Jejak Cheng Ho di Klenteng Sam Poo Kong, Semarang

Sekitar pukul 05.00, bus Bandung Express yang gue naiki mulai memasuki kota Semarang. Sesaat gue bingung mau turun di mana. Lalu gue ingat kalau Hotel Neo Candi yang akan gue inapi terletak nggak jauh dari Klenteng Agung Sam Poo Kong. Dengan cepat gue memutuskan Klenteng Sam Poo Kong sebagai tujuan pertama gue dalam jalan-jalan edisi Semarang Ekspres kali ini.

Mbak-mbak asli Semarang yang duduk di sebelah gue sama sekali nggak membantu. Nggak tahu sebaiknya gue turun di mana kalau mau ke Sam Poo Kong. Nggak tahu harus naik angkot atau BRT apa kalau gue mau ke sana, atau jam berapa mulai beroperasi. Bahkan mungkin dia juga nggak tahu alamat rumahnya, pffft. Gue lalu bertanya kepada awak bus. Dia menjawab sebaiknya gue ikut bus sampai mentok saja di Karangsaru.

Pukul 05.15-an, bus berhenti di pool akhir Karangsaru. Gue turun dan berjalan ke arah jalan utama, Jl. MT. Haryono, mengikuti insting. Selama sesaat, gue bingung harus ngapain. Gue coba cek lokasi melalui Google Maps, mencari tahu jarak dan rute berjalan dari lokasi saat itu menuju Klenteng Sam Poo Kong. Ternyata… jauh!!!

Gue melihat berkeliling mengamati situasi sekitar. Nggak banyak pilihan warung makan yang bisa gue jadikan tempat sarapan sebelum beranjak ke Klenteng Sam Poo Kong. Gue menghampiri sebuah warung mirip angkringan yang sedang dikelilingi oleh sekumpulan bapak-bapak, menanyakan rute angkot menuju Sam Poo Kong. Gue disarankan untuk naik angkot menuju Johar, lalu disambung dengan angkot Sampangan.

Jadi, dari Jalan MT Haryono itu, gue naik angkot menuju Johar. Angkot di kota Semarang memiliki warna seragam oranye, nggak kayak angkot di Bandung atau Jawa Barat yang warna-warni. Tarif angkot sampai Johar adalah Rp 3.000.

Dari depan Kantor Pos, gue stop angkot yang melintas, namun pak sopir mengatakan bahwa angkot tidak berhenti di Sam Poo Kong, harus disambung lagi. Gue naik dengan pasrah, mungkin bapak-bapak tadi sedikit keliru. Namun, saat gue berada di dalam angkot, gue lalu berpikir bahwa mungkin gue salah naik angkot. Ya sudahlah, enjoy the ride.

Perjalanan dengan angkot kedua ini cukup lama. Kami berdua — gue dan pak sopir — berkendara melalui jalan-jalan protokol kota Semarang. Kami bahkan melalui beberapa tempat populer, seperti kawasan Kranggan dan Pekojan. Setelah mengamat-amati rute yang dilalui, gue berpikir bahwa awak bus tadi memberikan saran yang keliru. Harusnya gue turun di Simpang Lima atau Tugu Muda aja tadi. Tapi ya sudah, gue tetap menikmati perjalanan ini. Yang gue suka dari Semarang ini adalah keberadaan taman-tamannya yang asri di banyak sudut jalan. Kesan pertama yang baik 😀

Turun di Karangayu dengan memberikan ongkos sebesar Rp 4.000, perjalanan gue lanjutkan dengan angkot berwarna kuning menuju Klenteng Sam Poo Kong. Selain gue, ada dua orang ibu-ibu dan simbok-simbok yang baru pulang dari pasar, membawa sekarung besar belanjaan.

Gue menikmati momen pagi itu. Meski harus ngangkot cukup jauh dengan total ongkos Rp 10.000, tapi gue seneng bisa mengamati dan bahkan berinteraksi dengan warga lokal yang baru memulai harinya. Dengan bapak-bapak di angkringan, dengan pak sopir, bahkan dengan simbok-simbok yang baru pulang dari pasar itu. Meski Semarang adalah sebuah kota besar, namun keramahan dan gaya hidup warganya sejenak membuat gue merasa sedang berada di pedesaan.

Gue turun persis di depan Klenteng Sam Poo Kong yang beralamat di Jalan Simongan 129. Saat itu waktu baru menunjukkan sekitar pukul 06.00, klenteng belum beroperasi. Kebetulan ada sebuah warung nasi rames di samping halaman parkir klenteng. Gue memutuskan untuk sarapan di situ, menikmati sepiring nasi rames telor ceplok dan segelas kopi. Yes, I drink coffee every morning.

