Kesengsem Lasem #2: Nafas Toleransi di Pondok Pesantren Kauman dan Vihara Ratanavana Arama

Selain Klenteng Poo An Bio dan Rumah Oma Opa, masih ada satu obyek wisata lagi yang ditawarkan kawasan Karangturi, Lasem, ini. Dari Rumah Oma Opa, tim Vakansinesia membawa kami menuju sebuah tempat lagi yang tak jauh letaknya: Pesantren Kauman. Menyusuri kota tua Lasem dengan mobil memang membutuhkan sedikit kesabaran. Mobil harus berbagi lahan dengan kendaraan lain di atas sebuah jalan yang lebarnya paling-paling hanya sekitar 4 meter.

Mendekati Pondok Pesantren Kauman, kami dihadapkan dengan sebuah poskamling cantik dalam guyuran warna merah maroon. Aksen warna kuning dipercikkan di beberapa sudut, seperti pada dudukan beton, bingkai ventilasi, dan atap. Sepasang lampion tergantung mengapit pintu masuk, berpasangan dengan dua lubang ventilasi dalam bingkai berbentuk lingkaran.

papan nama pondok pesantren kauman lasem

zaim di depan poskamling kauman

Tak cukup di situ, nuansa Tionghoa juga ditunjukkan melalui atap wallet yang menjadi mahkota megah untuk bangunan sekelas poskamling desa. Aksara kanji dan arab bersanding mesra di kedua sisi ambang pintu, mengukuhkan dua budaya yang melebur dalam peradaban warganya.


Pondok Pesantren Kauman Lasem

Kami diterima oleh para pengurus pesantren di teras rumah yang tetap terasa sejuk di tengah gempuran hawa panas Lasem, thanks to pepohonan rimbun yang mengungkung komplek pesantren. Kami lesehan di atas bantal-bantal duduk bermotif batik yang mengitari meja. Sementara itu, beberapa toples kue kering dan makanan ringan tersaji di depan mata, menggoda perut yang sedari pagi belum menerima asupan.

memasuki pondok pesantren kauman lasem

kue-kue kering yang tersaji di depan mata

“Ada yang mau kopi?”

Tawaran salah seorang pengurus pondok pesantren itu langsung aku sambut dengan antusias! Sebagai penikmat kopi dengan gula, aku bersemangat untuk menyesap kopi khas daerah yang aku sambangi. Tak lama kemudian, cangkir-cangkir mungil itu sudah mendarat di atas meja. Tangan dan mulutku segera bersinergi untuk mengambil salah satu cangkir dan menyesapnya.

Sluuurp…

Puji Tuhan, kopinya sudah diracik dengan gula, hehehe. Cerita selengkapnya tentang kopi Lasem ini akan aku tulis dalam tulisan terpisah. Di sini, cukuplah aku katakan bahwa kopinya terasa begitu nikmat dengan warna hitam pekat tanpa rasa asam. Takaran gulanya pas, tidak terlalu manis, juga tidak kurang. Yang kurang cuma porsi kopinya yang cangkir-cangkir itu berukuran cukup kecil, seperti cangkir-cangkir espresso :D.

Oh, satu lagi hal yang kurang.

Kamu. #eh

secangkir kopi mlete / lelet ala lasem yang nikmat

yakin nggak mau ngopi sama adek? 😀

andai ada kamu, pastilah kamu yang menjadi mitra dalam lensa…

“Ada satu wisata di Lasem yang nggak dimiliki daerah lainnya,” Gus Zaim, pendidik utama di pondok pesantren ini, membuka cerita setelah basa-basi ringan dan sesi perkenalan singkat.

Kami semua hening sejenak, menunggu jawaban bapak berkumis itu. Aku menyeruput kopiku sekali lagi.

“Lasem punya wisata toleransi…”

Dia tertawa kecil, sementara kami hanya tersenyum simpul mendengarnya. Jawabannya tidak salah, juga tidak lucu-lucuan, karena memang hal itu benar adanya.

gus zaim, don’t be confused with our young zaim

bersantai di lesehan

Sementara warga ibukota dan beberapa daerah lainnya sedang berseteru dengan siapa suku dan agama yang paling benar, Lasem tetap dengan kedamaiannya yang sudah bertahan berabad-abad. Tiongkok Kecil ini tak pernah mempermasalahkan kenapa ada klenteng bersanding di sisi masjid, atau kenapa pesantren Kauman menggunakan bangunan lama Tionghoa dengan unsur-unsur Tionghoa yang juga masih lekat padanya.

