Ada jenis perjalanan yang tidak perlu direncanakan berbulan-bulan untuk membuatku bersemangat. Bukan ke Jepang, bukan pula pulang ke kampung halaman. Malah, perjalanan ini hanya ditempuh dalam waktu 4 jam, dan tak sampai bermalam. Iya, jawabannya adalah perjalanan dinas ke Jakarta yang hanya menghabiskan waktu seharian, dari pagi hingga malam.
Bagi sebagian orang, perjalanan ke Jakarta mungkin terdengar biasa saja. Apa sih serunya ke Jakarta? Macet, panas, berisik, mahal, orang-orangnya kasar. Apalagi kalau tujuannya untuk bekerja alias perjalanan dinas. Berangkat pagi, meeting dengan klien, makan siang, lalu pulang. Selesai.
Tapi buatku, perjalanan dinas ke Jakarta pada akhir Juli 2026 lalu adalah satu momen kecil yang sudah lama kunanti-nanti: naik LRT Jabodebek, mampir ke FamilyMart di Trinity Tower, dan melakukan observasi ke Stasiun Tanah Abang Baru.
Kedengarannya memang bukan agenda wisata yang spektakuler. Namun sebagai orang yang senang bepergian dengan transportasi umum dan gemar mengamati bagaimana sebuah perjalanan berlangsung, tiga hal tersebut justru menjadi semacam side quest yang menyenangkan di tengah kesibukan pekerjaan. Sebagai seorang mantan frequent traveler, kukira aku sudah khatam dengan segala persiapan untuk bepergian. Nyatanya, ada satu hal yang nyaris kuabaikan dan bisa menghancurkan seluruh momen itu.
Dari Perjalanan Dinas Menjadi Perjalanan yang Dinanti
Hari itu sebenarnya bukan hari libur. Aku berada di Jakarta untuk urusan pekerjaan dan harus bertemu klien. Namun, seperti biasa, aku mencoba mencari kesempatan untuk menikmati sedikit waktu luang di sela-sela agenda utama. Belajar dari 2 pengalaman sebelumnya, kali ini aku justru menempatkan agenda menjelajah Jakarta sebelum jadwal meeting dengan klien. Jadi, biar setelah urusan pekerjaan selesai, aku bisa sesegera mungkin pulang ke Bandung.
Salah satu yang paling kutunggu adalah naik LRT Jabodebek. Cerita perjalanan selengkapnya bisa dibaca di sini.
Sebagai orang yang suka kereta dan transportasi publik, tentu saja aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan berada di Jakarta. Aku sudah membayangkan bagaimana rasanya naik kereta ringan yang melintas di atas jalur layang, melihat pemandangan Jakarta dari ketinggian, sekaligus mengamati sistem transportasinya. Rapid transit system ini sudah diresmikan sejak 3 tahun lalu, tapi belum sekalipun aku berkesempatan menjajalnya, bahkan untuk sebuah perjalanan singkat sekalipun.
Setelah itu, aku juga sudah memasukkan FamilyMart Trinity Tower ke dalam daftar kunjungan. Bukan semata-mata untuk jajan, tetapi dari kursi-kursinya yang ditata rapi itu aku bisa menikmati armada LRT wara-wiri.
Agenda berikutnya adalah Stasiun Tanah Abang Baru yang sebetulnya adalah agenda opsional bila masih ada waktu. Aku ingin melihat langsung perkembangan stasiun tersebut, terutama bagaimana desain dan alur pergerakan penumpangnya setelah stasiun diperluas dan direnovasi. Sebagai orang yang sering membuat itinerary perjalanan, observasi semacam ini sebenarnya berguna. Aku bisa melihat langsung kondisi lapangan, memperhatikan akses masuk-keluar stasiun, perpindahan moda, hingga membayangkan bagaimana menjelaskan tempat tersebut kepada orang lain.
Jadi, meskipun labelnya “perjalanan dinas”, di kepalaku sudah ada itinerary kecil agar tak kehilangan diri sendiri meski sudah memiliki anak dan istri. Sebelum berangkat, istriku sempat membekaliku satu benda yang menurutku saat itu menurutku tidak terlalu penting: INSTO DRY EYES.
“Ini dibawa,” katanya.
Aku sempat menolak.
Bukan karena tidak percaya, tetapi karena aku merasa jarang mengalami mata kering. Selama ini mataku baik-baik saja. Pekerjaanku memang membuatku cukup sering menatap layar laptop, tetapi aku sudah terbiasa. Karena dia keukeuh dan kupikir tak ada salahnya menyenangkan istri, aku akhirnya membawa juga. Meskipun dalam hati berpikir, paling juga nggak kepakai.
Ternyata aku salah.
