harus membeli kartu multitrip commuter line. Gerbang masuk KRL rasanya belum mendukung pemindai kode QR, sementara aku harus tap-in lalu tap-out lagi di Stasiun Sudirman untuk mengakses Stasiun LRT Dukuh Atas. Akses yang “unik” memang, harus masuk stasiun lain dulu untuk menuju stasiunnya sendiri. Semoga kelak Stasiun LRT Dukuh Atas memiliki direct access sendiri yang terhubung dengan stasiun MRT dan KA Bandara. 

Aku naik ke area concourse di lantai 2, membeli kartu commuter line seharga Rp40 ribu (lumayan ya, untung di-reimburse kantor) lalu turun lagi ke bawah.

Stasiun MRT Dukuh Atas

Damn. Peron 1 Stasiun Sudirman itu sudah penuh sesak dengan para penglaju yang merayap ke arah pintu keluar, mungkin mereka baru turun dari kereta atau limpahan dari LRT. Aku dan beberapa orang lainnya berjalan menyeruak melawan arus dibantu oleh beberapa petugas yang mengatur lalu lintas penumpang.

Aku akhirnya tiba di JPM Dukuh Atas yang menghubungkan Stasiun Sudirman dengan Stasiun LRT Dukuh Atas. Sesungguhnya, jembatan pejalan kaki ini sudah nyaman dan aman meski tidak sepenuhnya tertutup. Di sepanjang jalan, ada banyak kedai makan dan kios komersil lainnya, seperti Shokupan, Roti O, Teh Kotjok, bahkan gerai Jete. Ada satu kedai makan yang menarik perhatian, namanya Teh Tarik Penang, menyediakan aneka minuman khas Malaysia dan kaya toast. Sepertinya tidak ada menu makanan berat, tapi cukuplah buatku untuk sarapan. Mungkin di lain waktu, saat tidak terburu-buru, aku akan sempatkan bertamu. 

Pemandangan dari JPM Dukuh Atas
Vendor-vendor komersil di JPM Dukuh Atas

JPM Dukuh Atas juga menjadi titik mengambil foto yang menarik. Rail enthusiast sepertiku akan betah berlama-lama di sini mengamati hilir-mudiknya KRL Commuter Line, LRT Jabodebek, dan gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang mengerubunginya. 

Sayang, aku mencium aroma yang kurang sedap dari Sungai Ciliwung di bawah sana. Sepertinya sudah agak kotor, karena di video-video yang kutonton di Youtube sungai masih terlihat cukup bersih.

Akhirnya, aku tiba di Stasiun LRT Dukuh Atas yang, saat itu di kisaran pukul 8 pagi, masih cukup sibuk.

Stasiun-stasiun LRT Jabodebek, seperti Stasiun Dukuh Atas ini, dirancang dengan cukup pantas dan sesuai standar urban transit system modern. Di concourse area ada gerbang masuk/keluar (yang meski agak jadul seperti gerbang tiket stasiun KRL Jakarta dan MTR Hong Kong), mesin tiket, loket petugas, lift, dan toilet. Karena tidak seluas stasiun MRT dan KRL, aku tidak melihat banyak vendor komersil di dalam stasiunnya sendiri. 

Stasiun LRT Dukuh Atas
Akhirnya kesampaian juga naik LRT Jabodebek

Naik ke peron di lantai atas, ada automatic platform screen doors (pintu peron otomatis). Rangka-rangka bajanya menopang atap lengkungnya yang minimalis dan ergonomis. Ada jam, papan informasi digital, peta jaringan, dan bangku tunggu sederhana. Desain stasiun yang utilitarian seperti ini mengingatkanku dengan stasiun-stasiun BTS Bangkok dan LRT Kuala Lumpur


FamilyMart Trinity Tower

Kereta LRT Jabodebek pun datang, diguyur dengan dominasi warna merah. Setelah memasuki kabin, aku akhirnya merasakan yang dikeluhkan beberapa penumpang bule. Bangku penumpang terasa agak pendek, dan langit-langit kabin pun agak rendah. Tapi untungnya tetap nyaman, bersih, dan dingin.

