Phuket, Review, Thailand, Transportasi, Travel

Menyapa Phuket International Airport, Thailand

Jumat malam, 18 Mei 2018, gue resmi mendarat di Phuket International Airport, Thailand, bersama 2 rekan perjalanan — mas Fendi @hotelhunter_update dan @ian.ananta. Entah udah jam berapa saat itu. Penerbangan Malaysia Airlines memberangkatkan kami pukul 17:10 waktu setempat dari Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Sebelumnya, kami lebih dulu menunggu selama sekitar 1 jam di boarding room. Kami tiba sore hari di KLIA setelah menempuh 2 jam penerbangan yang berangkat pukul 12:15 dari Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta.

 

First Things to Do at Phuket International Airport, Thailand

Kami bertiga sama-sama hanya bawa bagasi di kabin. Jadi setelah melalui proses imigrasi yang tenang, kami mengabaikan area baggage claim menuju arrival hall. Hal pertama yang kami bertiga sama-sama lakukan adalah: beli SIM card lokal. Ada beberapa gerai di situ, tapi kami pilih gerai TrueMove yang dulu juga gue pake saat ke Thailand tahun 2015 dan 2016. Sebagai pekerja digital, gue harus tetep stay connected meskipun udah izin cuti sekalipun. Lagipula internet juga penting buat Google Maps dan cari referensi tempat makan di Foursquare, hehe.

Baca Juga:Β Menggunakan SIM Card Lokal di 4 Negara Asia Tenggara

truemove counter | arrival hall, phuket international airport
car rental service | arrival hall, phuket international airport
arrival hall, phuket international airport
baggage claim, phuket international airport

Karena cuma 3 hari, gue memilih paket 150 THB yang ternyata berlaku sampai 7 hari, hehe. Isinya oke banget, bisa internet sepuasnya selama 7 hari dan punya pulsa SMS & telfon 150 THB. Semua pengaturan dan persiapan dilakukan oleh mbak-mbak konter (ehem, lumayan cakep juga sih) dengan cepat namun cekatan. Gue terima jadi aja pokoknya, calon isteri idaman gitulah #eh. 😘😘😘

 

From Phuket International Airport to Hotel

Saat mencari tahu fasilitas transportasi umum di Bandara Internasional Phuket, gue langsung memilih minivan seharga 200 THB yang langsung mengantar penumpangnya ke hotel. Saat tiba di lokasi, kedua temen gue — atau mas Fendi lebih tepatnya, karena Ian ini anaknya ngikut-ngikut aja haha — sempet ragu mau naik minivan. Jadi kami cari tahu dulu berapa ongkos Grab dari bandara ke Ibis Phuket Kata yang notabene nyaris dari ujung ke ujung. Gue lupa berapa harga tepatnya, entah 1000 atau 2000 THB, tapi pokoknya lebih mahal dari ongkos minivan. Grab di Thailand nggak semurah di Indonesia rupanya, sama aja kayak taksi biasa, cuma bisa dipesen online. Akhirnya kami sepakat naik minivan. Ada 2 operator minivan yang konternya terletak bersebelah-sebelahan di arrival hall. Mau pilih yang mana aja nggak masalah.

Kami keluar melalui Pintu 5, lalu menunggu di sebuah area yang dilapisi rumput buatan, diapit gedung parkir bertingkat dan gedung terminal internasional. Di atas rumput tertata bangku-bangku panjang, di atasnya lagi ada jalur pejalan kaki yang menghubungkan gedung parkir dengan gedung terminal. Kami menunjukkan tiket kami kepada salah satu loket yang ada di area itu, lalu diarahkan untuk menunggu di bangku-bangku di depan loket. Kami nggak yakin udah nunggu berapa lama waktu itu, cukup lama sampai kami bosen dan beli jajanan di 7 Eleven. Btw, kalo kamu lagi bosen juga, boleh deh dengerin Podcast gue ini 😁😁😁

Beberapa menit kemudian, kami akhirnya dipanggil memasuki mobil. Seluruh kursi sudah terisi. Kami bertiga duduk terpisah-pisah di 2 baris paling belakang. Baru jalan beberapa menit, eh mobilnya udah berhenti lagi di depan sebuah bangunan kantor kecil yang halamannya hanya berupa tanah. Seluruh penumpang diminta keluar mobil untuk memasuki gedung. Di dalam ruangan kantor agen tur itu, kami ditanyai mengenai tujuan kami dan lalu diberikan — selembar kartu nama untuk memesan taksi dari mereka saat nanti kami harus balik ke bandara. Baiklah, terima kasih.Β πŸ˜ͺπŸ˜ͺπŸ˜ͺ

artificial green area between the 2 buildings | phuket international airport
seating area | phuket international airport
our minivan ticket | phuket international airport
want to shop | phuket international airport
i love the soft rug | phuket international airport

