Sepenggal Siang di Istana Maimun, Medan

istana-maimun-medan-sumatera-utara-02

Medan menjadi salah satu kota impian dari sekian kota dan provinsi di Indonesia yang gue jadikan wishlist. Sebagai seorang yang senang menjelajah kehidupan urban, Medan menawarkan wisata arsitektur, sejarah, budaya, kuliner, sampai transportasi publik dengan Airport Rail Service (ARS) kebanggaannya. Nah, kalau sebelumnya gue sudah mampir ke Masjid Raya Al-Mashun Medan, maka gue melanjutkan langkah menuju obyek wisata lain yang terletak tak jauh darinya: Istana Maimun.

Cuaca begitu terik pada hari Senin siang, 22 Agustus 2016 silam. Rupanya matahari sedang ingin melimpahkan segenap kasih sayangnya kepada ibukota Sumatera Utara itu. Dengan diantar abang bentor (becak motor) yang kusewa dari depan Masjid Raya Al-Mashun Medan, gue memasuki Istana Maimun setelah sebelumnya menyantap sepiring soto dan segelas kopi dari sebuah rumah makan di kawasan itu.

Jarak dari pintu gerbang menuju bangunan utamanya terasa cukup jauh di tengah hari yang panas kala itu. Setelah membayar karcis tiket masuk yang sangat terjangkau, gue berjalan memasuki bangunan Istana Maimun.

Istana Maimun, Medan, dan halaman luasnya

Istana Maimun, Medan, dan halaman luasnya

Baca Juga: Bandara Kualanamu Dalam Bidikan Kamera

Dengan guyuran warna kuning emas yang mendominasi tampilan eksterior dan interiornya, Istana Maimun tampil kontras berlatarkan langit biru cerah yang melingkupinya. Merujuk pada prasasti di bagian depan istana, bangunan ini selesai diresmikan tahun 1888. Bicara soal desain arsitektur, Istana Maimun tampil menarik dengan paduan langgam Melayu, Timur Tengah (Islami), Mughal, dan Hispanik.

Nuansa Melayu tampil pada desain pintu, desain gerigi di balkon dan lorong, serta warna kuning emas yang digunakan — warna yang identik dengan budaya Melayu. Sementara kreasi langgam Mughal dan Timur Tengah bisa dilihat pada desain lengkung yang hadir di setiap sisi istana, ornamen dekoratif pada plafon, dan desain kubah. Ruangan tampil megah dengan chandelier keemasan yang tergantung mewah di langit-langit.

Memasuki Bangunan Utama Istana Maimun, Medan

Memasuki Bangunan Utama Istana Maimun, Medan

Prasati pembangunan Istana Maimun, Medan

Prasati pembangunan Istana Maimun, Medan

Dalam situs resminya, Kemendikbud menyebutkan, “Istana Maimun adalah sebuah bangunan peninggalan sejarah masa Kerajaan Melayu Sultan Deli ke- IX yaitu Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Bangunan ini mulai dibangun pada 26 Agustus 1888 dan selesai selama 3 tahun yang sekaligus diresmikan pada tanggal 18 Mei tahun 1891. Pembangunan ini menghabiskan dana setara satu juta Gulden jika dikurskan dengan mata uang Belanda.”

Nah, Sultan Mahmud Al Rasyid Perkasa Alamsyah sendiri adalah putra sulung dari Sultan Mahmud Perkasa Alam, the founding father of Medan. Ada hubungan saudara nggak ya sama Hannah Al Rasyid? #ehgimana

Singgasana Kerajaan di Dalam Istana Maimun

Singgasana Kerajaan di Dalam Istana Maimun

Istana Maimun dibangun di atas lahan seluas 2.772 m² dengan luas bangunan sekitar 772 m² yang terdiri dari 2 lantai dan 30 bilik. Bangunan rancangan arsitek Italia ini (ada sumber lain mengatakan rancangan arsitek belanda, Van Erp) memiliki satu gedung utama bernama Balairung Sri (412 m²) di bagian tengah depan dan kedua bangunan pendukung di sayap kanan dan kiri.

