Penyertaan-Nya Dalam Perjalananku [Part 2]

Karena lokasinya yang dekat dengan penginapan kami di Boon Keng, Moni Gallery Hostel, Little India kujadikan destinasi pertama pada hari ke-2 itu. Tiba di persimpangan dekat penginapan, aku mengambil arah kiri. Rencananya, kami akan naik bus menuju Little India, lalu kembali ke hostel dan check-out pukul 12:00. Namun rupanya jalan yang kami lalui itu adalah jalan satu arah (berlawanan dengan tujuan kami). Tahu-tahu, kami sudah sampai di Little India, hehe. Syukurlah jaraknya tidak jauh dan saat itu masih pagi, sehingga para peserta masih bugar berjalan kaki.

Many cheap food vendors at Little India, Singapore

Aku mengarahkan mereka menuju Mustafa Center, sebuah pusat perbelanjaan murah dan oleh-oleh di Little India yang buka 24 jam. Dengan petunjuk dari warga lokal, aku berhasil menyampaikan mereka di tempat itu tanpa tersesat atau salah arah. Betul, saat itu jugalah pertama kalinya aku mampir ke Mustafa Center.

Pada akhirnya, mereka rupanya kurang tertarik berbelanja di Mustafa Center karena tampak seperti mal, dan memintaku untuk langsung berbelanja di Bugis Street. Ya sudah, kami pun hanya sarapan di warung makan India di samping Mustafa Center, lalu kembali lagi ke hostel dengan berjalan kaki.

Hostel kami sebetulnya menyediakan sarapan. Namun saat kami turun ke ruang makan sekitar pukul 9:00 atau 9:30, seluruh roti sudah habis. Aku berpesan kepada staf hostel, namun roti tak kunjung datang. Ketika kesabaran kami sudah habis dan baru saja satu langkah dari pintu hostel, staf itu kembali membawa sebungkus roti tawar. Kamu terlambat, mas.

Pengeluaran 7: Sarapan Nasi Lemak (dengan ayam goreng) + Teh Tarik Panas di Mustafa Center, 5.5 SGD

 

Menit-menit pertama di Bugis Street, aku berjalan mengikuti ke mana langkah mereka menghampiri pelapak demi pelapak. Ketika akhirnya grup terpecah ke dalam dua grup kecil dan aku merasa kehadiranku sudah tak ada artinya lagi di sana, aku meminta izin untuk keluar dan berpesan untuk bertemu di depan Bugis Street. Mereka setuju. Daripada hanya mengekor mereka, lebih baik aku menggunakan waktu yang ada untuk mencari tahu nomor bus menuju hostel dari Bugis. Kebetulan, ada halte besar di depan Bugis Street lengkap dengan peta dan daftar nomor bus yang melaluinya.

Nah, aku sudah menemukan nomor bus menuju hostel. Namun aku bingung, kenapa kedua jalur bus tersebut tidak ditandai dengan tanda lingkaran di Bugis Street. Sempat kulihat salah satu bus dengan nomor tersebut melalui Bugis Street, namun tidak berhenti. Aku mengamati peta itu sekali lagi, dan akhirnya aku paham. Rupanya, dua jalur bus tersebut memang hanya melalui Bugis Street Bus Stop, namun tidak berhenti. Bus berhenti di halte Bugis MRT, satu halte di sebelahnya. Jadi rupanya tidak setiap bus berhenti di setiap halte yang dilaluinya.

Aku segera menghampiri halte Bugis MRT untuk menguji asumsiku. Bus dengan nomor itu pun datang, dan — berhenti di halte Bugis MRT. Yes! Aku sudah tahu di mana kami harus naik bus dan bus mana yang harus kami ambil.

Aku pun berhasil mencobanya langsung bersama para peserta open trip. Hanya karena penyertaan-Nya, aku berhasil memetakan jalan (selama perjalanan di bus, bukan saat melihat peta di halte) tanpa bantuan aplikasi Maps, berhasil mengingat jalan yang semalam kami lalui untuk mampir di 711, dan turun di halte yang tepat. Tidak meleset satu halte pun, padahal itu adalah pengalaman pertamaku! Dan, rupanya halte itu berada persis di depan hostel. Ngesot sedikit, kami pun sudah sampai di Moni Gallery Hostel tanpa lelah dan keringat.

Usai repacking dan beristirahat singkat di hostel, aku mengajak para peserta menuju Chinatown dengan MRT. Tak ada peta di halte bus dekat hostel, pun tak kupahami jalur bus yang disampaikan beberapa mesin pencari rute bus di internet. Morin sempat bertanya, kenapa tidak naik bus saja. Aku membesarkan hati mereka, perjalanan menuju Chinatown hanya satu kali naik MRT.