LRT Jabodebek, karya buatan anak bangsa

Ternyata, perjalananku cukup singkat, stasiun tujuanku hanya satu perhentian. Padahal, perjalanan dengan LRT Jabodebek ini lebih menyenangkan daripada dengan MRT karena menggunakan jalur layang (elevated) yang membelah padatnya kawasan pusat distrik bisnis Jakarta. 

Tiba di Stasiun Rasuna Said, aku turun. Oleh petugas stasiun, aku diberitahu untuk keluar melalui Exit B bila ingin menuju Trinity Tower. Berdasarkan Google Maps, jarak berjalan kaki menuju Trinity Tower hanyalah sekitar 500 meter, masih sangat within walking distance. Aku berjalan melalui Hotel J. S. Luwansa yang kukunjungi beberapa waktu lalu ketika ada kegiatan buka bersama di kantor sebelumnya. 

Stasiun LRT Rasuna Said

FamilyMart Trinity Tower yang viral itu ada di lantai 3 yang dapat diakses menggunakan lift. Informasi ini aku dapatkan dari seorang mbak-mbak kantoran yang sedang membeli kopi di lantai dasar, karena petunjuk dari bapak satpam yang kurang jelas dan tidak adanya papan petunjuk. Bahkan, logo FamilyMart aja nggak kelihatan dari luar.

Begitu keluar lift, tinggal berbelok ke kiri, FamilyMart ada di ujung lorong bersisian dengan sebuah restoran. Jadi, memang ada beberapa vendor di gedung ini, nggak harus ke FamilyMart. Kalau lagi pengen makan berat dengan porsi pantas, restoran di sebelahnya itu juga nggak mahal kok. 

Aku membeli dua buah roti dan Es Kopi Susu Keluarga yang totalnya tidak sampai Rp30 ribu. Cukuplah untuk teman mengamati LRT wara-wiri sebentar karena aku juga tidak bisa terlalu lama di sini. Ada satu seating area besar di tengah ruangan, bilik-bilik kecil di salah satu sisi, dan satu area duduk komunal. Aku memilih duduk di salah satu kursi di tepi ruangan dengan jendela yang menghadap jalur LRT. 

Satu hal yang tidak diungkap dari video-video di TikTok itu, adalah bahwa view LRT tidak benar-benar bebas penghalang. Maksudku, untuk benar-benar mendapatkan panorama jalur LRT Jabodebek yang terbuka, kita harus keluar ke balkon. Dan, di balkon itu nggak ada kursi atau tempat duduk apapun.

FamilyMart Trinity Tower

Ah, aku senang salah satu mimpi kecilku terwujud meski tidak sedang dalam cuaca dan momen terbaik. Sekitar pukul 10:30, aku menyudahi kunjunganku di Trinity Tower lalu naik ojol untuk bertemu salah satu klien di kawasan Jl. Majapahit, Jakarta Pusat. 

Singkat cerita, setelah meeting bersama klien, aku diajak WFC oleh direktur sekaligus owner kantorku saat ini di Starbucks Tatapuri yang ternyata persis di dekat Stasiun Sudirman atau Stasiun MRT Dukuh Atas.


Stasiun Tanah Abang Baru

Sekitar pukul 17:20, aku berjalan kaki menyongsong langit sore yang indah menjadi latar pintu masuk Stasiun MRT Dukuh Atas dan Stasiun BNI City. Di belakangnya, Gama Tower menjulang setinggi 288 meter menantang langit, seolah menjadi episentrum dari gedung-gedung perkantoran yang berdiri lebih rendah mengelilinginya. Beberapa pekerja berjalan kaki di sepanjang trotoar bersamaku. Masih tenang, menyenangkan, tak seperti peron Stasiun Sudirman yang kuhadapi beberapa saat kemudian.

Mungkin for the first time since forever, aku merasakan lagi menjadi pindang manusia di dalam KRL Commuter Line arah Kampung Bandan yang kunaiki dari peron 1 itu. Betul-betul penuh sesak! Aku berdiri di depan pintu, nyaris tak kebagian tempat. Tanganku tak bisa menggapai hand-grip di bagian atas kabin karena sudah ada penunggunya masing-masing. Selama perjalanan singkat itu, aku hanya berpegangan pada iman.

