[Shorts] Stasiun Terakhir, Kereta Terakhir

Senja dari luar Stasiun Brambanan

Salah satu hal yang kusuka dari perjalanan dengan kereta api adalah romansa di stasiun. Tak harus kereta api konvensional. Stasiun-stasiun MRT/LRT, kereta cepat, bahkan tram pun, tetap menebarkan nuansa itu.

Impian tertinggiku tentu saja merasakan menunggu kereta terakhir, saat larut malam, di stasiun daerah pedesaan Jepang atau Eropa.
Tapi, aku juga pengen kok merasakan momen naik/turun kereta di stasiun-stasiun kecil Indonesia. Secara tak sengaja, impian kecil ini terwujud bersama Ara hari Sabtu malam lalu.
Stasiun Brambanan, Klaten, 30 Oktober 2021. Kami berdua menunggu KRL Commuter Line terakhir pukul 18:54 setelah sesorean menikmati Candi Prambanan.

Ngomong-ngomong, candinya sudah dibuka, tapi pengunjung hanya diberikan akses di area pelataran, tidak bisa masuk ke komplek candi. Tiket masuknya tetap Rp50 ribu.

Sebenarnya kami sudah tiba sejak pukul 17:24, tepat ketika sebuah KRL arah Yogyakarta berjalan meninggalkan kami sementara kami baru saja mulai antre di loket pembelian tiket. Andai kami tiba 1-2 menit lebih awal.

Stasiun Brambanan yang bersahaja

Sayangnya saat itu kartu Flazz BCA-ku saldonya sudah tak cukup, jadi harus membeli Kartu Multi Trip (KMT) seharga Rp30 ribu per kartu, sudah termasuk saldo Rp10 ribu. Ongkos perjalanan KRL Yogyakarta sendiri adalah Rp8 ribu, jauh-dekat.

Mau tak mau, kami harus menunggu selama hampir 1,5 jam! Kami berjalan meninggalkan stasiun, mampir ke sebuah cafe lokal bersahaja untuk makan malam. Pukul 18:30, kami berjalan kembali ke stasiun.
Di informasi teraktual yang kubaca di Instagram, jadwal terakhir kereta adalah pukul 18:30. Tapi, tahu sendirilah bagaimana dampak pandemi ini, jadwal kereta terus berubah-ubah seperti nilai saham.

Kesibukan di Stasiun Brambanan

Kami duduk di bangku kayu, tepat di bawah lonceng penanda datangnya kereta api. Ara mendongakkan kepalanya ingin tahu, perhatiannya lalu tertuju pada bapak petugas di dalam ruang operasional. Sayangnya aku juga tak bisa memberikan informasi untuknya, karena aku sendiri tak paham apa dan bagaimana yang bapak itu kerjakan.

Di tengah udara Jogja yang mulai turun beberapa derajat, kami mengamati kereta-kereta api jarak jauh hilir-mudik dengan kecepatan penuh. Posisinya sebagai stasiun kecil membuat Brambanan hanya disinggahi kereta lokal atau komuter.

Selfie dramatis, mengabadikan kereta api yang sedang melaju kencang

Ara mengaku lelah malam itu, namun dia senang. Biar capek, namun sore dan petang itu telah membuatnya kaya akan pengalaman dan kesenangan-kesenangan sederhana. Ini juga pertama kalinya dia membeli KMT dan naik KRL Commuter Line Yogyakarta.

Kereta kami pun tiba, eks Tokyo Metro dalam guyuran warna merah yang menambah romansa malam itu. Kami masuk ke dalam, dan sesaat kemudian kereta berderak meninggalkan Brambanan yang ditelan malam.

Kereta kami malam itu, KRL Commuter Line Jogja Solo

Untuk yang mau mengunjungi Candi Prambanan dengan transportasi umum, aku lebih merekomendasikan kereta api daripada bus TransJogja. Iya, sedikit lebih mahal (Rp8.000,00 vs Rp3.500,00), namun lebih cepat (20 menit vs sekitar 1 jam-an sesuai lalu lintas). Lebih nyaman juga, beberapa orang akan mabok dengan perjalanan seperti itu di dalam bus TransJogja yang sudah tak senyaman dulu. Jarak dari stasiun menuju candi juga lebih dekat daripada jarak dari Terminal Bus Prambanan (di mana halte TJ berada).

Siapkan kartu e-money dengan saldo cukup, aplikasi PeduliLindungi, dan masker ganda. Nikmati perjalananmu dengan KRL Commuter Line Yogyakarta-Solo!