Shooping at Pagoda Street, Chinatown

Setelah berbelanja di Chinatown, aku mengantarkan mereka ke Masjid Jami untuk menjalankan ibadah sholat sesuai permintaan. Aku lalu mengajak mereka ke Sri Maha Mariamman Temple dan Chinatown Night Street Food Market, namun ketiga gadis muda itu sudah terlihat tak bersemangat. Hanya Oky, satu-satunya peserta pria, yang masih antusias. Aku pun mengurungkan niat mengajak mereka ke Buddha Tooth Relic Temple & Museum dan langsung beralih menuju Orchard Road dengan MRT.

Facts Found: Obyek wisata sejarah dan arsitektur seperti kuil, museum, atau perkampungan etnis tertentu, rupanya tidak menarik bagi wisatawan mainstream Indonesia. Mereka menginginkan tempat-tempat yang sangat ikonik, sangat instagrammable, atau sangat shopping-able.

Two Dollar Shop, Chinatown

Agaknya anak-anak muda ini sudah kecapekan berbelanja di Bugis Street dan Chinatown. Bahkan Orchard Road pun sudah tak lagi menarik untuk mereka. Kami hanya duduk-duduk di depan ION Orchard Mal dan foto-foto. Niat mengajak mereka makan siang di Lucky Plaza pun kuurungkan. Aku meminta izin mencari informasi lebih dulu di halte bus depan Lucky Plaza, yang memaksaku menyeberang melalui lorong bawah tanah karena pedestrian yang terlindung pagar pelindung sepanjang beberapa ratus meter.

Syukurlah, ada bus yang dapat mengantarkan kami dari Orchard Road menuju Jalan Besar, jalan raya di dekat hostel. Kali ini kami turun di halte yang berbeda dari halte sebelumnya, namun masih dekat dengan berjalan kaki. Hanya karena penyertaan-Nya jugalah, aku berhasil menyampaikan rombongan di halte yang tepat.

 

Aku mencoba mempraktekkan informasi rute bus menuju Changi Airport yang ditunjukkan oleh Google Maps. Dari halte di samping hostel (tempat kami turun dari Orchard Road), kami bisa mengambil bus nomor 23 atau 65 sampai halte BLK 938. Sepanjang perjalanan, aku menghitung halte yang dilalui dan mencocokkan dengan rute yang ditampilkan Google Maps. Ternyata, Google Maps Singapura ini sangat akurat! Dari nomor bus dan jumlah haltenya, seluruhnya tepat sesuai praktek di lapangan! Di BLK 938, kami turun dan menyeberang ke arah yang berlawanan menuju halte BLK 147. Dari situ, kami naik bus nomor 27 dan tiba di Changi Airport beberapa menit kemudian.

Orchard Road, Singapore

Hanya karena penyertaan-Nya, aku berhasil menyampaikan kami semua di Changi Airport, padahal itu adalah pengalaman pertama. Tanpa salah naik, salah turun, atau bertanya penumpang di dalam bus. Aku hanya satu kali bertanya kepada seorang warga lokal di halte BLK 938 untuk menemukan halte BLK 147. Coba kalau kami naik MRT. Beuh, kami harus 3 kali transit di Little India (Downtown Line dengan North East Line), Bugis (North East Line dengan East West Line), dan Tanah Merah (arah Changi Airport dengan arah Pasir Ris). Sebagai informasi, lorong yang menghubungkan NE Line dan Downtown Line di Stasiun Little India itu jauh bangeeettt, nyaris seperti lorong antar terminal di bandara.

Sembari menunggu Boarding Time, aku mengembalikan STP di Changi Airport MRT Station dan membeli makan malam dengan deposit yang dikembalikan.

Pengeluaran 8: Makan malam Thai Sandwich 3 pcs + minum di Changi Airport, 8 SGD

Sayangnya, rekor bagus selama dua hari ini harus hancur dengan momen berlari-lari menuju Boarding Gate. Karena terlena dengan situasi, aku tidak memperhatikan waktu. Ketika sampai di imigrasi dan Morin meminta izin ke toilet (yang terasa begitu lama), penerbangan kami sudah dalam posisi Last Call. Saat kami berjalan menuju Boarding Gate, penerbangan kami sudah dalam posisi Gate Closing. Mau tak mau, aku mengajak mereka untuk berlari. Benar-benar berlari!

Puji Tuhan, kami tidak melewatkan penerbangan kami. Saat aku tiba, masih ada sekelompok penumpang yang menjalani pemeriksaan (pemeriksaan akhir Changi Airport dilakukan di Boarding Gate). Aku malu sama Tuhan. Di saat-saat terakhir, Ia mengajakku sedikit bercanda, dan aku gagal mempercayai-Nya.

“Nggak usah lari kenceng gitu, Gie. Jalan cepet aja secukupnya. Jangan tinggalkan pesertamu,” kuabaikan suara itu saat berlari-lari melalui lorong bandara. Aku tak menoleh ke belakang sampai aku tiba di depan pintu Boarding Room. Rupanya, saat mereka tiba di Boarding Room pun, calon penumpang sebelumku masih belum selesai diperiksa.