Balairung Sri digunakan untuk acara-acara kerajaan, menerima tamu kerajaan, dan prosesi penobatan Sultan Deli. Kini, ruangan digunakan untuk menyimpan peninggalan-peninggalan bersejarah seperti perabot / furnitur istana, pakaian bangsawan, senjata, dan foto-foto anggota kerajaan. Namun saat keluarga kerajaan punya hajat, istana (utamanya Balairung Sri) akan ditutup sementara untuk umum.

Lengkungan Istana Maimun yang Khas Timur Tengah

Lengkungan Istana Maimun yang Khas Timur Tengah

Potret Ibu Ani Yudhoyono yang "Ngeksis" di Istana Maimun, Medan

Potret Ibu Ani Yudhoyono yang “Ngeksis” di Istana Maimun, Medan

Baca Juga: Drama Perjalanan Menuju Masjid Raya Al-Mashun, Medan

Selain menikmati koleksi peninggalan istana, pengunjung juga bisa menyewa baju adat Melayu yang disediakan di dalam Balairung Sri. Gue sih nggak terlalu berminat, lagipula gue sendirian juga #PraharaSoloTraveler, jadi nggak tahu juga berapa biaya untuk sewa baju itu. Yang jelas, penawaran itu diminati oleh pelancong berkeluarga dan ibu-ibu berhijab 😀

Gue nggak terlalu lama berada di dalam Istana Maimun, karena koleksi yang dipamerkan juga nggak terlalu banyak. Seolah belum rela melepas kepergian, Istana tiba-tiba menghadirkan tiga orang musisi Melayu di teras bangunan. Berbalut pakaian adat Melayu yang masing-masing berbeda-beda warnanya, bermahkotakan peci, dan berbekal seperangkat alat musik, trio musisi itu mendendangkan alunan lagu Melayu yang syahdu.

Ibu-Ibu yang Sedang Diprospek Untuk Sewa Baju Adat Melayu

Ibu-Ibu yang Sedang Diprospek Untuk Sewa Baju Adat Melayu

Kandelar di Dalam Istana Maimun yang Mewah

Kandelar di Dalam Istana Maimun yang Mewah

Penampilan ketiganya dibantu dengan peralatan sound system modern dan seorang MC yang bertugas menggiring perhatian pengunjung Istana. Keempatnya sudah tak muda lagi, meskipun salah satu di antaranya — yang berbaju merah maroon — kelihatannya masih di kisaran 20-an akhir atau 30-an awal. Kelihatannya ya, hehe.

Setelah cukup puas menikmati aksi para musisi, gue memaksakan diri untuk pergi mengingat jadwal penerbangan sore ini. Abang bentor, yang setia menunggu di depan pintu gerbang, langsung siap siaga saat melihat kedatangan gue kembali.

Pertunjukkan Musik Melayu di Istana Maimun

Pertunjukkan Musik Melayu di Istana Maimun

Ngomong-ngomong, mungkin karena diburu waktu, saat itu gue mendadak kehilangan hasrat (((hasrat))) buat blusukan sampai setiap sudut komplek. Belum eksplor sisi kanan, kiri, dan belakang istana. Belum menemukan Meriam Buntung yang melegenda pula di dalam Istana Maimun.

Yang gue tahu, Meriam Buntung (Puntung) ini merupakan penjelmaan dari Mambang Khayali, saudara dari Puteri Hijau yang tinggal di Istana ini. Saudaranya yang lain, Mambang Yasid, tewas saat Sultan Aceh menyerang istana. Sultan Aceh marah pada kedua Mambang yang menolak pinangannya untuk Puteri Hijau. Menurut legenda, karena terus menerus menembak secara membabi buta, laras meriam menjadi terlalu panas hingga terbelah dua. Satu bagian terlempar hingga ke Tanah Karo, sementara bagian lainnya disimpan di dalam komplek istana.

