Selalu Ada Jalan Untuk Pulang

Kereta Matarmaja berderak cepat menerabas gelapnya malam kala itu. Aku berusaha untuk membuat diriku duduk senyaman mungkin di dalam gerbong 5 yang semua kursinya terisi penuh. Sayangnya kereta Matarmaja ini masih menggunakan gerbong tipe lawas. Memang sih, sudah ada colokan listrik, pun fasilitas AC yang menempel di langit-langit gerbong yang menghembuskan udara dingin sekedarnya. Tapi kursi-kursi di dalam gerbong masih berupa kursi kayu yang berbentuk huruf “L” kaku. Hanya setengah bagian dari sandaran kursi yang memiliki lapisan empuk, sehingga aku akan sedikit menengadah jika menyandarkan kepalaku kepada kursi.

Tiga perempuan berjilbab yang duduk di samping dan depanku sudah tertidur pulas, entah bagaimana caranya. Aku memperbaiki posisi kakiku dengan hati-hati, perlahan meluruskannya di antara sela-sela yang tersisa di antara kolong kursi dan kaki penumpang di depanku. Setidaknya, aku bisa duduk bersandar dengan lebih nyaman dan mencoba tidur-tidur ayam.

The train and the clean blue sky

The train and the clean blue sky

Hanya beberapa menit lepas dari tengah malam, kereta ekonomi jurusan Jakarta Pasar Senen – Malang itu sudah tiba di Stasiun Jebres. Gawat! Ini jelas lebih cepat dari perkiraanku yang menduga bahwa kereta baru akan tiba di Solo sekitar pukul tiga pagi. Aku berencana akan menunggu di stasiun, mungkin sambil ikut makan sahur (meskipun aku adalah seorang non-Muslim) atau gegoleran manja di atas bangku-bangku panjang stasiun. Saat pagi menjelang, aku akan membeli tiket kereta komuter ke Yogyakarta dan akan tiba di rumah saat pertengahan pagi. Sudah lama aku tidak naik kereta komuter seperti Prambanan Expres atau Sriwedari.

Namun saat aku berjalan keluar dari gerbong bersama ratusan penumpang lainnya, seluruh rencanaku tadi buyar seperti istana pasir yang tersapu ombak pantai selatan. Stasiun Jebres yang ukurannya tak seberapa ini sudah disesaki dengan ratusan calon penumpang lainnya yang memadati peron, lengkap dengan tas ransel seukuran setengah tubuhnya atau kardus-kardus yang tergeletak pasrah di atas lantai. Aku lalu teringat sebuah komentar yang terlontar dari seorang pejalan asal Filipina di akun Twitter-nya, “Indonesians bring their whole house when they are traveling.” (Orang Indonesia membawa seisi rumahnya saat mereka bepergian)

Aku berjalan menyeruak kerumunan hingga mencapai pintu keluar. Mengabaikan begitu saja setiap tawaran tukang ojek atau sopir becak yang berdiri siaga di sekitar pintu keluar. Aku sempat bimbang selama beberapa saat. Ada bangku-bangku panjang kosong yang bisa kupakai untuk beristirahat di depan stasiun. Tapi, aku harus menunggu berjam-jam sebelum kereta komuter pertama beroperasi. Lalu, di sisi lain… Ehem, hanya tersisa beberapa lembar uang ribuan di dalam dompet dan tidak ada fasilitas ATM untuk bank apapun di Stasiun Jebres.

Seorang sopir becak kemudian datang menghampiri, datang menawarkan jasanya kepadaku. Alih-alih menjawab dengan ke mana tempat tujuanku, aku malah bertanya di mana ATM terdekat. Bapak itu berkata bahwa ATM-nya jauh, lebih baik aku diantarnya ke sana. Aku hanya tersenyum simpul, mengerti bahwa pernyataan itu semata-mata diberikan agar aku mau menggunakan jasanya. Namun aku berkeras meminta bapak itu cukup menunjukkan jalannya saja, aku rela berjalan kaki ke sana karena itu sudah biasa kulakukan.

