Terpaksa Jadi “Calo” Dadakan di Genting Highland, Malaysia

Genting Skyway Cable Car

Genting Skyway Cable Car

“It’s sold out. Finished.”

Darah terasa seperti surut dari kepalaku saat mendapati fakta di depan konter bus bahwa bus Genting Express tujuan Kuala Lumpur pada jam yang kuinginkan sudah habis terjual! Bus tercepat yang bisa kudapatkan adalah Genting Express pukul 19:30, cukup gambling dengan penerbangan pulang kami pada pukul 22:20. Namun tanpa banyak pertimbangan lagi, aku langsung membeli 4 tiket bus Genting – Kuala Lumpur pukul 19:30.

Aku berjalan dengan langkah lemas menghadapi ketiga rekan perjalanan yang menunggu di stasiun cable car Genting Skyway.

“Duh, maaf banget nih kayaknya kita nggak bisa belanja di Petaling Street. Bus kita berangkat jam setengah delapan, jadi sampai KL Sentral langsung bablas ke bandara,” aku memberikan penjelasan dengan suara lemah dan raut muka memelas. Sebagai pemimpin rombongan, aku merasa gagal menjalankan kegiatan ini seperti yang diinginkan.

Mbak Mitha, sebagai satu-satunya srikandi di antara kami berempat, berpikir cepat like all emak-emak muda will do, mencoba untuk berbelanja oleh-oleh sekadarnya di Terminal Bus Genting Highland.

Genting Bus Terminal seen from above

Genting Bus Terminal seen from above

Sayangnya, meski sudah berusaha untuk ikhlas dan nrimo, rupanya rombongan trip bener-bener nggak nahan untuk tidak berbelanja di Petaling Street. Oleh-oleh macam apa lah yang bisa didapat di Terminal Genting ini? Tak ada cokelat atau komoditi menarik lainnya yang berlimpah di KL Sentral dan Petaling Street, paling hanya macam-macam manisan dan cemilan-cemilun lainnya.

“Mas, tiket bus tadi bisa ditukar nggak? Kita mau naik taksi aja. Ini dapet yang 100 RM, lagi coba ditawar lagi supaya lebih murah.”

Aku mengiyakan pertanyaan dan usulan yang dilontarkan bang David, suami mbak Mitha. Seketika aku merasa sangat bodoh karena tidak merundingkan pembelian tiket bus dengan rombongan, namun di sisi lain aku juga tidak ingin terlalu lama berpikir yang malah bisa berakibat kehabisan tiket bus semalaman. Tanpa basa-basi banci, aku langsung ngacir ke konter bus Genting Express di lantai bawah untuk mencoba menukarkan tiket yang sudah dibeli.

“Can I refund these tickets?” tanyaku kepada petugas pria yang berjaga di balik meja, dibalas dengan sebuah senyuman dan anggukan tegas.

Hm, sudah kuduga.

Genting Express Bus ticket bought at KL Sentral

Genting Express Bus ticket bought at KL Sentral

Yah, nasi sudah menjadi legendar. Aku nggak kuat kalau harus membuang uang puluhan ringgit ini begitu saja. Tidak terlalu besar memang, tapi biar bagaimana pun ini adalah duit, bukan daun, bisa dipakai untuk tambahan ongkos belanja atau jajan chestnut sekarung di Petaling Street. Maka, tak ada cara lain untuk mengembalikan lembar-lembar ringgit ini selain dengan — tepat, like the title suggests, menjualnya kembali kepada calon pembeli yang lain alias menjadi “calo” dadakan.

 

Saat itu adalah hari Minggu, 22 Mei 2016, ketika mentari mengguyur kota Kuala Lumpur dengan siraman kasihnya yang agak berlebihan. Kami berlari-lari dari konter Genting Express bus di level dasar menuju titik pengangkutan di basement, satu level dengan tempat naik bus Aerobus atau Skybus yang melayani rute KL Sentral – KLIA2 dan sebaliknya. Telat 5 menit, kami mungkin sudah ketinggalan bus dan harus merelakan uang sebesar 4 x MYR 10.67 yang sudah dibeli untuk tiket bus menuju Genting, sudah termasuk tiket Genting Skyway (cable car) sekali jalan.

Victory selfie!

Victory selfie!

Leaving Kuala Lumpur to Genting Highland

Leaving Kuala Lumpur to Genting Highland

Bukan karena kami keasyikan di Batu Caves atau kelamaan makan di KL Sentral, namun terjadi sedikit kesalahpahaman antara aku dengan petugas konter Genting Express Bus. Beberapa menit menjelang waktu keberangkatan pukul 13:30, aku datang menghampirinya untuk menanyakan lokasi pengangkutan bus. Mungkin dia salah dengar, mengira aku sedang mencari tempat untuk naik bus umum hingga dia mengarahkan tangannya kepada shelter bus yang ada di tepi jalan, di luar KL Sentral.