Hm, pertanda harus kembali lagikah ke sini? 🙂

Lengkungan di Balkon dan Lorong Istana Maimun

Lengkungan di Balkon dan Lorong Istana Maimun

Sayap Kiri Istana Maimun

Sayap Kiri Istana Maimun

Melepas Pandang Melalui Bukaan Lebar di Balkon Istana Maimun

Melepas Pandang Melalui Bukaan Lebar di Balkon Istana Maimun

Istana Maimun cocok kamu kunjungi pada jam berapapun, kecuali malam of course. Karena obyek wisata dalam ruang, Istana Maimun bisa kamu jadikan “penyelamat” dari teriknya sinar matahari atau terjangan hujan badai. Mau cari akomodasi di Medan juga nggak susah kok. Buat acara liburan keluarga, gue sarankan sih ambil sewa rumah, apartemen, atau villa aja melalui Travelio.com. Kebetulan banget, sampai 15 Desember 2016, kode khusus gue masih valid:

T R A V E L I O M O R E T 1 9 L T O H H I

Kode di atas ditulis dalam huruf besar semua dan tanpa spasi. Silakan gunakan kodenya untuk mendapat potongan harga 40% di Travelio. Kode dapat digunakan tanpa minimum transaksi, namun jumlah maksimal untuk potongan harga adalah Rp 300.000,00. Kupon hanya dapat digunakan untuk anggota terdaftar dan properti tipe House, Villa, atau Apartment. Harganya kurang lebih setara kok dengan hotel bintang 2 atau 3. Jadi, lumayan banget lah ya. info lengkap untuk penggunaan voucher bisa kamu baca di tulisan: 5 Alasan Sewa Rumah Untuk Liburan Keluarga

 

Jadi, buat kamu yang berkunjung ke Medan atau Sumatera Utara, Istana Maimun ini sangat gue rekomendasikan buat kamu kunjungi. Entah cuma foto-foto atau benar-benar menggali sejarahnya secara mendalam, ada daya tarik yang Istana tawarkan untuk setiap pengunjung. Apalagi, Istana Maimun terletak dekat dengan Masjid Raya Medan dan pusat kota, sehingga nggak akan menguras banyak waktu dan biaya untuk transportasi. Tepatnya di Jalan Brigjen Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun. Keep learning by traveling!

Iklan

28 thoughts on “Sepenggal Siang di Istana Maimun, Medan

  1. Dulu waktu ke Medan cuma sempat lewat doang di depan istana ini, itu pun malam-malam. Jadi masih ada keturunan keluarga kerajaankah yang tinggal di sana? Sepertinya masih ada ya, kalau melihat ada acara kerajaaan yang diselenggarakan dan itu membuat balairung ditutup sementara. Medan menurut saya unik banget karena di sana akulturasinya jor-joran, bahkan antarbudaya yang akarnya sangat berbeda. Melayu di Sumatera Utara agak berbeda rasanya dengan Melayu di tanah aslinya, karena sudah sedikit kena budaya Tionghjoa dan Batak asli. Istana ini menurut saya salah satu wujud akulturasi itu. Ayo balik lagi dan menggali lebih banyak Mas, nanti saya ikutan, haha.

    • Anggota kerajaan sih masih ada, mas. Tapi nggak yakin apakah tinggal di situ. Dari hasil baca, putra mahkota Kerajaan Deli tinggal di luar Sumatera.

      Yup, Medan itu (dan Sumut pada umumnya) melting pot. Kalau dipromosikan lebih, Malaysia bisa kalah. Sama ditambah fasilitasnya 😀
      Saya pasti balik ke Medan lagi, belum kesampaian ke Rumah Tjong A Fie dan Gedung Lonsum.

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s