Berburu di Pasar Baru (Passer Baroe) Jakarta

Siapapun yang melintas di depan Pasar Baru (Passer Baroe) Jakarta pasti akan menoleh, tertarik dengan keunikan pintu masuknya yang bergaya klasik dan tinggi menjulang. Begitu pun gue. Karena itulah, gue memutuskan untuk melakukan eksplorasi kecil terhadap pasar yang berlokasi di Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat, itu pada hari Sabtu lalu. Padahal gue belum pernah eksplor Pasar Kembang saat malem #eh

Dari halte Pademangan, gue naik busway Ancol-Kampung Melayu arah Kampung Melayu dan turun di halte Pasar Baru Timur (di depan Mal Golden Truly, setelah halte Jembatan Merah). Dari situ perjalanan tinggal dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 10 menit, dengan mengambil arah kanan di perempatan. Setelah melewati gedung SMP 5 yang klasik dan SMKN 27, gue pun tiba di depan Pasar Baru / Passer Baroe yang terletak di kanan jalan, tepat di samping halte Pasar Baru.

Pasar Baru / Passer Baroe merupakan salah satu pusat perdagangan tertua di Jakarta. Pasar ini dibangun pada masa VOC (Verenigde Oost Indsche Company) berkuasa, sekitar tahun 1820. Tahun pembuatan tersebut juga tertera di bawah tulisan “Passer Baroe” di pintu masuk. Dulu, Pasar Baru / Passer Baroe merupakan sebuah kawasan perbelanjaan elit warga ekspatriat, karena memang lokasinya yang berdekatan di dekat Rijswijk (sekarang Jl. Veteran) yang notabene juga merupakan kawasan hunian elit di Jakarta.

Kawasan hunian di kawasan tersebut mulai ramai saat kawasan Kota Tua Batavia dianggap sudah tidak terlalu nyaman. Karena dibangun di atas lahan reklamasi, kawasan tersebut memiliki banyak kanal air yang tidak terawat. Oh, ternyata kawasan perairan Kota Tua memang sudah tidak terawat dari dulu. Mereka lalu berbondong-bondong pindah ke kawasan selatan yang dinamakan Weltevreden (berarti “tempat yang damai”), mencakup kawasan Pasar Baru itu sendiri, Lapangan Banteng (Waterloopein), dan Rijswijk (Istana Merdeka).

Lalu kondisi Pasar Baru / Passer Baroe saat ini gimana, Gie?

Ternyata, nggak jauh berbeda dengan identitas aslinya pada jaman dulu. Memasuki pintu gerbangnya yang tampak megah dan elegan tersebut, gue berjalan menyusuri jalan yang cukup leluasa, sementara toko-toko baju, tekstil, tas dan asesoris lainnya, berderet di sepanjang jalan. Lengkungan-lengkungan transparan menaungi para pejalan kaki di bawahnya, yang hilir mudik dengan pakaian model terkini atau menenteng tas jinjing yang terkesan berkelas. Mirip dengan Kasturi Walk, Kuala Lumpur, nggak sih?

Lorong utama Pasar Baru Jakarta

Lorong utama Pasar Baru Jakarta

Gue iseng menghampiri sebuah toko tas (karena emang lagi cari-cari tas kecil untuk main atau jalan-jalan). Harga yang dibanderol adalah di kisaran — Rp 200.000,00. Glek! Gue lantas ngelengos pergi, nggak peduli meski sang penjual meneriakkan tawaran harga yang lebih murah sekali pun. It’s so overpriced! Ternyata, saat ini pun, Pasar Baru / Passer Baroe tetap merupakan sebuah kawasan perbelanjaan kelas menengah dan menengah ke atas. Untungnya gue juga udah masuk kalangan menengah atas sih — dalam hal perjombloan #pffft

Meski memiliki embel-embel “Pasar”, tapi Pasar Baru ini tidak kumuh dan ramai seperti pasar-pasar yang lain. Gue iseng mencari arti kata “passer” dalam bahasa Belanda, yang ternyata berarti “pelempar”. Pasar Baru / Passer Baru juga tidak seperti bayangan gue. Mungkin karena lama di Bandung, Pasar Baru Jakarta pun gue bayangkan seperti Pasar Baru Bandung: berupa sebuah gedung utama yang penuh dengan saking banyaknya penjual sampai tumpah ruah ke jalanan di sekelilingnya. Bayangan gue nggak sepenuhnya benar, karena Pasar Baru / Passer Baroe Jakarta merupakan sebuah kawasan yang mencakup area Jl. Pasar Baru, Jl. Pintu Air, hingga Jl. Samanhudi. Selain toko-toko dan pedagang-pedagang emperan, terdapat beberapa gedung seperti Istana Pasar Baru, Pasar Baru Mansion (masih dibangun), dan Atom Pasar Baru. Udah pernah ke La Piazza atau Ciwalk atau Parijs van Java? Kurang lebih kayak gitu, sebuah pusat perbelanjaan outdoor, tapi agak lebih kotor.

