Penyertaan-Nya Dalam Perjalananku [Part 1]

Hari baru saja berganti dan mata pun belum lama terpejam, namun dering alarm gawai berhasil memecah sunyi. Aku terpaksa mengangkat kelopak mata yang terasa berat karena kantuk masih menggelayut. Kusingkapkan balutan selimut tebal yang melindungi tubuh ini dari terpaan hawa dingin kota Bandung, duduk menatap seonggok tas hitam yang sudah siap terkemas di sudut kamar.

Aku tidak sudi repot-repot mandi di tengah hawa dingin yang menusuk seperti ini. Maka, cukup dengan menggosok gigi dan sedikit merapikan diri, aku sudah merasa cukup untuk berangkat menuju pool travel Cititrans di samping mal Bandung Trade Center (BTC).

Tepat ketika aku melangkah keluar kamar dan siap menuju lokasi penjemputan travel, hujan turun dengan cukup deras mengguyur bumi priangan. Dengan diantar oleh seorang rekan kost, kami melaju menerabas hujan tengah malam. Untungnya lokasi travel-ku tidak jauh dari kost, hanya sekitar satu atau dua kilometer, maka sesaat kemudian aku pun sudah duduk anteng di dalam ruang tunggu travel.

Masih ada waktu beberapa menit sebelum keberangkatan menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta pukul 01:15. Tiba-tiba saja, di tengah waktu yang kian menipis itu, sebuah pikiran merangsek masuk ke dalam kepala, membuat rasa kantuk hilang seketika!

“Dompet gue di mana ya?”

Tak kutemukan di saku belakang celana, saku samping, atau saku bawah. Tak juga di kantong jaket yang kukenakan, baik kantung kanan atau kantung kiri. Di dalam tas, pun hasilnya nihil.

Matek! Dompet gue ketinggalan! Lupa gue masukkin lagi ke dalam tas ini!

Meski didera panik, namun aku tetap tampil tenang. Tak menunjukkan raut muka gelisah, tak juga berseru dengan latah. Tipikal orang yang pandai mengendalikan (atau menyembunyikan?) perasaan, hahaha. Aku segera menghubungi Tinus, kawan yang tadi mengantarku tadi, untuk memintanya membawakan dompetku kemari. Sudah tak ada waktu bila harus aku sendiri yang berjalan pulang dan kembali ke lokasi ini. Pemesanan langsung yang kulakukan membuat pemesanan menjadi non-refundable, jika tak datang sesuai jadwal, ya ditinggal. Lain halnya bila pemesanan dilakukan dengan telepon.

Kutelfon sekali, tak diangkat. Dua kali, tak diangkat juga. Coba kutelfon melalui whatsapp, tak ada respon juga. Agaknya, meski sebetulnya waktu juga belum lama berselang, namun Tinus sudah dengan cepat kembali ke alam bawah sadarnya. Rasa kantuk yang berat atau tidur yang teramat pulas membuat indera pendengarannya gagal menangkap nada dering telepon genggamnya.

Aku menghela nafas… Ya sudah, kalau begini, tak ada lagi yang bisa kulakukan selain menghemat pengeluaran dengan ekstra, berharap lembar-lembar dollar Singapura di dalam tas mampu mencukupi seluruh kebutuhan trip kelompok di sana. Aku bertekad untuk tidak meminjam uang dari peserta trip selama di Singapura, membeberkan insiden ini pun jangan. Cukuplah kusimpan sendiri di dalam hati dan biarkan Dia, Bapaku, yang bekerja memberi solusi.

 

Sekitar pukul 10:00 waktu setempat, kami berlima mendarat di Terminal 1, Changi International Airport, Singapore. Rasa lapar mendera perut yang gagal mendapatkan cukup istirahat semalam dan masih harus melewatkan sarapan pagi ini karena tak ada Rupiah yang terbawa. Selembar pun. Salah satu peserta trip ingin berkunjung ke Hello Kitty Café yang berada di Terminal 2. Tempatnya ternyata cukup mudah kami temukan setelah bertanya kepada salah satu petugas di Information Center.

Tanpa mata yang terbelalak atau pekik yang memancing keributan, aku menyembunyikan rasa kaget melihat harga makanan dan minuman Hello Kitty Café di papan menu yang tersedia. Aku hanya mendesah lembut, harga rata-rata yang harus ditebus untuk bersantap di Hello Kitty Café ada di kisaran 20 SGD. Maka, ketika sang pramusaji datang untuk mencatat pesanan kami, aku hanya sanggup memesan secangkir kopi hitam panas seharga 6 SGD.

