Ketika Traveling Tertunda Karena Kebakaran Hutan dan Lahan

Oktober 2015 adalah waktu di mana saya mengalami delayed flight terlama dalam hidup saya, bahkan hingga saat ini. Saat itu, penerbangan saya untuk rute Bandung – Kuala Lumpur dengan maskapai Malindo Air tertunda lebih dari 4 jam! Penyebabnya? Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) besar yang terjadi di Sumatera. Dampaknya, kabut asap menyebar hingga ke negara-negara tetangga, termasuk Malaysia. Kesal, lapar, lelah, jadi satu. Saya dan para penumpang “hanya” diberikan snack box, masing-masing 1 kali di Bandara Husein Sastranegara dan lalu 1 kali di dalam kabin.

Kisahnya bisa dibaca di sini.

Penerbangan yang tertunda itu membuat saya yang harusnya tiba di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) pada siang jelang sore jadi mendarat pada malam hari. Yang harusnya bisa mampir sebentar ke pusat bandar, akhirnya memilih bertahan saja di bandara demi penerbangan lanjutan ke Bangkok esok paginya.

Penerbangan saya yang tertunda bersama Malindo Air kala itu
Meme buatan negara tetangga kala itu, plesetan dari film The Maze Runner

Ternyata, karhutla di tahun 2015 itu adalah salah satu dari 3 karhutla terbesar di Indonesia! Setidaknya dalam 3 dekade terakhir, 2 kejadian lainnya terjadi pada tahun 1997 dan 1998. Fakta ini saya ketahui setelah mengikuti online gathering #EcoBloggerSquad pada hari Jumat, 11 Agustus 2023 lalu, yang membawa tema: “#BersamaBergerakBerdaya Indonesia Merdeka dari Kebakaran Hutan dan Lahan“. Materi disampaikan oleh pakarnya langsung, Ola Abas, yang merupakan National Coordinator dari @pantaugambut.


Putra Jawa dan Lahan Gambut

Sebagai anak tulen Pulau Jawa yang lahir dan besar di Yogyakarta, lalu meraih gelar sarjana hingga bekerja di Bandung, membuat saya belum familiar dengan lahan gambut. Saya hanya melihatnya sekilas pandang di layar televisi ketika kasus karhutla masif terjadi di Kalimantan dan Sumatera.

Saat mendarat di Pontianak pada tahun 2017

Pertama kali saya menginjakkan kaki di luar Jawa dan Bali (dalam konteks dalam negeri) adalah di tahun 2015, tepatnya Sumatera Selatan. Dua tahun kemudian di 2017, saya ke Kalimantan Barat. Di dua pulau inilah karhutla marak terjadi.

Ternyata, lahan gambut sebermanfaat itu. Lalu, dampak dari lahan gambut yang terbakar juga sebesar itu!

Ibarat spons, lahan gambut menyerap dan menyimpan air. Ia dapat menampung hingga 450-850 persen dari bobot keringnya! Setiap hektar lahan gambut yang dikeringkan berarti melepaskan 55 metrik ton CO₂ tiap tahunnya, setara dengan membakar lebih dari 6.000 galon bensin.

Mengikuti webinar “Indonesia Merdeka dari Karhutla” bersama Eco Blogger Squad

Saya juga baru tahu bahwa lahan gambut adalah rumah bagi sejumlah flora dan fauna. Selama ini mikirnya, “Hewan apa sih yang tinggal di lahan gambut?” Beberapa contoh tanaman yang hidup di lahan gambut adalah ramin (kayu mewah untuk furnitur), pulai, jelutung, durian, getah sundi, jambuan, geronggang, dan pala. Untuk satwanya sendiri contohnya ada orangutan, lutung merah, macan dahan kalimantan, bangau hutan rawa, angsa sayap putih, buaya sinyulong, macan sumatera, beruang madu, dan tapir. Nah, banyak dari daftar fauna tersebut yang tergolong binatang hampir punah dan/atau dilindungi.

Mengeringkan lahan gambut, apalagi membakarnya, akan merusak ekosistem. Lahan gambut yang kering akan menjadi mudah terbakar, bahkan oleh sepuntung rokok sekalipun. Api lalu menyebar luas dan dalam, hingga kedalaman 4 meter lho, bahkan bisa bertahan lama sekali selama berbulan-bulan!

Lingkaran setan alihfungsi lahan

Tumbuhan dan binatang kehilangan tempat tinggalnya. Warga sekitar kehilangan sumber makanan dan pencahariannya. Kita semua kehilangan daerah resapan air, yang membuat tanah jadi lebih mudah tergenang banjir. Lahan gambut juga berperan besar dalam menjaga perubahan iklim karena ia menyimpan cadangan karbon yang besar. Maka jika ia dirusak, karbon yang tersimpan di dalamnya akan terlepas ke udara bebas dan menyebabkan emisi gas rumah kaca.

