Menjelajah Chinese Garden Hingga ke Puncak Tertinggi

SUPERTRIP #1 – SIKUNANG Part 8

Tidak sulit bagi kami untuk menemukan Chinese Garden. Ada stasiun MRT dengan nama yang sama yang berada tepat di depan Eastern Entrance taman itu. Begitu keluar stasiun, Chinese Garden sudah di depan mata. Bahkan pagodanya pun sudah tampak beberapa menit sebelum tiba di stasiun.

“Kita jangan misah lagi deh, nanti susah kayak semalem,” celetuk Aska saat kami berjalan keluar dari kereta MRT.

“Nanti kalau ada bangku kita duduk dulu ya, gue mau makan siang,” timpal gue.

Kami berjalan melalui sebuah jalan setapak yang menjurus hingga ke pintu masuk taman, dengan lahan berumput yang luas terbentang di kiri dan kanan. Tapi tiba-tiba saja Aska mempercepat langkahnya sampai mendahului gue dan berada jauh di depan sana. Gue tetap berjalan dengan kecepatan langkah yang biasa. Alih-alih berjalan cepat mengejarnya, gue hanya memandangnya keheranan. Siapa tadi yang bilang nggak mau pisah?

Kami tidak langsung masuk ke dalam 7 Storey Pagoda, tapi menghampiri taman 8 Heroes di sampingnya di mana patung-patung tokoh Cina berdiri di antara pohon-pohon dan tanaman hias. Salah satu patung yang gue kenali, selain Confucius, adalah Hua Mulan — seorang princess warrior yang menyamar menjadi laki-laki untuk melindungi negaranya. Namanya semakin dikenal dunia saat industri perfilman Hollywood membuat film animasinya, berjudul Mulan, dengan Reflection-nya Christina Aguilera (one of my favorite songs) sebagai Original Soundtrack.

“Tuh ada bangku,” kata Aska, sambil tetap foto sana foto sini dengan kamera smartphone-nya.

Gue meletakkan keril 60L di atas rumput, sebelum akhirnya duduk di bangku taman dengan lega dan bebas — tanpa bahu yang harus terbeban dengan ransel seberat beban hidup. Gue berharap Aska ikut duduk di samping gue, atau setidaknya berada di deket gue dan kami bisa beristirahat sejenak sambil ngobrol-ngobrol. Tapi dia hilang entah ke mana. Siapa tadi yang bilang nggak mau misah?

Dengan berusaha mengabaikan rasa jengkel yang berdenyut di dada, gue membuka bekal makan siang gue yang sederhana — Nasi Lemak seharga 2 SGD yang gue beli di Ananas Cafe. Sialnya, gue lupa ini Singapura, nggak ada warteg atau warung nasi goreng pinggir jalan yang menyediakan sendok plastik di dalam nasi bungkusnya. Untungnya urat putus gue udah lenyap. Gue memutuskan makan Nasi Lemak itu dengan tangan, de-ngan-ta-ngan, dan nggak peduli kalau ada warga lokal yang memandang dengan aneh atau jijik. #pffft

Yoyo & Cici Emoticons 16

Selesai makan, gue masuk ke dalam pagoda dan nggak-pe-du-li Aska ada di mana. Terserah dia mau ke mana, dan terserah gue juga mau ke mana. Menapaki anak-anak tangga yang walaupun nggak terlalu tinggi tapi cukup bikin ngos-ngosan, gue masuk ke dalam pagoda. Ternyata tidak ada apa-apa di dalam, hanya sebuah ruangan di mana sepasang sejoli sedang duduk-duduk di bangku panjangnya. Melihat ada tangga, gue spontan berjalan menaikinya. Tiba-tiba saja niat untuk mencapai lantai tertinggi itu muncul, yang membuat gue terus melangkah menaiki anak-anak tangga, melalui ruang kosong demi ruang kosong, hingga akhirnya sampai ke lantai 7 — lantai tertinggi pagoda ini.

Gue melangkah keluar ruangan, menghampiri balkon dan berdiri bersandar pada pagar pengamannya. Dari titik ini, gue bisa melihat keseluruhan Chinese Garden, hamparan hijau dengan kuil-kuil bergaya Cina dan Jepang yang berdiri di beberapa titik. Jalanan taman tampak lengang, hanya terlihat warga lokal yang sesekali melintas. Sebuah sungai yang cukup besar mengelilingi taman dengan air yang berwarna kecokelatan dan arus yang tenang, bahkan tampak sebuah river cruise yang sedang berjalan pelan melalui sungai. Gedung-gedung apartemen menjulang di kejauhan, menyajikan keindahan tersendiri buat gue yang menyukai tempat-tempat di mana air, pohon, dan peradaban manusia bertemu dalam satu tempat.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

“Kayaknya gue betah duduk-duduk di sini seharian,” kata gue lirih kepada diri sendiri, melempar pandang ke arah bangku-bangku kosong di tepi sungai, membayangkan gue duduk-duduk di situ sambil menikmati aliran sungai yang tenang, ditemani sebotol minuman dingin.