Tengoklah pada bola-bola lampion yang masih tergantung di bawah atap teras, atau di bawah atap musholla yang ada di sisi kiri halaman utama dari arah kedatangan. Atau lihatlah huruf-huruf kanji Cina yang juga masih terpampang pada pintu masuk rumahnya yang berbalut warna hijau toska.

pintu masuk rumah di pondok pesantren kauman

melongok ke dalam rumah

musholla pondok pesantren kauman

Ah, seandainya seluruh bangsa Indonesia memiliki pemikiran yang sama dengan Gus Zaim itu. Lasem perlu menularkan virus toleransi antar suku dan umat beragama kepada seisi negeri, agar bangsa ini tetap teguh berdiri dalam persatuan yang hakiki.


Buddha Tidur / Berbaring di Vihara Ratanavana Arama Lasem

Tersembunyi di atas bukit di Desa Sendang Coyo, berdiri Vihara Ratanavana Arama. Untuk mencapainya, pengendara perlu cekatan karena akses jalan yang — meskipun sudah beraspal mulus — namun agak sempit dengan jurang menganga di sisi kanan.

maklum, anak ini memang yang paling demen minta difoto

sepasang patung buddha di sudut komplek vihara

Vihara ini didirikan oleh Bhante Sudhammo yang saat ini memiliki luas 6 hektar. Tidak ada biaya tiket masuk untuk mengunjungi vihara ini, namun ada kotak donasi dan pengunjung yang mengenakan rok atau celana pendek harus menyewa kain penutup khusus. Yang menarik, vihara ini memiliki 5 situs patung yang menceritakan kehidupan Siddharta Gautama dari lahir hingga akhir sebagai Buddha.

Untuk mencapai kelima situs itu, pengunjung harus menapaki puluhan anak tangga lebih dulu. Oke, olahraga dikit biar pinggang dan bokong semakin kencang! #eh

menapaki anak-anak tangga di vihara ratanavana arama

situs pertama di vihara ratanavana arama

Sebagai awal, situs pertama menampilkan Bayi Siddharta Gautama, gajah putih, naga emas sepanjang 25 meter, Dewi Mahamaya (ibunda Siddharta Gautama), dan bunga teratai.

Lanjut kepada situs ke-2, di sini berdiri patung Sidharta Gautama yang digambarkan dengan badan kurus sampai tulang-tulang rusuknya menonjol. Situs ini menceritakan Siddharta Gautama saat berpuasa selama 6 tahun di Hutan Uruvela, India. Duh, dik Nugi mah puasa 6 hari aja udah mukjizat!

situs kedua vihara ratanavana arama

vihara ratanavana arama lasem

Situs ketiga menampilkan Siddharta Gautama yang mengangkat telapak tangan setinggi dada, mengarahkannya ke depan. Di sini, Siddharta Gautama sudah mendapat wahyu akan 7 langkah mencapai kesempurnaan hidup: sati (perhatian), dhamma (penyelidikan), viriya (semangat), piti (kegiuran, perasaan yang nyaman), pasadi (ketenangan), Samadhi (pemusatan pikiran), upekkha (keseimbangan batin).

Selain itu, di situs ini juga terpampang 8 hal yang menjadi ajaran Buddha, yaitu: pengertian yang benar, pikiran yang benar, ucapan yang benar, perbuatan yang benar, mata pencaharian yang benar, daya upaya yang benar, perhatian yang benar, dan konsentrasi yang benar.

beberapa patung di sekitar situs 1 dan 2 vihara ratanavana arama

siddharta gautama dengan murid-murid dan rusa

Situs ke-4  menampilkan Sidharta Gautama yang duduk di atas teratai menyampaikan ajaran kepada 5 orang murid di Taman Rusa Isipatana, India.