Makanya, jangan salahkan binatang yang merangsek pemukiman warga apalagi sampai membunuhnya. Mereka begitu karena rumah mereka sudah kau rusak sendiri, wahai manusia tamak dan egois. Binatang itu hidup dengan insting dan kebiasaan, nggak ujug-ujug iseng pengen traveling ke kampung tetangga. Kalau sampai mereka melenceng dari rutinitas mereka, berarti ada bagian dari kesehariannya yang dirusak.

Apa yang terjadi saat lahan gambut kering atau terbakar?

Asap dari pembakaran lahan gambut mengganggu kesehatan pernafasan kita semua. Apalagi, kebakaran lahan gambut susah dipadamkan! Meski api di permukaan sudah padam, namun bara di dalam/di bawahnya masih menyala. Semua harus dipadamkan! Jika tidak, bara api yang ada di bawah bisa menyebar ke titik lain dan menyebabkan kebakaran di daerah yang lain, cepat atau lambat.

Kebakaran hutan dan lahan mengganggu perekonomian. Para petani tak punya lahan untuk digarap, bahkan gagal panen. Seluruh aktivitas di kota terhambat karena warga menghindari keluar rumah. Sekolah-sekolah diliburkan, kata istri saya bisa sampai 2 minggu. Transportasi udara terganggu, seperti yang pernah saya alami sendiri di tahun 2015. Akhirnya, yang rugi bukan hanya satu kota atau satu provinsi, tapi satu negara.

Manfaat lahan gambut untuk bumi

Saya sendiri belum pernah merasakan bagaimana sesaknya kabut asap, namun istri saya yang berasal dari Sumatera Selatan sudah merasakannya. Ia tahu bagaimana sesaknya Palembang ketika karhutla besar di tahun 2015 melanda. Katanya, rasanya seperti melalui asap pembakaran sampah yang tak sudah-sudah. Nafas sesak, mata pedih dan merah.


Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) Paling Rentan di 2023

Sebuah KHG adalah ekosistem gambut yang terletak di antara 2 perairan, entah itu sungai, laut, atau rawa-rawa. Maka, area sebuah KHG bisa sangat luas sekali. Dua provinsi yang kaya kunjungi di atas masuk 5 besar provinsi dengan kerentanan karhutla kelas tinggi terluas pada KHG di tahun 2023. Kalimantan Barat ada di posisi ke-3, dengan KHG seluas lebih dari 2,7 juta hektar. Sebanyak lebih dari 400ribu hektarnya tergolong dalam kerentanan tinggi. Sumatera Selatan, dengan luas KHG lebih dari 1,9 juta hektar, ada di posisi ke-5. Tak kurang dari 350ribu hektarnya tergolong dalam kerentanan tinggi.

Area KHG yang rentan karhutla di 2023
KHG dengan sebaran proporsi kerentanan karhutla terbesar

Sementara jika dilihat per KHG, KHG Sungai Beberi – Sungai Way Mesuji di Sumatera Selatan duduk di provinsi ke-4 dengan total luas mencapai 8.639 hektar. Sebanyak 89% wilayahnya sangat rentan mengalami karhutla. Kak Ola menambahkan, berdasarkan pengamatan tim Pantau Gambut, KHG Sungai Rokan – Sungai Siak Kecil di Provinsi Riau menjadi KHG dengan sebaran titik panas terbanyak periode Januari-Mei 2023. Maka tak heran, bila kota Dumai dan kabupaten Bengkalis, keduanya ada di Provinsi Riau, menjadi kota/kabupaten dengan sebaran karhutla terbanyak selama Januari-Mei 2023 ini.

Memasuki musim kemarau dan El Nino (fenomena pemanasan Suhu Muka Laut/SML di atas kondisi normalnya), potensi karhutla juga semakin meningkat. Sepanjang Januari-Mei 2023 saja, tim Pantau Gambut menemukan 5.030 titik panas di 29 lokasi KHG. Dari 29 lokasi tersebut, 10 di antaranya terjadi di bulan Mei saja.


Tantangan Pencegahan Karhutla Saat Ini

Lahan gambut yang sudah terbakar akan susah dipadamkan kembali. Selain alasan yang sudah saya paparkan di atas, cara pemadaman dan manajemen pasca-pemadaman pun juga tidak mudah. Kebakaran lahan gambut bisa dipadamkan dengan mobil pemadam kebakaran, tangki air, bom air dari helikopter, membuat sekat bakar, hingga Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Sekat bakar dilakukan dengan membasahi gambut dan semak belukar di kepala api agar kebakaran tidak meluas.

Setelah kebakaran seledai, bukan berarti tim bisa leyeh-leyeh sambil joged pargoy. Gambut harus direstorasi dengan rewetting (pembasahan kembali), revegetation (dengan menanam tanaman yang semula ada di lahan gambut), dan revitalization. Tinjau kembali peraturan dan perizinan seputar pembukaan lahan atau alihfungsi lahan agar lahan gambut tidak mudah begitu saja dikeringkan/dibakar.

