Lebaran #LebihBaik, Kenangan Manis di Parangtritis

Pondok-pondok payung di sepanjang Pantai Parangtritis, Yogyakarta

Pondok-pondok payung di sepanjang Pantai Parangtritis, Yogyakarta

Toples-toples kue sudah berjejer rapi di atas meja ruang tamu kami yang sederhana. Botol-botol sirup pun sudah siap di dalam ruang makan, akan dengan sigap diramu pada siapa saja tamu yang berkunjung. Memang tak ada banyak tamu dan kerabat yang bertandang cukup lama ke rumah kami yang mungil. Kue-kue itu pun lebih banyak disantap oleh kami sendiri, para penghuni rumah. Namun, kali ini, keponakan dari bapak datang berkunjung bersama dengan adik dan keluarganya, selain adik kakak iparku yang memang sudah rutin sowan setiap tahun.

Meski aku pribadi tidak merayakan, namun Idul Fitri sudah menjadi budaya keluarga kami. Kami adalah sebuah keluarga dwi-agama, di mana Islam dan Kristen berdiri berdampingan tanpa saling memaksakan. Mungkin karena kami sama-sama tidak terlalu fanatik dengan agama masing-masing. Saat Hari Lebaran tiba, aku dan ibu tetap ikut merayakan. Kami sekeluarga memasak opor ayam, membuat ketupat, dan melakukan tradisi sungkeman. Sehari menjelang Hari Raya, bapak mempersiapkan sesajen untuk kemudian didoakan bagi leluhur kami.

Wahana ATV di Pantai Parangtritis, Yogyakarta

Wahana ATV di Pantai Parangtritis, Yogyakarta

Ada andong di Pantai Parangtritis, Yogyakarta

Ada andong di Pantai Parangtritis, Yogyakarta

Pada hari pertama lebaran, waktu seharian kami habiskan untuk bersilaturahmi dengan para tetangga di kampung. Beranjak siang, kami berkunjung ke rumah kerabat yang tinggal di wilayah kotamadya Yogyakarta. Tradisi berlebaran di Gunung Kidul perlahan memudar untuk penghematan dana.

Esok harinya, baru kami menyediakan waktu untuk kami sendiri. Lebaran tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Kami berenam — aku, ibu, kakak, suami, dan dua anaknya — sepakat bertamasya singkat ke Pantai Parangtritis. Andai kami punya mobil, kami pasti sudah mendesak bapak untuk ikut serta. Kapan lagi kami semua bisa pergi berlibur bersama-sama? Namun, karena hanya ada tiga pasang sepeda motor — salah satunya bahkan adalah sepeda motor saudara yang dititipkan — kami hanya bisa pergi berenam.

My sister, niece, mother, and nephew at Parangtritis Beach, Yogyakarta

My sister, niece, mother, and nephew at Parangtritis Beach, Yogyakarta

Tapi tak apa. Ini sudah jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya di mana kami hanya pergi berempat atau berlima. Apalagi, ini adalah pertama kalinya bagi ibu dan keponakan perempuanku berkunjung ke Pantai Parangtritis. Seumur hidupnya, ibu adalah seorang pekerja keras. Jalan-jalan tidak ada dalam kotak prioritasnya. Hari-harinya diisi dengan kegiatan di rumah, gereja, dan tempatnya bekerja.

Perjalanan dari rumah kami di kawasan Kadipiro menuju Pantai Parangtritis memakan waktu kurang dari satu jam. Saat Hari Raya, Yogyakarta memang cenderung tidak terlalu ramai, apalagi di waktu pagi seperti saat itu. Menjelang senja dan keesokan harinya, barulah seisi kota dan wisatawan tumpah ke luar rumah.

My mother is a tiny woman, but I love her!!!

My mother is a tiny woman, but I love her!!!

My beautiful Anita :)

My beautiful Anita 🙂

Kami harus membayar biaya retribusi objek wisata dan ongkos parkir untuk dapat memasuki pantai. Matahari yang cerah dan langit biru yang bersih menyambut kedatangan kami. Memasuki area pantai baru, kami segera mengambil tempat di salah satu pondok tepi pantai yang masih kosong. Sang penyedia jasanya segera datang menghampiri dan menagih biaya sewa sebesar Rp 25.000,00 untuk dua jam. Yah, harganya masih cukup masuk akal dibandingkan harga jasa serupa di Pantai Indrayanti yang meroket hingga Rp 50.000,00.

Usai meletakkan barang-barang bawaan, kami langsung berjalan menghampiri lautan lepas. Iya, kami semua — kecuali mas Lutfi, sang kakak ipar — yang lebih memilih untuk duduk menjaga barang-barang kami. Kami datang menghadang gelombang, bergabung bersama ombak yang bergulung-gulung. Kami tidak bermain air atau mandi-mandi, hanya sebatas berdiri di tepi pantai dan merasakan laut yang menyambut sampai lutut. Oh, kecuali keponakanku, Anita. Gadis cilik yang baru duduk di bangku kelas 5 SD itu tampak lepas bermain-main di bawah panas. Membiarkan tubuhnya basah kuyup oleh air laut, lengket oleh pasir hitam.