Jadi, mohon maaf tidak ada foto bukti otentik, karena tangan kananku melayang tanpa sesuatu untuk berpegangan, tapi juga tak bisa diturunkan.

Stasiun Sudirman yang padat sore itu
Tiba di Stasiun Tanah Abang Baru

Setelah dua perhentian—Stasiun Sudirman Baru (BNI City) dan Stasiun Karet—aku tiba di Stasiun Tanah Abang. Aku melangkah keluar berbondong-bondong bersama ratusan penumpang lainnya. Sebagai sebuah stasiun besar dan major transit hub—pertemuan KRL Cikarang Line, KRL Rangkasbitung Line, KRL Soekarno-Hatta Airport, dan integrasi ke BRT TransJakarta—Tanah Abang menjadi stasiun perpindahan moda populer bagi masyarakat Jabodetabek. Dengan sigap aku melipir ke tepi peron agar tidak mengganggu mobilitas penumpang yang berjalan cepat keluar peron, sembari mengabadikan kehidupan yang sedang berdenyut kencang di hadapanku.

Stasiun Tanah Abang kini sudah direvitalisasi menjadi lebih modern, lebih luas, dan lebih sesuai standar sebuah stasiun pengangkutan massal perkotaan. Peronnya pun lega, rapi, bersih, yang sudah setara dengan stasiun-stasiun KA komuter di KL atau Bangkok. Aku suka desain interior dan lighting di Stasiun Tanah Abang Baru ini, kuat sentuhan modern industrialis dengan rangka baja, dinding kaca di satu sisi, dan pencahayaan keemasan. Jauh berbeda dengan Stasiun Tanah Abang Lama yang aku sambangi sekitar satu dekade lalu.

Lantai dasar Stasiun Tanah Abang Baru

Lantai 1 ini dilengkapi dengan toilet (termasuk toilet untuk kaum disabilitas), nursery room, beberapa area duduk, tangga beserta eskalator, papan informasi digital, dan tentu saja gerbang tiket. Aku kok nggak notice ada lift ya, antara memang nggak ada atau aku yang tidak memperhatikan.

Belum ada vendor komersial di Stasiun Tanah Abang Baru ini, masih begitu lapang.

Naik ke lantai 2, lebih lapang dan kosong lagi, tapi tetap ada toilet. Lantai 2 ini baru ramai saat ada kereta berhenti karena menjadi akses untuk berganti peron ke lintasan KRL yang lain. Tangga dan eskalator penuh, lalu orang-orang akan berjalan cepat bahkan berlari menuju peron yang mereka tuju. Di sisi ruangan yang menghadap bagian depan stasiun, ada seating area yang lebih nyaman dengan sofa dan fasilitas pengisi daya untuk ponsel-ponsel yang sudah lelah.

Lantai atas Stasiun Tanah Abang Baru
Para penglaju di Stasiun Tanah Abang Baru
Akhirnya bisa mampir ke Stasiun Tanah Abang Baru

Setelah cukup mengobservasi area dalam, aku akhirnya tap kartu CommuterLine-ku untuk mengeksplor apa yang ada di luar paid area dan bagian depan stasiun. Aulanya tinggi dan luas, dengan ticketing gate yang banyak berjajar untuk mengakomodir tingginya mobilitas penumpang di Tanah Abang. Ada beberapa orang yang duduk-duduk di undakan, dan di sisi kanan (dari arah dalam) ada bangunan Stasiun Tanah Abang yang lama. Masih aktif, aku bisa melihat vendor-vendor komersil di dalamnya, mungkin menjadi akses masuk lain tergantung lin KRL yang ingin dinaiki.

Stasiun Tanah Abang memiliki halaman yang luas, diisi dengan jalur pejalan kaki yang terintegrasi dengan halte BRT TransJakarta, area parkir kendaraan pribadi, dan terminal angkot. Aku suka dengan suasana di halaman Stasiun Tanah Abang ini. Gimana menggambarkannya ya… ada area publik luas yang bersih, gedung-gedung di belakangnya, lampu-lampu malam hari. Mungkin, aku adalah satu dari segelintir orang di dunia ini yang lebih menikmati kehidupan bersama hiruk-pikuknya kota besar daripada tenangnya pedesaan. 

