Kesengsem Lasem #2: Nafas Toleransi di Pondok Pesantren Kauman dan Vihara Ratanavana Arama

Selain Klenteng Poo An Bio dan Rumah Oma Opa, masih ada satu obyek wisata lagi yang ditawarkan kawasan Karangturi, Lasem, ini. Dari Rumah Oma Opa, tim Vakansinesia membawa kami menuju sebuah tempat lagi yang tak jauh letaknya: Pesantren Kauman. Menyusuri kota tua Lasem dengan mobil memang membutuhkan sedikit kesabaran. Mobil harus berbagi lahan dengan kendaraan lain di atas sebuah jalan yang lebarnya paling-paling hanya sekitar 4 meter.

Mendekati Pondok Pesantren Kauman, kami dihadapkan dengan sebuah poskamling cantik dalam guyuran warna merah maroon. Aksen warna kuning dipercikkan di beberapa sudut, seperti pada dudukan beton, bingkai ventilasi, dan atap. Sepasang lampion tergantung mengapit pintu masuk, berpasangan dengan dua lubang ventilasi dalam bingkai berbentuk lingkaran.

papan nama pondok pesantren kauman lasem

zaim di depan poskamling kauman

Tak cukup di situ, nuansa Tionghoa juga ditunjukkan melalui atap wallet yang menjadi mahkota megah untuk bangunan sekelas poskamling desa. Aksara kanji dan arab bersanding mesra di kedua sisi ambang pintu, mengukuhkan dua budaya yang melebur dalam peradaban warganya.

 

Pondok Pesantren Kauman Lasem

Kami diterima oleh para pengurus pesantren di teras rumah yang tetap terasa sejuk di tengah gempuran hawa panas Lasem, thanks to pepohonan rimbun yang mengungkung komplek pesantren. Kami lesehan di atas bantal-bantal duduk bermotif batik yang mengitari meja. Sementara itu, beberapa toples kue kering dan makanan ringan tersaji di depan mata, menggoda perut yang sedari pagi belum menerima asupan.

memasuki pondok pesantren kauman lasem

kue-kue kering yang tersaji di depan mata

โ€œAda yang mau kopi?โ€

Tawaran salah seorang pengurus pondok pesantren itu langsung aku sambut dengan antusias! Sebagai penikmat kopi dengan gula, aku bersemangat untuk menyesap kopi khas daerah yang aku sambangi. Tak lama kemudian, cangkir-cangkir mungil itu sudah mendarat di atas meja. Tangan dan mulutku segera bersinergi untuk mengambil salah satu cangkir dan menyesapnya.

Sluuurpโ€ฆ

Puji Tuhan, kopinya sudah diracik dengan gula, hehehe. Cerita selengkapnya tentang kopi Lasem ini akan aku tulis dalam tulisan terpisah. Di sini, cukuplah aku katakan bahwa kopinya terasa begitu nikmat dengan warna hitam pekat tanpa rasa asam. Takaran gulanya pas, tidak terlalu manis, juga tidak kurang. Yang kurang cuma porsi kopinya yang cangkir-cangkir itu berukuran cukup kecil, seperti cangkir-cangkir espresso :D.

Oh, satu lagi hal yang kurang.

Kamu. #eh

secangkir kopi mlete / lelet ala lasem yang nikmat

yakin nggak mau ngopi sama adek? ๐Ÿ˜€

andai ada kamu, pastilah kamu yang menjadi mitra dalam lensa…

โ€œAda satu wisata di Lasem yang nggak dimiliki daerah lainnya,โ€ Gus Zaim, pendidik utama di pondok pesantren ini, membuka cerita setelah basa-basi ringan dan sesi perkenalan singkat.

Kami semua hening sejenak, menunggu jawaban bapak berkumis itu. Aku menyeruput kopiku sekali lagi.

โ€œLasem punya wisata toleransiโ€ฆโ€

Dia tertawa kecil, sementara kami hanya tersenyum simpul mendengarnya. Jawabannya tidak salah, juga tidak lucu-lucuan, karena memang hal itu benar adanya.

gus zaim, don’t be confused with our young zaim

bersantai di lesehan

Sementara warga ibukota dan beberapa daerah lainnya sedang berseteru dengan siapa suku dan agama yang paling benar, Lasem tetap dengan kedamaiannya yang sudah bertahan berabad-abad. Tiongkok Kecil ini tak pernah mempermasalahkan kenapa ada klenteng bersanding di sisi masjid, atau kenapa pesantren Kauman menggunakan bangunan lama Tionghoa dengan unsur-unsur Tionghoa yang juga masih lekat padanya.

