Tertawan Dalam Pendakian di Gunung Papandayan

Selamat pagi, Papandayan

Selamat pagi, Papandayan

Pendakian Gunung Papandayan yang gue lakukan pada awal tahun 2016 ini mungkin jadi salah satu pendakian terburu-buru dalam hidup gue.

Awalnya, pendakian ini akan dilakukan pada kuartal 4 tahun 2015 bersama beberapa anggota dari sebuah grup pertemanan. Gue lupa bulan apa. Namun bencana kebakaran yang melanda Gunung Papandayan pada bulan itu membuat gunung ditutup untuk pendakian dan rencana kami pun kandas di tengah jalan. Sedih sih, tapi nggak sesedih saat kamu menutup hatimu. #ehgimana

Memulai pendakian kami dengan... selfie!

Memulai pendakian kami dengan… selfie!

Namun diam-diam tanpa sempat memberitahu member yang lain, gue dan koh Donny sepakat untuk mengubah jadwal pendakian pada tanggal 16 dan 17 Januari 2016, atau 2 minggu setelah kami mengakhiri trip Bandung – Yogyakarta – Cilacap – Bandung. Mumpung dia belum disibukkan dengan tralala trilili persiapan marriage.

 

“Ya udah, nanti gue bakal ajak lo naik gunung deh.”

Gue masih ingat seloroh yang gue lontarkan padanya beberapa bulan lalu saat kami belum lama berkenalan. Dia mengaku, naik gunung adalah salah satu hal yang sangat ingin dia lakukan, tapi belum kesampaian sampai sekarang.

Mungkin karena belum menemukan partner atau komunitas.

Memandang ke lepas cakrawala dari Hutan Mati

Memandang ke lepas cakrawala dari Hutan Mati

 

Sabtu pagi, Kodon tiba di depan kost dengan nafas terengah dan backpack Eiger berwarna oranye ngejreng yang baru dia beli di EIGER Jalan Wastukencana, Bandung, beberapa minggu sebelum keberangkatan — khusus buat momen pendakian perdananya! Lalu sebentar kemudian, kami berangkat menuju Terminal Cicaheum memanfaatkan free ride dari sebuah transportasi berbasis aplikasi smartphone. You-Know-Who.

Perjalanan berlangsung lancar tanpa sembelit, kecuali saat sedikit tersendat di Jalan A.H. Nasution yang memang selalu padat. Saat tiba di terminal, gue baru ingat bahwa kami belum memiliki gas untuk kompor.

Ya udah, kami masuk ke Alfamart Terminal Cicaheum untuk mencari gas, tapi nggak ada.

*mengheningkan cipta*

“Gampang deh, nanti di sana juga ada kali,” kata gue yang memang cenderung selow dan easy going, meski kadang jadi terkesan menggampangkan situasi.

Berpose di Hutan Mati

Berpose di Hutan Mati

Dari Terminal Cicaheum, kami melanjutkan perjalanan dengan naik angkot minibus jurusan Bandung – Cikajang. Perjalanan berlangsung selama sekitar 3 jam dengan AC (angin candela), sempat terhambat macet di kota Garut. Hampir kami turun di Terminal Guntur, namun kami disarankan untuk terus melanjutkan perjalanan sampai Cisurupan. Ongkosnya Rp 40.000,00 — ini agak dimahalin karena pada awalnya kami bilang turun di Terminal Guntur. Aneh ya, ada aja alasannya, padahal kami belum sempat turun juga.

Kebetulan, ada Alfamart di Cisurupan, yang haleluya-nya menyediakan gas kaleng untuk kompor kami. Dari Cisurupan, kami naik ojek menuju Camp David sebesar Rp 40.000,00 per orang ditambah Rp 12.500,00 untuk tiket masuk Taman Nasional Gunung Papandayan. Harga segitu pantas kok, karena jarak dari Cisurupan menuju Camp David memang masih jauh banget, diperparah dengan medan yang — kayak mood gue gitu deh — naik turun.

Perjalanan menuju Camp David Gunung Papandayan memanjakan kami dengan bentangan pegunungan hijau dan gunung-gunung bumi priangan yang berdiri gagah di kanan dan kiri. Tuhan Maha Kuasa, nggak ada lagi yang bisa gue lakukan selain memandang dengan terpana dari kursi belakang sepeda motor.

Mentari pagi yang menyapa kami di Gunung Papandayan

Mentari pagi yang menyapa kami di Gunung Papandayan

Sampai di Camp David, kami kembali diminta retribusi Rp 6.000,00 dari sebuah pos yang ngakunya untuk kebersihan. Namun, dari karcis yang diberikan kepada kami, kenapa tulisannya karcis barang titipan? Pada akhirnya kami diberitahu oleh salah seorang petugas bahwa kami memang seharusnya tidak diminta retribusi lagi untuk itu. Cukup membayar biaya tiket masuk sebesar Rp 12.500,00 di gerbang utama.

