Petualangan di Purwokerto #1

Akhirnya, setelah sekian lama sibuk dengan pekerjaan hingga mengorbankan blog yang mulai membusuk ini, gue punya waktu dan koneksi internet lagi buat ngeblog. Sebelum melanjutkan series CireBon Voyage, gue selipin series Petualangan di Purwokerto dulu ya. Fresh from the oven! 😀

Selama lebih dari satu minggu, gue berada di Banyumas buat urusan pekerjaan. Nah, karena gue telah bekerja lembur dari pagi sampai malem dan mengambil hari libur, gue mendapat jatah libur dua hari (yaitu hari Kamis sampai Jumat, 20-21 Februari 2014). Dengan kata lain, gue boleh libur 4 hari jika digabungkan dengan hari Sabtu dan Minggu setelahnya. Daripada buru-buru balik ke Cirebon lagi atau pulang kampung ke Jogja, gue memilih buat… eksplor Purwokerto! Aji mumpung, toh gue juga belum pernah eksplor kota ini.

Perjalanan dari Banyumas menuju Purwokerto gue tempuh dengan bersepeda motor bersama karyawan gue yang asli sana. Tujuan pertama gue adalah menikmati kelezatan Soto Sokaraja yang sudah kondang ke mana-mana itu. Nah, di daerah Sokaraja itu, tepatnya di Jl. Jend. Sudirman, ada banyak rumah makan soto dan toko oleh-oleh gethuk goreng yang berjajar mengapit jalanan raya. Sesuai rekomendasi karyawan gue itu, pilihan gue jatuhkan pada — drum roll — Raja Soto Lama! 😀

Warung Raja Soto Lama ini terkesan sederhana, jauh dari kesan rumah makan soto yang mewah. Meja-meja dan kursi-kursi berjajar rapi di antara dinding hijau, sementara dua buah wastafel yang rusak ditempatkan di salah satu sisi ruangan. Sebuah ember berisi air ditempatkan di antara dua wastafel itu sehingga pengunjung dapat tetap mencuci tangan. Beberapa buah kipas angin menggantung di bawah langit-langit, berusaha memberikan rasa sejuk di tengah udara Purwokerto yang panas dan lembab.

DSC_2559 DSC_2560

Sebentar kemudian, pesanan gue pun mendarat di atas meja: semangkuk soto dengan segelas es jeruk, lengkap dengan semangkuk sambal kacang. Wow! Soto dengan sambal kacang? Unik banget! Gue meminta tambahan sepiring nasi, yang lalu gue sesali karena ternyata ada beberapa potong ketupat yang mengendap di dasar mangkok, tenggelam di dalam kuahnya yang kuning kental. Selain potongan-potongan daging ayam, soto Sokaraja ini juga dipenuhi dengan beberapa macam sayuran yang tidak terlalu gue perhatiin. Gue melarutkan sesendok sambal kacang itu ke dalam kuah soto. Rasanya eksotik!

DSC_2561

Sayang banget sotonya disajikan dalam kondisi suam-suam kuku, kurang hangat 😦

Total harga yang harus gue bayar adalah sebesar Rp 21.000,00.

Selesai dengan Sokaraja, gue bergerak ke kota menggunakan sepeda motor dengan karyawan gue yang lain. Kali ini, kami mengunjungi sebuah taman kota yang beraran “Andhang Pangrenan”. Tamannya luas, dengan rerumputan yang rapi dan walking / jogging track yang diapit oleh pepohonan. Beberapa wahana sederhana seperti ayunan dan kereta-keretaan teronggok di beberapa sudut, tak lagi beroperasi. Jajaran warung ala kadarnya terkantuk-kantuk di sisi taman, sabar menunggu pengunjung yang jumlahnya tak seberapa. Sementara itu, sebuah bangunan 2 lantai ditempatkan di pusat taman yang, dari prediksi gue, digunakan untuk event-event kebudayaan atau pentas seni.

Sayang banget, untuk masuk ke dalam taman kota ini, pengunjung harus membeli tiket seharga Rp 2.000,00. Empat rebu kalau ditambah ongkos parkir.