Ada sebuah kejadian menarik di tengah perjalanan kami menuju hotel. Saat itu kami udah berada di kawasan Patong, sebagian besar penumpang turun di situ dan menyisakan kami bertiga. Kebetulan, mas Fendi itu bawa Redoxon terus dia cemplungin ke dalam botol air mineral buat diminum. Saat pak sopir mau nutup bagasi mobil, botolnya jatuh ke jalan. Dia lalu ngomong sama kami dengan nada marah sambil nunjuk-nunjuk ke arah botol. Setelah bersusah payah menyimak baik-baik sambil memicingkan mata untuk memahami kata-katanya yang acakadut, gue akhirnya sadar kalau dia mengira botol berwarna kuning jernih itu adalah minuman keras (vinegar, yang dia baca β€œwainega”). Gue bersusah payah jelasin ke dia bahwa itu bukan minuman keras, tapi cuma vitamin. Gue minta dia buat cium sendiri, tapi nggak mau. Mungkin dia ngira gue maksa dia buat minum kali ye, nyehehehe. 😁😁😁

Perjalanan dari Bandara Internasional Phuket ke Kata memakan waktu kurang lebih 1 jam. Kami lalu check-in di Ibis Phuket Kata dan dapet benefit karena kamar standard kami di-upgrade jadi Family Room tanpa tambahan biaya berkat status mas Fendi sebagai Gold Member dari Accor Hotels.

 

From Phuket Town to Phuket International Airport

Hari Minggu pagi, mas Fendi dan Ian berangkat ke Krabi sementara gue bertahan di Kata karena penerbangan balik gue ke KL dijadwalkan malam itu. Karena cuma sendirian, gue nggak mau menghabiskan duit 400 THB naik tuk-tuk dari Kata ke kota Phuket. Setelah browsing di internet dan memastikan kepada warga lokal, gue memutuskan buat naik songthaew seharga hanya 40 THB.

Songthaew adalah kendaraan umum di Thailand dengan sistem seperti angkot di Indonesia atau jeepney di Filipina. Bentuknya lebih besar dari tuk-tuk dan punya rute sendiri (nggak kayak tuk-tuk yang rutenya ditentukan penumpang). Nah, songthaew di Phuket ini bentuknya seukuran bus dengan dinding belakang dan semua jendela yang terbuka, hahaha (Di Bangkok, songthaew ini cuma seukuran angkot). Dinding belakang digunakan buat naik turun penumpang. Di Kata, songthaew dapat dinaiki dari jalan raya utamanya. Selain rute Kata / Karon – Phuket, songthaew juga melayani rute Patong – Phuket.

Di menit-menit pertama, songthaew ini jalannya pelaaannn banget. Tapi nggak apa-apa, I really enjoyed the journey, gue jadi bisa menikmati semilir angin pantai dan ritme hidup Phuket yang santai. Gue nggak buru-buru juga sih, saat itu gue masih punya banyak waktu sebelum boarding. Begitu lepas dari kawasan pantai Kata & Karon lah, songthaew mulai melaju dengan kecepatan normal. Ada beberapa momen yang sangat gue nikmati, yaitu saat songthaew melalui jalanan dengan salah satu sisinya yang menghadap ke arah laut lepas. Laut, pulau-pulau, dan pegunungan berada dalam satu frame!

Gue nggak inget berapa waktu yang dibutuhkan dari Kata ke kota Phuket dengan songthaew, tapi amannya sediakan waktu 1 jam aja sih. Tujuan gue adalah Phuket Old Bus Terminal, tapi songthaew cuma sampai kawasan Kota Tua Phuket. Nggak tau apakah emang kayak gitu rutenya atau karena tinggal gue seorang diri yang jadi penumpang. Jadi dari situ, gue naik ojek seharga 50 THB sampai terminal. Keputusan yang lalu gue sesali karena sesampainya di terminal, gue memutuskan buat jalan kaki keliling kawasan sekitar, nyahahaha. Ya sudahlah, itung-itung membantu perekonomian lokal, bapak ojeknya langsung nyamperin begitu gue turun dari songthaew.

inside the songthaew from kata beach to phuket old bus terminal
toilets in old bus terminal, phuket town
airport bus waiting for passengers | old bus terminal, phuket
bright colored taxis | domestic terminal, phuket international airport

Inget, ada 2 terminal di kota Phuket, dan bus bandara (airport bus) ada di Old Bus Terminal alias Terminal 1. Sementara Terminal Bus 2 dipakai buat ke kota-kota tetangga, seperti Krabi. Kedua terminal ini jaraknya berjauhan, jadi pastikan kamu nggak salah pilih terminal. Oh ya, kalau mau ke terminal bus, orang Thailand lebih paham dengan istilah β€œbus station”, bukan β€œbus terminal”.