Bagian depan Stasiun Tanah Abang Baru

Mendekati ujung cerita perjalanan ini, aku memesan ojol yang mengantarkanku ke Baraya Travel Sarinah. Driver-nya sat-set dan nggak sabaran, sampai nekad memotong pembatas jalan rendah itu, huhu. Tapi memang lalu lintas Jakarta sedang sangat macet dan keos di puncak jam pulang kerja itu. Pukul 19:00, aku sudah duduk ganteng di dalam mobil Baraya Travel yang mengantarkanku menuju Bandung kembali, bertemu istri dan putri kembar kesayangan.

Sebelumnya, aku ada beberapa kali kesempatan ke Jakarta—2 kali ke kawasan Blok M, dan 1 kali ke Hotel J.S. Luwansa. Namun, dalam ketiganya waktuku habis untuk bekerja, foto-foto hanya asal jepret dan video-video asal rekam sehingga tak ada nyawa dan cerita. Mau ditulis di blog pun bingung, karena hanya disempet-sempetin sebelum dan setelah bekerja, paling-paling hanya menjadi stok dokumentasi bila nanti sewaktu-waktu dibutuhkan.

Namun, kunjungan kali ini berbeda, aku memiliki waktu yang cukup untuk mengunjungi, mengamati, dan meresapi. Terima kasih untuk perjalanan kecil hari ini, Tuhan. Setidaknya 3 impian kecilku: naik LRT Jabodebek, mampir ke Trinity Tower, dan bertamu ke Stasiun Tanah Abang Baru, sudah kesampaian. Selanjutnya, ke mana lagi Kau akan membawaku? Terima kasih untuk pembaca yang sudah bertahan sampai di sini, keep learning by traveling~

27 komentar

  1. avatar Fanny Nila

    waaaah beneran 1 hari dari bandung ke JKT ya mas 😅👍👍. Mana di hari kerja pula, di mana2 stasiun udah pasti ruameeee . Masih kebayang lah pas aku zaman kerja dulu, walaupun desak2an nya di atas transJ, Krn kalau aneka perkeretaapian di JKT, memang ga pernah naik 😅.

    cuma aku dan si sulung udh plan, mau belajar naik MRT, LRT, KRL, trus ntr jalan2 sampe Rangkasbitung mungkin 😅🤣. Anggab aja traveling yg deket2 . Karena baca tulisan mas Nugie, aku JD tahu bentuk bagian dalam stasiun dukuh atas , Stasiun rasuna said, dan bagian dalam LRT Jabodetabek.

    kalau stasiun Sudirman memang ga usah tanya lah pas jam kerja dan pulang. Kalau kata temenku, ikan pepes banget 😅🤣.

    stasiun tanah Abang yg baru, cakeeep ih. Memang kliatan jauh lebih nyaman yaaa. Sejujurnya aku sama juga sih, kalau disuruh pilih tinggal di kota yg hiruk pikuk atau desa yg tenang, aku bakal pilih kota dengan segala keributannya 😅. Desa itu utk liburan aja. Utk tinggal jk panjang, aku ga bakal cocok.

    1. avatar dee stories

      mas nugi menuliskan cerita ini dengan runtun

      baca ini aku jadi bisa membayangkan, asyiknya berpindahu tempat di Jakarta karena fasilitas transportasi umumnya yang sangat memadai

      Duh, jadi kangen Jakarta

  2. avatar Teh Okti

    Mengikuti perjalanan Mas Nugi sehari di Jakarta, khususnya mengamati stasiun yang modern dan baru itu, saya jadi teringat waktu libur kerja saat masih di negara orang

    Kaya gitu, liburan saya isi dengan melancong, cukup menuju stasiun, beli roti dan minum khas di sana yang tentu saja termasuk murah walaupun kalau dirupiahkan termasuk wah juga