Tengoklah pada bola-bola lampion yang masih tergantung di bawah atap teras, atau di bawah atap musholla yang ada di sisi kiri halaman utama dari arah kedatangan. Atau lihatlah huruf-huruf kanji Cina yang juga masih terpampang pada pintu masuk rumahnya yang berbalut warna hijau toska.

pintu masuk rumah di pondok pesantren kauman

melongok ke dalam rumah

musholla pondok pesantren kauman

Ah, seandainya seluruh bangsa Indonesia memiliki pemikiran yang sama dengan Gus Zaim itu. Lasem perlu menularkan virus toleransi antar suku dan umat beragama kepada seisi negeri, agar bangsa ini tetap teguh berdiri dalam persatuan yang hakiki.

 

Buddha Tidur / Berbaring di Vihara Ratanavana Arama Lasem

Tersembunyi di atas bukit di Desa Sendang Coyo, berdiri Vihara Ratanavana Arama. Untuk mencapainya, pengendara perlu cekatan karena akses jalan yang — meskipun sudah beraspal mulus — namun agak sempit dengan jurang menganga di sisi kanan.

maklum, anak ini memang yang paling demen minta difoto

sepasang patung buddha di sudut komplek vihara

Vihara ini didirikan oleh Bhante Sudhammo yang saat ini memiliki luas 6 hektar. Tidak ada biaya tiket masuk untuk mengunjungi vihara ini, namun ada kotak donasi dan pengunjung yang mengenakan rok atau celana pendek harus menyewa kain penutup khusus. Yang menarik, vihara ini memiliki 5 situs patung yang menceritakan kehidupan Siddharta Gautama dari lahir hingga akhir sebagai Buddha.

Untuk mencapai kelima situs itu, pengunjung harus menapaki puluhan anak tangga lebih dulu. Oke, olahraga dikit biar pinggang dan bokong semakin kencang! #eh

menapaki anak-anak tangga di vihara ratanavana arama

situs pertama di vihara ratanavana arama

Sebagai awal, situs pertama menampilkan Bayi Siddharta Gautama, gajah putih, naga emas sepanjang 25 meter, Dewi Mahamaya (ibunda Siddharta Gautama), dan bunga teratai.

Lanjut kepada situs ke-2, di sini berdiri patung Sidharta Gautama yang digambarkan dengan badan kurus sampai tulang-tulang rusuknya menonjol. Situs ini menceritakan Siddharta Gautama saat berpuasa selama 6 tahun di Hutan Uruvela, India. Duh, dik Nugi mah puasa 6 hari aja udah mukjizat!

situs kedua vihara ratanavana arama

vihara ratanavana arama lasem

Situs ketiga menampilkan Siddharta Gautama yang mengangkat telapak tangan setinggi dada, mengarahkannya ke depan. Di sini, Siddharta Gautama sudah mendapat wahyu akan 7 langkah mencapai kesempurnaan hidup: sati (perhatian), dhamma (penyelidikan), viriya (semangat), piti (kegiuran, perasaan yang nyaman), pasadi (ketenangan), Samadhi (pemusatan pikiran), upekkha (keseimbangan batin).

Selain itu, di situs ini juga terpampang 8 hal yang menjadi ajaran Buddha, yaitu: pengertian yang benar, pikiran yang benar, ucapan yang benar, perbuatan yang benar, mata pencaharian yang benar, daya upaya yang benar, perhatian yang benar, dan konsentrasi yang benar.

beberapa patung di sekitar situs 1 dan 2 vihara ratanavana arama

siddharta gautama dengan murid-murid dan rusa

Situs ke-4ย  menampilkan Sidharta Gautama yang duduk di atas teratai menyampaikan ajaran kepada 5 orang murid di Taman Rusa Isipatana, India.

Terakhir adalah situs kelimaย  yang memukau pengunjung dengan patung Buddha tidur berwarna keemasan sepanjang 14 meter. Buddha berbaring dengan menghadap arah kiri, kepalanya disandarkan pada tangan kirinya. Situs yang paling menarik ini menggambarkan Sidharta Gautama yang meninggal dengan sempurna.

berfoto dengan patung buddha tidur / berbaring di lasem

patung buddha tidur / berbaring di lasem

sebuah patung buddha di bawah pohon

situs keempat dilihat dari atas

berjalan sebentar menyusuri hutan

Tunggu, tulisan ini masih belum selesai. Setelah menikmati kelima situs, kami melanjutkan langkah melalui area hutan hingga tiba di Candi Sudhammo Mahatera. Karena kemiripannya dengan Borobudur, candi ini disebut miniatur Candi Borobudur. Di dalamnya terdapat makam Bhante Sudhammo yang terlindung oleh pagar batu dengan relief Bhante Sudhammo. Secara keseluruhan, candi ini memiliki 49 stupa yang terdiri atas 24 stupa di lingkaran terluar, 16 stupa di lingkaran tengah, 8 stupa di lingkaran atas, dan 1 stupa besar di puncaknya.

