Kemegahan Senja di Atas Candi Ijo, Yogyakarta

5 Agustus 2014.

Aku berkendara dengan sepeda motorku di bawah matahari sore yang bersinar terik di langit Yogyakarta. Membelah jalanan kota yang ramai dengan berbagai macam moda transportasi — sesama sepeda motor, bus kota, mobil, hingga becak dan andong. Di belakang, mbak Nana mengekor dengan patuh di atas sepeda motor matic-nya.

Kami memulai pergerakan kami sore ini dari tempat tinggalku, Dusun Kadipiro, yang terletak tepat di luar batas barat kotamadya Yogyakarta. Tujuan kami adalah Candi Ratu Boko, yang posisinya tidak jauh dari Candi Prambanan. Menurut mbak Nana, rute melalui Jalan Wonosari lebih cepat dan lebih leluasa. Namun karena kami harus menemui teman-temanku dulu di Janti, maka kami pun harus melalui rute Jalan Solo.

Aku dan mbak Nana baru berkenalan hari ini. Sebelumnya, kami terlibat dalam sebuah perbincangan singkat di jejaring sosial khusus kalangan traveler bernama Couchsurfing (CS). Saat itu aku membuat suatu post untuk mengajak anak-anak CS Jogja main ke Candi Boko. Aku bosan terus menganggur di rumah, hahaha. Dari beberapa orang yang merespon, hanya mbak Nana yang klop. Kami kemudian saling bertukar nomor ponsel untuk selanjutnya berhubungan melalui aplikasi chatting WhatsApp.

Ruins of Candi Ijo

Ruins of Candi Ijo

Kami terus bergerak ke timur, ke arah perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta. Melalui Jalan Kusumanegara, Kebun Binatang Gembiraloka, Jogja Expo Center (JEC), hingga sebentar kemudian kami sampai di bawah fly-over (jembatan layang) Janti. Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih 30 menit dengan kondisi lalu lintas ramai lancar.

Aku menghentikan sepeda motorku di pinggir jalan dekat persimpangan untuk memberi kabar bahwa kami sudah sampai. Tak ada respon. Aku telepon, pun tak diangkat. Tak lama, seorang pemuda tanggung memanggil namaku dari belakang. Aku menoleh, mengenali pemuda itu sebagai mas Alfi, atau akrab dipanggil mas Grenx. Entah bagaimana caranya dia mendapatkan panggilan itu. Hebat dia bisa langsung mengenaliku dari belakang, padahal ini juga pertama kalinya kami bertemu langsung.

Mas Grenx aku kenal dari sebuah grup pejalan bernama City Explorer Community. Sama seperti Backstrip (Backpacker Stripping), komunitas ini juga lahir dari thread yang aku buat di forum Backpacker Indonesia. Bangga deh bisa jadi pendiri grup seperti ini, hahaha. Begitu pula dengan 2 teman kami yang lain, Ayu dan Umi.

*brb ambil rebana* *pake peci* *bersimpuh* *lalu bersenandung, “Umiiii… Umiii”*

Abaikan.

Let me introduce you (left to right): Ayu, me, Nana, Grenx, and Umi

Let me introduce you (left to right): Ayu, me, Nana, Grenx, and Umi

Karena tak kunjung ada kabar, sementara sore sudah semakin larut, aku mempersilakan mbak Nana untuk berangkat lebih dulu agar tetap dapat mengabadikan momen matahari terbenam di Boko. Gadis itu pun pergi dengan sejumput perasaan tidak enak. Beberapa menit kemudian, kami mendapat kabar bahwa Ayu dan Umi sudah berangkat lebih dulu ke Candi Ijo.

“NGOMONG DARI TADI BISA KELEUS! TADI KATANYA KETEMU DI JANTI DULU!” aku meraung penuh amarah di dalam dada.

Tak ingin buang-buang waktu lagi, aku dan mas Grenx bergegas menyalakan mesin sepeda motor kami. Kami serempak membaur kembali dengan jalan raya, melaju menuju arah Candi Prambanan. Selama beberapa puluh menit lamanya, kami hanya berkendara lurus-lurus saja. Namun beberapa puluh meter sebelum Candi Prambanan, kami berbelok ke kanan memasuki sebuah jalan yang tidak begitu lebar. Aku yang baru pertama kali ke tempat ini, terus memfokuskan mataku kepada mas Grenx agar tidak tertinggal jauh di belakang.

Ruins of Candi Ijo

Ruins of Candi Ijo

Kami kemudian memasuki jalan pedesaan yang sempit, diapit dengan lahan persawahan hijau di kanan dan kirinya. Ah, segarnya pemandangan seperti ini.