Kami berempat sudah berdiri dengan sabar di bawah naungan shelter yang ala kadarnya, namun tak ada tanda-tanda kedatangan bus Genting Express. Aku bertanya pada salah seorang warga lokal yang juga sedang menunggu bus, dia memberi informasi bahwa bus Genting ditunggu di basement KL Sentral. Bimbang, aku berlari kembali menghampiri konter bus Genting untuk menanyakan pertanyaan yang sama sebelumnya. Oleh petugas yang berbeda, dia mantap mengarahkanku turun ke dalam basement.

Greeted by the bright blue sky

Greeted by the bright blue sky

Dengan lambaian tangan yang tegas seperti pemandu sorak sedang mengusir nyamuk, aku memberikan isyarat kepada rombongan untuk datang menghampiriku karena telah menunggu di tempat yang salah.

 

Pada akhirnya, here we are, duduk dengan nyaman di dua kursi terdepan Genting Express Bus yang melenggang gesit di atas jalanan yang mulus. Lepas dari pusat bandar, kami memasuki jalan tol (highway), melalui blok-blok apartemen dan bangunan-bangunan tanggung khas daerah suburban. Mendekati Genting Highland, bus berjalan meliuk-liuk di atas jalanan sempit yang berliku dengan panorama alam pegunungan di sisi kanan, mengingatkanku dengan rute menuju Dieng atau Tawangmangu di Jawa Tengah.

Approaching Genting Highland

Approaching Genting Highland

Beautiful scenery when approaching Genting Highland

Beautiful scenery when approaching Genting Highland

Sekitar satu jam kemudian, tibalah kami di Terminal Genting sebagai perhentian terakhir bus. Kami lalu naik menuju stasiun cable car di level 3, tiket sudah termasuk dalam karcis bus yang diberikan. Saat membeli di konter KL Sentral, petugas sempat bertanya apakah aku akan membeli tiket untuk sekali jalan atau pulang pergi. Karena aku belum bisa memprediksi berapa waktu yang dibutuhkan di Genting, maka aku memilih untuk membeli tiket sekali jalan.

Keputusan yang akhirnya kuketahui sebagai sebuah keputusan yang keliru. Namun ku keliru, telah memburu, cinta dia dan dirimu… *malah nyanyi* *abaikan* *penyingkap usia*

Antrian untuk memasuki “sangkar-sangkar” kereta gantung Genting Highway memang tidak sedikit. Mengular zig-zag mengikuti tata ruang mengantri yang diberlakukan. Namun karena Genting Skyway memiliki jumlah yang mumpuni dengan setiap unit yang mampu menampung 6-8 orang, antrian bergerak dengan cepat. Tanpa benar-benar berhenti, sangkar demi sangkar yang sudah kosong diisi oleh penumpang-penumpang baru. Penumpang yang sudah siap diminta untuk gesit masuk ke dalam cable car sebelum ia diluncurkan menuju trek. Sebagai anak Jakarta yang akrab dengan Kopaja dan remaja Bandung yang hidup dengan Damri, ini sih wis biyasa.

Queuing to enter the Genting Skyway cable car

Queuing to enter the Genting Skyway cable car

Officer standing next to Genting Skyway Cable Car

Officer standing next to Genting Skyway Cable Car

Kami berempat berada satu kereta bersama sepasang pelancong lainnya.

Kereta berderak perlahan meninggalkan stasiun, melayang belasan meter di atas komplek Terminal Genting. Aku menahan nafas saat mencoba memberanikan diri melihat ke bawah. Sebagai seorang acrophobic (takut ketinggian), pengalaman pertama menaiki kereta gantung ini sukses menorehkan prestasi baru dalam hidupku.

Seiring dengan lintasan kereta yang memasuki area hutan, ketinggian kereta gantung pun bertambah. Kereta sedang melayang puluhan meter di atas jurang yang diselimuti pepohonan hijau dengan hanya sebuah “tangan” mekaniknya yang mencengkeram sebatang tali lintasan. Aku menoleh ke belakang, ke arah lintasan di depan dan, Ya Tuhan, lintasannya bergerak naik dan masih sangat panjang!

Let the journey begins!

Let the journey begins!

Sementara kami bergerak naik, sangkar-sangkar lain bergerak turun dari arah yang berlawanan. Kami malah jadi asyik mengamati polah para penumpang di dalamnya untuk melupakan rasa takut yang berdesir di dalam dada. Ada yang sambil berdiri, ada yang duduk dengan mengangkat kaki macem di lapo, ada pula yang duduk seorang diri. Duh.

Kami takjub dengan mereka yang tetap bertaha dengan cool pose di dalam cable car, sementara kami sendiri sudah ketar-ketir karena perjalanan yang seperti tak berujung. Momen paling mendebarkan mungkin saat kereta menurunkan kecepatannya, BAHKAN BERHENTI, saat melalui titik-titik tertentu di mana tiang penyangga lintasan terpancang kuat di dalam tanah. Karena bersama-sama berada dalam masa-masa krisis, kebekuan di antara dua kubu pelancong ini pun mencair.