Terakhir adalah situs kelima  yang memukau pengunjung dengan patung Buddha tidur berwarna keemasan sepanjang 14 meter. Buddha berbaring dengan menghadap arah kiri, kepalanya disandarkan pada tangan kirinya. Situs yang paling menarik ini menggambarkan Sidharta Gautama yang meninggal dengan sempurna.

berfoto dengan patung buddha tidur / berbaring di lasem

patung buddha tidur / berbaring di lasem

sebuah patung buddha di bawah pohon

situs keempat dilihat dari atas

berjalan sebentar menyusuri hutan

Tunggu, tulisan ini masih belum selesai. Setelah menikmati kelima situs, kami melanjutkan langkah melalui area hutan hingga tiba di Candi Sudhammo Mahatera. Karena kemiripannya dengan Borobudur, candi ini disebut miniatur Candi Borobudur. Di dalamnya terdapat makam Bhante Sudhammo yang terlindung oleh pagar batu dengan relief Bhante Sudhammo. Secara keseluruhan, candi ini memiliki 49 stupa yang terdiri atas 24 stupa di lingkaran terluar, 16 stupa di lingkaran tengah, 8 stupa di lingkaran atas, dan 1 stupa besar di puncaknya.

Lokasi vihara yang terletak di puncak bukit menjadikannya spot yang tepat untuk menikmati Lasem dari ketinggian. Dari titik ini, kita bisa menikmati hamparan lahan hijau di bawah sana dan pegunungan yang menjadi latarnya. Datang saat fajar atau senja sepertinya menarik, menyaksikan ufuk yang berubah warna dari biru menjadi jingga atau lembayung.

pemandangan lasem dari vihara ratanavana arama

singa penjaga candi sudhammo mahatera

pintu masuk candi sudhammo mahatera yang terkunci

candi sudhammo mahatera yang mirip borobudur

pendopo di depan candi sudhammo mahatera

pemandangan lasem dari vihara ratanavana arama

patung buddha lagi di bawah pohon

Pondok Pesantren Kauman dan Vihara Ratanavana Arama hanyalah dua dari seabrek harta di Lasem, kabupaten Rembang, Jawa Tengah, yang terus menghembuskan nafas toleransi hingga kini. Masih ada beberapa tempat yang aku kunjungi bersama Vakansinesia di Lasem pada akhir Mei lalu. Ikuti terus seri perjalanan #KesengsemLasem ini ya 😀

84 komentar

  1. avatar Fauzi Amiruddin

    Baru tahu kalau di Lasem ada pesantren dan vihara dengan situs2 yang menarik gi. Penasaran ada apa lagi ya disana

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      hehehe gue juga baru tau pas diajak ke sana, tunggu lanjutannya! 😀

  2. avatar Evi

    Lasem dengan sebutan Tiongkok kecilnya terus kemudian ada pesantren, satu lagi Gambaran Bhineka Tunggal Ika. Semoga tidak ada yang iseng memprovokasi agar Harmoni tersebut tetap terjaga.

    Aku juga baru tahu kalau di Lasem ternyata ada vihara. 2 tahun lalu waktu ke sini biara Belum disebut-sebut sepertinya 🙂

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Betul. Tetaplah Lasem seperti itu, bahkan menularkan toleransinya ke seluruh Indonesia 🙂

  3. avatar andinormas

    okeh… berarti nanti kalo ke Lasem harus mengunjungi tempat2 tsb..
    aku malah baru tau kalo ada Vihara di sana… -_-

    1. avatar johanesanggoro

      Mas andi mah pelataran Cu An Kiong adalah tempat bermain masa kecil :3

      1. avatar andinormas

        Hehehehe.. tapi blm sempet eksplor yg lain2nya mas.. 😅

      2. avatar Matius Teguh Nugroho

        Ciyeee kalian saling kenal? 😀

      3. avatar johanesanggoro

        Engga sih, mas andi pernah komen di postinganku ttg lasem juga. Dia kecilnya sering main ke lasem.

      4. avatar Matius Teguh Nugroho

        Bapake wong Lasem wkwk

    2. avatar Matius Teguh Nugroho

      Harus! Lasem nggak cuma Omah Candu dan Lawang Ombo 😀

      1. avatar andinormas

        Omah candu n lawang ombo malah blm pernah.. ☹️☹️

      2. avatar Matius Teguh Nugroho

        Sama kemarin aku juga gak ke sana hahaha

  4. avatar johanesanggoro

    Nah, pesantren kauman masih jd PR banget nih. Sebuah pesantren yg berdampingan mesra dg komunitas Tionghoa. Mereka pun rekat satu sama lain. Dalam sebuah wilayah kecil bernama karangturi Lasem.

