15 Hal yang Dapat Kamu Lakukan di Palembang

Jelang sunset di kota Palembang

Jelang sunset di kota Palembang

Bicara soal jalan-jalan ke Palembang, nama Jembatan Ampera dan Benteng Kuto Besak pasti udah langsung terlintas di dalam kepala. Dari Traveler Pemula sampai business traveler, biasanya sudah tahu dua tempat itu. Nah, biar acara jalan-jalan kamu di Palembang semakin padat, panjang, dan berisi (ini apa coba?!), ada baiknya kamu melakukan 15 hal menarik ini yang mungkin belum ada dalam daftar itinerari kamu.


Sarapan Mie Celor

Mie Celor adalah salah satu makanan khas Palembang selain pempek dan tekwan. Yang paling populer mungkin adalah Mie Celor 16 Ilir yang aku coba, masih di kawasan Jembatan Ampera. Asyiknya sih buat sarapan sebelum kamu memulai hari, tapi buat makan siang seperti aku juga sangat mengenyangkan! Teksturnya lembut dan lebih lebar daripada bakmi-bakmi yang ada di Jawa, diguyur dengan kuah kental yang panas.

Baca Juga: Dua Hari Bertualang Kuliner di Solo, Jawa Tengah

Mie Celor 16 Ilir

Mie Celor 16 Ilir

Interior warung makan Mie Celor

Interior warung makan Mie Celor

Nah, puas menyantap Mie Celor, di kawasan ilir ini kamu juga bisa…


Berburu Pempek Murah

Di Bandung, harga pempek di sepanjang Jalan Rama biasanya mulai dari Rp 3.000,00. Di sini, puji Tuhan, pempek bisa dibeli mulai dari harga seribu perak! Untuk oleh-oleh, pedagang biasanya menjual per 50 atau 75 biji. Pilih pempek sesuai selera, lalu pempek akan dibungkus dalam wadah plastik yang sudah dibuat kedap udara. Jadi nggak masalah kalau masih akan kamu bawa dalam perjalanan jauh, selama pembungkus plastik tidak dibuka. Pempek masih akan dimasukkan ke dalam kardus, nggak bakal penyok terhimpit barang-barang di dalam backpack.


Naik Ketek ke Pulau Kemaro

Pulau Kemaro adalah sebuah pulau kecil di tengah Sungai Musi. Untuk mencapainya, kamu dapat menggunakan ketek dari bawah Jembatan Ampera. Ketek adalah perahu tradisional khas masyarakat Palembang. Menaikinya pun memiliki sensasi tersendiri yang menggetarkan nyali, hihihi. Selain itu, kamu juga dapat mengamati perkampungan warga lokal di sepanjang Sungai Musi.

Sungai Musi, ketek-ketek, dan Jembatan Ampera | Musi River, traditional boats, and Ampera Bridge

Sungai Musi, ketek-ketek, dan Jembatan Ampera | Musi River, traditional boats, and Ampera Bridge

Lakukanlah negosiasi dengan sang pemilik ketek, satu perahu akan cukup dihargai dengan Rp 100.000,00. Jangan sampai apes kayak aku! Kenapa? Cari tahu di SINI.


Napak Tilas di Bukit Siguntang

Inilah titik tertinggi di kota Palembang! Menjulang setinggi 30 meter dari permukaan laut, terletak di Kec. Ilir Barat I. Mendengar kata “titik tertinggi”, aku langsung membayangkan bukit ini serupa Bukit Moko atau Puncak Ciumbeuleuit di Bandung, di mana pengunjung dapat duduk-duduk tenang sambil menikmati pemandangan seisi kota dari ketinggian.

Jalan setapak di Bukit Siguntang, Palembang

Jalan setapak di Bukit Siguntang, Palembang

Salah satu makam di Bukit Siguntang, Palembang

Makam Panglima Tuan Djundjungan di Bukit Siguntang, Palembang

Bayanganku salah telak! Nggak ada spot seperti itu di Bukit Siguntang. Rupanya bukit ini adalah sebuah objek wisata sejarah dan budaya. Para bangsawan kerajaan Sriwijaya dimakamkan di sini, dan konon, bukit ini menjadi tempat bertapa para anggota kerajaan pada zaman dahulu.