Mari jaga hutan dan keanekaragaman hayati kita

Yang paling benar, tentu saja dengan mencegah kebakaran hutan dan lahan gambut terjadi. Sayangnya, niat ini terjegal implementasi komitmen pengelolaan dan restorasi lahan gambut yang tak terkoordinasi dan tak berkelanjutan. Status kepemilikan dan izin penggunaannya lahan gambutnya juga saling tumpang tindih, yang berujung pada saling melempar tanggung jawab dan saling mendiamkan masalah. Otoritas terkait memberikan izin terburu-buru tanpa kajian lingkungan, tidak mengevaluasi izin yang sudah diberikan, dan tidak memberikan hukuman yang cukup keras sehingga tidak menimbulkan efek jera bagi pelaku pembakaran hutan dan lahan gambut.

Masyarakat umum dan perusahaan perlu diedukasi terkait bahaya pengeringan dan pembakaran lahan gambut. Tapi menurut saya, perusahaan yang lebih krusial untuk disadarkan, karena kalau edukasi pada masyarakat sudah banyak dan mudah dijalankan. Buat perusahaan-perusahaan itu membayangkan hancurnya bisnis mereka bila lahan gambut dibakar, apalagi tanpa restorasi. Kalau pakai pendekatan lingkungan mah, mereka akan bodo amat. Partisipasi masyarakat umum sendiri tetap diperlukan dalam pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan dan pemantauan restorasi lahan gambut di lapangan.

Terima kasih materinya, kak Ola
Bersama dengan teman-teman Eco Blogger Squad dan Hiip Indonesia

Di Bulan Kemerdekaan ini, saya berharap Indonesia sudah selangkah lebih dekat menuju merdeka dari karhutla. Dana yang dibutuhkan untuk pencegahan dan restorasinya tidak sedikit serta membutuhkan komitmen jangka panjang. Jadi, semoga organisasi, lembaga, komunitas, dan kementerian terkait mendapat dukungan materi dari negara. Yuk, jaga lahan gambut kita untuk masa depan yang terjaga. Sebarkan informasi ini pada circle-mu, bergabung dengan kegiatan atau komunitas pecinta lingkungan seperti di Team Up For Impact. Keep learning by traveling~

7 komentar

  1. avatar fanny_dcatqueen

    Sedih sih ngebayangin hewan2 yg harus pergi ke area manusia hanya Krn tempat tinggal mereka rusak 😭. Trus mereka pakai acara dibunuh juga, ya Allah ga tega…

    Ga kebayang sesaknya napas di saat kebakaran hutan gambut itu. Aku juga inget kok pas kejadian 2015. Dan 2 tahun 2015-2016 aku ga traveling mas. Untungnya jakarta ga terlalu parah dampak. Tapi tetep aja bukan yg bersih2 amat. Apalagi seharusnya pemerintah juga ada andil di sini.

    Semoga jangan sampe kejadian lagi kayak 2015 lalu. Maluuuu Ama negara tetangga yg menghujat abis2an 😦

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Amin amin. Kalo udah kabut asap besar, satu negara kena imbasnya!

  2. avatar ainunisnaeni
    ainunisnaeni · · Balas

    berita kebakaran hutan di awal tahun 2000-an bikin sedihhh, terutama di Pulau Sumatera, asap dimana-mana dan bisa menyebabkan infeksi saluran napas bagi warga yang tinggal disana
    bahkan anak-anak sekolah juga diliburkan karena polusi udara akibat kebakaran hutan ini.
    aku kasihan juga sama hewan-hewan yang tinggal di dalam hutan, kayak gajah misalnya, sampe bingung mau kabur kemana lagi, saking lahan hutannya udah gundul semua dan kebakar

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Iya sedih dan nyiksa banget buat semua makhluk hidup. Yuk jaga hutan kita biar nggak kebakaran lagi.

  3. avatar Gita Siwi

    Kalau dengar berita gini itu sejatinya kita merenung semua lho, karena menyangkut hal yang sangat dekat dengan kita yaitu alam. Pun kejadian anggap aja nggak didepan mata, tetap di bagian wilayah Indonesia Tercinta 😔

  4. avatar Tika Samosir

    Belakangan ini memang cuaca sangat kacau. Apalagi ditambah pembakaran hutan dan lahan secara liar. Padahal hidup kita 99% bergantung pada alam ya

  5. avatar Tidak diketahui

    […] adalah salah satu wilayah di Indonesia dengan masalah deforestasi dan kebakaran hutan, terutama kebakaran lahan gambut. SKELAS berupaya untuk mempertahankan kelestarian wilayahnya. Jika tidak bisa menghentikan ulah […]

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Matius Teguh Nugroho

keep learning by traveling

Duo Kembara

Cerita Si Kembar dan Mommy Ara menghadirkan kebaikan

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

Teppy & Her Other Sides

Stories, thoughts, places...

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

LIZA FATHIA

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

papanpelangi.id

sebuah blog perjalanan

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Eviindrawanto.Com

Cerita Perjalanan Wisata dan Budaya

Plus Ultra

Stories and photographs from places “further beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Seeing, feeling, and exploring places and cultures of the world

Winny Marlina

Winny Marlina - Whatever you or dream can do, do it! lets travel

Olive's Journey

What I See, Eat, & Read

tindak tanduk arsitek

Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.

dananwahyu.com

Menyatukan Jarak dan Waktu