Bertandang ke Palembang #1: Pulau Kemaro

Pulau Kemaro, Palembang.

Pulau Kemaro, Palembang.

Aku benar-benar tak menyangka bahwa kota Palembang sudah se-metropolitan ini. Berada di dalam bus Trans Musi tak ubahnya berada di dalam bus Damri Dago – Leuwi Panjang yang tengah berjalan menyeruak kerumunan di Jalan Otista, Bandung. Macet. Panas. Jauh. Pak sopir membunyikan klakson dengan berisik. Aku terus berdiri hampir sepanjang perjalanan dari dekat Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II menuju pusat kota.

Sebagai informasi, tarif bus sedikit lebih mahal dari tarif Trans Jakarta, Trans Jogja, atau BRT yang lain di Jawa: Rp 5.500,00.

Sampai di halte Bawah Ampera, aku berjalan keluar dari bus bersama puluhan penumpang yang lain, disambut dengan cuaca panas terik dan aroma amis ikan yang mendarat di lubang hidung.

Sebagai kota melayu dengan muslim sebagai agama mayoritas, aku sudah mempersiapkan diri jika aku harus kesulitan menemukan warung makan yang beroperasi pada siang hari dan sudah siap jika harus ikut berpuasa karena kondisi lingkungan. Namun, bayangan itu langsung menguap saat aku mendapati pedagang asongan makanan yang bebas wira-wiri di sepanjang bawah Jembatan Ampera, bahkan mereka tak segan-segan menawarkan dagangannya kepada orang-orang di sekitar. Oke, perut gue aman!!! Batinku.

Sungai Musi, ketek-ketek, dan Jembatan Ampera | Musi River, traditional boats, and Ampera Bridge

Sungai Musi, ketek-ketek, dan Jembatan Ampera | Musi River, traditional boats, and Ampera Bridge

Aku segera berjalan cepat ke tepi jalan, takjub saat menyadari bahwa aku dapat melihat Sungai Musi dengan mata kepalaku sendiri! Ukurannya lebih besar dari apa yang aku bayangkan. Airnya yang berwarna kecoklatan mengalir dengan penuh kejayaan tanpa terhambat oleh sampah-sampah rumah tangga seperti sungai-sungai di Bandung dan Jakarta. Ya Tuhan, apa yang selama ini hanya dapat kulihat dari balik layar kaca, dari selembar kertas surat kabar, kini ada di depan mata kepalaku persis!

Seorang bapak tua datang menghampiri, menawarkan jasa angkutan perahu melalui Sungai Musi. Orang lokal menyebutnya dengan nama ketek. Tanpa pikir panjang, aku segera menetapkan Pulau Kemaro sebagai destinasi pertama di kota pempek itu. Kami berdua sepakat dengan harga Rp 100.000 setelah sebelumnya terjadi tawar-menawar yang singkat. Aku pun lalu mengajak Heru dan Nana, dua member Couchsurfing (CS) yang sudah siap menemani perjalanan singkatku kali ini. Syukurlah, mereka bersedia ikut. Namun sayang, si bapak tua mengatakan bahwa tarif Rp 100.000,00 adalah tarif per orang, bukan tarif per perahu. Padahal aku mengajak mereka berdua dengan harapan mampu menghemat ongkos perahu.

The brown Sungai Musi (Musi River)

The brown Sungai Musi (Musi River)

Kami menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk menunggu kedatangan Heru dan Nana. Maklum, Heru tinggal di Plaju, yang berjarak sekitar 45 menit perjalanan dari pusat kota Palembang. Sang bapak perahu duduk dengan sabar di sampingku. Sesekali aku mengajaknya berbincang ringan, yang direspon dengan jawaban dalam bahasa Palembang yang tak dapat kucerna dengan sempurna. Bapak bahkan sampai menolak mengantarkan sebuah rombongan yang sudah lebih dulu siap berangkat, berkata bahwa dia sudah terikat janji denganku — padahal aku tidak masalah jika dia ingin mengantarkan rombongan lain lebih dulu.