Sebelum masuk ke dalam bus bandara yang warnanya oranye negejreng kayak bus sekolah di Bandung, gue mampir ke toilet dulu. Toiletnya bersih-bersih aja sih, nggak terlalu bau juga, tapi bentuknya cuma kayak toilet portabel gitu, jadi ukuran biliknya agak sempit dan hawanya agak pengap.

Gue lalu masuk ke dalam bus bandara yang masih sepi, duduk di kursi yang gue mau. Busnya nyaman, bersih, dan adem. Pembayaran dilakukan di dalam bus, jadi nggak usah pusing-pusing reservasi atau beli di loket dulu. Ongkosnya cuma 100 THB kok, jauh lebih murah daripada naik taksi atau Grab. Selain di terminal, calon penumpang bisa naik dari mana aja dan turun di mana pun mereka mau selama rutenya dilalui bus, jadi nggak ada halte-haltean. Bus yang tadinya sepi pun jadi penuh sesak karena banyak penumpang yang naik di tengah perjalanan, termasuk 2 bule cewek berkulit hitam dengan koper-kopernya yang nggak sengaja liat bus ini saat mereka lagi berdiri di pinggir jalan, mungkin tadinya mau naik taksi. Saat itu bus sedang berhenti karena lampu merah. Salah satu dari mereka menghampiri pintu masuk bus untuk bertanya kepada pak sopir. Dia lalu buru-buru lari ke temennya. Beberapa menit kemudian, keduanya datang tergopoh-gopoh dengan nafas ngos-ngosan tepat saat lampu berubah hijau.

domestic terminal, phuket international airport
the domestic terminal seen from the international terminal
departure hall / check-in counters | phuket international airport
entering my gate | phuket international airport

Airport Bus ini berhenti di depan Terminal Domestik Bandara Internasional Phuket. Jadi kalau kamu mendarat di terminal internasional dan mau naik bus buat ke kota, kamu bisa jalan kaki dulu melalui selasar. Jarak kedua terminal ini nggak jauh kok, jalan 5 menit juga nyampe, tanya petugas aja kalau bingung.

 

Dining & Drinking at Phuket International Airport

Ada dua 7 Eleven di Terminal Internasional Bandara Phuket, yang pertama ada di luar gedung terminal, sementara gerai kedua ada di lantai 2 di atas Departure Hall (Check-In Hall). Starbucks ada di sudut Departure Hall. Sebagian besar tempat makan ada di atas Departure Hall dan di area Boarding Room / Waiting Lounge, kayak Bill Bentley Pub, Big Burger & Grill, dan Subway. Gue sendiri cuma beli segelas kopi hitam panas di sebuah gerai yang lokasinya di pojok boarding hall. Pokoknya gerai paling rame, karena harga makanannya murah-murah.

starbucks coffee | phuket international airport
7 eleven store | phuket international airport
want some burgers? | phuket international airport
bill bentley pub | phuket international airport
male toilet | phuket international airport
free flow water dispenser | phuket international airport
inside the toilet, tebak gue habis BAB apa iseng masuk aja? πŸ˜€

Sebagai penutup, gue mau kasih tau kalau toilet di Phuket International Airport ini nggak dilengkapi dengan water gun, hehehe. Jadi kalo mau boker, pastikan kamu udah bawa tisu basah atau botol berisi air buat cebok. Tapi toiletnya bersih dan nggak bau kok, ada area yang cukup luas di belakang WC untuk meletakkan ransel. Selain itu, air minum gratis juga tersedia di depan toilet. Ehem, semoga airnya bukan air bekas toiletΒ πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Iklan

59 tanggapan untuk “Menyapa Phuket International Airport, Thailand”

  1. hahaha iya semoga water drinkingnya bukan bekas dari toilet aja
    paling gak aku jadi punya pandangan soal phuket airportnya dulu nih sebelum akhirnya terbang kesana

  2. Kejadian redoxon kocak banget ya walau pas kejadiannya pasti menegangkan. Mungkin supirnya takut melanggar hukum Kali jadi heboh. Hahaha. Airport nya apik ya, walau toiletnya water gun hahhaa

  3. dari view luar, nggak kelihatan mewahnya di dalam..
    saya kira tadi dua tempat yang berbeda..

    begini to kondisi bandara internasional yang mengakomodir pariwisata di thailand?

    let me see, 180 derajat berbeda dengan yang ada di Lombok..

  4. Wuakakakaaa … aku masih rada-rada geli kalo di toilet, entah di hotel atau dimanapun, ngga ada water gun nya πŸ˜ƒ
    Rasanya kayak kurang bersih aja gitu ..

    Kenapa ya beaya naik tuk-tuk itu mahal … ?.
    Cuman ngerasain sensasi naik transportasi khas Thailand saja wisatawan perlu merogoh kocek dalam ..