Interior of Hello Kitty Cafe at T2 Changi Airport, Singapore

Hello Kitty Cafe “Orchid Garden”

Syukurlah, nachos dan French fries yang dipesan para peserta trip datang dalam ukuran jumbo! Mereka dengan antusias menawariku ikut mencicipnya, dan tentu saja kusambut dengan sukacita, hahaha.

French Fries, large size for Indonesians

2 SGD Hot Black Coffee at Hello Kitty Cafe Singapore

Pengeluaran 1: Kopi 6 SGD + comot French fries + comot nachos di Hello Kitty Café

Ketika kami tiba di Stasiun MRT Changi Airport dan aku hendak membeli Singapore Tourist Pass 2 Day Pass untuk kami berlima, petugas loket memberitahuku bahwa pembelian STP di Changi Airport dilayani di T2. Ah, sial! Harus keluar budget ekstra lagi untuk transportasi ini.

Pengeluaran 2: MRT Changi Airport – Boon Keng (lokasi hotel kami) untuk 5 orang, 12.5 SGD

Dari Changi Airport menuju Boon Keng, kami harus transit di Stasiun Bugis untuk berpindah dari East West Line (Green Line) menuju Downtown Line (Blue Line). Nyeseknya, rupanya konter penjualan STP ada di luar paid area, sehingga kami harus melalui exit gate lebih dulu untuk mencapainya. Ya bisa sih, tapi jadinya ada lembar-lembar dollar yang terbuang sia-sia. Harusnya aku tidak langsung mengambil Boon Keng sebagai destinasi dari Changi Airport, pilih Bugis saja yang betul.

Antrian yang cukup panjang membuat aku harus menunggu selama beberapa menit. Pembelian STP dilakukan dengan membayar biaya kartu sesuai jumlah hari yang diinginkan ditambah deposit senilai 10 SGD per kartu. Satu kartu hanya dapat digunakan untuk satu pengguna. Karena tidak ada cukup anggaran untuk membayar seluruh deposit, maka aku meminta masing-masing 10 SGD dari setiap peserta untuk deposit mereka sendiri. Fair enough lah ya.

Pengeluaran 3: STP 2 Days Pass untuk 5 orang, 80 SGD + deposit pribadi 10 SGD

 

Aku mempercayakan Moni Gallery Hostel sebagai tempat kami beristirahat selama satu malam ini di Singapura. Jujur saja, aku belum pernah menginap di sini sebelumnya. Aku sendiri memilih hostel ini karena lokasinya di dekat Little India, dekat stasiun MRT, memiliki family room berkapasitas 6 orang, dilengkapi sarapan, sesuai budget yang dianggarkan, dan tampak cukup meyakinkan.

Family Room Moni Gallery Hostel Singapore

Free water and washing room, Moni Gallery Hostel – Singapore

Keluar dari stasiun MRT Boon Keng, aku mengambil arah kanan, lalu berjalan terus sampai tiba di sebuah persimpangan. Sempat akan berbelok ke kanan, namun sebelum seluruh rombongan bergerak, aku buru-buru meralatnya bahwa kami seharusnya berbelok ke kiri. Beberapa meter kemudian, hostel berada di sisi kanan. Di sini, aku bersyukur akan penyertaan Tuhan sehingga aku tidak salah Exit Gate, tidak salah mengambil arah setelah keluar, dan tidak salah berbelok.

Proses check-in berjalan dengan lancar dari pemesanan yang kulakukan melalui Traveloka. Deposit senilai 10 SGD pun aku mintakan kepada salah satu peserta open trip. Hostelnya cukup bersih, ada air minum gratis, kamar mandi di beberapa titik, ruang bersama, open dining room di bagian belakang, dan family room yang nyaman. Pemesanan baru dilakukan kurang dari satu minggu sebelum keberangkatan, dan saat itu adalah pekan Hari Raya Imlek.

Open kitchen and dining room, Moni Gallery Hostel

Living room, Moni Gallery Hostel

Shower / bathroom, Moni Gallery Hostel

Peserta open trip meminta agar aku tidak memesan penginapan di daerah Geylang. Syukurlah, Tuhan menuntunku memilih hotel yang nyaman…

 

Karena terletak di jalur yang sama (Purple Line / North East Line), aku menjadikan Pulau Sentosa sebagai destinasi pertama kami hari itu. Saat tiba di Stasiun Harbourfront dan berjalan kaki menuju Vivo City, mataku menangkap sebuah gerai makan siap saji. Wah, tempat makan di stasiun ‘kan biasanya murah-murah, pikirku dalam hati. Betul saja. Seporsi mi goreng satu stereofoam penuh ditambah telor ceplok cuma 3.2 SGD, saudara-saudara!