Gue iseng membeli segelas es dawet untuk melepas dahaga. Harganya Rp 8.000,00 dengan rasa yang biasa-biasa aja bahkan cenderung nggak enak. Mending beli di Indomaret aja deh. Harganya bisa lebih murah dengan lebih banyak pilihan. Kembali meneruskan langkah, gue bertemu dengan sebuah simpang empat. Mengambil arah kiri, gue mendapati sebuah jalan kecil kawasan Pasar Baru dengan toko-toko baju dan tekstil yang berjajar rapi di kanan dan kirinya. Sebagian di antaranya adalah toko tekstil India, lengkap dengan irama lagu Bollywood yang menghentak dan aroma dupa atau bunga yang menyeruak keluar. Salah satu yang terbesar adalah Bombay Textile, yang berdiri di sudut pertigaan dengan Jl. Pintu Air. Ah, gue menemukan nuansa multikultural di sini. Toko-toko India berdiri berdampingan dengan toko warga Tionghoa dan pribumi. Pasar Baru / Passer Baroe kini telah menjadi sebuah melting pot bagi warga Jakarta.

Kembali ke simpang empat tadi, gue berbelok ke kiri, atau tinggal berjalan lurus saja jika gue berjalan dari arah pintu masuk. Nah, barulah di sini gue menemukan nuansa pasar yang sesungguhnya! Pedagang-pedagang beraneka komoditi yang menggelar lapaknya di emperan atau di pinggir jalan, bersaing dengan toko-toko yang berdiri berderet di belakangnya. Gue berhasil mendapatkan sebuah tas kecil dengan harga Rp 50.000,00. Kawasan ini terasa sumpek karena jalanan yang digunakan untuk berjualan, sehingga harus meningkatkan pengamanan akan barang bawaan. Di kawasan ini jugalah gue mendapati lebih banyak penjaja kuliner, seperti macam-macam es atau nasi rames dengan lauk yang sangat menggoda.

Gue iseng masuk ke dalam Atom Pasar Baru, gedung terbesar di kawasan Pasar Baru yang mengingatkan gue dengan kawasan Mangga Dua karena sama-sama memiliki jembatan untuk menghubungkan kedua sisi bangunannya. Suasana di dalam Atom Pasar Baru didominasi oleh para penjual komoditi kecantikan / salon, kamera, dan baju-baju. Terdapat sebuah balkon yang dibiarkan kosong di lantai 2, dekat pintu masuk menuju jembatan. Agak sayang melihatnya dianggur kayak gitu, padahal bisa digunakan untuk festival kuliner atau semacamnya, tempat pengunjung dapat bersantap sambil menikmati pemandangan.

Yang menarik, ada yang menjual Es Sari Salju di sini, tepatnya di lantai 1 di dekat pintu. Harganya Rp 10.000 untuk gelas besar dan Rp 8.000 untuk gelas kecil. Serutan es dimasukkan ke dalam cup, lalu diisi dengan tape, buah, dan kacang merah, sebelum ditutup lagi dengan serutan es berwarna putih yang juga ditambah dengan susu kental manis. Rasanya cukup menyegarkan, lebih worth daripada es dawet Rp 8.000 tadi.

Gue baru aja hendak beranjak pulang, ketika gue membaca sebuah papan di lorong utama yang bertuliskan, “Istana Pasar Baru: senapan, travel, kawasan kuliner murah, bla bla bla.” Sebelumnya gue emang udah lewat Istana Pasar Baru tadi, tapi gue nggak peduli karena kayaknya sepi dan nggak menarik. Penasaran, gue menghambur masuk ke sebuah lorong sempit dengan penjaja kuliner murah di kanan dan kirinya, termasuk sebuah warung nasi padang.

Istana Pasar Baru berdiri di ujung lorong. Dugaan gue ada benernya juga, karena pusat perbelanjaan ini emang sepi. Sayang banget, padahal gedungnya memiliki tiang-tiang aluminium berbentuk tabung yang tampak agung dan mewah. Pusat perbelanjaan ini didominasi dengan gerai-gerai yang menjual senapan dan alat-alat outdoor lainnya. Gue kira ada yang jual universal charger di situ, merujuk kepada tulisan “travel” pada papan petunjuknya. Ternyata kata “travel” di situ lebih merujuk kepada perlengkapan teknisnya. Karena nggak tertarik, gue langsung keluar lagi tanpa lebih dulu naik ke lantai atas.

Saat hari semakin sore, ternyata Pasar Baru menjadi semakin semarak. Sekumpulan pemusik memainkan aksinya di depan salah satu toko di dekat pintu masuk. Sementara itu, sebuah aksi demonstrasi mendukung salah satu capres juga dilakukan tepat di depan pintu masuk. Alih-alih berjalan lurus menuju halte busway Pasar Baru, gue malah berbelok ke kiri menyusuri Jl. Pasar Baru Selatan yang menggelitik rasa penasaran gue.