Gerbang Masuk Klenteng Sam Poo Kong

Gerbang Masuk Klenteng Sam Poo Kong

Di warung nasi rames pun gue sempat bercakap-cakap dengan ibu pemilik warung dan seorang pekerjanya. Tentang dari mana gue berangkat, kota asal gue, mau ngapain gue di Semarang. Dengan bahasa Jawa krama, tentunya 😀

Menjelang pukul 07.00 setelah selesai sarapan dan men-charge henfon di warung nasi rames, gue putuskan untuk berjalan masuk menuju klenteng Sam Poo Kong. Tapi, langkah gue terhenti di depan pintu masuk, nggak ada siapa-siapa yang berjaga di dalam loket.

“Mau masuk, mas?” celetuk salah satu satpam yang berjalan menghampiri gue dari dalam kompleks.

Gue mengiyakan.

“Satu orang aja?” dia melanjutkan dengan aksen medoknya.

Gue iyakan lagi.

“Jomblo ya, mas?”

Gue lempar daypack. Hih!

Satpam itu kemudian mempersilakan gue masuk. Gratis. Padahal gue harusnya bayar Rp 3.000. Traveler’s luck! 😀

Suasana Klenteng masih sangat sepi saat itu. Beberapa pekerja masih bersiap-siap di dalam salah satu bangunan yang dijadikan sebagai semacam tempat berkumpul para pekerja. Petugas kebersihan juga masih berusaha menyelesaikan tugasnya dengan menyapu halaman kompleks dari dedaunan. Belum ada pengunjung lain. Gue menjadi pengunjung pertama dan satu-satunya di Klenteng Sam Poo Kong pagi itu.

Komplek dalam dan luar yang dibatasi dengan pagar dan kolam koi

Komplek dalam dan luar yang dibatasi dengan pagar dan kolam koi

Pohon beringin dan bangku-bangku santai

Pohon beringin dan bangku-bangku santai

Gerbang sekunder Klenteng Sam Poo Kong

Gerbang sekunder Klenteng Sam Poo Kong

Singa penjaga gerbang

Singa penjaga gerbang

Nuansa merah mendominasi hampir seluruh bagian dari kompleks Klenteng Sam Poo Kong. Dari pintu gerbang hingga kuil-kuilnya, seluruhnya diguyur dengan warna merah khas arsitektur Asia Timur. Dalam kepercayaan bangsa Tiongkok, merah adalah warna keberuntungan.

Klenteng Sam Poo Kong ini disebut juga dengan nama Gedong Batu, merujuk pada asal usul klenteng yang pada zaman dahulu merupakan sebuah gua batu yang berdiri di atas bukit. Versi lainnya mengatakan bahwa nama yang benar adalah Kedong Batu, atau tumpukan bebatuan untuk membendung aliran sungai.

Kolam ikan koi di Klenteng Sam Poo Kong

Kolam ikan koi di Klenteng Sam Poo Kong

Patung-patung di pelataran Klenteng Sam Poo Kong

Patung-patung di pelataran Klenteng Sam Poo Kong

Yang menarik, klenteng Sam Poo Kong adalah sebuah kuil yang didirikan untuk menghormati dan memuja Laksamana Zheng He / Cheng Ho. Padahal beliau beragama muslim. Benar-benar muslim, bukan muslim mualaf. Beliau berasal dari Kunyang, Yunnan, di kawasan Cina Selatan yang memang masyarakatnya beragama muslim. Namun, kepercayaan Konghucu atau Tao tetap meyakini bahwa arwah orang baik dapat menolong mereka.

Konon, tempat ini menjadi tempat pendaratan armada Laksamana Zheng He yang melakukan ekspedisi pada abad 14. Setelah menyusuri Sungai Kaligarang, beliau mendarat di desa Simongan ini untuk mengistirahatkan dan merawat anak buahnya yang sakit. Zheng He menemukan sebuah gua batu yang lalu beliau jadikan tempat bersemedi dan sembahyang.

Patung Laksamana Zheng He / Cheng Ho

Patung Laksamana Zheng He / Cheng Ho

Keterangan di bawah patung Zheng He

Keterangan di bawah patung Zheng He

Sebagai bentuk penghormatan kepada Laksamana Zheng He / Ceng Ho, masyarakat kemudian mendirikan kuil ini pada tahun 1724 dan memberikan gelar Sam Poo Tay Djien kepada Zheng He. Di dalam gua terdapat patung Sam Poo Tay Djien yang bersalutkan emas. Selain Klenteng Besar dan gua Sam Poo Kong, juga terdapat Klenteng Tho Tee Kong (Dewa Bumi) dan 4 tempat pemujaan — Kyai Juru Mudi, Kyai Jangkar, Kyai Cundrik Bumi, dan Kyai Tumpeng.