Pengeluaran 4: Lunch + Dinner, 3.2 SGD

Para peserta open trip ingin mencapai Pulau Sentosa dengan menaiki Cable Car. Begitu keluar dari area Stasiun Harbourfront, aku membimbing langkah mereka menuju stasiun kereta gantung yang letaknya berada di menara yang berbeda dengan Vivo City Mall / Stasiun Harbourfront ini. Aku sama sekali belum pernah naik cable car di Singapura. Namun dengan memperhatikan petunjuk yang ada, aku berhasil mengantarkan mereka di tempat tujuan tanpa tersesat, tanpa kebingungan, juga tanpa bertanya kepada orang lain!

MRT Singapore, the most advanced mass transportation in South East Asia. Supported with 5 lines and 3 LRT lines, the Singapore MRT provides a fast, clean, and reliable public transportation for Singaporeans. Meskipun tidak ikut serta bersama rekan-rekan blogger yang berkunjung menyelami lorong MRT Jakarta, namun gue udah senang dengan informasi yang dibagikan. Semoga MRT Jakarta selesai dan beroperasi tepat waktu pada Maret 2019, bahkan lebih cepat lagi. Sampai Desember 2016, progress sudah hampir 70% lho! Taken by: Infinix Hot 3 LTE #thetravelearn #singapore #singaporean #singaporeinsiders #exploresingapore #mrtsingapore #singaporemrt #subway #travel #travelblogger #traveling #traveler #backpacker #backpackerlife #backpackerindonesia #igtravel #instatravel #instago #instavideo #videogram #travelingram #mytravelingram

A post shared by Matius Teguh Nugroho (@nugisuke) on

Paket open trip yang kurancang tidak termasuk biaya kereta gantung, sehingga para peserta membayar sendiri ongkos mereka di sini. Lalu bagaimana dengan nasibku? Sementara perjalanan cable car ini membutuhkan biaya sebesar 30 SGD. Aku berterus terang kepada Morin, ketua kelompok peserta open trip, bahwa aku tidak ikut mereka naik cable car dan akan mencapai Sentosa Island dengan monorel Sentosa Express.

Dia sempat merajuk, membujukku untuk ikut bersama mereka dan biar mereka yang menanggung ongkosku. Tak merasa percaya diri untuk pergi sendiri ke Sentosa tanpa dampingan Trip Leader. Namun aku berhasil meyakinkannya, perjalanannya hanya berjarak 1 stasiun, sehingga akhirnya dia dan peserta open trip yang lain mau naik Cable Car sendiri tanpa dampinganku. Aku yakinkan padanya, aku akan menemui mereka di stasiun cable car Pulau Sentosa.

Sebelum mencapai stasiun Sentosa Express, aku mengambil waktu beberapa menit untuk meyantap mi goreng yang tadi kubeli. Rasanya, kalau kata orang Jawa, anyeeep! Untung telor ceplok dan sambalnya membantu menambah cita rasa. Sambalnya banyak, sambal ikan khas Melayu, maniiisss.

Pengeluaran 5: Sentosa Express (pulang pergi), 4 SGD

Tiba di Pulau Sentosa setelah sebuah perjalanan yang penuh sesak di dalam Sentosa Express, aku berhasil menemukan stasiun kereta gantung tanpa tersesat. Aku berhasil menemui mereka. Aku lalu memimpin langkah, mengajak mereka melalui Merlion Plaza, menyusuri walking track, sampai tiba di kawasan pantai. Bro, sis, aku belum pernah berkunjung ke bagian itu sebelumnya, namun aku bersyukur aku dapat memimpin perjalanan dengan baik tanpa tersesat.

Chinese New Year at Merlion Plaza, Sentosa Island, Singapore

Chinese New Year at Merlion Plaza, Sentosa Island, Singapore

Saat beristirahat, aku kembali menggunakan waktu untuk menyantap mi goreng yang kubawa. Tak ada pengeluaran di sini selain sebuah minuman kaleng yang kubeli di dekat pantai karena botol air minum dari hostel yang sudah kosong.

Pengeluaran 6: Minuman kaleng di Pantai Palawan, 1.8 SGD (kurang lebih, lupa tepatnya)

Dari Pantai Palawan, kami berjalan kembali menuju stasiun monorel terdekat. Antrian yang terlalu panjang membuatku berpikir cepat untuk mencari moda transportasi yang lain. Aku meminta mereka menunggu di dekat stasiun, sementara aku mencari informasi dulu di terminal bus yang terletak di dekat stasiun. Syukurlah, aku menemukan rute bus yang dapat mengantarkan kami ke Universal Studios Singapore. Aku segera memanggil mereka, naik bus yang tepat, dan turun di tempat yang tepat meski untuk pengalaman pertama.