Bermain air di Pantai Parangtritis, Yogyakarta

Bermain air di Pantai Parangtritis, Yogyakarta

My family and I at Parangtritis Beach, Yogyakarta

My family and I at Parangtritis Beach, Yogyakarta

Bosan di titik pertama, aku mengajak mereka mencari landmark “Pantai Parangtritis” yang berada di sisi pantai lama. Kami berjalan ke arah bukit, mendekati bagian pantai yang lebih ramai. Sesekali kami dikejutkan dengan andong yang tiba-tiba sudah berada di belakang kami, membuat kami buru-buru menepi kalau tak mau diseruduk moncong panjang kuda.

Landmark itu berada sedikit menjorok di depan, di bagian pantai yang bebas dari terjangan ombak pantai selatan. Kami keluar dari zona teduh, berjalan berjingkat-jingkat di atas pasir pantai yang panas. Setibanya di landmark, aku sedikit kecewa melihat vandalisme sudah menodai bagian belakang landmark.

The landmark of Parangtritis Beach, Yogyakarta

The landmark of Parangtritis Beach, Yogyakarta

The three most beautiful women in front of the Landmark

The three most beautiful women in front of the Landmark

Syukurlah bagian depan landmark masih bersih dari coretan alay vandalisme. Kami berfoto di depan tulisan “Pantai Parangtritis” dengan meminta bantuan salah seorang pengunjung, meringis menahan panas yang menyengat mata kaki.

Setelah berfoto, kami kemudian kembali ke titik awal. Kami masih menghabiskan waktu dengan bermain air, bersantai di pondok, sebelum akhirnya mengajak Anita naik andong bersama ibu dan neneknya.

Vandalism behind the Landmark of Parangtritis Beach, Yogyakarta

Vandalism behind the Landmark of Parangtritis Beach, Yogyakarta

Parangtritis Beach, Yogyakarta

Parangtritis Beach, Yogyakarta

Bosan dan lapar, aku lalu mengajak keluarga untuk menyudahi kunjungan di pantai dan beralih ke warung makan di tepi pantai. Kami memilih salah satu warung terdekat, berada di samping tempat parkir sepeda motor kami. Menunya cukup bervariasi, dari mie ayam, bakso, hingga nasi pecel dan nasi goreng. Porsi dan penyajiannya, yah.. memang sederhana, namun harganya tidak terlalu mahal.

Sayang, aku tak berinisiatif untuk mengambil foto saat kami makan bersama. Mungkin karena sudah terlalu lapar, fokus tersedot untuk makanan. Namun, aku senang, ini kali pertama aku mentraktir makan (nyaris) seluruh keluargaku. Meski bukan menu mewah, dan belum menjadi karyawan mapan dengan penghasilan belasan juta, namun ada kebanggaan yang bertunas di dalam diri.

Lebaran #LebihBaik Bersama Keluarga

Lebaran #LebihBaik Bersama Keluarga

“Pak, Bu, aku udah bisa bayarin kalian makan…”

Tidak berlama-lama setelah makanan tandas, kami segera berkemas. Hari juga sudah terlalu panas. Aku puas, hari ini aku dapat menghabiskan waktu bersama keluarga dengan lebih berkualitas. Mudah-mudahan, kami dapat kembali dipertemukan dengan Lebaran tahun depan. Momen kebersamaan dengan keluarga memang tidak terbayarkan. Karena kebersamaan inilah, Lebaran menjadi #LebihBaik.

 

Baca juga:

Melepas Kepergian Sang Surya di Bukit Parangtritis

Duet Maut Pantai Pok Tunggal dan Indrayanti

27 thoughts on “Lebaran #LebihBaik, Kenangan Manis di Parangtritis

  1. Menyentuh sekali tulisanmu ini Gie. Semoga kelak dirimu bisa bertamasya komplit dengan seluruh anggota keluargamu. 😀

    Aku malah lebaran cuma di rumah aja Gie. Terkapar batuk pilek, hahaha. 😀

  2. Asyik ke Padang Tritis. Lebaran pantai ini pasti ramai sekali ya, Mas. Insya Allah lebaran tahun depan semua keluarga kembali berkumpul seperti ini. Amin

  3. Aku terharu baca tulisanmu ini Gi, dan agak iri karena rasanya sudah lama aku gak pernah liburan bareng keluarga. Kalaupun jalan sama anggota keluarga, pasti gak lengkap. Paling seringnya sama adik aja, itu pun termasuk jarang. *eh kok malah curhat*

    Ngomong-ngomong meskipun aku kelahiran Yogyakarta dan agak sering bolak balik ke kota ini, dalam beberapa waktu belakangan, aku belum pernah lho ke Parangtritis! hahahahaha … *malu*

    Next ke Yogyakarta, harus ah main-main ke pantainya 🙂

  4. Tahun depan semua anggota keluarga pasti bisa ikut, Mas. Salut buatmu yang sudah bisa sampai sejauh ini, dan salam juga buat semua keluarga semoga sehat selalu dan tak ada kurang suatu apa :)).

    Kini saya tahu apa yang spesial dari pantai selatan Yogya: jangkauan ombaknya demikian panjang! Deburannya tampak sangat jauh tapi kekuatan ombaknya bisa sampai sekian puluh meter. Pantas pasirnya sangat luas, menggurun, dan cocok sekali buat berjalan-jalan sambil membakar kalori :haha. Pantai adalah satu objek wisata di provinsi itu yang belum saya sambangi jadi yah, kayaknya bertambah lagi satu alasan saya untuk kembali ke sana :)).

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s