    Begitulah waktu libur saya termasuk irit karena hanya jalan dan duduk. Tahun 2000an LRT, MTR dan sejenisnya kan masih belum ada di Indonesia. Pas saya kerja ke luar negeri kan jadi takjub tuh

    Mengamati LRT yang wara-wiri sambil duduk di area besar di tengah ruang duduk, melihat orang yang berlalu lalang dengan segala gaya, pakaian dan tatanan rambut yang macam-macam. Saat kerja dengan hiburan seperti itu saja udah senang…

  3. avatar Mang Duyeh
    Mang Duyeh · · Reply

    Wah menarik ini, saya juga sampe sekarang belum kesampaian untuk bisa merasakan LRT dan MRT, kalau gak ada kepentingan entah kapan lagi bisa ke Jakarta.

    udah lama banget hampir tahunan gak pernah ke jakarta lagi, sekalinya kesana cuma sebentar, waktunya mepet

    Jalan satu -satunya sepertinya memang harus seperti ini sengaja untuk menghabisakan satu hari ini untuk mencoba naik MRT dan LRT.

    Harus direncanakan seperti ini nih, kayaknya seru juga, tapi harus mempelajari dulu rute – rutenya, takutnya malah nyasar nih.

  4. avatar April Hamsa

    Di antara semua stasiun aku paling suka kawasan Dukuh Atas/ Sudirman ini karena menghubungkan banyak moda transportasi. Iya sih masih banyak kurang2nya, kek konektivitasnya agak2 gimana gitu, tapi masih mayan lha ya ditempuh jalan kaki hehe 😀 Kalau LRT sana konek ke MRT keknya masih bingung aksesnya, mungkin karena itu kudu masuk stasiun KRL dulu hehe.

    BTW aku malah belum pernah nih mas ke gedung Trinity haha. Sering sih lihat Family Mart-nya yang viral. Owalah ternyata deket LRT Rasuna Said tooo 😀 Kapan2 mau coba juga ah. Oh ya aada perpus baru juga di deket sana yang lagi heits juga, lho.

    Kalau ke Tanah Abang ini hampir makanan sehari2ku hehe. Aku penduduk/ penumpang greenline yang selalu ada dramanya itu, mulai dari bebek naik kereta sampai kasur dibuang di rel haha 😀

    Kapan2 naik greenline mas, trus ke arah stasiun ujung Rangkasbitung (2 jam). Banyak yang menarik juga di sana. Stasiunnya juga cakep karena udah direnov 😀

  5. avatar dindapranata17

    Seru banget mengikuti perjalanan sehari dari Bandung ke Jakarta ini, Mas. Berangkat pagi-pagi dari Bandung demi mencoba LRT Jabodebek, mampir ke Trinity Tower, sampai melihat Stasiun Tanah Abang yang baru benar-benar luar biasa.

    Aku begitu familiar lho sama Stasiun Dukuh Atas ini, cuma aku lupa kemana dulu aku naik keretanya. Pokoknya aku inget rutenya ngelewati stasiun yang deket sama UI itu. huehehe.. Dan satu-satunya stasiun selain dukuh atas yang pernah kusinggahin dulu pasar senin. Kaget juga ya sama stasiun tanah abang yang padet. Keinget nama pasar di sana. 😀

    Baca perjalanan kayak gini, bener-bener kayak diajak jalan tapi lewat imajinasi. Ah, semoga bisa nyobain juga jalan-jalan nge-tem kereta dari stasiun ke stasiun antar kota. Jadi kayak healing tipis-tipis sambil mengumpulkan ide tulisan.. 😀

  6. avatar Tukang Jalan Jajan

    Sebagai sesama peminat transportasi, rasanya ikut ngeliat langsung hiruk-pikuk transit hub Dukuh Atas sama wajah baru Stasiun Tanah Abang. Jalur melayang LRT emang juara sih buat nikmatin pemandangan kota, apalagi dipadu tempat nongkrong santai di Trinity Tower.