Akhirnya, setelah Heru dan Nana siap, kami berempat pun langsung bertolak menuju Pulau Kemaro. Perahu ditambatkan beberapa meter dari dermaga, sehingga kami harus melompat melalui pagar pengaman dan berjalan menuruni tangga kayu hingga menginjak di pesisir sungai.

Mesin perahu dinyalakan, dan.. mulailah kami mengarungi Sungai Musi.

Let the adventure begins! (Musi River, heading to Pulau Kemaro)

Let the adventure begins! (Musi River, heading to Pulau Kemaro)

Pasar 16 Ilir at the other side of the Musi River

Pasar 16 Ilir at the other side of the Musi River

Perjalanan menuju Pulau Kemaro berlangsung selama 30 menitan. Selama perjalanan, Heru dengan antusias menceritakan tentang sejarah kota Palembang dan beberapa objek yang kami lalui. Perkampungan warga lokal di sepanjang bantaran sungai Musi menjadi sajian menarik yang mengusir kebosanan selama perjalanan. Rumah-rumah panggung dan apung berderet sesak di antara bekas-bekas kanal yang kini lenyap atau mengalami pendangkalan hebat. Kalau kamu punya kamera dengan lensa tele, kamu akan mendapatkan banyak objek foto humanis dari keseharian warga lokal.

Perahu sempat berhenti di sebuah SPBU terapung yang khusus melayani ketek-ketek warga. Aku memberikan Rp 50.000,00 pertama untuk si bapak mengisikan bahan bakar ke dalam tangki.

When we were stopped to refill the fuel. I saw the local houses along the Musi River.

When we were stopped to refill the fuel. I saw the local houses along the Musi River.

Mendekati Pulau Kemaro, sisi kiri sungai (Bagian Ilir) diisi dengan kapal-kapal PT Pusri (Pupuk Sriwijaya) yang gagah tak bergeming. Beberapa kali perahu bergoyang dengan hebat, terhempas gelombang yang diciptakan oleh perahu-perahu cepat dan kapal-kapal besar yang membelah sungai. Aku refleks berpegangan pada badan perahu, sedikit khawatir jika perahu oleng dan aku tenggelam di dasar Sungai Musi karena tak dapat berenang. #TravelerImajinatif

Dari kejauhan, pagoda Pulau Kemaro yang menjulang sudah menyapa kami yang masih berada di dalam ketek. Beberapa saat kemudian, bapak tua menambatkan perahu di dermaga. Kami berjalan keluar, memasuki Pulau Kemaro yang tampak sangat sepi siang itu.

Passing the Pupuk Sriwijaya (PUSRI) factory

Passing the Pupuk Sriwijaya (PUSRI) factory

The harbor and the big ship at Musi River (Sungai Musi)

The harbor and the big ship at Musi River (Sungai Musi)

Kami menapaki jalan kecil yang berujung pada sebuah gerbang kecil dengan nuansa Tionghoa yang kental. Diguyur dengan warna merah dan bermahkotakan ornamen berbentuk sepasang liong yang saling berhadap-hadapan. Menit berikutnya, kami disambut dengan sebuah klenteng, tempat ibadah kaum tridharma (Buddha, Taoisme, Konghucu). Klenteng tampak sangat lengang kala itu, menutup pintunya rapat-rapat tanpa ada aktivitas apapun. Konon, di dalam klenteng terdapat sebuah makam yang diyakini sebagai makam Siti Fatimah dan Tan Bun Ann.

Eh, siapa itu Siti Fatimah dan Tan Bun Ann? Baiklah, aku ceritakan sejenak tentang legenda di Pulau Kemaro ini.