  5. Kejadian botol redoxon itu bikin ketawa deh, tapi ya namanya juga mereka taat aturan ya, daripada panjang urusan belakangan, memang baiknya berjaga-jaga sejak awal. Untungnya gak jadi sampai ribut panjang ya

    Btw, airportnya sekilas mirip sama terminal 3 hehehe
    Untung dikasi tau kalau toilet gak dilengkapi water gun, jadi bisa siap-siap kalau harus berurusan sama toilet disana

  6. Betewe, saya penasaran loh kek mana fotonya “laut, pulau-pulau, dan pegunungan berada dalam satu frame!” itu mas. hehe…

    Penutupnya hiburan banget itu. Kenapa ya malah disediain air minum gratis? Apa mungkin setelah buang air akan terasa haus (harus diisi ulang) gitu ya Mas mikirnya.

  7. Ihhh bandara phuket udah bagus banget yaa.. dulu kesana tahun 2012 itu lampu electric blue sama green artificialnya blm ada euy..
    Mana saya nyampe tengah malam pula.. bawaannya cuma pengen cepat2 sampai hostel dan molor.
    πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

  8. kacau sih, infonya lengkap banget.
    tahun 2016 gue pernah ke sana Gie, cuma belum serapih ini.
    dari foto2nya keliata rapih banget dan lebih luas.
    dulu perasaan kecil dan agak berantakan haha

    perubahan sangat cepat terjadi dan terima kasih sudah sharing πŸ™‚

  9. keren bandaranya.. ada green areanya segala..

    yakin tuh mbak2 konternya cewe beneran? hehehe…

    btw, vinegar bukannya cuka yak…

    songthaew kalo di Hat Yai disebutnya Tut Tut.. eh, apa beda ya?

  10. Ntah napa yaaa, sampe skr aku ga mau minum dr fasilitas drinking water yg mirip keran itu :p. Krn perna liat orang lain minum sampe mulutnya menenyentuh banget kerannya wkwkwkekw.. Geli jadinya :p. Kepikiran macem2, dia mulutnya bersih ato ga, ato lg batuk ato ga :p. Makanya ttp prefer beli mineral water :p.

    Duuh jd pgn ke phuket. Ke thailand, palingan aku cuma ke bangkok, chiang rai dan chiang mai. Ama 1 tempat yg perbatasan dengan siam rep. Lupa tapi nama kotanya. Selalu suka yg pasti dengan Thailand. Murah2 nya itu ga nahan :p

    1. Kalo yang di Phuket ini aku juga nggak cobain hehe, pernahnya di SIN sama KLIA. Di KLIA malah ada gelas sekali pakai yang berbentuk kerucut. Sekilas kayak dari kertas, tapi bisa tahan rembesan air.
      Aku di Thailand juga cuma Bangkok sama Phuket, kak. Yang di perbatasan Kamboja itu Aranyaprathet πŸ˜€

  11. Drinking, dining di airport nya aja keliatan mewah gitu ya dan bersih. Belum pernah ke Thailand. Penting banget ya toilet. Kalo ga kena air rasanya kurang bersih gitu hihii..Ntar baca2 sini lagi deh siapa tau pas dapet rezeki hehe tq mas πŸ˜€

  12. Setelin lagu haji roma aja gi pas itu abang-abang sewot :))
    Terakhir kali di Phuket airport ini tahun 2015. Masuk ke Thailand via Bangkok, pulangnya dari Phuket. Waktu itu nggak sempat explore banyak kayak lo gini, termasuk ke toiletnya. πŸ˜€

  13. wah makasih ya infonya
    pengen nih rasanya ke sanaaa
    untuk exploring tanpa pakai jasa tour gitu masih oke berarti ya?
    bahasa inggris orang sana bagus2 ga?

      1. hooo abis kata temen-temen yang uda pernah ke sana bilangnya susah kalau mau pakai transportasi umum di sana..habis orang-orangnya pada ga bisa bahasa Inggris..jadi bikin takut kan ahaaha

      2. okai mas ditunggu ya postnya biar aku bisa travel ke sana juga tanpa rasa cemas hahahaha :p
        kalau uda pos, jgn lupa reply ke sini ya biar aku dapat notifnya eheheh

  14. Wah bandara phuketnya bagus banget ya. Selama ini saya kalau ke bandara internasional, paling kagum sama Changi.

    Ngomong-ngomong kalau di daerah Phuket, toilet umumnya pakai air gak di klosetnya buat BAB? Atau cuman yang di bandara aja yang gak pakai air?

  15. Gw baca adegan kalian disuruh turun buat registrasi di kantor agen travel itu dan ketawa nyengir. Nggak efisien sih cara kerjanya. Padahal kan mendingan registrasinya di dalem mobil lalu penumpang disuruh isi formulir, daripada penumpang udah enak-enak duduk lalu disuruh turun lagi πŸ˜€

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.