Untuk dapat memasuki Bukit Siguntang, pengunjung membayar biaya retribusi sebesar Rp 3.000,00. Suasana di dalam sangat tenang, dengan jalan menanjak yang diapit oleh pepohonan rimbun. Setidaknya ada 7 makam bangsawan di Bukit Siguntang, yakni: Radja Sigentar Alam (dari Mataram) yang berhasil menaklukkan Sumatera sampai Malaka, Putri Kembang Dadar, Putri Rambut Selako yang konon berasal dari Yogyakarta, Pangeran Radja Batu Api, Panglima Bagus Kuning, Panglima Bagus Karang, dan Panglima Tuan Djundjungan. Menurut Heru, dari Bukit Siguntang inilah peradaban Palembang bermula.

Baca Juga: Camping Kece di Bukit Alesano, Kabupaten Bogor

Makam di Bukit Siguntang, Palembang

Makam Radja Sigentar Alam di Bukit Siguntang, Palembang

Sampai saat ini, Bukit Siguntang masih menjadi tempat yang sakral bagi masyarakat, jadi jagalah pikiran, perkataan, sikap, dan perilaku.


Mengagumi Koleksi Sejarah MONPERA

MONPERA, yang merupakan kependekan untuk Monumen Perjuangan Rakyat, sangat mudah dijangkau dari Jembatan Ampera dengan berjalan kaki. Bentuk bangunannya unik dan modern, seperti enam tiang beton yang diikat hingga mengekerut di bagian tengah. Rupanya angka 6 tersebut memiliki filosofi persatuan karesidenan Palembang, Jambi, Bengkulu, Lampung, Bangka, dan Belitung.

Tampak depan MONPERA Palembang

Tampak depan MONPERA Palembang

Koleksi MONPERA Palembang

Koleksi MONPERA Palembang

Rongga segilima MONPERA Palembang

Rongga segilima MONPERA Palembang

Tiket masuknya sangat murah! Di dalamnya, kamu dapat melihat koleksi foto-foto pra dan pasca kemerdekaan di Palembang, sambil membaca deskripsi atau narasi singkat di setiap foto. Ada juga beberapa koleksi lain, seperti beberapa senjata api.

Baca Juga: Belajar Sejarah di Museum Ranggawarsita, Semarang

Ruang pamer Monpera didesain dengan bentuk segilima, di mana tiap lantai dihubungkan denga tangga memutar. Dari atas, Monpera akan tampak seperti bunga melati bermahkota lima sebagai simbol sucinya perjuangan para pahlawan. Dari lantai dasar, kamu dapat mendongak ke atas dan melihat bentuk segi lima tersebut, karena ada rongga di setiap lantainya.


Melihat Kota Palembang 360 Derajat di Puncak MONPERA

Ajakan Heru untuk naik ke atap (rooftop) Monpera aku iyakan dengan antusias. Aku suka ketinggian, karena di ketinggian lah, aku bisa melihat seluruh isi kota dengan leluasa yang terbungkus cakrawala.

Sayangnya, aku juga takut dengan ketinggian.

Menuju atap gedung, kami harus menaiki tangga yang berdiri tegak. Tangga tersebut menghubungkan lantai teratas (lantai delapan) dengan sebuah rongga kecil di puncak Monpera. Lalu, begitu kepala menyembul dari lubang… nyaliku langsung menciut. Pasalnya, atap Monpera ini dirancang dengan bentuk kerucut. Iya sih, ada pagar pengaman dari beton, tapi tetep aja. Berdiri di puncak gedung dengan lantai yang miring ke bawah itu horor banget!

Panorama dari puncak MONPERA Palembang

Panorama dari puncak MONPERA Palembang

Took a selfie with Heru on the top f MONPERA, Palembang.

Took a selfie with Heru on the top of MONPERA, Palembang.

Baca Juga: Naik Sampai ke Puncak Monumen Nasional (Monas), Jakarta

Selama beberapa menit, aku kebingungan di puncak tangga, menimbang-nimbang posisi kaki dan tangan untuk keluar dari lubang. Barulah dengan sedikit bantuan dari Heru, aku bisa keluar dengan selamat dan menjejakkan kaki di puncak Monpera. Sayangnya, panorama kota Palembang dari puncak Monpera sedikit terhalang oleh pagar pengaman.