    Kalau ngomong masalah bersih dan ketepatan waktu mungkin jauh lebih baik dari yang dulu ya kak, tapi kalau masalah desak-desakan di KRL sore hari emang teteeeep butuh perjuangan hehehehe, khas penglaju Jakarta banget itu! Senang deh mimpi-mimpi kecilnya bisa terwujud di sela agenda kerja.
    Terus Semangat berjuang yah kak!

  7. avatar Avi

    Mengamati aktivitas di stasiun dan naik LRT bisa jadi pengalaman yang menyenangkan ya, Kak Nugie. Nah ternyata kalau naik kereta juga gak perlu takut lapar karena banyak yang jualan.

    Jadi …kalau mau berangkat kudu re-check dompet dulu biar kartu flazz kebawa.

  8. avatar Ria

    Seru banget itinerary seharian di Jakartanya! Kombinasi menjajal LRT Jabodebek, main ke Trinity Tower, sampai lihat wajah baru Stasiun Tanah Abang benar-benar memperlihatkan modernisasi Jakarta yang makin nyaman untuk ditelusuri. Tulisan yang sangat menginspirasi buat weekend gateway singkat, terutama bagi para turis lokal ataupun luar. Tentunya sih disarankan agar mencoba di luar jam sibuk ya. Biar gak kegencet pas rush hour. Harapan saya, agar ke depannya juga lebih ramah pada pengguna kursi roda.

  9. avatar fennibungsu.com

    jalan-jalan pakai transum di Jakarta sebenarnya se-seru itu memang Kak, yang penting tahu kapan waktu yang bagusnya, soalnya kan biar ga kena rush hour yang pada berangkat atau pulang kerja. Tapi ya sayangnya momen cakepnya memang pas rush hour sih, bisa melihat sunset dan sunrise atau view cakep lainnya wkwkwk.

  10. avatar Yuni Bint Saniro

    Buat yang demen bepergian dengan transportasi umum, semacam LRT, MRT dan kawan-kawannya, transformasi stasiun menjadi modern begini tuh jadi menarik. Apalagi stasiun Tanah Abang-nya. Keren.
    Aku sudah lama sekali sejak mampir ke stasiun tanah abang terakhir kali. Masih belum begini modelannya.

  11. avatar Yonal Regen

    Baca perjalanan Mas Nugie mengingatkan saya pada masa-masa merantau dulu di Jakarta dengan segala dinamikanya, termasuk ihwal transportasi umum. Memang sangat hectic in every single day, tapi jujur.. ada perasaan kangen dengan suasana ‘pepes ikan’ itu 🙂

    So, thank you telah mengobati sedikit kangen saya dengan Jakarta melalui tulisan dan foto-foto Mas Nugie ini. Saya pun kalau ada kesempatan ke Jakarta selalu menyempatkan menikmatinya di antara hiruk-pikuk keperluan lain, sesederhana duduk sambil memperhatikan lalu lalang manusia di stasiun KRL, karena memang tak setiap hari bisa merasakan momen Jakarta seperti ini

  12. avatar @nurulrahma

    Wohooo serunyaaa ikutan kak Nugie halan halan virtualll

    Aku sebagai warga Suroboyo juga mupeenggg punya fasilitas yang serba ciamik kyk transumnya warga Jakarta ini.

    Sekitar 2 tahun lalu, aku pernah naik Whoosh dari BDG menuju Halim. Trus janjian ama beberapa emak blogger di Blok M Square.

    Nah, saat itulaahh kesempatan untuk menjajal transum! Rada takut nyasarr sih (karena jalannya kan jauuhhh) tapi gapapalah, waktu itu aku ditemani anakku dah remaja . Doi yg lebih PD

    Jadi yha kami naik LRT, turun kawasan Dukuh Atas/ BNI City… lalu jalaaannn lewat terowongan (Kendal?)yg banyak muralnya ituuu, kemudian ganti MRT, turuun di st Blok M.

    Hamdalah, ngga nyasaarrr

  13. avatar Heni Hikmayani Fauzia

    Puas banget yaa mas seharian puterin Jakarta. Keren kereen ya penampakan stasiun kereta di Jakarta terlihat bersih dan baguus bangunannya. Udah kaya bandara bersih….kereta juga bagus² LRT,MRT terus satu lagi apa KRL Commuter yaa…meskipun dempet dempetan di KRL tapi namanya transportasi umum bebas macet pasti akan selalu jadi pilihan masyarakat.

