Gempor di Singapore #11: Menyeberang ke Johor Bahru

Sebenernya gue masih pengen eksplor Singapore lagi sih, karena belum sempet ke Bugis dan SBG, juga belum puas ngulik Chinatown. Tapi gue lebih memilih buat stick to the plan. Lagipula, mumpung udah di Singapura, sekalian menyeberang ke negeri seberang asyik juga kali ya. Bisa langsung dapet dua cap di paspor. Apalagi, sepengamatan gue, belum banyak travelblogger yang membahas Johor Bahru.

Rencana kami untuk berangkat pagi-pagi pupus sudah. Kami udah bangun, udah mandi, udah packing, udah sarapan, udah siap mengembalikan kunci loker buat check out, tapi staf botak itu menghilang entah ke mana. Kami mengisi waktu dengan membaca koran-koran harian Singapura yang teronggok di atas meja makan. Di rubrik lowongan kerja, ada banyak vakansi untuk menjadi guru. Iklan propertinya seabrek!

Akhirnya mas botak nongol juga, kami pun bisa check out dan meninggalkan hotel menuju Johor Bahru. Dari stasiun Farrer Park (terdekat dengan hotel kami), kami membeli tiket dengan tujuan Kranji, seperti yang diarahkan oleh petugas Singapore Tourist Center di Orchard Road semalam. Kalau dari hasil browsing gue sih, naik dari Bugis juga katanya bisa, sama-sama dengan bus Causeway Link yang murah meriah!

Perjalanan menuju Kranji memakan waktu yang lama, sekitar satu jam. Kereta berderak cepat menjauhi pusat peradaban yang dipenuhi gedung-gedung perkantoran dan pusat-pusat perbelanjaan. Jalur subway berubah menjadi jalur rel standar yang melayang, membelah kawasan pemukiman warga dengan blok-blok rumah susun yang berderet rapi. Dari balik jendela, gue melihat kondisi jalanan yang lebih lengang daripada kondisi jalanan di pusat kota, dengan kawasan hijau yang lebih luas. Di beberapa bagian, gue melihat sepeda-sepeda tergeletak menganggur di pinggir jalan. Nggak tahu deh apakah harus bayar atau bisa digunakan secara gratis.

“Begini toh, cara Singapura menata negerinya,” pikir gue, sementara handycam tergenggam di tangan, merekam detik-detik perjalanan menuju Johor Bahru ini. Sebagian besar warga Singapura tinggal di deretan rumah-rumah susun di daerah pinggiran, setiap hari bergerak bolak-balik bermodalkan kereta MRT, persis seperti warga komuter di Jabodetabek dengan kereta listriknya. Tapi, daerah pemukiman ini sepi banget, gue bahkan nggak melihat adanya warung makan atau toko-toko yang menjual kebutuhan pokok. Sejauh mata memandang, hanya tampak blok-blok apartemen, diapit oleh kawasan hijau yang asri. Kayaknya cuma dipakai buat tidur, karena mereka seharian beraktivitas di kota.

Ada sedikit cerita lucu dalam perjalanan menuju Kranji ini. Saat itu, gue dan Al ternyata berada satu gerbong dengan segerombolan ibu-ibu yang satu pesawat dengan kami saat keberangkatan. Sumfah! Mak-mak itu heboh luar biasa! Ngobrol ke sana kemari dengan suara melengking, ditambah dengan gelegar tawa khas ibu-ibu rumah tangga. Sama sekali nggak merasa lagi di negeri orang. Sialnya, dari obrolan mereka, kami tahu kalau mereka juga akan menyeberang ke Johor Bahru.

“Mudah-mudahan kita nggak satu bis sama mereka,” kata Al lirih. Gue terkekeh. Kami lalu tertawa tertahan lagi melihat tingkah polah emak-emak Jakarte itu, apalagi saat mendengar rencana mereka ke Amerika Serikat.