“Mau ke Candi Boko atau Ijo dulu?” tanya mas Grenx saat kami tiba di sebuah persimpangan.

Aku berpikir sejenak.

“Mm, Candi Boko aja deh,” sahutku.

Mas Grenx lalu membimbingku berbelok ke arah kiri. Belum beberapa lama berjalan, kami berpapasan dengan mbak Nana. Kami sedang bergerak naik, sementara dia malah bergerak turun.

“Nggak jadi ke Candi Boko. Udah naik tarifnya, Rp 25.000,00!” sembur mbak Nana dengan dongkol.

“Gimana, jadi nggak?” tanya mas Grenx padaku.

“Hehe, nggak deh. Candi Ijo aja,” aku meringis malu-malu.

Akhirnya, kami bertiga menetapkan Candi Ijo sebaga destinasi kami. Untuk kalangan pejalan hore-hore seperti kami, ongkos seharga Rp 25.000,00 tersebut cukup berat. Tambah Rp 5.000, sudah bisa masuk ke Candi Prambanan. Memang, biaya tersebut digunakan untuk perawatan objek wisata yang bersangkutan. Tapi, kami hanya ingin melampiaskan waktu senggang kami, jadi kami lebih memilih tempat-tempat hemat, sekedar bisa berkumpul dan menikmati suasana.

Enjoying the afternoon

Enjoying the afternoon

One of the 4 main temples

One of the 4 main temples

Aku tidak menyangka bahwa kondisi jalan menuju Candi Ijo akan seperti ini. Di hadapanku, sebuah jalan berbatu menjulur panjang ke atas. Sementara mas Grenx dan mbak Nana berkendara mulus dengan sepeda motor matic-nya, aku terseok-seok di belakang. Sepeda motor Honda Supra ini sudah mengeluarkan suara-suara raungan yang aneh. Aku harap dia tetap kuat hingga sampai ke tempat tujuan. Maklum, aku memang belum pernah menggunakannya untuk kondisi seperti ini. Jadi, aku tak tahu bagaimana ketangguhan si Supri menghadapi tantangan medan menanjak tajam dan berbatu-batu.

Syukurlah, setelah bergumul selama beberapa puluh menit dengan medan menantang tadi, aku berhasil sampai ke tempat tujuan. Si Supri aku tinggalkan di tempat parkir dalam keadaan mesin yang panas. Bersama dengan beberapa pengunjung lainnya, kami bertiga berjalan kaki beberapa meter memasuki komplek Candi Ijo yang terletak di atas Bukit Ijo (Gumuk Ijo) setinggi 410 mdpl. Konon, karena lokasinya inilah, Candi Ijo didapuk sebagai candi tertinggi di Yogyakarta.

Two main temples of Candi Ijo. The temple at the back is the biggest one.

Two main temples of Candi Ijo. The temple at the back is the biggest one.

Setelah melalui sebuah pos jaga dengan fasilitas kamar mandi umumnya, kami bertiga memasuki sebuah pelataran berumput. Reruntuhan candi terletak di beberapa titik di dalam pelataran, mengingatkanku pada Situs Megalithikum Gunung Padang di Cianjur. Dua orang gadis terduduk di salah satu titik, di antara dua buah reruntuhan. Salah satunya dengan mudah kukenali sebagai Ayu. Berkulit putih, memakai kacamata, rambut hitam panjang yang dkucir, dengan postur tubuh proporsional setinggi 165 cm. Maka, gadis tambun berjilbab itu pastilah Umi.

Umi adalah warga lokal Yogyakarta yang masih melakukan studinya di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Sementara Ayu, yang berdomisili di Jakarta, mampir ke Jogja untuk mengisi rangkaian perjalanan pulang kampungnya di Solo. Lusa pagi dia sudah akan kembali ke Solo.

Beberapa saat kami terlibat dalam sebuah perbincangan ringan untuk saling mengenal satu sama lain. Lalu, melihat langit yang sudah mulai dipoles dengan guratan berwarna oranye, aku meninggalkan keempat temanku itu. Naik ke atas komplek utama Candi Ijo yang memiliki satu buah candi tertinggi. Dari sini, aku bisa melihat pemandangan yang terbentang luas. Matahari sore yang bersiap lenyap dari cakrawala. Lahan persawahan dengan petak-petak pemukiman warga. Jalanan Yogyakarta yang hanya berupa garis-garis horizontal dan vertikal.

Ruins at the lower terrace

Ruins at the lower terrace

View from the 11th terrace

View from the 11th terrace

Aku lalu mengamati candi-candi di komplek ini. Mengagumi ukiran-ukiran rumit di permukaan luarnya. Menengok apa yang berada di dalamnya. Mengambil gambar dari beberapa sudut. Memperhatikan aktivitas anak-anak muda lokal dan beberapa turis asing.

