Kesengsem Lasem #1: Klenteng Poo An Bio dan Rumah Oma Opa

Perlahan, keping-keping mimpi itu terangkai menjadi sebuah mozaik kehidupan yang kian utuh. Setelah pada bulan April 2017 berhasil menjejakkan kaki di kota khatulistiwa, Pontianak, akhir Mei lalu Tuhan membawa langkahku hingga tiba di Tiongkok Kecil, Lasem.

 

Terlambat

Buyar sudah perkiraan tiba pukul 3 atau 4 dini hari. Nyatanya, bus Pahala Kencana baru menurunkanku di Krapyak, Semarang, sekitar pukul setengah enam pagi. Dari situ, aku memesan jasa GoJek untuk mengantarkanku sampai Stasiun Semarang Tawang. Bukan, bukan untuk melanjutkan perjalanan ke Lasem dengan naik kereta api, tapi untuk mencetak tiket kepulangan Semarang – Bandung pada esok hari, Minggu 21 Mei 2017. Daripada besok terburu-buru datang ke stasiun, lebih baik cetak sekalian sekarang toh?

Bangunan Pabrik Rokok Praoe Lajar di dekat Polder Tawang

Semarang di pagi hari terasa dingin dan menyejukkan. Aku menikmati menit-menit berkendara membelah jalanan Semarang yang ramai lancar pagi itu. Ketika sudah selesai dengan urusan pertiketan, aku masih sempat menikmati pagi di Polder Tawang, semacam danau buatan di depan Stasiun Tawang dengan air yang tenang. Driver Gojek tiba, dan aku melanjutkan perjalanan menuju Terminal Terboyo, Semarang.

Terboyo adalah sebuah terminal bus yang membingungkan. Luas, namun minim petunjuk arah. Jalan-jalannya banyak yang tergenang air rob. Sialnya lagi, driver-ku juga tak terlalu tahu menahu soal terminal ini. Aku diturunkan di salah satu bangunan panjang, di mana seorang pria menyapa kami untuk menanyakan tujuan.

Panorama Polder Tawang Semarang di pagi hari

Setelah menyerahkan lembar-lembar uang dan menerima secarik tiket kertas sebagai timbal baliknya, aku baru sadar bahwa aku baru saja bertransaksi dengan seorang calo tiket. Duh, anaknya polos banget sik, gampang amat kena calo.

Beberapa menit menunggu, seorang bapak-bapak — rekan mas-mas calo itu — memanggilku untuk menghampirinya di jalan komplek terminal. Bus itu datang, bus yang akan mengantarkanku menuju Lasem di kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Selama 3 jam berikutnya, aku terjebak dalam sebuah perjalanan di dalam bus tak ber-AC melalui jalan-jalan Pantai Utara yang panas. Demak, Kudus, Pati, Rembang, hingga akhirnya, setelah melalui tambang-tambang garam yang mengapit jalan raya, aku tiba di Terminal Lasem.

 

Vakansinesia

Begitu tiba di terminal, aku segera memberi kabar kepada operator open trip dan driver yang bertugas dengan SMS. Mifi-nya tewas karena kekurangan oksigen. Beberapa menit kemudian, mas Wildan menjemputku dengan mobilnya. Penampilannya, hm, seperti cowok-cowok metroseksual pada umumnya di kota-kota besar. Berbadan tinggi besar, berkacamata hitam, mengenakan kaos dan celana pendek. Fotonya akan ada di seri berikutnya, hehe.

Kelelahan di Terminal Lasem

Untuk trip singkat di Lasem ini, aku percayakan pada Vakansinesia. Jarang-jarang ada open trip yang mengambil waktu akhir pekan seperti ini, sehingga aku tak perlu mengambil cuti. Harga paketnya Rp 800.000, sudah termasuk mobil, driver, pemandu wisata, tiket masuk obyek wisata, makan sepuasnya, penginapan, dan — ini yang menarik, paket oleh-oleh. Titik awal dan akhirnya ada di kota Semarang.

Biasanya, aku memang lebih memilih berjalan sendiri. Ngapain pake tur? Udah mahal, jadwalnya diatur-atur lagi. Cuma, untuk sebuah destinasi seperti Lasem yang belum memiliki transportasi umum, ditambah obyek-obyek wisata sejarah dan budaya yang akan terlihat hampa tanpa penjelasan pemandu wisata, aku pun dengan mantap mendaftarkan diri sebagai peserta Vakansinesia.