Tidak cukup dengan emak-emak itu, ternyata kami duduk berhadapan dengan seorang ibu-ibu Melayu dengan penampilan luar biasa ancur! Dia berhijab, dengan gelang-gelang dan cincin yang melingkari tangan dan jemarinya, nyaris gue kira toko berjalan. Dan yang paling bikin ngakak adalah make-up-nya. Nggak tahu deh dia beli kosmetik dari mana (dari Pasar Baru kayaknya), tapi bulu mata palsunya itu sampai ngecap di bawah kelopak salah satu matanya, berupa titik-titik hitam yang melengkung mengikuti bentuk matanya. Udah gitu ya, ringtone hapenya itu hebring beneeeeeerrr! Di-set dengan suara maksimal, menyemburkan alunan musik ala Arabia yang menggaung di seluruh penjuru gerbong.

Beberapa menit kemudian dia pindah tempat duduk. Sadar lagi diomongin kali ya, agagagaga!

Sampailah kami di stasiun Kranji setelah sekitar satu jam berada dalam perjalanan paling kocak sepanjang masa. Di sinilah, kami menemukan toilet yang kotor dan pesing seperti di Indonesia. Begitu kami keluar, kami langsung menemukan sebuah bus Causeway Link yang sedang menunggu penumpang. Awalnya, kami sempet bingung, apakah perlu beli tiket dulu atau enggak, kalau iya beli di mana. Tapi setelah kami bertanya pada bapak-bapak yang duduk di depan bus itu, penumpang tinggal masuk aja. Gue kira dia tukang jual tiketnya loh, gara-gara di sampingnya ada papan yang berisi tabel tujuan dan tarif bus Causeway Link itu.

Kami berjalan masuk ke dalam bus Causeway Link yang diguyur dengan warna kuning cerah. Setelah menyerahkan ongkos kepada pak sopir dan menginformasikan tujuan kami, sang pengemudi lalu memberikan dua lembar tiket kepada kami. Nah, sebagai informasi, ada beberapa tujuan yang bisa dipilih dengan bus Causeway Link ini, yaitu: JB Sentral, Kotaraya, dan Larkin. Tarifnya mulai 1 SGD. Murah bingits!

Sebentar kemudian, bus sudah mulai berjalan, padahal penumpangnya masih sedikit banget. Hanya ada kami berdua dan sekitar 2 atau 3 penumpang lainnya, sama-sama duduk di deretan kursi belakang. Syukur banget bus di sini nggak kenal sistem ngetem kayak di Indonesia. Mau berapa pun penumpang yang ada, dia akan tetap berjalan setiap 5 menit sekali. Busnya bersih banget kok, dengan kursi yang nyaman.

Di dalam bus Causeway Link. Sepiiiiii!

Di dalam bus Causeway Link. Sepiiiiii!

Sekejap mata kemudian, kami sampai di Woodlands Check Point. Seluruh penumpang turun, berjalan naik menggunakan eskalator menuju bagian imigrasi. Urusan imigrasi berlangsung cepat, nggak ribet, tinggal cap-cap segala macem. Kami bergerak mengikuti jalur, lalu turun untuk kembali menaiki bus kami. Untuk informasi, nggak perlu naik bus yang sama dengan bus yang dinaiki tadi. Asal pengelolanya sama, naik aja. Misalnya, tadi naik Causeway Link no 1, berarti tinggal bus yang sama-sama Causeway Link no 1. Jadi nggak usah panik kalau, “Ih, sopirnya kok beda! Ini bukan bus yang tadi!” Emang gitu sistemnya. Ini bukan bus wisata yang harus menunggu semua penumpang yang tadi diangkutnya 🙂

Keluar dari Woodlands Check Point, bus sudah berada di atas jembatan yang menghubungkan Singapura dengan Johor Bahru. Wah, gedung-gedung Johor Bahru yang kemarin gue lihat di Google, sekarang bisa gue lihat langsung dengan mata kepala gue sendiri.

“Johor Bahru, I’m coming!”

Iklan

3 thoughts on “Gempor di Singapore #11: Menyeberang ke Johor Bahru

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s