Foto Stasiun Solo Jebres (properti Solopos.com)

Berhasil mendapatkan petunjuk, aku segera bergegas menuju tempat itu, ketika seorang tukang ojek yang berdiri di seberang kompleks stasiun menghentikan langkahku. Dia mengatakan bahwa ATM sudah tutup, karena ATM itu berada di dalam sebuah ruko. Lantas dia menawarkan jasanya untuk meraih ATM lainnya yang berjarak lebih jauh. Aku berpikir selama beberapa menit, mempertimbangkan tawarannya dan apa yang sebaiknya kulakukan, menilai apakah tukang ojek ini dapat dipercaya atau tidak. Tak lama kemudian, aku sudah duduk manis di boncengan sepeda motornya.

Kami melaju di tengah jalanan kota Solo yang terlelap. Bahkan kota yang biasa berhawa panas dan lembab di siang hari itu, mampu memberikan udara dingin yang nyaman pagi itu. Ternyata, ATM yang dia rujuk pun juga tutup. Dia menyarankan agar aku mengambil uang di Terminal Bus Tirtonadi. Aku menyetujui usulnya dengan pasrah. Polos banget ya.

Karena sudah terlanjur sampai di terminal, aku memutuskan saat itu juga untuk langsung melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta dengan bus. Ternyata bus jurusan Solo-Yogyakarta beroperasi 24 jam penuh. Tak lama setelah membayar ongkos kepada mas tukang ojek yang meminta bayaran Rp 20.000, aku masuk ke dalam bus AC jurusan Yogyakarta yang tinggal menyisakan sedikit kursi kosong di bagian belakang.

Sekitar pukul 2 subuh, bus merapat di Terminal Giwangan Yogyakarta. Aku sudah mengirimkan pesan singkat kepada kakakku, namun tak ada balasan. Kucoba untuk meneleponnya pun, tak dapat terhubung. Sepertinya kakak sedang mematikan ponselnya.

Aku melangkah gontai dengan sepasang kelopak mata yang berat menuju bagian pujasera. Memilih sebuah tempat makan yang saat itu sedang tidak melayani seorang pun pengunjung. Seporsi nasi rames dengan telur sebagai pelengkap menjadi menu sahurku subuh itu, ditemani segelas kopi sachetan yang biasa menjadi menu wajibku saat sarapan. Rasanya memang sekedarnya, sepertinya lauk pauknya adalah sisa lauk kemarin sore, tapi aku senang saat beberapa pengunjung yang lain lantas mengikuti langkahku bersantap di warung makan itu. Setidaknya, sudah membantu memberikan rizki untuk ibu pemilik warung yang ramah dan bersahaja.

Namun bahkan saat aku sudah menyelesaikan sarapanku (dengan menyisakan beberapa potong lauk pauk), kakak masih belum bisa dihubungi. Aku kemudan berniat untuk naik ojek menuju rumah yang ada di kawasan Jogja Barat. Seorang tukang ojek yang kujumpai meminta tarif Rp 60.000,00. Mahal banget! Dia mengatakan bahwa tarif itu hanya setengah dari tarif taksi yang bisa mencapai lebih dari Rp 100.000,00. Aku tak percaya. Menurut perhitunganku, bahkan tarif taksi pun tak akan mencapai angka Rp 100.000,00 untuk sampai ke rumah. Terus beradu argumen selama beberapa menit, dia berakhir dengan tarif Rp 35.000,00. Aku lalu pergi begitu saja meninggalkannya yang terus memaksaku. Aku maunya Rp 30.000. Tidak lebih. Tarif itu adalah tarif yang biasa aku gunakan dari Stasiun Prujakan Cirebon ke kost di daerah Sumber yang berada setengah jam dari kota Cirebon. Rumahku ‘kan masih di daerah kota, harusnya Rp 30.000 sudah lebih dari cukup untuk tarif ojek.