Sayang gue nggak masuk ke dalam gua, hanya berkeliling di kompleks luarnya. Untuk masuk ke dalam kompleks klenteng yang sebenarnya, pengunjung diharuskan membayar lagi sebesar Rp 10.000,00 atau Rp 20.000,00 (turis asing). Kecuali untuk pengunjung yang ingin datang bersembahyang, boleh masuk kompleks dengan gratis.

Nah, di dalam kompleks luarnya sendiri berdiri patung Laksamana Zheng He yang menjulang tinggi di depan pintu gerbang sekunder. Lengkap dengan hikayat singkat tentang hidupnya.

Kuil Besar - Klenteng Sam Poo Kong

Kuil Besar – Klenteng Sam Poo Kong

Bangunan besar di kompleks luar, entah sebagai apa fungsinya

Bangunan besar di kompleks luar, entah sebagai apa fungsinya

Ada sebuah bangunan besar di kompleks luar Klenteng Sam Poo Kong, namun gue kurang paham apa fungsinya. Gedung terdiri atas 2 lantai, tapi di lantai dasarnya hanya terdapat ruang-ruang biasa dengan pintu tertutup rapat. Menuju lantai atas, gue berjalan menapaki anak tangga yang dikawal oleh patung-patung mitologi Cina. Ruang lapang terbentang di lantai atas, tapi nggak ada apa-apa. Hanya pilar-pilar berlapis ukiran naga yang mengisi kekosongan di beberapa sudut, menyangga langit-langitnya yang tinggi.

Yah, setidaknya gue bisa menyepi di sini untuk browsing sejenak mencari informasi seputar Semarang, sambil menikmati pemandangan klenteng dari atas.

DSC_3855 DSC_3873 DSC_3874

Yang menarik, gue menemukan sebuah pendopo dengan arsitektur Jawa yang berdiri di sudut kompleks. Atapnya berbentuk joglo berlapis 3, dengan sepasang arca Dwarapala (?) yang menjaganya. Langit-langitnya disangga dengan tiang-tiang kokoh berwarna hijau gelap yang dilapisi dengan ukiran-ukiran khas Jawa. Keberadaannya menciptakan nuansa multikultur di dalam kompleks Klenteng Sam Poo Kong.

Pendopo bergaya Jawa di klenteng Sam Poo Kong

Pendopo bergaya Jawa di klenteng Sam Poo Kong

Arca penjaga pendopo

Arca penjaga pendopo

Nuansa multikultur di klenteng Sam Poo Kong

Nuansa multikultur di klenteng Sam Poo Kong

Saat berada di dalam kompleks, gue sempat ngobrol dengan seorang pria paruh baya yang datang bersama tuannya dari Surabaya. Sementara kedua tuannya sedang sembahyang, dia berbaik hati mau menerima permintaan tolong gue yang haus akan difoto. Bukti otentik sudah menginjakkan kaki di Klenteng Sam Poo Kong!

Awan mendung mulai tersibak dari cakrawala, digantikan dengan langit biru yang merekah cerah. Pengunjung yang lain mulai berdatangan membawa keriuhan. Berjalan ke sana kemari secara bergerombol dengan berkalungkan kamera atau menggenggam seperangkat tongsis. Keteduhan pagi ini sirna saat tawa dan seru dari para pengunjung bersahutan dari berbagai sudut.

Mentari bersinar di atas atap

Mentari bersinar di atas atap

Cakrawala terbuka

Cakrawala terbuka

Bukti otentik sudah ke Klenteng Sam Poo Kong

Bukti otentik sudah ke Klenteng Sam Poo Kong

Ada ular sanca juga loh!

Ada ular sanca juga loh!

Gue memutuskan untuk berjalan keluar kompleks setelah sebelumnya mencari informasi sejenak berbekal netbook dan modem yang terjejal di dalam tas. Museum Ronggowarsito yang hanya berjarak 2,5 kilometer dari klenteng ini akan menjadi destinasi berikutnya.

24 thoughts on “Jejak Cheng Ho di Klenteng Sam Poo Kong, Semarang

  1. Sam Poo Kong itu teduh. Di pinggirnya lho ya, bukan di tengahnya. Dulu saya jam 1 siang foto-foto sang laksamana dan rasanya saya mau menguap. Hoki banget bisa masuk gratis, pagi-pagi pula. Heheh.
    Di sana juga ada foto dengan kostum Cina atau Korea, heheh. Bayar Rp90k :hiks.

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s