Jelajah Lasem 2D1N via Semarang Lasem dikenal juga sebagai "Tiongkok kecil" karena merupakan kota awal pendaratan orang Tionghoa di tanah Jawa dan terdapat perkampungan tionghoa yang sangat banyak tersebar di kota Lasem. Di Lasem juga terdapat patung Buddha Terbaring yang berlapis emas. 8 Tempat Wajib Dikunjungi Saat Di Lasem Short URL : http://triptr.us/fcC9 Open Trip (29-30 Juli, 19-20 Agustus) via Semarang 2D1N (Minimal peserta 5pax) : PAKET TERMASUK: • Penginapan 1 malam di Hotel*/Homestay AC (1 Kamar 2/3orang) • Transportasi selama wisata (Avanza/Xenia) • Sarapan 1x, makan siang 2x, makan malam 1x (sesuai di rencana perjalanan) • Kopi lelet 1x (sesuai di rencana perjalanan) • Air mineral selama tour (900m l 1x/hari) • Pemandu wisata lokal Lasem • Tiket dan donasi objek wisata • Parkir Info lebih lanjut bisa menghubungi vakansinesia via WhatsApp 08561154841 atau OfficialLine @vakansinesia

A post shared by Vakansi Indonesia (@vakansinesia) on

Nah, itu Mas Wildan yang di foto.

Total, ada 4 peserta dalam trip Lasem ini. Selain aku, ada mbak Nova, mbak Lala, dan Zaim. Dua pria dan dua wanita, tapi tidak untuk membina rumah tangga bersama #eh. Kebetulan, mereka bertiga sudah tiba di Semarang, Jawa Tengah, pada hari Jumat malam pukul 21:00 sehingga trip pun diubah menjadi trip 2 malam 2 hari. Jam segitu, aku masih tersendat di kabupaten Sumedang, sehingga mereka memutuskan untuk berangkat lebih dulu ke Lasem. Sedih hati adek kau tinggal, bang. #baperdimulai

Karena jadwal trip dimulai pukul 7:00, sementara pada saat itu aku malah baru mulai berjalan menuju Lasem, maka otomatis aku melewatkan beberapa agenda. Lawang Ombo, Omah Candu, dan Museum Kartini Rembang, terpaksa tak aku ikuti. Kalau tahu gini, aku bakal ambil bus langsung ke Lasem deh.

 

Klenteng Poo An Bio

Klenteng ini menjadi obyek wisata pertama yang kusambangi di Lasem bersama Vakansinesia. Disebut juga klenteng Karangturi karena lokasinya yang berada di Jl. Karangturi VII / 13-15. Klenteng ini diperkirakan berdiri pada 1740, seiring dengan peradaban Tionghoa di Lasem yang berkembang hingga ke kawasan Kali Kumendung di Desa Karangturi ini. Beberapa sumber mengatakan, klenteng inilah yang tertua di Lasem. Namun pemandu wisata kami saat itu, mas Yanto, kontra dengan pernyataan itu.

Kiri: Gerbang Klenteng Poo An Bio
Kanan: Patung singa dan dewa penjaga

Klenteng Poo An Bio Lasem tampak depan dengan 4 penampakan 😀

Patung singa penjaga Klenteng Poo An Bio Lasem

Dari luar, klenteng ini tampil megah dengan gerbang lengkung beratap wallet dengan aksara Tionghoa. Gerbang itu dijaga oleh sepasang hanzi (singa batu). Masuk ke dalam, pengunjung akan disambut oleh sepasang patung singa kilin yang didampingi oleh sepasang patung dewa penjaga. Dalam budaya Tionghoa, patung singa ini dipercaya mampu menolak bala.

Lalu, keunikan klenteng ini (juga klenteng Lasem lainnya yang akan aku ceritakan nanti) adalah adanya panel-panel mural yang mengisi dekorasi bagian depan klenteng. Seingatku, baru kali ini aku melihat panel-panel seperti itu.