An endless journey of Genting Skyway cable car

An endless journey of Genting Skyway cable car

“Wah, low batt,” celetuk salah satu pelancong saat kereta berhenti di awang-awang, dan kami berenam melebur dalam tawa.

Aku melepaskan nafas lega ketika dua kaki ini menjejak lantai stasiun akhir cable car di Resorts World Genting. Kami berempat lalu membaur bersama keramaian massa, berjalan menuju Indoor Theme Park mengikuti arahan yang diberikan papan petunjuk. Yah, meski kami tidak menikmati wahana apapun di Indoor Theme Park, minimal kami bisa tetap asyik berfoto-foto dan masuk ke dalam Genting Casino untuk mengusir rasa penasaran.

Eh tapi aku nggak masuk ke dalam Genting Casino ding. Pihak sekuriti melarang pengunjung ganteng dan muda dengan kamera DSLR dan tas berukuran besar. Maka, sebagai pemimpin trip yang baik hati, aku menawarkan diri untuk menjaga barang bawaan mereka dan menunggu di depan.

Resorts World Genting

Resorts World Genting

Meski nggak bisa masuk, minimal foto di depan deh

Meski nggak bisa masuk, minimal foto di depan deh

Aku mengajak rombongan kembali ke Terminal Genting saat hari sudah beranjak sore. Kami tak mampu banyak mengeksplor di sini karena keterbatasan waktu, padahal rencana awal kami adalah pergi ke Chin Swee Temple. Namun, berjalan dari stasiun cable car menuju Indoor Theme Park aja sudah cukup menguras waktu dan tenaga juga uang, kalau tak tahan godaan. Lain kali ke sini, aku akan menyediakan waktu minimal setengah hari untuk menikmati Resorts World Genting.

Selain Indoor Theme Park dan Chin Swee Temple, masih ada Outdoor Theme Park, Snow World, Behind The Scenes Tour, dan kasino-kasino di resor ini. Kalau mau puas, rasa-rasanya harus meluangkan waktu dari pagi sampai malam di tempat ini.

Pretty design of a clothing shop

Pretty design of a clothing shop

DAT FACE!!!

DAT FACE!!!

Tiba kembali di Terminal Bus Genting, aku menghadap konter bus untuk membeli tiket bus kembali ke Kuala Lumpur, dan di sinilah kisah ini bermula 😀

 

Beberapa menit berjuang dengan suara memelas dan senyum sok manis di depan konter bus, aku bersyukur mampu menjual kembali 3 dari 4 tiket yang sudah kubeli. Ya sudah, relakan saja sekian ringgit yang harus terbuang. Aku teguh berdiri di depan meja konter, menawarkan tiket kepada setiap pengunjung yang gagal mendapatkan tiket kembali ke Kuala Lumpur.

“I have 4 tickets to Kuala Lumpur at seven thirty, it’s the fastest!” begitu kira-kira caraku membujuk calon pembeli.

Sebagian menggeleng, menolak tiket dan cintaku dengan alasan, “It’s too long”, atau hanya menggeleng tanpa alasan jelas. Ada juga yang menolak dengan mengatakan, “We need 8 tickets,” sambil mengangkat kedelapan jemarinya. Aku pun cuma bisa mingkem bayem dengan jawaban seperti itu.

The Times Square

The Times Square

Sampai kapan pun, two is better than one

Sampai kapan pun, two is better than one

Saat aku kembali menemui mbak Mitha, bang David, dan mas Mulyadi, mereka sudah siap dengan deal terbaik. Cukup MYR 80 dan kami berempat akan tiba di Kuala Lumpur sesuai dengan waktu yang (hampir) diinginkan. Meski terkendala macet di jalan tol yang sedikit membuat kami frustasi, kami masih memiliki waktu sekitar satu jam untuk berbelanja di Petaling Street. Singkat, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.

Kami tiba di boarding room sekitar pukul 22:00, tepat saat maskapai memanggil calon penumpangnya untuk masuk ke dalam pesawat.

Macet menuju Kuala Lumpur

Macet menuju Kuala Lumpur

 

Kalau kamu mau ke Genting Highland, langsung beli tiket pulang pergi dari KL Sentral ya, kecuali kalau waktumu memang fleksibel. Tapi, pada akhirnya aku tidak menyesali apa yang terjadi dalam perjalanan kali ini. Kalau bukan karena pengalaman menjadi “calo” dadakan, mungkin trip ini hanya akan menjadi lembaran cerita basi yang mudah dilupakan.

Making mistake is a part of learning, let us keep learning by traveling

Iklan

14 thoughts on “Terpaksa Jadi “Calo” Dadakan di Genting Highland, Malaysia

  1. Hi. Untuk taksi yg 80rm digenting dapatnya dimana ya? Ini saya lagi coba opsi uber klia2 ke genting dan sebaliknya. Sudah saya cek di web uber perkiraan 140rm gitu…

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s