8 komentar

  1. Beda tiketnya juga tipiiis banget 🀣. Udah pastilah akupun bakal milih naik KA drpd bus πŸ˜….

    Aku sekali ngerasain naik KA yg trakhir mas, pas dari Osaka ke Tokyo. Ga nyangka banget2 itu shinkansen trakhir, untung masih bisa, Krn aku hrs ngejar kereta ke bandara utk besok nya. Aku pikir Shinkansen sampe jam 12 malam, ternyata ga 🀣🀣🀣. Ujung2nya ya ga dapet kereta yg ke Narita lagi. Jadi di tengah malam buta, aku Ama temenku hrs nunggu di luar stasiun yg udah ditutup. Untung ada bus yg ke Narita, tapi jam 2 pagi 🀣🀣🀣. Cakeeeep banget di tengah suhu 2 derajat nungguin bus nya wkwkwkwkwk. Tapi itu seruuuu. Cuma aku belajar, ga akan mau lagi mepet2 naik kereta di sana πŸ˜…

    1. Pasti berkesan banget ya mbak naik shinkansen terakhir, terus di stasiun dini hari. Aku pengeennn hehe.

      Yes, naik KA lebih enak daripada bus ke Prambanan.

  2. As usual, fotonya cakep-cakep mas, by the way, semoga semakin banyak jalur KRL dibuka, termasuk yang di Bali Island. Nggak sabar mau coba soalnya πŸ˜‚

    Ohya, saya juga akan pilih naik kereta kalau disuruh pilih antara bus dan kereta, sebab naik bus kadang buat mual kalau drivernya setir ugal-ugalan πŸ˜† Iya kalau dapat tempat duduk, lha kalau berdiri, haduuuh bisa kejengkang mungkin saya πŸ™ˆ Wk.

    Salam untuk mba Ara, mas. You both look so good together 😍

  3. Jogja selalu memberikan pengalaman baru

  4. saya setuju kalau KRL lebih menarik dari TJ untuk ke Prambanan.. sekarang macetnya Jogja udah mulai seperti sebelum Corona.. apalagi kawasan Simpang 3 Maguwo dari barat.. ampun..
    apalagi sekarang frekuensi KRL berhenti di Prambanan nampaknya meningkat dibandingkan masa Prameks dulu yang hanya sedikit..
    namun ya itu, mungkin waktu tunggu KRL lebih lama daripada TJ meskipun begitu dapat KRL sudah lancar..

    1. Bener mas, koridor Jogja-Solo itu macet! Waktu tunggu KRL memang lama, tapi durasi perjalanannya jauh lebih singkat. Buatku gak masalah. Tinggal cek jadwal atau menggunakan waktu tunggu untuk berkarya 😁

  5. Kalau sedamg di bekasi, beberapa kali aku naik krl terakhir yang menuju di bekasi. Biasanya aku transit terlebih dahulu di stasiun manggarai. Duduk di peron bersama penumpang lainnya juga memberikan kesan tersendiri. Sayangnya, terakhir naik krl adalah akhir tahun 2019. Sebelum pandemi menyerang.

    Menunggu krl terakhir itu selalu menyenangkan πŸ˜€

    1. Duduk atau berdiri di peron bersama penumpang lain, sama-sama letih di larut malam, kereta terakhir memang selalu berkesan.

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Khairunnisa Siregar's

Learn from yesterday, live for today, and hope for tomorrow

Jilbab Backpacker

Travel - Halal Lifestyle Blog

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

Ferdi Cullen-The Microtraveller

A microtraveller is a journey local or overseas that is short, flexible, simple, cheap – yet still fun, exciting, challenging, refreshing and rewarding

Pink Traveler

Kemasi ranselmu dan pergilah melihat dunia

#FDCG

SEBUAH CATATAN TENGIK ANAK TEKNIK

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

CERITA LIANA

Travel More, Share More

Teppy and Her Other Sides

Eat well, live well, and be merry!

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

Jalancerita

Tiap Perjalanan Punya Cerita

Tukang Ngider

Ngider terus, terus ngider. Kuy, der!

LIZA FATHIA

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

Eka Hei

Selalu ada cerita dalam setiap langkah

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

Papan Pelangi

witing lungo jalaran soko kulino

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

The Spiffy Traveler

Exploring Endless Paradise

Efenerr

mari berjalan, kawan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Jalan-Jalan Terus!

Cerita Perjalanan Wisata dan Budaya

Plus Ultra

Stories and photographs from places β€œfurther beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Fahmi Anhar

Travelogue

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Usemayjourney

Melihat, Mendengar, Memaknai

%d blogger menyukai ini: