Pantai, Travel, Wisata

Mengunjungi 7 Tempat Wisata di Thailand (Bagian 2)

Di tulisan sebelumnya, gue udah cerita gimana kunjungan gue di Jungceylon Mall, kota tua Phuket, Wat Mongkol Nimit, dan 72nd Anniversary Queen Sirikit Park. Maka di tulisan ini, gue akan membahas Khao Rang Hill, Bangla Street Night Market, dan Kata Beach.

Setelah “memuaskan” diri dengan kunjungan singkat di kota tua Phuket, gue dan kedua travelmate gue (mas Fendi dan Ian) melanjutkan agenda ke Bukit Khao Rang atau Khao Rang View Point. Agenda ini juga gue yang menentukan setelah browsing beberapa tempat wisata menarik di Phuket sebelum memulai perjalanan. Sebetulnya, ada 2 tempat populer di Phuket buat menikmati pemandangan dari ketinggian: Big Buddha dan Khao Rang View Point ini. Karena saat itu posisi kami ada di pusat kota Phuket, maka gue memilih Khao Rang karena jaraknya udah deket. Sementara Big Buddha deket kalau kami berangkat dari lokasi hotel kami di Kata.

 

Khao Rang View Point

Perjalanan menuju Bukit Rang berlangsung lancar tanpa terkendala macet. Lalu lintas yang padat hanya terjadi di area kota tua Phuket karena jalan-jalannya yang sempit. Setelah melalui jalanan dua lajur yang menanjak dan berliku―khas jalanan menuju tempat tinggi―kami tiba di Khao Rang View Point. Mobil diparkirkan di sebuah area lapang dengan jajaran warung makan dan warung kelontong sederhana di salah satu sisinya. Yah, kayak tempat wisata di Indonesia aja, cuma lebih bersih dan lebih rapi. Sebelum menjelajah lebih jauh, gue berfoto di depan tulisan “Khao Rang Breeze” yang berwarna-warni di dekat tempat parkir.

Ada sebuah paviliun bergaya kolonial yang apik dijadikan latar berfoto. Gue nggak menemukan informasi apakah paviliun itu benar-benar peninggalan kolonial atau hanya bangunan baru yang dirancang menyerupai bangunan Eropa.

Dari paviliun, gue berjalan melalui jembatan pendek yang terhubung dengan open observation deck. Ada bangku-bangku panjang di kedua sisi jembatan. Memang ada beberapa pengunjung yang lagi sama-sama menikmati pemandangan, tapi nggak cendol-cendol amat lah, masih cukup leluasa buat dapet spot foto. Nggak perlu antre-antre atau ngomel-ngomel sama pengunjung yang kelamaan foto-foto kayak di nganu.

:peace::peace:

first pose at khao rang view point
the pavilion at khao rang

Pemandangan dari Khao Rang View Point ini cakep bangeeettt! Gedung-gedung perkotaan, lautan, dan pegunungan terangkum apik dalam satu bingkai. Rasanya gue bakal betah berlama-lama di Khao Rang View Point sambil ngobrol santai atau ngopi-ngopi. Dengan pemandangan yang udah cakep dari sononya kayak gitu, menurut gue nggak ada timing tertentu buat ke Khao Rang. Mau pagi, siang, sunrise/sunset, atau malam hari, pemandangannya bakal tetap cantik. Tinggal panas enggaknya aja, sih, hahaha.

Dalam perjalanan menuju Khao Rang tadi, gue juga lihat ada beberapa warga yang jogging atau jalan-jalan santai melalui jalanan yang menanjak. Rasanya jadi pengen tinggal di kota Phuket selama beberapa minggu bahkan beberapa bulan buat menikmati kehidupan lokalnya. Kotanya tenang, nggak ndeso-ndeso amat, tapi kalo mau mantai atau ke bukit juga tinggal naik motor beberapa menit.

:good::good:

picturesque view from khao rang
still at khao rang view point, phuket

Saat browsing di internet buat mencari informasi tambahan buat tulisan ini (yang ternyata juga minim hasilnya), gue baru tau kalo di Khao Rang View Point juga ada restoran dan taman. Duh, entah kenapa pas gue ke sana kemarin gue nggak lihat kedua obyek itu (atau papan petunjuk yang mengarahkan ke sana). Alhasil gue cuma foto-foto aja di dek observasi.

 

Menemukan Buddha yang Agung di Wat Khao Rang

Dalam perjalanan pulang kembali ke kota, gue meminta bapak driver mengantarkan kami ke sebuah kuil yang kami lewati dalam perjalanan menghampiri Khao Rang View Point. Patung Buddha-nya yang agung menyembul dari balik pepohonan, memancing rasa penasaran.