Lokasi vihara yang terletak di puncak bukit menjadikannya spot yang tepat untuk menikmati Lasem dari ketinggian. Dari titik ini, kita bisa menikmati hamparan lahan hijau di bawah sana dan pegunungan yang menjadi latarnya. Datang saat fajar atau senja sepertinya menarik, menyaksikan ufuk yang berubah warna dari biru menjadi jingga atau lembayung.

pemandangan lasem dari vihara ratanavana arama

singa penjaga candi sudhammo mahatera

pintu masuk candi sudhammo mahatera yang terkunci

candi sudhammo mahatera yang mirip borobudur

pendopo di depan candi sudhammo mahatera

pemandangan lasem dari vihara ratanavana arama

patung buddha lagi di bawah pohon

 

Pondok Pesantren Kauman dan Vihara Ratanavana Arama hanyalah dua dari seabrek harta di Lasem, kabupaten Rembang, Jawa Tengah, yang terus menghembuskan nafas toleransi hingga kini. Masih ada beberapa tempat yang aku kunjungi bersama Vakansinesia di Lasem pada akhir Mei lalu. Ikuti terus seri perjalanan #KesengsemLasem ini ya ๐Ÿ˜€

Iklan

84 thoughts on “Kesengsem Lasem #2: Nafas Toleransi di Pondok Pesantren Kauman dan Vihara Ratanavana Arama

  1. Lasem dengan sebutan Tiongkok kecilnya terus kemudian ada pesantren, satu lagi Gambaran Bhineka Tunggal Ika. Semoga tidak ada yang iseng memprovokasi agar Harmoni tersebut tetap terjaga.

    Aku juga baru tahu kalau di Lasem ternyata ada vihara. 2 tahun lalu waktu ke sini biara Belum disebut-sebut sepertinya ๐Ÿ™‚

  2. Nah, pesantren kauman masih jd PR banget nih. Sebuah pesantren yg berdampingan mesra dg komunitas Tionghoa. Mereka pun rekat satu sama lain. Dalam sebuah wilayah kecil bernama karangturi Lasem.

  3. Wkwkw aku tuh paling gak bisa nulis beginian, entah mengapa kalau harus sambung-menyambung benang merah dalam urusan sejarah merasa takut untuk menulis. Kalau mbaca aja kadang walau sudah diulang masih kurang paham, ahaha

    Dulu sayangnya pas ke Lasem cuman nemenin teman penelitian, makan lontong tuyuhan terus sudah pulang lagi. Bahkan aku gak tahu kalau Lasem punya potensi yang seperti ini.
    Lain kali, nunggu musim mendung, cocok deh jalan-jalan di Lasem naik sepeda… ๐Ÿ™‚

  4. haaha g kebayang puasa 6 taon…. gilahhh… masih bisa idup g ya kalo zaman skr kek gt kak? sebulan aja udah pusing…. eh, malah curhat….

    btw keren tuh tempatnya.. hoam.. bikin nambah list bepergian nih…..

    dannn… cangkirnyaaaaa.. vintage….. bikin mupeng

  5. Udah ke Kamboja, Thailand, dan Myanmar, negara dengan penduduk buddha mayoritas, belum pernah nemuin patung Siddharta yang begitu kurus.
    Kayanya menarik kalo diulas lebih dalam
    Anyway, pesantrennya kok sepi banget nug? Apa emang ga ada murid yang nginep di sana?

  6. Ternyata melihat patung Budha Tidur nggak perlu jauh jauh ke Penang dan Bangkok, di Indonesia dan kota nya Lasem udah ada ya kak. seru abis dah bacanya. Lasem perlu aku agendakan juga buat next trip

  7. Wisata toleransi….
    Jadi inget. Gorontalo juga punya kota yg sama persi kayak gini. Tepatnya di kota Marissa, kabupaten apa ya lupa. Di sana ada desa aduh lupa. Isinya semua agama yg ada di indonesia. Sukunya juga beragam. Dr jawa, bali, jakarta, dan gorontalilo itu sendiri. Sama satu lagi desa bali murni. Kalo desa itu beneran orang2 bali. Makanya namamya bali murni. Lokasinya nggak gitu jauh juga.

    • apalagi lasem ini transportasi umumnya belum bagus. terus karena banyak wisata sejarah, rasanya kalo jalan sendiri bakal kurang afdol, nggak ada yang jelasin.

      aku lama-lama juga makin sering lho tiduran di hotel hahaha

  8. Wisata toleransi nih kayaknya harus banget diterapkan di Jakarta & kota-kota besar lainnya. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚
    Sepertinya tiap sudut lasem ini fotogenic, ya. Kalau ke sana bakal ada guide khusus gak buat nemenin pengunjung yg mau keliling?

  9. kok saya baru tau di Lasem ada wisata sejarah dan budaya semenarik ini sih????
    selama ini kemana saja sayaaa??
    *berasa gagal jadi travel blogger*

  10. Gi, Buddha tidur bukannya ke arah kanan dan yang menyangga adalah tangan kanannya?

    Kalau ke arah kiri, jantung tertekan. Katanya yang bagus itu tidur arah kanan.

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s