2014, Sebuah Tahun Penuh Pencapaian

Jika tahun 2013 lalu adalah Tahun Kemenangan, di mana gue secara dua kali berturut-turut menjadi Juara 1 dalam ajang kompetisi travel-blog, maka tahun 2014 kemarin adalah Tahun Penuh Pencapaian!

Awalnya, gue nggak berminat untuk menuliskan kaleidoskop perjalanan gue selama setahun ke belakang. Gue merasa bukan apa-apa, jika dibandingkan dengan rekan-rekan travel-blogger yang lain. Tapi, setelah gue renungkan sejenak, count His blessings, I then found out that year 2014 was filled with new places. A Year of Achievements! Jadi harap maklum, jika tulisan kilas balik ini baru diterbitkan sekarang 😀

Di tahun 2014 lalu, gue sempat berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya. Hal itu memberi keuntungan, karena gue akhirnya dapat mengeksplor kota-kota tersebut. Setidaknya, ada 5 kota yang gue tinggali di tahun 2014 lalu: Jakarta, Bandung, Cirebon, Yogyakarta, dan Purwokerto (meski hanya selama satu minggu).

Jakarta

Bulan Desember 2013, gue diterima di sebuah perusahaan ritel nasional terkemuka yang bermarkas di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Tepat di seberang Mega Glodok Kemayoran (MGK) #kode. Jadi, dari Desember 2013, gue fix menjadi warga perantau Jakarta sebelum akhirnya ditugaskan ke Cirebon pada akhir Januari 2014, lalu dikembalikan lagi ke Jakarta selama satu bulan pada Mei 2014 sebelum kemudian gue memutuskan untuk resign. Tidak memperpanjang kontrak.

Selama 3 bulan berada di Jakarta, gue berkesempatan untuk lebih mengenal kota terbesar di Asia Tenggara ini. Mencicip Ketan Susu Kemayoran yang tenar itu, mengeksplor kawasan belanja Mangga Dua, kawasan kuliner Pecenongan dan Jalan Sabang, Kota Tua, Glodok – Pecinannya Jakarta, Pasar Baru (Passer Baru), Pelabuhan Sunda Kelapa, Danau Sunter, mengikuti misa malam Natal di Gereja Katedral, lalu ke Monas untuk pertama kalinya!

Yang paling menarik adalah saat berkunjung ke Little Tokyo. Kapan lagi bisa belanja di supermarket yang isinya produk Jepang semua? Beli dorayaki buat cemilan? Dan mendengar orang-orang Jepang berbicara dengan bahasa ibunya di sana-sini? Atau menikmati sake di jajaran bar ala Jepang saat sepulang kerja? Pak Arief Yahya dan Pak Ahok, kalau lebih ditata dan dipromosikan, kawasan ini menarik banget lho. Negara tetangga nggak punya yang kayak gini (cmiiw).

Bagus ya, ada pohon kelapanya juga

Bagus ya, ada pohon kelapanya juga

Tempat menarik lainnya adalah di kawasan Pluit, Jakarta Utara. Suka dengan panorama laut Teluk Jakarta yang berpadu dengan gedung-gedung pencakar langit yang gemerlap di seberang sana. Membuat memori melayang, mengingat momen-momen menjejak Merlion Bay, Singapura.

Bicara soal transportasi, gue menikmati saat-saat berada di dalam kereta Commuter Line melalui kawasan Jakarta Pusat. Sepanjang beberapa kilometer, lintasan melayang di atas jalan raya, seolah-olah berada di dalam kereta MRT atau LRT. Sebagai pecinta transportasi berbasis rel, gue sangat mendambakan keberadaan MRT di Indonesia (nggak hanya di Jakarta, tapi juga kota-kota besar lainnya).

Cirebon

Di luar dugaan, gue ditugaskan di kota udang ini pada akhir Januari 2014. Kurang lebih selama 3 bulan gue tinggal di Cirebon, lebih tepatnya di kawasan Sumber. Selama 3 bulan itu jugalah, gue memiliki kesempatan untuk menjelajah kota yang biasanya hanya menjadi titik perlintasan saat pulang kampung ke Yogyakarta dan sebaliknya, kembali ke Bandung.

Di akhir pekan, gue sempatkan diri untuk pergi ke kota. Iye, kantor dan kost gue ada di daerah pinggiran. Huft.