Melalui medan berbatu dan kawah Papandayan

Melalui medan berbatu dan kawah Papandayan

Menit-menit awal pendakian kami diisi dengan menapaki medan luas berbatu-batu yang gersang tanpa pepohonan. Kami sempat berpapasan dengan seorang petugas yang lain, mungkin porter atau apa, yang bertanya apakah kami sudah mengetahui medannya. Gue jawab belum. Dia lalu memberikan wanti-wanti untuk bergabung dengan pendaki lain yang sudah mengetahui jalur pendakian.

Gue agak terkejut dengan kejadian itu. Selama ini, Gunung Papandayan dikenal dengan salah satu gunung teraman untuk pemula. Medannya nggak berat, lama pendakian pun hanya sebentar. Di Prau, Cikuray, bahkan Merbabu, gue nggak pernah mengalami kejadian seperti itu. Kami pendaki dibiarkan berjalan meski kami juga belum mengetahui kondisi lapangan.

Memasuki area hutan

Memasuki area hutan

Namun nasehatnya gue ikuti juga. Gue menghampiri sepasang pendaki lain bernama Fikri dan — sebut saja Fahri — yang selama beberapa menit terakhir ini adu balap dengan kami berdua. Ternyata Fikri sudah pernah mendaki Gunung Papandayan, bahkan beberapa kali, jadi kami aman dalam lindungannya. Mereka berdua masih berstatus mahasiswa tingkat menengah di Institut Teknologi Bandung. Gue mendadak lupa tahun berapa gue lahir.

Setelah melalui kawah yang mendesis yang mengepulkan asap dan aroma belerang yang kuat, kami keluar dari jalan utama dan berbelok ke kanan, masuk ke dalam jalan sempit di tengah hutan. Tak ada medan yang berat, Papandayan jauh lebih ramah dari Cikuray yang ajrut-ajrutan! Beberapa menit setelah kembali ke jalan utama, kami tiba di pos Gober Hut. Di situ kami melakukan pendataan dan menyumbang seikhlasnya.

Nggak kayak tiga gunung lain yang sudah gue daki sebelumnya, ternyata di Papandayan banyak pedagang makanan, bro! Nggak di Saladah, nggak di Gober Hut, warung-warung mi instan, kopi, sampai nasi goreng berjajar sederhana. Kamar mandi tersedia dengan air yang berlimpah menyegarkan!

Pondok Saladah, Gunung Papandayan

Pondok Saladah, Gunung Papandayan

Pondok Saladah dikenal sebagai titik perkemahan populer di Gunung Papandayan, dan itu juga yang gue tahu. Rupanya, selain Pondok Saladah masih ada Gober Hut. Karena Fikri dan Fahri juga membangun tenda di situ, maka kami pun juga membangun tenda di situ. Gue dan Kodon menemukan titik yang cukup datar dan aman untuk membangun tenda rumah tangga kami yang sepertinya merupakan bekas petenda yang lain.

Selesai membangun tenda, kami dihadiahi dengan panorama senja yang memikat dari Gober Hut saat goresan-goresan jingga itu terpoles di atas langit indigo. Gunung-gunung mulai tampak semakin gelap, seiring dengan udara yang semakin dingin dan memaksa kami untuk beringsut kembali ke dalam tenda yang hangat.

Senja dari Gunung Papandayan

Senja dari Gunung Papandayan

Senja di Gunung Papandayan

Senja di Gunung Papandayan

Kokoh couldn't be happier sitting in his first tent

Kokoh couldn’t be happier sitting in his first tent

Kami dan para pendaki di situ sempat dikejutkan dengan kedatangan seekor babi hutan yang menyeruak dari semak-semak. Babi itu lalu asyik mencari-cari makanan dari tumpukan sampah para pendaki, sebelum akhirnya kembali menghilang ke dalam hutan dengan sendirinya. Ternyata, di gunung yang gue kenal sebagai gunung pemula yang aman, gue malah bertemu langsung dengan satwa liar yang menghuni lingkungan di situ. Alam memang tak bisa diduga, setiap kemungkinan harus dipersiapkan dengan baik.

 

Esok paginya, kami berjalan meninggalkan tenda menuju Hutan Mati dan Tegal Alun — dua objek populer di Gunung Papandayan. Menuju Hutan Mati, kami berjalan melewati Pondok Saladah, melalui hutan, sampai tiba di tempat di mana pohon-pohon yang mati tetap berdiri sayu, menghitam tanpa denyut kehidupan, menatap langit hari itu.