    1. avatar ghozaliq

      Kapan mangkat Lasem maneh Mas, aku nebeng…ahahaa

    2. avatar Matius Teguh Nugroho

      Unik ya, mas. Dan masing-masing nggak saling fanatik 🙂

      1. avatar johanesanggoro

        Itu kyainya juga wajah2 chinese. Adem liatnya

      2. avatar Matius Teguh Nugroho

        Kirain malah bikin tegang kayak kokoh-kokoh nagih hutang hahaha (guyon)

  5. avatar Gallant Tsany Abdillah

    waktu naik bis dari Semarang mengamati kalo mulai Lasem – Tuban itu banyak jejak jejak lama masyarakat tionghoa yang tinggal.
    perlu ditelisik lebih lanjut, mas nugi. 😀

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Oh asik juga nih. Yuk!

  6. avatar insanwisata (@InsanWisata)

    potensi Lasem yang ga dimiliki di tempat lain: Wisata Toleransi. Menarik ya kalau jadi temanya.
    Lasem ini kota pusaka yang menarik sekali. Kalau dikemas heritage trailnya bakal jadi saingan Malaka nih. ehhe

    1. avatar ghozaliq

      Kemarin tuh sempet dibahas kok masalah heritage trail ini pas bimtek, cuman ya kayaknya memang terlalu banyak agenda, jadi setelah muncul di forum, belum terdengar lagi. Apa aku yang gak ngikutin yak, wkwkwkwkw

    2. avatar Matius Teguh Nugroho

      Nah, andai kotanya lebih ditata, akan mwngalahkan Melaka atau Penang. Dibersihkan, diberi trotoar, diberi penunjuk jalan, dsb.

  7. avatar berolahragasepak3

    gambarnnya bagus sekali ,, dan terlihat dari tehnik pengambilan juga sangat profesional

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Terima kasih apresiasinya 🙂

  8. avatar Yasir Yafiat

    Pengen banget ke sini. Dulu pas ke situ pintunya di gembok jadi puter balik ke tempat lain. Lasem memang membuat orang kesengsem ya…

    1. avatar ghozaliq

      Terus mulih omah, omahmu digembok, terus pie uripmu, ahahaha

      1. avatar Yasir Yafiat

        Moro omahmu to mas….

      2. avatar ghozaliq

        Aku gembok juga, ahahaha

      3. avatar Yasir Yafiat

        Hotel to…. Opo homestay gituu…

      4. avatar ghozaliq

        Emperan Kali Garang ombooooo

      5. avatar Yasir Yafiat

        wkwkwkwkwkwkwkw

      6. avatar Matius Teguh Nugroho

        Neng musholla wae nak uwis wkwk

      7. avatar Yasir Yafiat

        Istiqomah yo malah nek ning musholka

      8. avatar Matius Teguh Nugroho

        Alhamdulilah to haha, sopo ngerti ketemu jodho :p

    2. avatar Matius Teguh Nugroho

      Vihara ya? Pas kami ke sana juga digembok, tapi terus guide-nya manggil-manggil hehe

  9. avatar ghozaliq

    Wkwkw aku tuh paling gak bisa nulis beginian, entah mengapa kalau harus sambung-menyambung benang merah dalam urusan sejarah merasa takut untuk menulis. Kalau mbaca aja kadang walau sudah diulang masih kurang paham, ahaha

    Dulu sayangnya pas ke Lasem cuman nemenin teman penelitian, makan lontong tuyuhan terus sudah pulang lagi. Bahkan aku gak tahu kalau Lasem punya potensi yang seperti ini.
    Lain kali, nunggu musim mendung, cocok deh jalan-jalan di Lasem naik sepeda… 🙂

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Ayo ke Lasem lagi, mas. Banyak yg dapat diulik di sana hehe

  10. avatar Mas Edy Masrur

    Waaah, unik sekaliiii Kak Nugie. Nyawa toleransinya itu lho bikin takjub. Jadi pengen banget ke sini.