Jakarta, Panas, AC, dan Mata yang Mulai Tidak Nyaman
Hari itu, Jakarta sedang terik.
Begitu keluar dari area gedung, panas langsung terasa di wajah. Aku berjalan di luar ruangan untuk berpindah tempat dan melanjutkan perjalanan menuju agenda berikutnya. Di tengah perjalanan, aku masih baik-baik saja. Aku bahkan masih sempat menikmati perjalanan dengan LRT. Sebagai penggemar transportasi publik, tentu saja aku sibuk memperhatikan banyak hal. Dari stasiun, jalur perjalanan, suasana di dalam kereta, sampai pemandangan Jakarta dari balik jendela. Namun setelah beberapa waktu, aku mulai merasakan sesuatu yang aneh pada mata.
Awalnya sepele. Mata terasa SEpet.
Aku menganggapnya sebagai rasa tidak nyaman biasa akibat panas dan perjalanan, atau sekadar keterkejutan kecil yang tubuh rasakan karena perubahan suhu mendadak. Toh, setelah masuk ke dalam kereta yang ber-AC, bukankah seharusnya mata justru terasa lebih nyaman?
Ternyata tidak.
Perpindahan kondisi dari udara luar Jakarta yang panas ke ruangan berpendingin udara dan sebaliknya membuat mata terasa semakin tidak nyaman. Ditambah lagi, selama perjalanan aku cukup sering melihat layar ponsel untuk mengecek peta, jadwal, lokasi meeting, dan berbagai informasi lain.
Dari satu kondisi ekstrem ke kondisi lainnya. Panas di luar. AC di kereta. Kemudian AC di tempat meeting. Kemudian AC lagi ketika masuk ke cafe. Tanpa terasa, mata yang tadinya hanya terasa sepet mulai terasa PErih.
Aku mulai lebih sering berkedip karena tak nyaman. Beberapa kali aku mengucek mata yang justru membuatnya terasa semakin perih dan gatal. Akhirnya di tengah momen saat bekerja bersama atasanku di sebuah cafe, aku mulai menyadari bahwa konsentrasiku mulai sering terganggu karena mata yang tidak baik-baik saja ini. Jangankan bekerja dengan cekatan, sekadar melihat dengan nyaman aja kesusahan.
Ini yang membuatku mulai panik.
Bukan karena rasa perihnya saja, tetapi karena aku masih punya agenda pribadi yang sejak awal sudah kutunggu. Aku belum selesai dengan Jakarta. Aku masih ingin melakukan observasi ke Stasiun Tanah Abang Baru, dan kondisi mata seperti ini akan merusak momen yang sudah kunanti-nanti.
Ah, sial. Mungkin karena sudah faktor usia, aku jadi tak setangguh dulu, dan gejala mata kering menjadi sesuatu yang merangsek pertahanan tubuhku.
Aku lalu teringat dengan benda kecil dalam kotak berwarna biru segar yang aku masukkan dalam salah satu kompartemen tas: Insto Dry Eyes.
Ketika Mata Kering Mulai Merusak Momen
Mata kering mungkin terdengar seperti masalah kecil. Aku sendiri sebelumnya berpikir begitu. Kalau mata sedikit sepet atau perih, paling tinggal istirahat sebentar. Beres. Namun pengalaman hari itu membuatku menyadari bahwa masalahnya bukan sekadar rasa tidak nyaman.
Bayangkan sudah punya kesempatan melakukan sesuatu yang sudah lama ingin dilakukan, tetapi ketika kesempatan itu datang, tubuh justru tidak berada dalam kondisi terbaik.
Ketika berjalan menuju agenda berikutnya, aku mulai merasa mataku LElah. Aku masih bisa melihat. Masih bisa berjalan. Masih bisa menggunakan gawai di genggaman tangan. Tetapi rasanya tidak nyaman.
Aku menjadi lebih sering berkedip. Pandangan terasa seperti ada debu atau pasir kesat yang menyelip di balik kelopak mata. Untuk membaca tulisan di layar ponsel saja, aku merasa harus memberikan perhatian lebih.
Begitu tiba di Stasiun Tanah Abang Baru, aku mengeluarkan apa yang sempat kusepelekan itu. Dalam hati aku mengakui satu hal: ternyata dia benar (untuk kesekian kalinya). Seringkali orang terdekat justru lebih tahu apa yang kita butuhkan sebelum kita sendiri menyadarinya.
Aku kemudian menggunakan Insto Dry Eyes sesuai petunjuk penggunaannya. Kucuci tanganku lebih dulu di wastafel stasiun, mengeringkannya, membuka Insto dengan hati-hati, lalu meneteskannya ke mata sesuai dosis yang dianjurkan. Setelah itu, dibantu dengan sejenak beristirahat dan membebaskan diri dari terpaan layar gawai, rasa tidak nyaman pada mata perlahan mereda.