Boats (ketek) at Pulau Kemaro harbor | Ketek-ketek di dermaga Pulau Kemaro

Boats (ketek) at Pulau Kemaro harbor | Ketek-ketek di dermaga Pulau Kemaro

Welcome to Pulau Kemaro, Palembang, Sumatera Selatan

Welcome to Pulau Kemaro, Palembang, Sumatera Selatan

Alkisah, seorang putri Palembang bernama Siti Fatimah menjalin hubungan cinta dengan seorang saudagar sekaligus pangeran negeri Tirai Bambu, Tan Bun Ann. Saat Tan melamarnya, Siti Fatimah mengajukan syarat sembilan guci emas untuk pernikahannya. Tan menyanggupi permintaan tersebut, lalu mengirimkan anak buahnya ke Tiongkok untuk meminta restu kepada orangtua dan membawakan sembilan guci tersebut. Orangtua Tan tentu memberikan apa yang anaknya minta.

Namun saat kesembilan guci tersebut tiba di Palembang, Tan terkejut karena setelah diperiksa, guci-guci tersebut ternyata diisi dengan sawi-sawian saja. Marah, Tan membuang guci-guci tersebut begitu saja ke aliran Sungai Musi. Secara tak sengaja, salah satu guci pecah dan seluruh isinya terurai keluar. Rupanya, emas-emas mulia dari orangtuanya disembunyikan di balik sawi-sawi untuk mengelabuhi penjahat selama perjalanan. Tan sangat sedih dan menceburkan dirinya ke sungai, diikuti oleh Siti Fatimah.

The chinese shrine (klenteng) of Pulau Kemaro

The chinese shrine (klenteng) of Pulau Kemaro

Unfortunately, the shrine was closed | Sayang, klentengnya tutup

Unfortunately, the shrine was closed | Sayang, klentengnya tutup

Ngomong-ngomong, nama “Kemaro” sendiri disematkan pada pulau mungil di tengah Sungai Musi ini karena pulau yang tak pernah kebanjiran saat debit air sungai meluap. Menjadikannya terus kering sepanjang tahun.

Melanjutkan petualangan kecil kami di Pulau Kemaro, kami menjumpai sebuah pagoda yang berdiri beberapa meter di belakang klenteng, menjulang hingga sembilan lantai. Sayangnya, pagoda pun tak dapat dimasuki, apalagi dinaiki. Padahal bakal asyik banget tuh, menikmati panorama Sungai Musi dan kota Palembang dari lantai tertinggi pagoda, seperti yang pernah kulakukan sebelumnya di pagoda Chinese Garden, Singapura.

The 9 storey pagoda of Pulau Kemaro

The 9 storey pagoda of Pulau Kemaro

A closer look of the pagoda

A closer look of the pagoda

The pagoda seen from the back

The pagoda seen from the back

Di belakang pagoda terdapat sebuah pohon beringin tua yang rimbun, diyakini sebagai pohon cinta. Konon, tuliskanlah namamu dan pasanganmu di batang pohon untuk hubungan percintaan yang langgeng. Aku sih tak percaya. Lha iya, wong jomblo.

Tak banyak yang dapat kami lakukan di Pulau Kemaro selain berjalan berkeliling, melihat-lihat, dan berfoto. Kondisinya yang lengang membuat pulau seperti tak terurus. Hanya ada segelintir pedagang minuman yang berjualan dengan malas. Heru bercerita, Pulau Kemaro akan sangat semarak saat hari Cap Go Meh tiba. Seisi pulau akan bersolek, lampion-lampion bergelantungan di atas jalanan. Jadi sepertinya aku memang berkunjung di saat yang kurang tepat kala itu.

Pohon Cinta | Tree of Love of Pulau Kemaro

Pohon Cinta | Tree of Love of Pulau Kemaro

Sepertinya tak sampai satu jam kami menghabiskan waktu di Pulau Kemaro. Kami diantarkan kembali ke bawah Jembatan Ampera oleh sang bapak empunya perahu yang menunggu di dekat dermaga.

Sayangnya, akhir perjalanan kami siang itu harus berakhir dengan perdebatan.

Aku dan bapak perahu memang sudah sepakat dengan harga Rp 100.000,00 / orang. Itu sudah ditawar sebelumnya, dan dari cerita yang kudapatkan, harga itu sudah termasuk murah. Heru pun mengatakan hal serupa, karena biasanya di kisaran Rp 200.000,00. Namun ternyata, yang dimaksud Heru adalah Rp 200.000,00 / perahu, bukan per orang.