Mampir di Masjid Agung Palembang

Muslim atau non muslim, kamu sebaiknya menyempatkan diri mampir di masjid ini. Nggak seperti masjid-masjid di tanah melayu, Masjid Agung Palembang justru tampak seperti masjid khas keraton di tanah Jawa. Selengkapnya, baca di SINI.

Masjid Agung Palembang (Great Mosque of Palembang)

Masjid Agung Palembang (Great Mosque of Palembang)


Menyusuri Kampung Kapitan

Sedikit terkejut saat mengunjungi Palembang dan menemukan bahwa budaya Tionghoa berkembang pesat di kota pempek ini. Heru membawaku memasuki Kampung Kapitan, salah satu tempat peleburan budaya Tionghoa di Palembang. Oh ya, jangan terkecoh dengan tulisan Kampung Kapitan di pinggir Sungai Musi, itu hanyalah nama restoran, bukan kampung yang sebenarnya.

Kampung Kapitan, Palembang

Kampung Kapitan, Palembang

Sebuah rumah besar di Kampung Kapitan, Palembang

Sebuah rumah besar di Kampung Kapitan, Palembang

Heru bercerita, Palembang was once the Venezia of The East. Warga hidup di perkampungan sepanjang Sungai Musi dengan kanal-kanal yang mengapitnya. Sekarang? Kanal-kanal tersebut sudah hilang, tak ada lagi air yang mengalir karena endapan sampah yang menumpuk. Sangat disayangkan, aku membayangkan jika sampai saat ini Palembang dapat menjaga kanal-kanalnya yang cantik, potensi pariwisatanya akan semakin menuai pesona.

Kami berkendara menyusuri jalan-jalan kecil Kampung Kapitan yang diapit oleh jajaran rumah-rumah kuno bergaya Tionghoa. Suasana cukup lengang, mungkin warga lebih memilih beristirahat di dalam rumah, menghindari guyuran sinar matahari terik.

Baca Juga: Antara Pecinan dan Kampung Arab, Bandung

Kampung Kapitan, Palembang

Kampung Kapitan, Palembang


Meresapi Nuansa Multikultur Masyarakat Sungai Musi

Di sepanjang Sungai Musi, kita dapat mengamati dan meresapi nuansa multikultur Palembang di mana Melayu, Tionghoa, dan Arab berpadu di atas satu pijakan. Di mana klenteng yang berwarna merah ngejreng, berdiri bersandingan dengan surau yang tenang berbalut hijau lumut.

A motorcycle in front of a chinese temple, Palembang

A motorcycle in front of a chinese temple, Palembang

Tampak depan klenteng

Tampak depan klenteng

A closer look, a chinese temple in Musi River, Palembang

A closer look, a chinese temple in Musi River, Palembang

Heru bertutur, desain arsitektur masjid-masjid di sepanjang Sungai Musi serupa dengan masjid-masjid di Malaka, Malaysia. Hal ini karena pengaruh budaya yang terbawa hingga ke negeri Jiran. Namun, sebaliknya, warga Malaka mengklaim bahwa Palembang-lah yang mendapat pengaruh budaya dari Malaka.


Berkeliling Jakabaring Sport Complex

Seperti apa sih penampakan dari mega proyek yang digunakan untuk PON (Pekan Olahraga Nasional) dan Asean Games ini? Sampai-sampai menggoda pejabat untuk bermain dengan dananya? Nah, Heru berbaik hati mengantarkanku ke Jakabaring Sport Complex yang lokasinya jauh dari pusat kota Palembang dan susah dijangkau dengan transportasi umum.

Gelora Sriwijaya Stadium, Jakabaring, Palembang

Gelora Sriwijaya Stadium, Jakabaring, Palembang

Nggak banyak sih yang bisa dilakukan di sana, selain muter-muter dan popotoan. Lalu, sambil istirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya, kami…


Duduk-Duduk Galau di Tepi Danau

Danau buatan ini masih berada di kompleks Jakabaring. Air danau yang berwarna hijau toska mampu menjadi elemen penambat mata. Kamu bisa membeli minuman dingin dan beberapa makanan ringan dari para pedagang yang berjejer di tepi jalan. Sangat asyik dinikmati saat sore hingga matahari terbenam.