Yang ini diambil dari klikznet.wordpress.com

Yang ini diambil dari klikznet.wordpress.com

Purwokerto 1

Padahal di dalamnya juga nggak ada apa-apa. Coba gratis, pasti bisa lebih rame lagi. Cerita temen gue, dulu saat masa-masa opening, taman ini rame banget. Namun, seiring dengan berlalunya waktu, taman ini mulai kehiangan animonya. Seiring dengan pengunjung yang kian sepi, operator wahana pun meninggalkan wahana mereka begitu saja.

Dari Taman Andhang Pangrenan, gue melanjutkan penjelajahan menuju pusat kota Purwokerto di Jl. Jend. Sudirman. Jalan ini adalah sebuah jalan protokol yang panjang, menjulur dari Sokaraja hingga alun-alun. Bagian yang gue sambangi ini adalah pusat kehidupan Jl. Jend. Sudirman, denyut jantung kota satria Purwokerto. Di sini berdiri Tamara Plaza, Supermarket Rita, Moro, dan jajaran ruko.

Simpang Jl. Jend. Sudirman dari arah alun-alun

Simpang Jl. Jend. Sudirman dari arah alun-alun

Simpang Jl. Jend. Sudirman dari arah yang lain

Simpang Jl. Jend. Sudirman dari arah yang lain

As usual, Bank Mandiri selalu menggunakan gedung-gedung klasik

As usual, Bank Mandiri selalu menggunakan gedung-gedung klasik

Tamara Plaza ini bagai sebuah mal yang tengah meregang nyawa. Keberadaan KFC dan Gramedia menjadi obat penyelamat bagi kelangsungan hidupnya. Banyak bagian yang sedang direnovasi. Semoga aja setelah selesai direnovasi, mal ini bisa lebih ramai lagi ya.

Seseorang menghampiri gue saat gue sedang melihat-lihat buku-buku promo yang digelar di luar pintu masuk Gramedia. Mbak-mbak itu menawarkan promosi berlangganan surat kabar Kompas untuk mahasiswa dengan harga Rp 60.000,00 / bulan. Gue tolak dengan halus, sembari menyembunyikan perasaan senang karena masih dikira mahasiswa. Hahaha!

Dari Tamara Plaza, gue berniat masuk ke dalam Moro yang — kata temen gue — adalah satu-satunya mal di Purwokerto. Namun, saat mendekati tujuan gue itu, langkah kaki ini terhenti. Di depan bangunannya yang mungkin hanya setinggi dua atau tiga lantai, terdapat sebuah papan besar bertuliskan: “Moro, pusat grosir dan ritel.”

Oke, sekali lagi ya: “Moro, pusat grosir dan ritel.” It means that, Moro is not a mall, it’s just a grocery #huft

Niat gue masuk ke dalam suatu mal itu adalah buat nongkrong-nongkrong, sekedar jalan-jalan nggak jelas mengamati kehidupan warga, bukan buat belanja bulanan. Mengesampingkan pemikiran coba-masuk-dulu-ke-dalam, gue meninggalkan pusat perniagaan itu menuju ke arah alun-alun. Gue berbelok ke Jalan Merdeka yang lebih lengang. Sebuah gereja tua yang kini difungsikan sebagai GBI Gatot Subroto berdiri anggun tepat di persimpangan Jl. Merdeka dan Jl. Gatot Subroto.

DSC_2570

Oke, gue udah capek, gue mau cari hotel buat istirahat dulu. Keringat sudah melapisi permukaan kulit dan membasahi kaos serta jaket gue. Gue terus berjalan menyusuri Jl. Gatot Subroto melalui bangunan SMAN 1 dan 2 Purwokerto yang bergaya klasik, berharap menemukan sebuah hotel yang cukup terjangkau. Doa gue dikabulkan.

DSC_2598

Gue melangkah masuk ke dalam Hotel Mutiara, setelah sebelumnya membeli satu cup cokelat cincau untuk pelenyap dahaga. Harga kamarnya Rp 132.000,00 / malam. Fasilitas yang diberikan adalah: dua buah bed, AC, televisi, dan kamar mandi dalam. Sebenarnya saat itu sedang mati lampu, namun saat gue masuk ke dalam kamar, hawanya tetap terasa sejuk meski tanpa AC. Gue meletakkan tas di atas kursi, lalu merebahkan tubuh gue sendiri di atas ranjangnya yang nyaman.

Istirahat dulu ya 🙂

 

6 thoughts on “Petualangan di Purwokerto #1

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s