Hutan Mati, Gunung Papandayan

Hutan Mati, Gunung Papandayan

Berbaring di atas tanah berbatu Hutan Mati

Berbaring di atas tanah berbatu Hutan Mati

Selain berfoto dengan pohon-pohon itu, ada sebuah batu besar di tengah area Hutan Mati yang merangsang nafsu kami untuk berkreasi dalam selfie. Di Hutan Mati, kami juga bisa menikmati pemandangan pegunungan dan kawah Papandayan dari ketinggian. Lalu, selagi Kodon sibuk menata batu-batu kecil untuk dibentuk hingga membentuk nama pacarnya, gue selfie sendiri aja dulu laaahhh yaaaaaaa.

Batu besar sebagai titik wahid berfoto

Batu besar sebagai titik wahid berfoto

Mau selfie sama mas nggak?

Mau selfie sama mas nggak?

Puas dengan Hutan Mati, kami melanjutkan perjalanan menuju Tegal Alun. Sempat bingung dengan rute menuju ke sana, namun dengan petunjuk dari pendaki yang lain, kami akhirnya tiba di padang bunga Edelweis ini.

Kami disambut dengan langit cerah yang menaungi sekumpulan besar tanaman bunga Edelweis di sebuah padang yang luas! Warna-warna kuningnya mengangkat semangat, membuat langkah bergegas menghampiri bunga-bunga yang memikat. Sinar matahari yang terik di siang hari tak mengurangi antusiasme kami untuk menikmati keindahan Tegal Alun Gunung Papandayan. Gue puas, kami puas, bisa sampai di tempat ini.

Tegal Alun, Gunung Papandayan

Tegal Alun, Gunung Papandayan

 

Hujan sempat turun dalam perjalanan ojek kami kembali ke Cisurupan. Saat itu hanya ada satu ojek yang bersiaga, sehingga kami terpaksa berboncengan bertiga melalui jalan yang berkelok dan naik turun. Berbeda dengan keberangkatan, ongkos ojek turun ini hanya Rp 25.000,00. Setibanya di bawah, kami dibantu dicarikan angkot ke Bandung oleh akang ojek gue kemarin, sepakat dengan harga Rp 35.000,00 untuk perjalanan sampai ke Terminal Cicaheum.

Tips buat yang mau naik angkot minibus dari Bandung ke Gunung Papandayan dan sebaliknya, jangan mau kalau harganya sampai Rp 40.000,00. The cost should be no more than IDR 35,000.00

Bunga-bunga Edelweis di Tegal Alun, Gunung Papandayan

Bunga-bunga Edelweis di Tegal Alun, Gunung Papandayan

 

Kami tiba di Bandung saat malam sudah larut dan rasa lelah, lapar, dahaga, yang mendera raga. Namun, gue tersenyum pada diri sendiri, gue berhasil membawa seorang sahabat sampai ke puncak gunung dan turun dengan selamat. Kodon memang memiliki sedikit masalah dengan jantungnya, sehingga gue sempet khawatir dengan kesehatannya. Namun, dengan hikmat Yang Kuasa, kami boleh mengatur perjalanan ini sehingga tidak terlalu melelahkan baginya.

Nanti kita naik gunung lagi ya, koh!

 

Gunung Papandayan

Iklan

38 thoughts on “Tertawan Dalam Pendakian di Gunung Papandayan

  1. kalau ke gunung selalu suka dengan senja, dan pemandangannya yang memesona. Kemarin juga pernah baca di Republika, gunung ini keren apalagi dengan hutan matinya itu. serem-serem gimana gitu 🙂

  2. Yang istimewa dari naik gunung salah satunya adalah foto-fotoan nya ya Mas. Jarang ditemukan di tempat lain. Seperti foto bunga Edelweis ini. Juga foto-fotoan sambil mendaki cara mengistirahatkan badan ya 🙂

  3. Thanks sharingnyaaa… pas banget ada rencana kesana hehe… sama kaya bang kodon, saya jg blm pernah naik gunung.. pengen coba pertama di papandayan 😁😁😁
    Naksir abis sama tegal alun n hutan matinyaa!!!!

  4. Selalu pengen ngakak kalo baca blog ini. Hahahaha.

    Hmmm, pungli ada aja di mana-mana ya. Mau narik retribusi harusnya ada karcisnya buat tanda bukti. Beberapa kali berhadapan sama mereka dan terpaksa ngalah demi jaga emosi dan mood liburan.

    Jadi inget pengalaman ke Papandayan 2 tahun lalu. Lagi enak-enak masak, ada tukang nasi bungkus nawarib jualannya. Rasanya pengen matiin kompor dan beli sarapan 😂

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s