In fact, kami bersantai di danau Jakabaring ini saat siang terik.

In fact, we were there on a broad daylight!

Bisa juga duduk santai di atas pondok untuk bersantai

Bisa juga duduk di atas pondok untuk bersantai


Mampir ke Masjid Cheng Ho

Nggak hanya Surabaya dan Pasuruan yang punya Masjid Cheng Ho, di Palembang juga ada! Bedanya, Masjid Cheng Ho di sini adalah sebuah bangunan baru, bukan bangunan tua peninggalan sejarah. Lokasinya juga berada di dalam komplek perumahan pinggir kota di dekat Jakabaring. Selengkapnya tentang masjid ini, dapat kamu baca di SINI.

Edit IMG_6783


Makan Pempek dan Es Kacang Merah

Belum ke Palembang kalau belum makan pempek! Nah, makanya, aku sengaja meminta Heru untuk membawaku ke salah satu rumah makan pempek populer di Palembang. Kami pun memilih Pempek Saga “Sudi Mampir” yang ada di kawasan Jalan Merdeka, masih dekat dengan Jembatan Ampera. Satu buah pempek dihargai mulai dari Rp 3.000,00. Cukup lah mengambil masing-masing 4 buah pempek, ditemani segelas besar es kacang merah.

Interior Warung Pempek Sudi Mampir

Interior Warung Pempek Sudi Mampir

Pempek dan es kacang merah siap disantap!

Pempek dan es kacang merah siap disantap!

Tampak depan Warung Pempek Sudi Mampir

Tampak depan Warung Pempek Sudi Mampir

Yah, niat hati ingin lanjut kulineran di Martabak Har, apa daya ukuran lambung nggak bisa bohong. Es kacang merahnya ternyata sangat mengenyangkan hingga aku habiskan dengan perjuangan.


Berfoto di Air Mancur PON

Air mancur ini terletak di belakang Masjid Agung Palembang, di sebuah bunderan yang susah untuk diseberangi saat siang hari. Ketika malam tiba, air mancur akan tampil memukau dengan permainan warna dan cahayanya.

Air Mancur PON, Palembang

Air Mancur PON, Palembang


(Niatnya) Mengambil Foto Jembatan Ampera dengan Slow Speed

Tapi FAIL. Tetap nggak berhasil meski udah utek-utek kamera.

Jembatan Ampera, Palembang

Jembatan Ampera, Palembang

Sejatinya, tulisan ini akan aku jadikan 5 tulisan terpisah yang masing-masing tulisan akan fokus membahas satu objek. Tapi, karena sudah kelamaan, sementara masih ada trip lain yang belum sempat ditulis, maka lebih baik aku rekap dalam satu pos. Gimana? Obyek wisata mana di Palembang yang paling menarik buat kamu?

57 komentar

  1. Eh, kenapa nggak ditulis pisah jadi 5 bagian aja Gie? Kan jadi bisa tahu gimana kesanmu di 5 lokasi itu secara lebih detil.

    Aku aja udah hampir setahun yg lalu blusukan di Sumatera, tapi baru segelintir artikel yg terbit, hahaha. Cuek aja lagi. Biarin aja kelamaan. Toh, kalaupun ada yg membaca artikelmu ini 1-2-3 tahun dari sekarang, nggak bakal ada kesan ini artikel late post. 😀

    Aku sendiri sih masih kurang puas blusukan di Palembang. Eh, lebih tepatnya di Sumatera Selatan dink. Kayaknya butuh 1-2 minggu di sini buat blusukan, terutama masuk hutan, hehehe. 😀

    1. Nanti kalau ada waktu dan nggak ada tempat baru yg bisa diceritakan, gue kemas ulang tempat-tempat itu satu per satu. Sekarang ini dulu, biar lega 😀

  2. Kak, saya bahkan belum pernah jalan ke Palembang :haha. Menurut saya tak apa sih, semacam rekap begitu, toh kalau suatu hari nanti seandainya kepengin menulis yang detil atau superdetil tentang tempat-tempat ini karena ada fakta baru yang masih belum diungkap, juga bisa. Saya pun menggunakan cara ini kadang-kadang, cuma jeleknya tulisan rekapnya sudah dirilis tapi tulisan rincinya sampai sekarang belum satu pun :haha. Yah masih bisa disimpan buat nanti, kan :hihi.