  14. avatar ayanapunya

    wah baca ini aku jadi kangen jakarta tapi sebagai pendatang aja. Hehe. apalagi tahun 2023 itu aku juga sempat nyobain MRT jakarta dan jalan-jalan ke beberapa tempat sendirian naik Transjakarta. Untuk orang yang jarang jalan-jalan sendirian hal itu prestasi banget sih buatku

  15. avatar Lala

    Keren banget, sudah mampirin ke FamilyMart Trinity Tower. Aku yang warga Jabodetabek aja belum kesampaian soalnya kayak nggak pernah ada momen ke arah situ.

    Baca artikelnya, berasa happy banget. Salah satu impian kecil bisa terwujud dalam waktu sekali berkunjung. Mulai dari naik LRT, nongkrong di FamilyMart Trinity Tower, sampai dengan naik KRL ke stasiun Tanah abang yang semakin luas.

    Semua tergambar jelas. Sebagai pengguna KRL dalam keseharian, di jam sibuk memang selalu padat penumpang, kendaraan andalan yang super terjangkau.

    Di tunggu cerita-cerita menarik lainnya seputar kereta. Semangat berkarya.

  16. avatar Bambang Irwanto
    Bambang Irwanto · · Reply

    Wah, serunya perjalanan kali ini, Mas Nugie. Walau hanya seharian di Jakarta, ttapi waktunya sangat dimaksimalkan. Tidak hanya menyelesaikan urusan di Jakarta, tapi sekalian jalan-jalan ke beberapa tempat. Kalau naik LRT atau MRT di hari kerja masih nyaman ya, Mas. Tapi kalau KRL, jangan harap, apalagi jam berangkat dan pulang kerja. Bisa masuk ke dalam gerbong saja sudah syukur. Kalau mau nunggu lega, ga bakal naik-naik hehehe.Iya, stasiun Tanah Abang sudah sangat bagus. Hanya kalau transit mau ke Rangkas Bitung agak jauh jalannya. Tapi jujur sih, transportasi di Jakarta sudah sangat mendukung karena saling terintegrasi. LRT, MRT, Transjakarta, KRL, dan MIkrotrans. Sttt… saya malah pengin ke Bandung seharian, Mas. Kebetulan ada poll Baraya dekat tempat tinggal saya. Nanti turunnya di poll Baraya depan alun-alun Bandung.

  17. avatar Srie Ummu Royaaishwa
    Srie Ummu Royaaishwa · · Reply

    Setelah membaca tulisan ini saya semakin penasaran ingin mencoba naik MRT atau LRT. Tapi entah kapan mimpi itu bisa terwujud. Jadi untuk sementara harus cukup happy meskipun hanya bisa ikut traveling online dengan cara membaca tulisa kawan-kawan.

  18. avatar Didik Purwanto
    Didik Purwanto · · Reply

    wah ini view paling viral dan paling banyak dishare di sosmed nih. Family Mart Trinity Tower. Berasa kayak di Jepang atau kota2 besar lain, kyk di Singapura atau Bangkok, Thailand ya kang.

    Duh jadi pgn traveling ke Jakarta lagi, cobain semua transumnya. Dulu cuman pernah naik MRT aja. LRT Jabodebek blm dibangun.

    Smg makin sukses nih kerjaannya dan bisa jalan2 lagi ke Jakarta dgn segala keunikannya ya kang.

  19. avatar fajarwalker
    fajarwalker · · Reply

    Memang Dukuh Atas ini surganya railfans ya mas. Soalnya 3 moda transportasi, tumpah ruah disini. KRL, MRT, dan LRT Jabodebek ngumpulll semuanya. Bahkan di fase berikutnya, LRT Jakarta pun sudah dijadwalkan bakal berlanjut sampai kesini, hihihi. Makin mantap aja lah yaaa…

    Sayangnya kenapa bosnya ngajak WFC di Starbucks Tatapuri mas. Padahal mah lurus dikit ajaa.. turun di cawang, kan ada Coworking space gretongan, hihihi.