A little chinese gazebo

A little chinese gazebo

Nana dan Heru terkejut dengan harga yang harus dibayar per orang. Keduanya sempat menawar kembali harga sewa ketek, hingga Rp 200.000,00 untuk kami bertiga, dalam bahasa Palembang. Namun sang bapak tua gigih dengan harga yang sudah disepakati denganku. Kira-kira seperti ini pernyataannya, “Tadi sudah sepakat dengan harga Rp 100.000,00 sama dia.”

Lah, Pak. Gue mana tahu mahal enggaknya harga itu? Gue cuma menawar dari harga yang bapak tembak, batinku membela diri di dalam hati. Aku terdiam. Mengamati perdebatan tersebut dengan senyum getir.

This is not a beach, this is Musi River (Sungai Musi)

This is not a beach, this is Musi River (Sungai Musi)

Nana berulang kali menjelaskan, “Dia bukan orang sini, jadi tidak tahu harganya. Kami (dia dan Heru) yang orang sini yang tahu.” Dia juga menambahkan pengalamannya menyewa perahu dengan harga yang sangat murah, sampai Rp 70.000,00 per perahu, dengan jumlah penumpang yang lebih banyak.

Namun usahanya tak berhasil. Sang bapak malah tampak dipenuhi amarah dan kejengkelan. Akhirnya, dua lembar uang senilai Rp 150.000,00 berpindah tangan dengan enggan. Kami bertiga berlalu dengan hati dongkol, berusaha mengikhlaskan uang yang harus kami berikan. Ya sudah, semoga uang yang kami berikan dapat menjadi rejeki bagi si bapak perahu.

See you again, Pulau Kemaro

See you again, Pulau Kemaro

Hm, andai saja kami bertiga saling berembug harga sebelum keberangkatan.

28 thoughts on “Bertandang ke Palembang #1: Pulau Kemaro

  1. pas baca di awal yg dirimu bilang 100rb per orang, dalam hati aq ngumpat what the f***!
    Emang bener kata temenku mesti hati2 jalan di Palembang.
    jamannya Sea Games 2011 katany ada transMusi air. Sekarang udah g ada. Mungkin klo masih ada mending naik itu aja yg tarifnya dah pasti.

  2. Kangen Pulau Kemaro. Kalau menyeberangnya dari bawah Jembatan Ampera emang ongkosnya mahal ya..Keuntungan kita bisa melihat kehidupan di sepanjang Sungai Musi. Kalau dari dermaga Dempo, milik Pupuk Sriwijaya, ongkosnya lebih murah. Habis dekat, tinggal melintas dan menyeberang. Dua tahun lalu Rp.150.000, isi perahunya 8 orang (termasuk anak-anak)

  3. Wah ya mahal ya ternyata Mas, tadi saya juga ngira 100ribu per perahu hahaha. Ternyata puasa tidak mempengaruhi orang untuk tetap tidak marah dan jengkel 😀

    Ini pake lensa wide ya Mas? Keren kali fotonya 🙂

  4. eh astagaaaa :(( sedih juga harganya jadi semahal itu =,=
    *pukpuk kak Nugie* selalu ada cerita scam bermoral yah setiap perjalanan hahahah *aku jadi inget scam di terminal di SBY yg aku alamin* hahahahha

  5. 100.000 per orang… itu lumayan Kak :hehe. Tapi tak apa, setidaknya dengan kejadian yang dibagi di sini itu kita jadi lebih aware dengan harga sewa perahu di sana jadi lebih bisa berhati-hati, karenanya terima kasih sudah berbagi :)).

    Wah, pagodanya tinggi banget… kalau bisa naik, pemandangan di atas pasti seru. Sayang sekali klentengnya tutup jadi belum bisa membuktikan langsung apa makam pasangan itu memang benar ada di sana. Saya jadi ingat sebuah cerita rakyat tentang pasangan kekasih di Bali, sebab tinggalan berupa makam pasangan itu sama dengan yang di P. Kemaro: jadi bagian dari tempat ibadah :)).

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s