Meja, kursi, dan panel-panel lukisan di Klenteng Poo An Bio Lasem

Altar sembahyang Klenteng Poo An Bio Lasem

Klenteng berdiri menghadap arah selatan, atau arah Kali Kemendung. Dulu, sungai tersebut adalah urat nadi transportasi Lasem yang menghubungkan pusat kota dengan pelabuhan. Fantasiku melambung. Andai saat ini masih seperti itu, tentu akan menjadi sebuah daya tarik wisata, di mana pelancong bersantai di atas perahu kayu menyusuri sungai berarus mendayu.

 

Rumah Oma dan Opa

Masih di Karangturi, tepatnya di Gang Karangturi IV no. 17. Mas Wildan memberhentikan mobil di depan sebuah rumah yang dikelilingi oleh pagar tembok tinggi, sama seperti rumah-rumah tionghoa lainnya. Kami berlima turun, berdiri menunggu di depan pintu lapis dua yang diguyur warna hijau toska.

Gerbang Rumah Oma Opa dan lorong di sebelah rumah

“Opaaa,” seru mas Yanto, memanggil sang empunya rumah. Tentu, dengan nada yang biasa saja, bukan nada manja bergairah yang diserukan cewek-cewek untuk “oppa” mereka.

Beberapa menit, kami hanya dibalas dengan gonggongan anjing penjaganya. Syukurlah, sesaat kemudian, pintu dibuka perlahan. Sesosok kakek menyambut kami dengan senyumnya yang hangat. Ia mengenakan celana pendek, berbaju putih lusuh, senada dengan rambut-rambut uban yang memahkotai setengah kepalanya. Kami dipersilakan masuk.

Aku seperti dilemparkan ke masa seabad silam.

Rumah Oma dan Opa

Pintu masuk ruang depan di Rumah Oma Opa

Kami dihadapkan dengan sebuah rumah berdinding kayu yang warnanya sudah pudar tergerus masa. Lantainya ubin berwarna kehitaman, di mana sebuah meja kayu dan tiga kursi dari anyaman bambu berdiri di atasnya. Sejurus dengan pintu gerbang, ada sebuah pintu lagi untuk masuk ke bagian dalam rumah, diapit oleh sepasang foto hitam putih dalam bingkai kecoklatan. Bilah-bilah kayu pada langit-langitnya ditopang oleh rangka kayu lagi yang dilumuri warna hitam pekat.

Setelah bertegur sapa dengan opa, kami masuk ke dalam sebuah lorong di sebelah kanan rumah yang menghubungkan area teras itu dengan dapur dan ruang makan.

Langit-langit kayu Rumah Oma Opa

Perkakas-perkakas lawas dalam berbagai rupa

Di ruangan besar dan semi terbuka itu, piring dan mangkok dalam bermacam rupa, warna, dan material bertumpuk di atas meja. Meja dan kursi makannya berdiri kepayahan dalam balutan debu dan jelaga. Di sampingnya, asap mengepul dari ranting-ranting pohon yang dibakar di antara beberapa tumpuk bata, difungsikan sebagai alat memasak tradisional. Ember-ember dan perkakas lainnya tergeletak tak beraturan di tepi ruangan, sementara lemari kayunya berdiri merapat pada dinding yang kusam.

Seorang perempuan tua datang menyambut kami dari pintu belakang. Ia mengenakan kaos dan rok panjang yang berwarna-warni. Namanya Mbak Minuk, ialah yang membantu mengurus oma dan opa di rumah tua ini. Sementara oma sendiri, beliau sudah tergolek tak berdaya di dalam kamar di sudut rumah. Tubuhnya yang kurus, kering, dan berbalut kulit keriput menandakan ia sudah lama berjuang keras di dunia ini. Aku tak kuat melihatnya. Seolah tak cukup dengan opa yang sudah berjalan kepayahan, hati ini menjadi lebih ngilu lagi saat melihat keadaan oma…

Gentong-gentong air di Rumah Oma Opa

Rumah Oma dan Opa masih memasak dengan cara tradisional

Kami lalu masuk ke bagian dalam rumah melalui pintu belakang. Sebuah ranjang dengan kelambu menjadi obyek utama yang mengisi ruangan ini. Kami berjalan lagi, dan akhirnya memasuki ruangan terdepan yang tadi dapat diakses melalui pintu depan. Di ruangan itu, ada sebuah altar untuk sembahyang, sementara beberapa potret hitam putih mengisi ruang-ruang kosong di dinding kayu. Sebuah televisi cembung hitam putih bergeming di atas meja, bersanding dengan sebuah layar desktop LG yang sedikit merusak suasana, hehe.