    1. Iya, yg detil ditulis nanti kalau ada waktu tapi belum ada tempat baru buat diceritakan 😀

      1. Baiklah :haha.

  3. Liburannya lengkap syekali ke 15 destinasi wisata sekaligus. Berapa hari itu di sana ? Setiap pagi maemnya pempek terus ya gi 😀

    1. 2 hari sajaaaaaa hahaha. Kalau pagi makannya di hotel dong :))

  4. Banyak juga yg bisa dilakukan di Palembang ya Nugie. Aku belum pernah ke Bukit Siguntang. Nanti kalo balik ke Palembang mau ke sini ah 🙂

    1. Bukit Siguntang masih belum ada pamor di kalangan wisatawan, mbak. Ayo ke sana dan promosikan potensinya 😀

  5. bulan lalu baru ke palembang dan ternyata ada spot yang kelewat, hiks. telat sih ngepostnya xD /*nyalahin orang*/

    1. Hahaha. Apa yg kelewat, kak? Iya nih banyak PR nulis hehe.

      1. kampung kapitan & klenteng… nggak tau ternyata bisa masuk monpera, tapi datengnya juga udah kesorean banget sih. hehe

      2. Iya bisa. Pas hari pertama juga Monpera tutup, pas hari kedua siang ternyata buka.

  6. Jembatannya yg paling cantik hehehe 🙂

    1. Iya, Ampera memang atraksi utama paling menarik di Palembang.

  7. Belum pernah ke Palembang, dan akhir-akhir ini makin banyak aja yang bahas Palembang, kode kuat harus kesana kayaknya 😀

    1. Iya, sebelum ke sana juga ada 2 blogger lain yg lagi bahas. Palembang bakal makin populer nih 🙂

      1. Sudah sepantasnya, karena Palembang dan wilayah sekitarnya menyimpan catatan sejarah panjang yang penting di Indonesia.

        Tapi aku penasaran banget sama Mie Celor nya. Sejak baca di postingan nya Bama, aku pengeeeen banget nyobain 😀

      2. Iya. Palembang adalah salah satu kota nusantara yang paling bersejarah! Mie Celor-nya kalau buat gue memang enak, tapi nggak luar biasa 😀

      3. Yang luar biasa apa dong Guh? Rekomendasinya …

      4. Hahahaha gak bisa move on dari pempek yaaa … Ah tapi pempek disana beda dan lebih beragam

      5. Iyaaaa. Pempeknya beda! Lejat 😀

  8. Ngak coba berenang di sungai ampera kak ??? #laluDigampar

    1. Nanti aku dikira putra duyung, mz.

  9. Wouw infonya lengkap banget. Saya suka yang merasakan pempek sama menikmati jembatan di kala malam.. hihi salam kenal mas dari blogger Malang

    1. Terima kasih sudah mampir, mas. Yak betul. Jembatan Ampera kala malam terlihat romantis 🙂

      1. Hehe,entah pas nanti kesana kamera saya bisa mengabdikan sisi romantisnya gak? 😀

      2. Pasti bisa, mas. Kalau sudah bagus, gak perlu banyak pengaturan 🙂

  10. Belum pernah ke palembang padahal salah satu pabrik di tempat saya kerja itu di palembang… pengen mie celornyaaaaaaa *ngiler*

    Btw itu bagian naik ketek, rada geli bacanya..berasa naik keteknya abangnya hahahhaa /abaikan/

    1. Ayo ke Palembang, kak! Kota ini menarik banget lho buat dieksplor, meski warganya agak jutek dan lalu lintasnya keras 😀

  11. Travelling Addict · · Balas

    pengen pemepek dan es kacang merahnya 😦

  12. aku pengen mie celor, aku kangen pempek, ah pengen nyebur sungai musi, ah pengen duduk2 galau di danau jakabaring, ah haus pengen es kacang merah, ah udah ya

    1. Banyak ya maunya. Hahaha.

  13. Baru pertama blogwalking kemari dan langsung terpukau sama post pertama yang dilihat 🙂
    Pengen liat terutama di perpaduan budaya lokal, tionghoa, dan arab. Sambil jalan-jalan naik….ketek..? Lucu juga sebutannya.