Candi yang dibangun pada abad ke-9 ini terdiri dari 17 struktur bangunan yang terbagi dalam 11 teras berundak. Setiap teras mewakili tingkat kesakralan yang berbeda. Teras ke-11 berisi pagar keliling, 8 buah lingga patok, 4 buah candi utama, dan 3 buah candi perwara. Ketiga candi perwara tersebut merupakan perwujudan masyarakat Hindu yang memuja Dewa Brahma, Wishnu, dan Siwa. Terdapat sebuah bak api pengorbanan (homa) yang dulu digunakan untuk menyembah Dewa Brahma (sumber rujukan: Yogyes).

DSC_3482 DSC_3486

Kami berlima kemudian bersatu lagi dalam sebuah kelompok, ber-selfie tanpa malu dengan bantuan monopod milik Ayu.

“Hei, lihat! Langitnya bagus!” seru Umi.

Aku dan yang lain bergerak mengikuti arah telunjuknya.

Tuhan memberikan pertunjukkan terbaiknya untuk kami sore ini. Dari balik sebuah awan kelabu yang besar, berkas-berkas sinar matahari yang keemasan berpendar ke berbagai sudut. Memoleskan warna biru dan jingga sekaligus di atas lembaran langit senja.

Aku buru-buru mengeluarkan ponselku dan mengabadikan momen langka ini. Alih-alih memudar, permainan warnanya justru tampak semakin tegas dari menit ke menit. Syukurlah kamera ponselku dapat tetap menangkap kekayaan warnanya dengan baik, meskipun tentu hasil yang didapatkan dengan kamera DLSR atau mirrorless akan jauh lebih apik.

The silhouette

The silhouette

The golden sunset between the two temples

The golden sunset between the two temples

Magnificent!

Magnificent!

Pengunjung beringsut meninggalkan komplek candi seiring dengan sang petugas jaga yang mengumumkan bahwa waktu berkunjung sudah habis. Dia menghalau setiap pengunjung untuk kembali turun. Pada menit-menit awal, tak ada yang mengabaikan petugas jaga itu. Masing-masing masih asyik berfoto atau duduk-duduk menikmati suasana. Namun, ketika gelap mulai datang menyergap, dan adzan maghrib yang berkumandang memanggil umatnya, satu per satu pengunjung berjalan turun mematuhi perintah sang petugas.

Dengan bantuan lampu depan sepeda motor, kami berlima berjalan beriringan menuruni jalanan desa yang berbatu. Kali ini kami memilih rute Jalan Wonosari yang lebih cepat dan tidak seramai Jalan Solo. Saat mulai memasuki wilayah perkotaan, mbak Nana meminta izin undur diri, sementara kami berempat masih ingin menghabiskan waktu kebersamaan di Tugu Pal Putih yang selalu ramai dikerumuni wisatawan dan anak-anak muda lokal yang trendi.

Our happy selfie

Our happy selfie

Kalau kamu jalan-jalan ke Jogja, Candi Ijo dapat menjadi objek wisata alternatif selain Candi Prambanan yang sudah sangat mainstream. Cukup mengeluarkan biaya untuk parkir, Rp 2.000,00. Sebaiknya menyiapkan perbekalan seperti air minum dan cemilan, tapi jangan buang sampahnya di candi ya.

Mau sunrise atau sunset, keduanya bisa dinikmati di sini. Jika beruntung, kamu bisa menyaksikan momen pesawat yang mendarat atau lepas landas dari Bandara Adi Sutjipto, mengingat lokasi candi ini terletak pada batas timur bandara. Cukup tengok ke arah barat atau belakang komplek candi. Karena lokasi candi inilah, bandara tidak bisa diperpanjang ke arah timur. Kemudian, kamu bisa lanjut mengunjungi Candi Ratu Boko, Candi Abang, Candi Sambisari, Candi Sari, Candi Plaosan, dan Candi Banyunibo yang letaknya saling berdekatan.

Because selfie at the front of The Tugu is cool!

Because selfie at the front of The Tugu is cool!

Selamat malam, Jogja 🙂

28 thoughts on “Kemegahan Senja di Atas Candi Ijo, Yogyakarta

  1. eh Jogja ki candine akeh tenan. Setua gini ke Prambanan, baru ngeh ada banyak candi unik di kompleksnya yang luas. Dulu taunya cuma Prambanan doang. Etapi, seriusan baru tau ada candi di deket bandara nih 😥

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s