Ah, kenapa kau tidak mempercayai-Nya? Dia tentu sudah merancang skenario sesuai dengan kebutuhanmu! gerutuku kepada diri sendiri.

 

Tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, aku menjelaskan kondisi keuanganku kepada Morin. Aku mengirimkan uang Rp 200,000 ke rekeningnya untuk kemudian dia ambil di ATM. Uang tersebut kugunakan untuk membeli tiket travel kembali ke Bandung.

Di dalam perjalanan pulang kembali ke Bandung, aku sangat mensyukuri kegiatan di Singapura yang berjalan lancar ini. Agustus 2016 lalu, aku mengalami beberapa keteledoran di Singapura dan Kuala Lumpur, seperti: tersesat, berputar-putar, salah arah jalan, salah peron, sampai salah naik kereta. Aku merasa kredibilitasku hancur di mata para peserta, sampai mereka sering kali memintaku untuk bertanya kepada orang lain. Padahal sebagian besar di antaranya adalah tempat-tempat yang sudah pernah kukunjungi.

Semuanya hanya karena penyertaan Tuhan, perjalanan kali ini boleh lebih baik — nyaris sempurna — daripada perjalanan-perjalanan sebelumnya. Aku tersenyum memandang gedung-gedung jangkung yang mengungkung Jakarta. Dia ada besertaku, di dalam perjalanan-perjalananku, dan akan terus besertaku. Keep learning by traveling

Iklan

14 thoughts on “Penyertaan-Nya Dalam Perjalananku [Part 2]

  1. Udah gak kehitung yang bilang ke aku, “bang ajakin jalan bareng dong, abang kan pernah ke sana” baik oleh keluarga, sahabat atau teman. Aku selalu menampik, kecuali keluarga inti. Karena itu, aku bisa mati karena espektasi mereka hahaha. “Masa sih gak tahu, bukannya udah pernah ke sini?”

    Komen semacam itu bener-bener aku hindari. Tapi ntah ya suatu saat, kalo yang ngajakin jalannya maksa, dan mau jalan dengan gayaku, ya boleh-boleh saja.

    Soal lari di bandara, lebih baik begitu. Dengan Nugie sampe duluan di gate, dan andaikata gatenya mulai ditutup, nugie bisa menahan kan, kasih kelonggaran 1 atau 2 menit hingga peserta lain sampai. Kalo aku berada di posisi Nugie, aku akan melakukan hal yang sama.

    Seru ya jalan-jalannya. Dan, finally, sesampai di Jakarta baru transfer uang dan numpang tarik pake ATMnya hehehe.

    • Betul, mas. Jadi harus pede dan muka tebel sih saat bawa open trip ini.

      Soal pertanyaan, “Mas, klau jalan ajak-ajak dong,” itu juga banyak banget. Gak tahu apakah itu beneran, basa-basi doang, atau ada niat “nakal”.
      Jadi masih oke lah ya gue lari-lari di bandara. Gue kira mereka ikut lari juga lho, ternyata jalan cepet aja.

  2. Nug, ini ceritanya lagi bawa trip ya dan dompet ketinggalan? Alhamdulillah semua berakhir baik ya 😀 walaupun agak panik karena hampir ketinggalan pesawat hehe. Oh ya, saran sediki, mungkin lain kali ada survey kecil peserta trip sebelum berangkat 🙂 seperti: apa interest mereka dan sebagainya supaya tripnya lebih berkesan.

    • Iya, kak. Makanya agak horor ya, soalnya harus bagi duit yang ada dengan rombongan. Kalo sendiri mungkin nggak terlalu masalah.
      Tadinya memang konsepku ada paket gitu, tapi setelah dijalani, kadang itinerary-nya bisa berubah haha. Jadi bener, perlu ditanya dulu sebelum berangkat maunya ke mana aja. Thanks sarannya, kak 😀

  3. Setuju dengan kata Omnduut. Dengan Mas lari-lari seperti itu malah lebih menenangkan peserta, soalnya menunjukkan bahwa Mas ada iktikad baik untuk mengecek situasi, ketinggalan pesawat atau tidak, hehe. Anggap saja dengan begini Tuhan menaikkan kredibilitas Mas di mata peserta. Jadi mereka bisa memberi cerita pada teman-teman dan gilirannya mereka mengontak Mas lagi untuk berlibur. Pengalamannya bagus dan inspiratif. Terima kasih sudah berbagi, ya.

  4. Rencana Tuhan memang indah pada akhirnya ya kak Nugie. Aku pun kalau jadi kak Nugie, pasti lari ke gate buat cegat dan berharap bisa menahan waktu sebentar.
    Suka kata penutupnya, keep learning by traveling

  5. Saya pengen komentar tentang “facts found” bahwa turis Indonesia jarang menyukai arsitektur, museum, dan kuil nah kebetulan saya suka dengan 3 hal tersebut. miris banget ya padahal banyak sekali kita bisa belajar di museum pada saat kita travel, btw nice story mas

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s