Membuat Paspor: Langkah Iman Jalan-Jalan ke Luar Negeri

Hai hai hai, para backpacKeren dan travelista yang tawakal dan taat beribadah. Gimana nih minggu pertama kerja? Ada yang THR-nya masih ada atau udah lenyap tak berbekas? #pffft.  Di post kali ini, gue mau share gimana perjuangan gue dalam membuat paspor beberapa hari lalu, terutama buat kamu-kamu yang berencana membuat paspor dalam waktu dekat ini. Ternyata membuat paspor sekarang itu nggak terlalu ribet kok.

Nah, gue bikin paspor melalui cara online. Tapi meskipun udah pake embel-embel online, tetep aja harus melakukan beberapa prosedur lagi secara offline (langsung tatap muka). Untuk melakukannya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyalakan notebook atau netbook atau PC kalian. Udah nyala? Segera sambungkan ke internet. Bisa pake modem atau wifi, nggak akan bisa pake obeng yang dicolokkin ke USB port #ditimpukpembaca

Oke, pastikan kalian sudah men-scan beberapa dokumen wajib, yaitu: akte kelahiran, KTP, dan kartu keluarga. Buka web imigrasi, lalu pilih Layanan Paspor Online yang ada di baris bawah. Atau kalau nggak, bisa buka langsung di sini. Pilih Pra Permohonan Personal, lalu isi data diri dengan lengkap. Kosongkan saja kolom Nomor Paspor Lama dan Nomor Rekomendasi Kemenaker. Setelah itu, file scan akte-KTP-kartu keluarga yang sudah gue sebut tadi bisa di-upload.

Screenshot Layanan Paspor Online

Screenshot Layanan Paspor Online

Nah, gue sempet gagal mengunggah file scan KTP gue. Barulah setelah file-nya gue crop, sehingga tinggal menyisakan gambar KTP aja tanpa bagian kosong, file-nya berhasil di-upload. Setelah itu, pilih di kantor imigrasi mana kamu akan melakukan prosedur selanjutnya. Nggak harus sesuai dengan KTP kok. Gue yang ber-KTP Jogja, bisa melakukan proses panggilan di Kantor Imigrasi Bandung karena tanggal 12 gue udah harus balik ke Bandung. Gue sendiri memilih tanggal 13 Agustus 2013 sebagai waktu kehadiran ke Kantor Imigrasi Bandung. Terakhir, kalian akan menerima sebuah lembar permohonan pembuatan paspor dalam format pdf yang harus dibawa ke kantor imigrasi.

Hari itu tiba. Selasa, 13 Agustus 2013…

Udara dingin Bandung membangunkan gue pagi itu. Dengan semangat untuk membuat paspor, gue mengalahkan kemalasan dan bergegas mandi. Pasalnya, kalau gue gagal datang ke kantor imigrasi hari ini, gue harus kembali mengulang proses dari awal. Males banget. Sesuai dengan informasi yang tertera di lembar permohonan pembuatan paspor, gue membawa serta dokumen-dokumen asli gue seperti KTP, akte kelahiran, dan kartu keluarga. Dengan angkot Cicaheum-Ciroyom, gue meluncur menuju Kantor Imigrasi Bandung yang ada di Jalan Surapati.

Sempet mampir di Simpang Dago buat nge-print surat permohonan pembuatan paspor. Saat gue menengok ke utara, gue baru sadar bahwa langit Bandung pagi itu begitu cerah dan bersih!

Gedung Dago Butik, dengan langit biru yang bersih di belakangnya

Gedung Dago Butik, dengan langit biru yang bersih di belakangnya

Gue sampai di kantor imigrasi sekitar pukul 09.00, sesuai dengan rentang waktu yang ditentukan, yaitu pukul 08.00-11.00. Tadinya gue bingung kenapa hanya dibatasi kayak gitu. Ternyata setelah dijalani, jam 08.00-11.00 adalah waktu pengambilan nomor antrian. Jadi, kamu harus mau bangun pagi untuk membuat paspor. Suasana kantor imigrasi kala itu rame banget! Mungkin karena kantor habis tutup seminggu, jadi semua pemohon dalam seminggu tumpah ruah jadi satu.

Begitu masuk, yang pertama harus dilakukan adalah mengambil formulir. Iya, meskipun udah mengisi data di internet, eh tetep harus mengisi formulir data diri di situ. Baru setelah diisi, kamu bisa meminta nomor antrian. Bilang keperluannya apa, karena beda keperluan bakal dikasih nomor antrian yang berbeda. Ada setidaknya loket A sampai J di situ. Untuk paspor online, loketnya adalah loket C, yang ada di sisi kanan ujung.