Approaching the beaches in Sentosa Island

Palawan Beach, Singapore

Kami turun di sebuah parking basement. Mengikuti insting, aku berjalan lurus dari titik pemberhentian bus, lalu masuk ke sebuah pintu di sebelah kiri. Tak ada papan petunjuk. Seketika, kami sudah berada di sebuah ruang terbuka yang tampak familiar bagiku. Aku lalu mengantarkan mereka menuju bola dunia Universal Studios Singapore untuk berfoto.

Menghabiskan waktu terlalu lama di Pulau Sentosa membuat rencana kami sedikit berubah. Sudah terlalu malam ketika kami tiba di Stasiun Bayfront. Satu hal yang kusyukuri, aku berhasil menyampaikan peserta open trip tanpa tersesat di stasiun ini. Tahun lalu, aku dibuat bingung oleh rute Downtown Line (Blue Line) ini saat memandu sekelompok ibu-ibu Yogyakarta yang membuatku naik turun eskalator stasiun dan keluar masuk peron. Hari itu, aku begitu saja paham.

Karena Chinatown (stasiun pertemuan antara North East Line dari Harbourfront dengan Downtown Line) adalah stasiun akhir / terminus, maka tentu saja kedua peron yang ada sama-sama menuju ke arah Bukit Panjang. Bentuk rutenya yang memutar membuatku sedikit terkecoh tahun lalu.

Mengandalkan papan petunjuk di stasiun, aku berjalan memimpin rombongan menuju Gardens by The Bay. Ya, ini juga pertama kalinya aku berkunjung ke Gardens by The Bay. Tahun lalu, aku salah memilih pintu keluar sehingga justru tiba di lobi hotel Marina Bay Sands. Kali ini, Tuhan memimpinku di pintu keluar yang tepat, arah yang tepat. Kami tiba di Dragonfly Bridge tepat saat pohon-pohon artifisial itu memainkan alunan musik dan tarian cahayanya.

Marina Bay Sands, Singapore

Di Gardens by The Bay itu jugalah, karena haus, kehabisan air minum, dan tak menemukan penjual minuman keliling, aku minum dari air keran toilet Singapura untuk pertama kalinya!

Dari Gardens by The Bay, kami naik taksi menuju Merlion Park seharga 30 SGD, ditanggung oleh peserta trip.

Gardens by The Bay, finally…

View from the Dragonfly Bridge, Gardens By The Bay

Singkat cerita, kami tiba kembali di hostel sekitar tengah malam. Aku lalu mengantarkan mereka ke 711 terdekat sesuai petunjuk dari staf hostel, seorang perempuan paruh baya yang ramah dengan senyum someah. Aku tak membeli apa-apa, sudah kenyang dengan sekotak mi goreng yang baru berhasil kuhabiskan di Merlion Park. Namun salah satu peserta open trip menawariku roti yang dia beli, dan Morin bahkan membelikanku sebuah onigiri.

 

Rupanya, tulisan ini lebih panjang dari yang kuperkirakan. Rasanya akan membosankan bila harus kupaksakan berakhir dalam satu tulisan ini, bisa tiga atau empat halaman lagi! Jadi, tulisan ini aku cukupkan sampai di sini, sementara kisah di hari ke-2 perjalanan kami akan kutuliskan kemudian. Keep learning by traveling…

Iklan

11 thoughts on “Penyertaan-Nya Dalam Perjalananku [Part 1]

  1. Pertolongan Tuhan memang datang di saat yang paling dibutuhkan ya Mas. Meski ada musibah ketinggalan dompet, hikmahnya banyak: bisa dituntun menuju tempat yang tepat tanpa tersesat. Selain itu, bisa memastikan juga semua peserta trip terpuaskan dengan tempat tujuan (paling tidak, tidak ada insiden ketinggalan barang belanjaan seperti di Thailand kemarin, haha). Kelanjutannya ditunggu, Mas. Saya yakin pasti ada hadiah terindah di akhir cerita, dan saya tak sabar untuk membaca itu.

  2. Penasaran sama peserta tripnya jika baca tulisan ini 🙂

    Aku kalo di posisi yang sama kayak Nugie, mungkin bisa berusaha tenang. Lain kalo hape yang ketinggalan, wah itu pusing. Beberapa kali aku jalan (bukan liburan) lupa bawa dompet, tapi selama ada hape, aku pikir kalo kepepet, bisa minta tolong seseorang buat tarik uang di ATM dengan cara transfer ke rekeningnya (pake mobile banking)

    Ditunggu kelanjutannya.

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s