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Ayo ayo, mas. Biar makin nasionalis! Karena Indonesia itu bhinneka, hehe

  11. avatar agessty

    mupeng pengen kesini jadinya, mas buka open trip kesini ga?

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Wah, buat open trip langsung hubungi Vakansinesia mbak. Aku juga dipandu sama mereka 😀

    2. avatar Vakansi Indonesia (@vakansinesia)

      Yang mau ke Lasem bisa bareng dengan kami 🙂 WhatsApp 0856 1154 841

  12. avatar uwan urwan

    haaha g kebayang puasa 6 taon…. gilahhh… masih bisa idup g ya kalo zaman skr kek gt kak? sebulan aja udah pusing…. eh, malah curhat….

    btw keren tuh tempatnya.. hoam.. bikin nambah list bepergian nih…..

    dannn… cangkirnyaaaaa.. vintage….. bikin mupeng

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Sebulan pun masih pake sahur dan buka, kalo itu puasa penuh 😦

      Harus pake cangkir itu, gak boleh yg lain.

  13. avatar yofangga

    Udah ke Kamboja, Thailand, dan Myanmar, negara dengan penduduk buddha mayoritas, belum pernah nemuin patung Siddharta yang begitu kurus.
    Kayanya menarik kalo diulas lebih dalam
    Anyway, pesantrennya kok sepi banget nug? Apa emang ga ada murid yang nginep di sana?

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Ada di bagian lain gedung, mas. Ada di lantai atas sama belakang, nggak keliatan di foto hehe..

  14. avatar AriefPokto

    Belum pernah explore Lasem. Makin menarik setelah baca ini. Apalagi Ada Patung Budha Tidur. Terakhir Foto dengan Patung Budha tidur ya di Bangkok.

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Lasem punya banyak obyek wisata, dari sejarah, budaya / agama, kuliner, sampai alam pun ada!

  15. avatar leonard anthony

    Setuju banget dengan istilah wisata toleransi. Biar ga selalu gontok2an ributin agama. Krn agama kan hak pribadi masing2 orang.

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Bener. Dan nggak perlu saling dipaksakan 🙂

  16. avatar Nasirullah Sitam

    Lasem memang menggoda bagi para pecinta heritage, ingin blusukan naik sepeda ke sana 🙂

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Nah, seru tuh naik sepeda ke sana. Asal gak masuk jalan raya utamanya aja yang berdebu dan berpolusi truk-truk hahaha

  17. avatar sinyo

    Ternyata melihat patung Budha Tidur nggak perlu jauh jauh ke Penang dan Bangkok, di Indonesia dan kota nya Lasem udah ada ya kak. seru abis dah bacanya. Lasem perlu aku agendakan juga buat next trip

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Iya, koh. Lebih deket juga daripada ke Mojokerto hehehe.

  18. avatar atrasina adlina

    seru banget “wisata toleransi” jadi pengen beneran ke Lasem setelah baca ini. 🙂

  19. avatar Vika

    Jadi yg suka ribut2 soal intoleransi dan SARA, sebenernya hanya yg sibuk di sosmed. Toh pada dasarnya, orang Indonesia sangat toleran kok..

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Aku pikir juga begitu. Tapi jangan dibiarkan juga sih, karena ada orang-orang yang juga mudah terpengaruh hehehe

  20. avatar Bena

    Wisata toleransi….
    Jadi inget. Gorontalo juga punya kota yg sama persi kayak gini. Tepatnya di kota Marissa, kabupaten apa ya lupa. Di sana ada desa aduh lupa. Isinya semua agama yg ada di indonesia. Sukunya juga beragam. Dr jawa, bali, jakarta, dan gorontalilo itu sendiri. Sama satu lagi desa bali murni. Kalo desa itu beneran orang2 bali. Makanya namamya bali murni. Lokasinya nggak gitu jauh juga.

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Wah baru tau ini soal Desa Marissa, kak. Browsing ah hehehe. Makasih infonya, kakak seleb blog 😀

  21. avatar Dita

    wahh ternyata ada ya open trip ke Lasem, mau aaahhh secara sekarang lebih banyak jadi traveler manja dan manula gini, pengennya dipandu *halah*

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      apalagi lasem ini transportasi umumnya belum bagus. terus karena banyak wisata sejarah, rasanya kalo jalan sendiri bakal kurang afdol, nggak ada yang jelasin.

      aku lama-lama juga makin sering lho tiduran di hotel hahaha

  22. avatar Dita Soehardi

    secangkir kopi mlete >> omg ini jadul banget cangkirnya, as coffee item lover gw dong jadi pengen gt

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Dan harus pake cangkir itu, kak Dit. Makin unik!