Gue tuntas menjelajah Keraton Kasepuhan, kawasan kota tua (gue sebut begini karena banyak bangunan tuanya), Pelabuhan Cirebon, hingga pecinan dan kawasan belanjanya, serta mencicipi Empal Gentong, Nasi Jamblang, dan Nasi Lengko yang merupakan kuliner khas kota tersebut. Sekali gue dan teman-teman kantor pergi melipir ke Kuningan untuk berendam air panas. Sayang, gue belum menjajal mendaki ke Gunung Cikuray. Ada yang berencana ke sana? Ikuuuttt! 😀

Bangsal Kencana Keraton Kasepuhan

Bangsal Kencana Keraton Kasepuhan

Purwokerto

Dalam satu kesempatan sebagai bagian dari pembelajaran gue sebagai seorang Management Trainee, gue mengikuti langsung proses pembukaan toko baru yang bertempat di kawasan Patikraja dan Gatot Subroto, Banyumas, Jawa Tengah. Dari mulai tahap finishing bangunan, penataan toko, hingga pembukaan secara resmi. Setelah seluruh proses selesai, gue lalu melipir ke kota Purwokerto dan menginap selama 2 hari 1 malam di sana. Ada kepuasan tersendiri saat bisa menjelajah kota yang belum menjadi tujuan mainstream para pelancong kebanyakan.

Tak banyak yang ditawarkan kota ini. Gue hanya berjalan kaki (kadang dibantu dengan angkot dan sepeda motor) mengelilingi kota. Mengunjungi pusat kota di Jl. Jend Sudirman, Taman Andhang Pangrenan, Pasar Wage, Alun-Alun, hingga mencicip Soto Sokaraja.

Yogyakarta

Sebagai kampung (atau kota?) halaman, Yogyakarta selalu menjadi salah satu tempat yang dikunjungi dalam satu tahun. Pada tahun 2014 lalu, gue mudik ke Yogyakarta dalam beberapa kesempatan, bahkan sempat menganggur di rumah selama 3 bulan lamanya setelah keluar dari perusahaan lama dan menanti pekerjaan baru. Lalu tempat baru mana aja yang gue kunjungi saat berada di Yogyakarta?

Surprise surprise! Tahun 2014 menjadi tahun saat gue pertama kalinya berkunjung ke Candi Ijo. Selanjutnya… ehem, kayaknya itu aja sih tempat baru di Jogja yang baru gue kunjungi tahun lalu. Selebihnya yaaa ke tempat-tempat itu lagi. Maklum, selama tinggal di Jogja, gue memang cenderung jadi anak rumahan. Nanti kalau ke Jogja lagi, gue harus main ke Kalibiru, Nglanggeran, dan Puncak Suroloyo 😀

The golden sunset between the two temples

The golden sunset between the two temples

Bandung

Saat gue menempuh studi S1 di kota kembang ini, pastor gereja tempat gue berjemaat pernah memberikan nubuatan bahwa gue akan bertahan di kota “ini” (baca: Bandung). Dan di kuartal akhir 2014, nubuatan tersebut terjawab. Melamar ke sana sini di berbagai perusahaan di Jakarta, Bandung, bahkan Yogyakarta, Tuhan menggiring langkah ini kembali ke Bandung saat sebuah perusahaan konstruksi bangunan akhirnya menerima gue bekerja di perusahaannya.

Aneh. Perusahaan lain nyaris tak ada respon sama sekali. Seolah semua pintu tertutup agar gue “terdesak” kembali ke Bandung. Apakah gue sebegitu tidak menariknya? Hahaha. Mungkin memang sudah rencana Tuhan gue ada di kota ini. Cukuplah gue melarikan diri selama 6 bulan sebelumnya. Si Yunus yang ditelan ikan besar ini telah dimuntahkan kembali.

Nggak kayak di Jogja, gue punya lebih banyak kesempatan “nglayap” saat di Bandung. Selain kembali ke tempat yang itu-itu lagi, sebuah pencapaian ketika untuk pertama kalinya gue ikut “blusukan” bersama Komunitas Aleut di kawasan pecinan dan Kampung Arab. Lalu di akhir tahun, gue menjejak Bukit Moko dan Patahan Lembang untuk pertama kalinya (cerita menyusul)

Pencapaian Komunitas

Melalui forum Backpacker Indonesia (BPI), gue menjadi inisiator atau founder untuk komunitas jalan-jalan bertitel BACKSTRIP (Backpacker Stripping) dan CEC (City Explorer Community). Backstrip adalah sebuah komunitas untuk para flashpacker atau one-day-tripper yang tidak memiliki banyak waktu untuk traveling karena keterbatasan dana dan waktu 😀

Bersama Backstrip, gue berhasil mendaki gunung untuk pertama kalinya. Gunung Prau di Dieng, Wonosobo, menjadi gunung yang pertama kali gue taklukkan. Sebuah pencapaian!

Bersama Backstrip pula, gue pergi menyambangi Gunung Padang (Cianjur, Jawa Barat) dan Curug Cigamea (Bogor, Jawa Barat).

Di depan pintu masuk kawasan Situs Megalithikum Gunung Padang (photo by bang Alex)

Di depan pintu masuk kawasan Situs Megalithikum Gunung Padang (photo by bang Alex)

Selain itu, tahun ini gue juga resmi bergabung dengan komunitas Travel Bloggers Indonesia (TBI). Dari komunitas luar biasa ini, gue bertemu dan berkenalan dengan orang-orang luar biasa, mendapatkan pengalaman-pengalaman luar biasa. Mulai diundang oleh para pebisnis travel untuk menghadiri acara-acara mereka, mulai mendapat tawaran-tawaran menjadi blog buzzer. Sebuah pencapaian!!!