    Kapan ada waktu senggang, mari berkeliling ria lagi di sudut Jakarta mas. Siapa tau, ada hal menarik yang bisa kita diskusikan bersama. (Tapi jangan di starbucks ya. Mahal, hahaha)

  20. avatar Dyah Kusuma

    hiruk pikuk kota metropolitan ya

    membaca tulisan mas ini jadi pengen cobain aneka transum di jakarta, belum pernah eksplor jakarta sih, kalau kesana andalannya ya taxi online secara perjalanan dinas yang waktunya terbatas dan ga paham transum jakarta juga

    super padat ya kalau jam berangkat dan pulang kerja

  21. avatar lendyagassi

    Seneng yaa, kang Nugie..Bisa terpenuhi bucket list-nya.

    Aku pun kalo ke Jakarta begini rasanya pingin mencoba banyak hal.. apalagi transumnya yang kereen bangeett.. makin banyak pula daerah yang bisa dijangkau, jadi kebayang hidup di Jakarta dengan segala perjuangannya yaa..

    Waktu itu, aku dari Dukuh Atas ke Harjamukti…Rasanya trek panjang menggunakan LRT jadi terasa nyaman, mungkin karena arah Harjamukti ini termasuk jalur gak ramai.. jadi bener-bener lengang dan nyaman.

  22. avatar Dedew

    Seru banget ya Nug mencoba berbagai alat transportasi do Jakarta seperti LRT ini jadi bisa ke mana saja tanpa, terkena macet, aku pengen ajak anak-anakku ah kalau pas liburan.. kemarin kami hanya coba yang dari Blok M ke Sarinah halte apa ya namanya itu saja rasanya, seru banget hihi maklum anak kabupaten

  23. avatar Asri Lestari

    Keren Mas bisa seharian jalan di Jakarta dan mencoba transportasi umumnya. Ini juga salah satu impianku. Pengin nyobain aneka transortasi umum di Jakarta mulai dari TJ, KRL, LRT, dan MRT. Semoga suatu hari bisa kesampaian kaya Mas menjelajah Jakarta.

  24. avatar Almira Ngastiti

    Mendengar cerita perjalanan di Jakarta selalu amaze dengan transportasinya. Jujur penasaran pengen nyobain naik LRT, MRT dan sebagainya. Soalnya di Jogja ga sebanyak itu kereta jarak pendeknya hehehSemoga besok saya ada kesempatan bisa main ke Jakarta

  25. avatar Tidak diketahui

    […] Salah satu yang paling kutunggu adalah naik LRT Jabodebek. Cerita perjalanan selengkapnya bisa dibaca di sini. […]

  26. avatar marzaakhda
    marzaakhda · · Reply

    Perjalanan sehari yang super padat ya mas. Seru juga dari naik LRT Jabodebek, mampir ke Trinity Tower, sampai eksplor Stasiun Tanah Abang Baru. Semua tempat ada ceritanya masing-masing. Saya juga suka bagian ketika Mas bilang kunjungan kali ini terasa berbeda karena punya waktu untuk mengamati dan meresapi suasana, bukan sekadar datang karena urusan pekerjaan. Hal yang jarang banget untuk kita bisa dapatin saat ini.

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Matius Teguh Nugroho

keep learning by traveling

Duo Kembara

Cerita Si Kembar dan Mommy Ara menghadirkan kebaikan

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

Teppy & Her Other Sides

Stories, thoughts, places...

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

LIZA FATHIA

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

papanpelangi.id

sebuah blog perjalanan

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Jurnal Evi Indrawanto

Traveling, Budaya, dan Lika-Liku Wirausaha.

Plus Ultra

Stories and photographs from places “further beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Ancient ruins, cultural sights, urbanism, gastronomy, and more

Winny Marlina

Winny Marlina - Whatever you or dream can do, do it! lets travel

Olive's Journey

What I See, Eat, & Read

tindak tanduk arsitek

Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.

dananwahyu.com

Menyatukan Jarak dan Waktu