Jangan salah sangka, meski tinggal bersama, namun oma dan opa ini bukanlah sepasang suami isteri. Mereka adalah sepasang sepupu yang tidak menikah dan tinggal bersama. Kalau aku amati, memang banyak orang tionghoa yang tidak menikah seperti ini karena berbagai alasan.

Coba Rumah Oma Opa ini agak dirapikan ya

Meja dan kursi makan di Rumah Oma Opa

Ranjang dengan kelambu di Rumah Oma dan Opa

TV model lawas di Rumah Oma Opa

Rumah Oma dan Opa ini mengingatkanku dengan rumah-rumah saudara di kabupaten Gunungkidul. Bukan rumah tionghoa sih, tapi tata letaknya, perkakas-perkakas lawasnya, membuat memori masa kecilku meletup di kepala. Usai berfoto dan bersalaman, kami pergi meninggalkan rumah oma dan opa untuk menuju destinasi selanjutnya. Semoga, rumah oma dan opa ini terus sebagaimana adanya. Tetap bersahaja di tengah gempuran gawai dan media.

Sebetulnya kami sempat berfoto dengan Opa, namun sayang berkas fotonya rusak.

Altar sembahyang di Rumah Oma Opa

 

Pada tanggal 5 Juni 2017, aku mendapat kabar dari Vakansinesia bahwa oma wafat dan akan dikremasi keesokan harinya. Aku sejenak terhenti dari segala aktivitasku, teringat pada sesosok lemah yang tak berdaya di sudut rumah. Semoga oma dapat beristirahat dengan tenang, opa dan mbak Minuk dikuatkan dan senantiasa diberi kesehatan di rumahnya yang tenang. Oma sekarang sudah sehat dan bahagia di surga…

Iklan

50 thoughts on “Kesengsem Lasem #1: Klenteng Poo An Bio dan Rumah Oma Opa

  1. Sedih dengar oma sudah berpulang. Opa jadi semakin kesepian 😦

    Lasem ini memang membuat banyak orang penasaran. Dan kesan yg ditinggalkan pun berbeda2.
    Tahun ini rencana pengen kesana lagi. Semoga masih bisa bertemu opa dan mak minuk.

  2. Nah, saya kemarin sempet dapet buku objek wisata Rembang dari pegawai di DinPar Rembang. Memang sangat menggoda sekali potensi Rembang ini, tak cuma sejarah dan kulinernya, alamnya juga memang banyak yang belum terpromosikan dengan baik.
    Hayuk kapan ke Rembang lagi….

  3. Keistimewaan rumah oma opa ini apa Nug? Sampe dijadikan destinasi paket travel?
    Emang rumah tertua di lasem apa cuma gara-gara tua aja? Atau ada sejarah lebih dalem kah?
    Penasaran 😂

    • Rumah ini jadi salah satu rumah tua Lasem yang masih mempertahankan keasliannya. Setauku itu, bang. Guide kami sendiri nggak banyak bercerita kenapa rumah ini jadi destinasi wisata.

      Dugaanku, ini juga buat membantu oma opa ybs. Dugaanku lho ya, hehe.

  4. Saya selalu penasaran sama Lasem, imbas banyaknya temen-temen bloger, termasuk Mas Nugie ini, meliput Lasem. Padahal kalau mudik ke kampung Bapak di Pati, selalu lewat Lasem, ya sekadar lewat saja. Gak pernah punya rencana mampir khusus buat jalan-jalan hahaha. Padahal banyak daya tarik yang fotogenik gini 😦

  5. Sebelum membaca cerita kakak mengenai Lasem, beberapa teman sudah menyampaikan ke aku, kalau ada waktu harus ke kota ini. Nah, gara gara menyimak semua cerita di atas, jadi langsung buka agenda buat pilih tanggal bisa ke sana.

  6. aku pingin balik lagi ke lasem. dulu dua hari ke sana malah cuma dapet satu desa aja, tapi seneng banget puas eksplornya di satu titik berlama-lama. salah satu perjalanan paling impulsif yang terjadi, tahu2 ke semarang, trus main ke lasem.

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s