  23. avatar Rizka nidy

    Wisata toleransi nih kayaknya harus banget diterapkan di Jakarta & kota-kota besar lainnya. 😂😂😂
    Sepertinya tiap sudut lasem ini fotogenic, ya. Kalau ke sana bakal ada guide khusus gak buat nemenin pengunjung yg mau keliling?

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Kontak Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) aja, kak. Atau aku bantu ngontak guide-ku juga bisa deh hehe..

    2. avatar Vakansi Indonesia (@vakansinesia)

      Yang mau ke Lasem bisa bareng dengan kami 🙂 WhatsApp 0856 1154 841

  24. avatar Maria Anastasia Wardani

    Menarik nih wisata toleransi. Semoga kalau udah semakin terkenal, tetap terjaga kebersihannya.

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Amin. Tapi anu, jujur, di luar obyek wisata, Lasem itu kota yang perlu dirapikan sebetulnya. Jadi harapannya semoga Lasem semakin bersih 😄😄😄

  25. avatar Dee Rahma

    Ah menarik sekali ya Lasem. Baru tahu juga ada patung Buddha tidur di Indonesia. Jadi penasaran pengen cobain wisata toleransi Lasem 🙂

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Selain di Lasem ada di Jawa Timur, kak. Eh Bogor juga ada.

    2. avatar Vakansi Indonesia (@vakansinesia)

      Yang mau ke Lasem bisa bareng dengan kami 🙂 WhatsApp 0856 1154 841

  26. avatar Fajar Muhammad

    Kalau kopinya sdh kehilangan rasa asam tapi rasanya tidak terlalu pahit berarti dia sangrai sedang. btw, arsitekturnya menarik banget ya, berasa damai melihatnya

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Bisa jadi, mas. Aku nggak terlalu paham proses pembuatan kopi nih.

  27. avatar Endah Kurnia Wirawati
    Endah Kurnia Wirawati · · Balas

    kok saya baru tau di Lasem ada wisata sejarah dan budaya semenarik ini sih????
    selama ini kemana saja sayaaa??
    *berasa gagal jadi travel blogger*

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      hehehe, soalnya masih jarang juga sih yang bahas

  28. avatar jayanti95

    kalo mau jalan-jalan ke lasem udah ada gojek atau rentalan motor gak ya mas

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Rental motor ada, kalo gojek nggak ada

  29. avatar Vakansi Indonesia (@vakansinesia)

    Sukses selalu buat Mas Nugie dan yang mau ke Lasem bisa bareng dengan kami 🙂 WhatsApp 0856 1154 841

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Amin. Makasih buat dukungannya 🙂

  30. avatar Bulan

    Gi, Buddha tidur bukannya ke arah kanan dan yang menyangga adalah tangan kanannya?

    Kalau ke arah kiri, jantung tertekan. Katanya yang bagus itu tidur arah kanan.

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Eh iyaaa, aku melihatnya dari arahku, hahahaha. Makasih sudah diingatkan kak 😀

      1. avatar Bulan

        Hihi. Siap!!

Tinggalkan Balasan ke Vika Batalkan balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Matius Teguh Nugroho

keep learning by traveling

Duo Kembara

Cerita Si Kembar dan Mommy Ara menghadirkan kebaikan

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

Teppy & Her Other Sides

Stories, thoughts, places...

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

LIZA FATHIA

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

papanpelangi.id

sebuah blog perjalanan

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Jurnal Evi Indrawanto

Traveling, Budaya, dan Lika-Liku Wirausaha.

Plus Ultra

Stories and photographs from places “further beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Seeing, feeling, and exploring places and cultures of the world

Winny Marlina

Winny Marlina - Whatever you or dream can do, do it! lets travel

Olive's Journey

What I See, Eat, & Read

tindak tanduk arsitek

Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.

dananwahyu.com

Menyatukan Jarak dan Waktu