Pengalaman itu membuatku berpikir bahwa membawa tetes mata bukan berarti kita sedang menganggap diri kita sakit.
Sama seperti membawa payung ketika musim hujan atau membawa sunscreen ketika akan banyak beraktivitas di luar ruangan, menurutku membawa produk seperti Insto Dry Eyes untuk membantu mengatasi gejala mata kering juga merupakan bentuk antisipasi.
Apalagi, kondisi sehari-hari bisa berubah sangat cepat. Pagi tadi mungkin kita merasa baik-baik saja. Beberapa jam kemudian, kombinasi panas, udara kering, AC, perjalanan, kurang istirahat, dan terlalu lama menatap layar bisa membuat mata terasa berbeda. Setelah menggunakan Insto Dry Eyes, aku melanjutkan agenda yang sudah kurencanakan.
Mata kering reda, aku pun bisa melakukan observasi kereta api yang sudah lama kunanti-nanti. Sudah lama penasaran dengan Stasiun Tanah Abang Baru untuk melihat langsung kondisi yang selama ini hanya bisa kulihat melalui foto, video, dan informasi di internet. Mungkin justru karena sempat mengalami mata kering hari itu, aku menjadi lebih sadar untuk menikmati setiap momen tanpa terus-menerus menatap layar.
Ternyata Mata Juga Punya Batas
Perjalanan dinas ke Jakarta tersebut akhirnya memberiku pelajaran yang cukup sederhana. Selama ini aku sering memperhatikan detail perjalanan orang lain. Kalau membuat itinerary untuk klien, aku bisa memikirkan jadwal kereta, durasi perjalanan, lokasi stasiun, tempat makan, hingga waktu yang dibutuhkan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Namun ternyata aku lupa membuat satu perencanaan penting untuk diriku sendiri: memberi waktu bagi mata untuk beristirahat.
Aku terlalu terbiasa menganggap mata sebagai bagian tubuh yang akan selalu mengikuti apa pun yang kita minta. Bekerja di depan laptop? Ikut. Melihat Google Maps? Gaskeun. Scrolling chat? Siap. Masuk ke ruangan dengan AC? Ikut lagi.
Sampai akhirnya mata mengatakan, “Bentar bentar. Aku capek dan kering banget.”
Sejak kejadian itu, aku mulai lebih memperhatikan tanda-tanda yang diberikan mata. Ketika mulai terasa sepet, perih, atau lelah, aku berusaha tidak langsung menganggapnya sebagai sesuatu yang bisa diabaikan. Aku juga berusaha lebih sering mengistirahatkan mata, mengurangi waktu menatap layar ketika tidak diperlukan, berkedip lebih sering, dan memastikan tubuh mendapatkan cukup cairan serta istirahat.
Tentu, aku tidak lagi menolak ketika istriku menyuruhku membawa tetes mata.
Benda kecil yang awalnya kuanggap tidak perlu itu ternyata justru menjadi penyelamat ketika perjalanan dinasku hampir kehilangan kesenangannya.
Aku mengalami sendiri, mata kering jangan disepelein. Ternyata rasa sepet, perih, dan lelah pada mata bisa mengganggu aktivitas yang sudah lama dinantikan. Sekarang, setiap kali bepergian, terutama ketika tahu akan banyak berpindah tempat dan terpapar berbagai kondisi udara, Insto Dry Eyes masuk ke dalam daftar barang yang kubawa. Perjalanan terbaik bukan hanya soal berhasil sampai di tujuan, namun ketika kita masih bisa benar-benar menikmati momen yang sudah kita nanti-nanti. Untuk itu, aku perlu memastikan mata tetap nyaman.
Jadi, kalau suatu hari matamu mulai terasa SEpet, PErih, atau LElah, jangan buru-buru menganggapnya sebagai gangguan kecil yang akan hilang dengan sendirinya. Dengarkan apa yang sedang disampaikan tubuhmu, beri kesempatan mata untuk beristirahat, dan siapkan solusi yang tepat ketika dibutuhkan. Pengalaman di Jakarta membuatku belajar satu hal: sesuatu yang terlihat SePeLe ternyata bisa mengubah pengalaman yang seharusnya menyenangkan.
Karena itu, sekarang aku selalu ingat: #MataSePeLeJanganSepelein. Dengan #InstoDryEyes, aku bisa kembali beraktivitas dengan lebih nyaman dan terus menikmati momen yang #BebasMataKering—termasuk ketika perjalanan dinas tiba-tiba berubah menjadi petualangan kecil di tengah Jakarta. Terima kasih sudah membaca ya, keep learning by traveling~