Gue terus berada di atas pagoda selama sekitar setengah jam, bersandar pada pagar pengaman sementara angin bertiup dengan kecepatan sedang, membuat keringat dan rasa letih (juga kejengkelan) menguap ke udara bebas. Seorang ayah dan anak perempuannya sempat ikut naik ke lantai 7 ini, tapi kemudian langsung buru-buru turun lagi. Saya sudah jinak kok, Om. Nggak usah takut. Namun akhirnya beberapa menit kemudian, gue pun bergerak turun menyusul mereka, tepat saat seorang pria bule datang membawa kamera DSLR-nya.

Keluar dari pagoda utama, gue berbelok ke kiri dan terus berjalan melalui taman 8 Heroes, lalu menyeberang sebuah kolam kecil dengan batu-batu besar yang berjajar melintang hingga dapat difungsikan sebagai jembatan. Gue sampai di sebuah kuil kecil yang entah apa namanya, tapi sedang tutup dan dalam renovasi. Tidak tertarik, gue terus berjalan di bawah langit Singapura yang masih cukup cerah, berpapasan dengan seorang pemuda yang berjalan membawa sebotol Coca Cola. Dia dapet itu dari mana ya? Batin gue, sadar bahwa tenggorokan ini sudah cukup kering dan perlu dibasahi kembali, sementara bekal air minum dari hostel pun sudah habis. Gue nggak lihat satu pun pedagang minuman keliling di sini. *Gie, ini Chinese Gardens Singapura* *Bukan Taman Blok M*

Onion Head Emoticons 38

Gue iseng masuk ke dalam sebuah bangunan merah bernama Tea House Pavilion, sebuah ruang terbuka yang dikelilingi sebuah kolam dan memiliki koridor-koridor yang menghubungkan ruang yang satu dengan ruang yang lain. Tidak ada hiburan apapun di dalamnya, selain duduk melihat ikan-ikan koi besar yang bermain-main di dalam kolam dan — sebuah vending machine. Mata gue berbinar kegirangan, seakan menemukan sebuah oase di tengah padang gurun yang terik dan tanpa sumber air bersih. Gue memasukkan beberapa keping koin setara 1.8 SGD, dan — sekaleng Coca Cola dingin menggelinding penuh kejayaan dan berakhir dalam genggaman tangan gue. Dahaga hilang, hati pun kembali senang. Mari lanjut berpetualang!

Gue kembali meneruskan langkah, sementara awan-awan tebal dan berwarna kelabu mulai berkumpul di angkasa. Twin Pagodas menyambut gue dengan gedung kembarnya yang tidak terlalu tinggi, berdiri di tepi sungai yang airnya berwarna kecokelatan. Gue hanya mengambil foto dari luar, karena seorang fotografer profesional sedang sibuk mengambil gambar di dalam. Gue menghampiri sebuah bangku kayu yang teronggok kesepian di tepi sungai, di bawah sebuah pohon yang rimbun. Duduk di situ, menenggak sekaleng Coca Cola hingga tandas, dan berusaha menikmati suasana saat angin mulai bertiup lebih kencang dan langit tampak semakin tersembunyi di balik awan-awan gelap. Errr, kayaknya bukan ide yang bagus duduk-duduk di bawah pohon saat cuaca mendung kayak gini.

Gue bangkit berdiri dan berjalan menghampiri jembatan melengkung berwarna putih yang tadi gue lihat dari atas pagoda, 13 Arch Bridge. Letaknya dekat dengan Twin Pagodas, berhadap-hadapan dengan sebuah bangunan besar bernama Garden Courtyard. Ternyata jembatan itu cukup lebar karena dapat dilalui sebuah truk. Gue nggak berlama-lama di situ, hanya mengambil gambar seperlunya karena takut mendung semakin menggila dan hujan deras mengguyur ganas.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Gue berjalan menjauhi jembatan dan mengabaikan bangunan putih yang sebenernya pengen gue masuki itu, sambil berdoa di dalam hati agar jangan dulu turun hujan sampai gue selesai menjelajahi keseluruhan taman luas ini. Tuhan berkehendak lain. Angin bertiup dengan kencang seiring dengan titik-titik air yang berjatuhan dengan kasar dari langit. Petir menggelegar sangar, membuat gue terus mempercepat langkah menuju stasiun MRT. “Oke oke gue balik,” kata gue menyerah.

Sementara gue berjalan dengan langkah memburu, mas-mas fotografer masih sibuk mengambil gambar dengan kalem di dalam Twin Pagodas. Gue lalu berpapasan dengan warga lokal yang melenggang santai dengan outfit olahraga, seperti nggak peduli dengan gerimis yang mulai turun dengan lembut. Gue berhasil sampai di dalam stasiun sebelum hujan turun dengan deras.

Aska sedang duduk di atas bangku di luar peron. Gue menghampirinya dengan perasaan sedatar travelator, menghilangkan kejengkelan dan berusaha untuk bersikap dengan normal. Untuk beberapa saat, kami hanya duduk di dalam stasiun sambil menunggu hujan sedikit reda.

Iklan

16 thoughts on “Menjelajah Chinese Garden Hingga ke Puncak Tertinggi

  1. gue waktu ke chinese garden ga sempet explore, cuma ke pagoda dan balik, mendung dan sendirian haha. btw orang melayu klo makan pake tangan kok dan aslinya nasi lemak dimakan pake tangan :p

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s