Bus Eka di Terminal Giwangan. (Properti milik wijanarko.net)

Beberapa menit menunggu di dekat halte Transjogja Terminal Giwangan, kakak iparku datang. Tanpa berbasa-basi, kami lalu melesat melalui jalanan kota Yogyakarta yang tetap hidup kala subuh itu. Hujan rintik turun saat kami masih berada di tengah perjalanan, namun itu tidak menghentikan laju kami menuju rumah. Menuju keluarga. Menuju kenangan.

Aku teringat bahwa sebenarnya aku tidak berniat pulang di Idul Fitri kali ini. Tiket kereta api sudah ludes terjual, dan aku tak mau mengambil resiko terjebak macet di tengah jalan jika naik bus. Aku tidak bisa memesan jauh hari, karena aku tidak tahu aku akan berada di kota mana saat lebaran tiba. Namun Tuhan membuka jalan saat aku melihat ada seorang teman di Twitter yang menawarkan tiket Jakarta – Malang seharga Rp 70.000,00. Entah apa yang terjadi dengan calon penumpang yang sebenarnya. Ditambah dengan ongkos travel Bandung – Jakarta dan ongkos kereta api / bus Solo – Yogyakarta, harganya tetap lebih murah daripada jika aku membeli tiket kereta kelas bisnis seharga Rp 285.000,00 pada tanggal 29 Juli.

Rumahku memang sederhana, jauh dari kesan mewah yang terpancar dari rumah teman-teman kampus atau kantorku. Hanya seonggok kotak raksasa yang berdiri apa adanya di atas sepetak lahan kampung. Namun, di dalam rumah yang hanya berlantai semen ini, di dalam rumah yang bahkan tak memiliki langit-langit ini, ada kasih ibu dan bapakku yang membuatku merindu saat aku di tanah rantau. Meski wajah mereka tak lagi mampu menyembunyikan kerut keriput di wajahnya, meski tubuhnya tak lagi sekuat dan setegar dulu, namun senyum hangat itu masih berpendar di wajahnya.

Ibu, bapak, selalu ada jalan untuk aku kembali pulang ke pelukanmu. Jangan bosan menungguku pulang setiap tahun ya🙂

 

 

*Catatan: Tulisan ini menggunakan gaya bahasa yang berbeda dari biasanya agar terkesan lebih dramatis dan melankolis

Baca juga tulisan kakak-kakak TBI (Travel Bloggers Indonesia) yang lain #TentangPulang:

Sebuah Cerita Tentang Pulang

Yogyakarta, Pulangnya Saya

Mudik atau Tidak Adalah Pilihan

Ibu, Aku Pulang

Pulang Mengenal Kakek

Kepulangan yang Agung

Tradisi Lebaran di Kampung Halaman

Tradisi Mudik di Keluarga Batak

Mudik, Rindu Rumah

Merangkai Serpihan Kenangan di Peunayong

Mudik dan Perut yang Manja

Lebaran Terakhir Bersama Nenek

31 thoughts on “Selalu Ada Jalan Untuk Pulang

  1. Saya suka tulisanmu yang seperti ini. Di setiap paragraf saya turut merasakan emosimu di kala itu. Cerita pun bergulir dengan alur yang jelas. Mungkin memang terkesan melankonis ketika membaca tulisan yang seperti ini. Tapi saya menduga ini sebabnya dirimu menulisnya dengan “passion”.

  2. Ping-balik: Ibu, Aku Pulang
  3. Pernah juga mendadak mudik dari jakarta ke klaten pas idul adha naik kereta ekonomi saat msh kuliah, nggak dapat tiket bertempat duduk akhirnya beli tiket berdiri dan saking penuhnya g bs masuk gerbong akhirnya melantai di pintu masuk gerbong sampai kebumen. Ahhhh …. Masa2 itu… Haha

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s