Jl. Pasar Baru Selatan adalah sebuah jalan kecil yang asri dengan sungai yang mengalir di sisinya. Andai saja sungainya lebih bersih, that would be great! Ada dua buah hotel berbintang 3 yang berdiri di kawasan ini, yakni Hotel Pasar Baru dan Hotel Alia. Bisa kamu jadikan rekomendasi saat menginap di Jakarta, karena kawasan Pasar Baru ini merupakan sebuah lokasi yang strategis (dekat kawasan Monas – Istiqlal – Katedral dan Kota Tua). Di samping Hotel Alia berdiri SMP-SMA Mahatma Gandhi. Gue juga menemukan sebuah tempat bertitel Hare Krishna yang gue nggak tahu itu tempat apaan — mungkin sebuah tempat sembahyang. Tempatnya kecil dan menjorok masuk ke dalam sehingga gue pun canggung untuk masuk dan mencari informasi.

Untuk beberapa saat, gue merasa seperti sedang di kawasan Little India. Apa jangan-jangan daerah Pasar Baru ini adalah Little India-nya Jakarta? Entahlah. Yang jelas, seiring dengan mentari yang mulai berubah warna menjadi kemerahan, gue beranjak masuk ke dalam halte Pasar Baru Timur untuk kembali ke kost. Senang bisa sedikit lebih mengenal ibukota 🙂

Untuk Dinas Pariwisata Jakarta, ada PR besar yang sebaiknya segera dikerjakan untuk menata dan mempromosikan kawasan wisata di Jakarta.

 

Siapa bilang hotel di Jakarta mahal-mahal? Coba deh cari di sini:

1257_DOTD_Sep2014_320x480_NeverBlue

28 thoughts on “Berburu di Pasar Baru (Passer Baroe) Jakarta

  1. Saya ke Pasar Baru dulu cuma dua kali. Pertama, beli obat buat alm. eyang saya tanpa perlu resep dokter (soalnya klo di apotik biasa ga boleh beli tanpa resep dokter). Kedua, ke toko kamera buat nyari tas kamera.

  2. hmmm… jadi tersadarkan bahwa sudah lama banget ga ke pasarbaru jakarta walaupun tinggal di jakarta… Tetapi terakhir kesana sepertinya rasa heritagenya udah minim banget deh… Atau saya yang punya ekspektasi tinggi ya? hihihi…

  3. Ada 3 bakmi enak di Pasar Baru. silakan dicari kalau ke Pasar Baru lagi nanti.
    1. Bakmi Gang Kelinci.
    2. Bakmi Aboen
    3. Bakmi Ikati

    3 bakmi itulah yang jadi signature Pasar Baru.

  4. Ah saya jadi ingat, dulu sekali, saat di minggu pertama merantau di Jakarta saya ke Pasar Baru dan dibohongi tukang es dawet. Waktu itu rasanya sedih betul tapi sekarang jadi kenangan manis. Terima kasih ya, pagi2 mengajak bernostalgia, haha. Salam kenal ya Teguh, akan membaca2 tulisanmu lebih lanjut.

  5. Halo lagi.
    Wah, Pasar Baru!
    Saya suka ke sana kalau sedang cari printilan-printilan buat kamera. 😊
    Terus makan di Bakmi Aboen (hati-hati buat yg muslim, mengandung b**i), makan cakwe koatek di dekat bakmi aboen juga ☺
    Kalau mau cari toko-toko lama, ada Lee Ie Seng yang buka sejak 1853, atau Toko Melati yang jual pecah belah klasik.
    Setahu saya, dulu PasBar terkenal dengan sepatunya, Mas, ada pengrajin sepatu namanya Sapi’i, terkenal banget di kalangan Kompeni. Tapi sekarang saya nggak nemu-nemu lagi :haha
    Hihihi!

  6. mas Nugie. tx tulisannya..iya bakso gang kelinci..wah jaman simbah masih di SD.
    Omong2 sedikit koreksi mas, tahun 1820 VOC sudah bubar..VOC yang diddirkan pada 20 maret 1602 itu bubar 31 desember tahun 1799 . Diganti dengan NHM (Nederlandsche Handel-Maatschappij).
    Kekuasaan Belanda di zasirah yang sekarang menjadi Indonesia ini lalu dilaksanakan oleh Pemerintah Belanda, dan wilayah Nusantara di sebut Hindia Belanda (Nederlands Indie). Sejak itu (1800) negara Belanda “resmi” menjajah kita. Karena VOC ini sebenarnya organisasi swasta, bagai Negara dalam Negara. Bukan sebuah negara in sich. Belanda memang pandai sejak dulu dalam hal trik trik hukum. Wah rekom bakmi Aboen juga asyik ini.. salam mbahpur

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s