Pencapaian Giveaway

Karena tahun 2013 lalu gue sukses menjuarai dua kontes travel-blogging secara berturut-turut, gue jadi optimis saat mengikuti kontes-kontes serupa pada tahun 2014. Sayangnya, dari seabrek kontes yang gue ikuti, nggak satu pun yang membuahkan hasil L

Di luar dugaan, gue justru memenangkan sederet kuis kecil-kecilan bertajuk giveaway dari sesama rekan travel-blogger. Sebuah pencapaian!

  • Buku “Lonely Planet: Bangkok and Thailand Islands” (ditambah beberapa pernik) dari bang Hendra “Tukang Minggat”
  • Buku “Bersenang-Senang di Bali, Bertualang di Lombok” dari mas Fahmi “Catperku”
  • Buku “DestinASEAN” oleh @idbcpr dan kak Susan
  • Pernak-pernik cantik yang diterbangkan langsung dari Eslandia oleh kak Debby “Debbzie” Leksono
  • Miniatur Caterpillar oleh mas Ariev Rahman
Jangan salah fokus

Jangan salah fokus

Pencapaian Internesyenel

Seputar traveling mancanegara (cieeehhh), tahun 2014 menjadi tahun di mana gue kedua kalinya berkunjung ke Singapura, dan pertama kalinya bertandang ke Kuala Lumpur dan Penang.

Sebuah pencapaian saat gue berhasil mengunjungi Botanical Gardens, Chinatown, Bugis Street, dan Chinese Gardens dalam lawatan gue ke Singapura pada pertengahan tahun lalu. Di Kuala Lumpur, tanpa berbekal peta atau alat bantu lainnya (kecuali untuk 2 destinasi pertama yang disebutkan), Tuhan menuntun langkah kaki ini hingga sukses mencapai KL Tower, Menara Petronas, Pasar Seni, Kasturi Walk, Stesen Kuala Lumpur, Bangunan KTM Berhad, Masjid Negara, Taman Tasik Perdana, Dataran Merdeka, dan Bukit Bintang dalam satu hari satu malam. Besoknya, gue juga berhasil menyambangi Batu Caves dan menjajal kereta KLIA Transit.

St. George's Church from the other side

St. George’s Church from the other side

Meski belum puas saat di Penang, tapi setidaknya gue sudah berhasil berkeliling kawasan kota tuanya dan Kuil Kek Lok Sie yang dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.

Sebuah pencapaian!!!

Tahun 2015 gue buka dengan melakukan perjalanan 2 hari 1 malam di Semarang, Jawa Tengah. Selanjutnya, gue ingin mengeksplor Jawa Timur (Surabaya, Banyuwangi, Kawah Ijen, Baluran, Bromo, Malang), Jawa Barat (Ujung Genteng), Banten (Ujung Kulon), dan satu destinasi di luar Pulau Jawa. Gue ingin menjejakkan kaki di bumi Sumatera, Borneo, Celebes, atau Nusa Tenggara. Pokoknya mau move on dari Jawa!

Untuk tingkat internasional, gue berencana mengunjungi Bangkok, Siem Reap, Phnom Penh, dan Ho Chi Minh City dalam satu rangkaian perjalanan.

Dan untuk memberikan kualitas yang lebih baik untuk pembaca (juga kepuasan diri sendiri), gue ingin membeli sebuah kamera DSLR atau Mirrorless tahun ini.

Setelah direnungkan dengan hati, tenggelam dalam lautan kontemplasi yang menguak memori, aku tersadar akan begitu banyak pencapaian yang Tuhan genapi. Lalu, di tahun 2015 ini, ke mana lagi langkah kaki ini akan pergi? Mari, bersama menjelajah negeri dan seisi bumi…

Iklan

40 thoughts on “2014, Sebuah Tahun Penuh Pencapaian

  1. Tahun 2014 nyaris tanpa traveling karena baru pindah kerja dan belum punya hak cuti. Ditambah lagi minim harpitnas. Hahahaha… Mudah-mudahan tahun 2015 bisa jalan-jalan agak lamaan

  2. Keren, keren. Pencapaian tahun 2014 banyak dan berkesan sekali. 2014 memang tahun yang berkesan (ngomong-ngomong giveaway a.k.a. undian, saya juga pertama kali menang undian di tahun 2014! Surprised banget) :hihi. 2015 ada rencana ngadain giveaway, nggak? Siapa tahu saya bisa ikut?

    Semoga di 2015 segala apa yang diniatkan bisa kesampaian. Selamat Natal dan Tahun Baru, sukses untuk kita semua 🙂

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s