Kita sampai di bagian cerita yang paling bikin gondhok.

Gue menyerahkan dokumen-dokumen asli gue, dan ternyata petugasnya bilang bahwa yang diserahkan adalah fotokopiannya aja.

Gue: “Lho, tapi katanya yang asli aja, Pak.”

Petugas: “Asli dan fotokopi. Gini ya, mas. Mas kan upload file di internet. Nanti kalau ternyata jaringan internet-nya error terus file mas nggak ter-upload dengan baik gimana?”

Gue: ngangguk-ngangguk, ngebatin, “Ya mana gue kepikiran soal itu? Kita kan cuma tahu beres. Harusnya informasi itu dicantumkan di lembar permohonan itu. ”

Gue buru-buru keluar dan cari tempat fotokopi. Got it! Ada di sebelah kiri kantor. Gue lalu balik lagi ke dalam. Untungnya nggak perlu minta antrian lagi, bisa langsung ke loket C itu. Si akang petugas memeriksa kesamaan informasi yang tertera di ketiga dokumen dan formulir, lalu memberikan cap. Eh, gue lalu diminta buat fotokopi kartu mahasiswa dan kasih meterai di formulir. Kenapa nggak bilang di interneeeeeeeeettt? -___________-

Fyuh, akhirnya kelar juga proses pengumpulan formulir dan dokumen ini, meskipun gue harus dua kali bolak-balik ke tempat fotokopian. Karena gue udah dateng pagi, gue bisa wawancara dan pengambilan foto di hari yang sama, jam 2 siang. Sekali lagi gue bilang, kalau mau paspornya cepet jadi, bangun pagi!

Di prosedur yang kedua ini, gue pertama menghadap ke loket F untuk melakukan pembayaran. Biayanya Rp 255.000,00 saja, Sodara-sodara. Setelah itu deh, baru menunggu panggilan untuk foto dan wawancara di sebuah ruangan panjang di sisi kanan. Pengambilan foto dilakukan dengan agak seadanya, tinggal duduk di hadapan bapak petugas. Tanpa lighting. Wawancara juga dilakukan dengan simpel, cuma ditanya mau ngapain ke luar negeri? Negara mana yang pertama bakal dikunjungi? Agak kurang tepat ya disebut dengan istilah “wawancara”. Ya maklum sih, antriannya panjang. Pak petugas bilang, paspor bisa diambil paling cepat tanggal 16. Jadi cuma butuh kira-kira 3-4 hari untuk menyelesaikan proses pembuatan paspor ini.

Hari ini, 19 Agustus, gue datang buat ngambil paspor. Tanggal 16-nya kelupaan soalnya. Pengambilan paspor dilayani di loket J, sudut kiri ruang besar itu. Antriannya nggak lama kok. Dalam sekejap, paspor udah di tangan.

Sayang fotonya kurang kece :'((

Sayang fotonya kurang kece :'((

Yah, rencananya sih mau ke Singapore awal Oktober nanti. Tapi belum pesen tiket, masih cari temen. Yang jelas, seperti kata temen-temen gue, bikin paspor itu langkah iman. Yakin deh, nggak berapa lama setelah bikin, akan ada pintu-pintu terbuka buat jalan-jalan ke luar negeri. Ya kayak gini aja sih. Lo berdoa sama Tuhan buat bisa jalan-jalan ke luar negeri, tapi lo sendiri belum punya paspor. Gimana Tuhan mau mengabulkan doanya? Iya nggak?

Jadi, siapa mau menyusul gue bikin paspor? Atau ikut gue jalan-jalan? Cheers! 😀

8 thoughts on “Membuat Paspor: Langkah Iman Jalan-Jalan ke Luar Negeri

  1. thankyou banget mas infonya, pantas saja saya input scan KTP gagal terus jadi gak bisa ada space kosong gitu yaah ..
    udah dapet jadwal potonya tapi lama bgt tgl 24 des 😦
    mas btw, pembayaran passpor online skrang di bank yah? di

  2. hehe walau saya urusnya di jakarta tapi tulisan ini menarik untuk dibaca jadinya saya baca sampai selesai juga deh. .saya juga kebetulan lagi mau urus sendiri paspor saya yang sudah expired. Persiapan kalau butuh ke luar negeri gak perlu urus lagi. mahasiswa S1 ? kalau S1 happy traveling dek. 😀

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s