    1. Wah, makasih banget udah mau mampir & baca, mas. Salam kenal ya 😀

      Yes. Menyusuri perkampungan di tepian Sungai Musi asyik!

  14. Iya kah dulu Palembang kayak Venisia? Keren juga ya kalau sampai sekarang masih. Sama kayak Semarang, embel-embel Venisianya udah hilang. Sayang sekali ya….

    1. Iya. Palembang punya banyak kanal. Sayang sekarang udah berubah jadi pemukiman kumuh 😦

      Bangsa kita memang perlu belajar soal menata kota.

      1. Sama. Di Semarang juga pada jadi pemukiman kumuh, sampai air kalinya jadi item, bau.
        Iya ya, padahal enggak sedikit ya sarjana tata wilayah kota hehe

      2. Banyak kota2 di Indonesia yg sebenarnya punya tata kota bagus warisan Belanda. Tapi kita aja yg gak bisa menjaga 😦

      3. Iyaaaa… Perlu edukasi lebih kayaknya ya bang…

      4. Betul. Kita harus sadar sampah adalah masalah 🙂

  15. senibudayapalemabng · · Balas

    izin copas ya bang

    1. Silakan. Cantumkan sumber dan hyperlink ya.

  16. klo g salah kanal-kanal it dibangun jaman sriwijaya atau palembang darussalam. bukan oleh belanda

    1. Terima kasih atas informasinya, kak. Berarti dari sejak zaman kerajaan sudah bagus ya struktur kotanya.

  17. Makasih infonya…..bisa jadi bahan untuk manfaatin waktu luang nanti saat harus melaksanakan tugas dua hari di Palembang. Terimakasih banyak….. #senangnya

    1. Sama-sama. Senang dapat membantu 🙂

  18. […] Baca Juga: 15 Hal yang Dapat Kamu Lakukan di Palembang […]

  19. jadi pengen ke palembang lagi, inget jaman sd…skrg udah di bandung juga sama ky penulisnya kyanya..:>

    1. Halo. Iya nih sama-sama di Bandung 😀

  20. yonarzktcnd · · Balas

    Ngeliat tulisan ini gue senyum senyum sendiri wkwkwk btw palembang udah banyak barunya kak kayak pedestrian sudirman kalo malem minggu dijadiin wisata wkwk kalo ke sumatera selatan dan mau lebih liat alamnya sih enakan ke kabupatennya kayak lubuk linggau gitu gitu tapi iya gitu kekurangannya kalo dari satu kabupaten ke kabupaten lainnya bisa ngabisin waktu berjam-jam

    1. Senyum-senyum sendiri karena seneng atau gimana nih kak? 😀
      Iya euy, udah lama nggak ke Palembang

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Jilbab Backpacker

Travel-Architecture-Halal Lifestyle Blog

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

Ferdi Cullen-The Microtraveller

A microtraveller is a journey local or overseas that is short, flexible, simple, cheap – yet still fun, exciting, challenging, refreshing and rewarding

Pink Traveler

Kemasi ranselmu dan pergilah melihat dunia

#FDCG

SEBUAH CATATAN TENGIK ANAK TEKNIK

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Andromeda Noholo

Yang terjadi di Andromeda

fainun.com

Family Blogger Indonesia

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

CERITA LIANA

Travel More, Share More

Casa Fasa

Travel & Life

Teppy and Her Other Sides

Eat well, live well, and be merry!

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

Tukang Ngider

Ngider terus, terus ngider. KUY, DER!

Liza-Fathia.Com

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

Eka Hei

Selalu ada cerita dalam setiap langkah

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

Papan Pelangi

tempat berjalan dan bercerita

Peregrination

Jalan-Jalan | Kuliner | Review

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

The Spiffy Traveler

Exploring Endless Paradise

Efenerr

mari berjalan, kawan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Travel Blog Evi Indrawanto

Cerita Perjalanan Wisata dan Budaya

Plus Ultra

Stories and photographs from places “further beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Fahmi Anhar

Travelogue

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Usemayjourney

Melihat, Mendengar, Memaknai

Winny Marlina

Winny Marlina– whatever you or dream can do, do it! travel

%d blogger menyukai ini: