Harmonisnya St. George’s Church dan Masjid Kapitan Keling

SUPERTRIP #1 – SIKUNANG Part 12

Selesai mandi dan istirahat sekedarnya, yaitu dengan duduk-duduk di atas kasur sambil mengamati peta pariwisata Georgetown, gue memutuskan untuk turun dan berjalan-jalan sejenak. Gue mengajak Aska, tapi dia lebih memilih untuk leyeh-leyeh di dorm hostel. Ya sudah, untuk ketiga kalinya, gue kelayapan sendiri dalam perjalanan kali ini.

Hari sudah menunjukkan sekitar pukul 07.00 petang, tapi langit Georgetown masih cukup cerah dengan warna birunya yang memikat. Dari hostel, gue berjalan ke arah kanan menuju St. George’s Church. Gereja bergaya arsitektur western neo-classical itu berdiri cantik di sudut persimpangan Lebuh Farquhar dan Jl. Masjid Kapitan Keling, berhadap-hadapan dengan Court Buildings. Guyuran warna putihnya memberikan nuansa agung bagi gereja yang menjadi gereja Anglikan tertua di kawasan Asia Tenggara ini, serasi dengan gradasi biru dari langit kala senja itu.

Gereja yang didedikasikan bagi St. George (nama orang suci atau santo) ini didirikan pada 1817 oleh East India Company pada masa penjajahan Inggris. Titik tertinggi gereja ini adalah pada menaranya yang berbentuk oktagonal. Bagian yang paling menarik dari gereja ini adalah adanya portico ala Yunani — yaitu serambi yang memiliki banyak tiang — di luar teras depan. Pernikahan pertama yang diadakan di gereja itu adalah pernikahan Janet Bannerman dengan Gubernur W.E. Philips Esq pada 30 Juni 1818. Janet sendiri merupakan putri dari Colonel John Alexander Bannerman, the former British governor of Penang. Pada masa pemerintahan beliaulah gereja ini dibangun.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sekarang, St. George’s Church menjadi bagian dari Georgetown Heritage Site bersama dengan bangunan-bangunan tua lainnya yang tersebar di penjuru kota ini. Gereja masih berfungsi sebagai tempat ibadah, dengan jadwal kebaktian pada setiap hari Minggu pagi pukul 08.30 (mohon koreksinya jika ada jadwal yang lain). Pasangan-pasangan non-Kristen pun kerap melangsungkan sesi pre-wedding di gereja yang cantik ini.

Selesai mengambil beberapa gambar, gue lalu berjalan menyusuri Jl. Masjid Kapitan Keling, melalui segerombolan remaja berseragam yang ternyata adalah anggota komunitas chinese setempat. Gue lalu berbelok ke kiri, masuk ke kawasan Little India, tepatnya ke Lebuh Queen dan Lebuh King. Kawasan Little India di Georgetown, Penang, ini terkesan lebih klasik dengan jalanannya yang masih berbatu, bukan beraspal. Juga nggak seramai Little India di Singapura atau Kuala Lumpur, hanya tampak beberapa pejalan kaki, para pesepeda, segelintir pengguna sepeda motor, dan mobil-mobil yang diparkir di tepi jalan. Lampu-lampu hias yang berwarna-warni melintang di langit-langit, berkolaborasi dengan lampu-lampu jalanan yang bersinar keperakan dengan syahdu.

Niatnya sih mau cari makan, tapi gue nggak melihat warung makan yang cukup menarik. Beberapa restoran berjajar di tepi jalan, tampak lengang dengan sedikit atau bahkan tanpa pengunjung. Warung-warung tenda malah tampak sedikit lebih semarak. Gue pun memilih sebuah warung tenda itu, menikmati seporsi nasi putih dan ayam gulai, dilengkapi dengan segelas teh tarik panas. Gue nggak terlalu suka ayam gulainya, kayaknya mengandung terlalu banyak santan. Total harganya 7.2 RM, agak mahal menurut gue.

Segelas teh tarik panas selalu dapat mengembalikan energi dan vitalitas gue. Makanya, setelah beberapa menit memberikan waktu bagi sistem pencernaan ini, gue langsung semangat buat jalan lagi.

Gue berjalan menuju Masjid Kapitan Keling yang juga berdiri di sudut persimpangan. Masjid ini merupakan masjid historis paling populer di Penang. Sebelum ada Masjid Negara Penang (yang letaknya masih belasan kilometer dari pusat kota Georgetown), Masjid Kapitan Keling inilah yang difungsikan sebagai masjid negara. Nama Kapitan Keling sendiri diberikan sebagai penghormatan kepada Caudeer Mohuddeen, pemimpin komunitas India Muslim sebagai inisiator dalam pembangunan masjid itu pada 1800.

Pada saat awal pembangunan, bentuk masjid masih jauh dari apa yang gue lihat saat itu. Barulah saat direnovasi pada 1930, masjid mendapatkan bentuknya seperti saat ini. Aula sembahyang utama ditinggikan dua kali lipat dan sistem ventilasinya diperbaiki sehingga memungkinkan lebih banyak cahaya alami yang masuk. Masjid berbentuk geometris dengan guyuran warna kuning tua untuk dinding luarnya ini memiliki kubah-kubah berwarna hitam dengan gaya Moghul. Desain indah tersebut dibuat oleh seorang arsitek Jerman bernama Henry Alfred Neubronner.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Selesai dengan Masjid Kapitan Keling, gue lalu melalui sebuah kuil chinese bernama Yap Kongsi Temple, sebelum akhirnya masuk ke Armenian Street atau Lebuh Armenia dan berbaur dengan keramaian pasar malam. Pasar malamnya nggak gede-gede amat sih, cuma di sepanjang jalan itu doang, jalannya pun juga cuma jalan kecil. Isinya ada penjual makanan kecil, berbagai macam pernak-pernik, hingga robot-robotan. Pertunjukkan barongsai juga sanggup menarik perhatian seluruh pengunjung, kontras dengan sebuah aksi menyanyi yang dilakukan oleh 3 orang muda-mudi di salah satu sudut jalan yang tak mendapat perhatian berarti.

Yang menarik, di Armenian Street ini gue menemukan sebuah toko barang antik yang menggantungkan sepeda-sepeda tuanya di atas. Ada pula Museum Batik, tapi sayang berbayar. Gue iseng membeli sepotong es lilin seharga 2 RM, itung-itung nostalgia masa kecil. Penjualnya adalah seorang oma-oma chinese dengan wajah yang penuh dengan kehangatan dan keramahan. Ada juga bapak-bapak berkacamata penjual es gerobak yang nggak pernah kehabisan pengunjung.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Gue menikmati sepotong es lilin rasa Mangga itu sambil duduk-duduk di trotoar Masjid Kapitan Keling. Trotoarnya luas dan ada tempat buat duduk-duduk. Beberapa sopir becak tampak tertidur pulas di atas becaknya, atau hanya duduk menunggu calon penumpang dalam sepi. Buat gue, suasana kota Georgetown ini mirip dengan suasana Yogyakarta. Kota berkembang yang masih tenang, dengan sepeda tua atau becak yang hilir mudik di jalan-jalan kecilnya, trotoarnya yang berwarna merah, bangunan-bangunan tua yang tetap berdiri anggun di tengah arus modernisasi, hingga tiang-tiang lampu kota yang berwarna syahdu keemasan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kedua kaki ini lalu mengajak gue melangkah meninggalkan Masjid Kapitan Keling, masuk ke dalam Lorong Stewart menuju Benggali Mosque dan Hainan Temple. Melalui persimpangan Love Lane, gue lalu masuk ke Lebuh Muntri tempat Benggali Mosque itu berada. Gue melangkah melalui sebuah jalan yang lengang dan temaram seorang diri, sesekali melempar pandang iri kepada sekelompok muda-mudi yang sedang menikmati waktu kebersamaannya di cafe-cafe pinggir jalan yang sedikit mampu memecah kesunyian. Ah, coba Aska mau diajak jalan, kita bisa ‘tuh ikutan nongkrong di salah satu cafe itu.

Gue terus berjalan melalui hostel demi hostel, bangunan tua demi bangunan tua, namun Benggali Mosque itu tak kunjung gue temukan. Gue lalu memeriksa peta yang gue bawa di dalam tas. Ternyata lokasinya masih cukup jauh, masih beberapa ratus meter lagi. Karena udah nggak kuat jalan, gue lalu memutuskan untuk kembali ke hostel. Yah, setidaknya malam ini gue udah mencicipi sedikit keindahan dan nuansa klasik Georgetown, menikmati romantisme berjalan menyusuri jalan-jalan Georgetown pada malam hari.

Namun, kesyahduan itu langsung lenyap seketika saat gue berjalan menghampiri hostel. Sayup-sayup, gue mendengar suara dentum musik yang terdengar semakin keras. Saat gue sampai di depan pintu hostel, gue hanya berdiri terpaku beberapa saat, menyadari bahwa sumber kegaduhan itu ada di balik pintu ini. Gue melangkah masuk ke dalam, dan bener deh, para penghuni hostel itu lagi asik ajojingan di dalam bar. Gue buru-buru naik ke atas dan masuk ke dalam kamar. Blam!

15 thoughts on “Harmonisnya St. George’s Church dan Masjid Kapitan Keling

  1. Glad you enjoyed Penang! 🙂 I’m actually travelling there next month and this was helpful. I’m ashamed to say that as a Malaysian, the last time I was in Penang was more than ten years ago. 😛

    • Yes, I did enjoy my trip in Penang. It has many beautiful old buildings and other tourism attractions.

      What? 10 years ago? That is so looonggg ago, hahaha. Glad that you found this article helpful. You understand Bahasa Indonesia? Some words or phrases here are written in Jakartan teenagers style 😀

      • Yes, but I live in KL so it’s like five hours away to drive there and I never found the time to go there. It’s changed a lot.
        I understand most of it, or at least the gist of it, since it’s quite similar to Bahasa Melayu. 🙂

  2. gak jadi-jadi mau jalan ke Penang dari dulu, selalu ter-distract dengan destinasi lain haha. kapan2 pengen cobain landtrip pake KTM dari KL Sentral ke Hat Yai mampir Butterworth dulu 🙂

  3. hai salam kenal saya fakh, ternyata selera kita sama ya, lbh suka trip ke bangunan arsitektural, kalau saya lbh ke bangunan klasik, semoga kapan2 bisa share dengan tema ini hehe

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s