Tiba di tempat tujuan, yang ternyata bernama Wat Khao Rang (Kuil Bukit Rang), suasananya sepiii. Mobil kami menjadi satu-satunya kendaraan yang terparkir di halamannya yang luas. Gue pun masuk ke dalam kuil dengan hati-hati, membawa sedikit rasa ragu yang menggelayut. Ian menunggu di bawah, sementara gue berjalan naik menapaki anak-anak tangganya yang agak curam. Mas Fendi? Duduk cantik aja di mobil, entah kecapekan atau kurang tertarik dengan kuil ini.

:lonely::lonely:

left: a picture at khao rang view point
middle and right: steep staircase to wat khao rang
majestic Buddha image at wat khao rang

Setibanya di pelataran kuil dan melepas alas kaki sesuai anjuran, gue dihadapkan dengan sebuah patung Buddha besar yang tampil megah dengan raga emas. Walaupun nggak sebesar yang ada di Big Buddha, tapi cukup mengobati rasa penasaran. Ada altar pemujaan di bawah Sang Buddha dan di sisi pelataran (yang nggak sempet gue foto). Setelah memastikan bahwa kuilnya memang bagus, barulah gue memanggil Ian buat naik ke atas, biar ada yang fotoin gue gitu.

 

Bangla Street Night Market, Patong

Jalan-jalan ke Thailand nggak akan terasa lengkap tanpa mampir ke salah satu pusat makanan jalanannya, di kota mana pun itu. Setelah mengambil tas di Hotel Ibis Phuket Kata, diantarkan dengan mobil ke hotel kedua, lalu check-in di Kata on Sea by bGb Villas, kami meminta bapak sopir untuk mengantarkan kami menuju Bangla Street Night Market yang ada di daerah Patong.

Bangla Walking Street adalah pusat kehidupan malam di Patong, bahkan untuk seisi pulau. Tak perlu menelusup hingga ke dalam gang-gang kecil tersembunyi untuk menemukan kepuasan birahi dari para wanita pekerja seks. Mereka terang-terangan menari dan berdiri meliuk-liukkan badan sintalnya di depan bar dan club yang berderet di sepanjang Bangla Street dalam balutan gaun yang ketat dan minimalis. Performa mereka kian paripurna dengan alunan musik yang menghentak dan permainan cahaya warna-warni yang menyorot ke sana kemari.

:crot::crot:

bangla walking street, patong, phuket
a side street near bangla
bangla walking street is for the party lovers
bars and clubs of bangla street

Sebagai garda depan, rekan-rekan mereka berdiri di depan bar, atau di tengah jalanan, membawa “paket menu” dan menawarkannya kepada para pengunjung. Beberapa wisatawan hanya berjalan melihat-lihat, sebagian lainnya tenggelam dalam irama musik cepat dengan botol-botol bir yang tergenggam erat.

Gue terpana dengan suasana Jalan Bangla yang hidup, berjalan perlahan dan sesekali berdiri untuk membekukan momen dalam kamera. Setelah merasa cukup mengambil beberapa obyek untuk konten visual blog dan media sosial, gue pun tersadar bahwa gue (sekali lagi) kehilangan mas Fendi dan Ian. Bener-bener, deh, gue ini lebih cocok jalan sendiri―kalo pun bareng, harus sama orang yang submisif, wkwkwk.

:ngakak::ngakak:

Dengan saling berkirim pesan singkat melalui aplikasi perpesanan, kami bertemu di depan sebuah bar sebelum akhirnya melenggang masuk ke dalam area pujasera. Para penjual mengepung kami dari ketiga sisi, menawarkan beragam makanan―makanan berat atau sekadar cemilan, halal dan tak halal, minuman dan buah-buahan―semuanya menunggu untuk dihampiri. Setelah melakukan sebuah penjelajahan singkat, gue memilih sebuah nasi campur yang tampak lezat, harganya pun sangat bersahabat, hanya 100 Baht. Sesuap, dua suap, ternyata rasanya nggak seenak yang dibayangkan. Hal yang sama juga terjadi pada makanan pesanan mas Fendi dan Ian. Entah kenapa, sejak pertama menjejakkan kaki di Phuket, nggak ada makanan dengan citarasa yang betul-betul sesuai selera.

food market of bangla street
argued with a food vendor, complaining about the price
my dinner which was not really satisfying

Usai makan malam, kami menghabiskan waktu beberapa saat untuk menyusuri Jalan Bangla hingga menemui ujungnya. Ternyata ada atraksi normal juga saat mendekati akhir jalanan. Ada sekelompok anak muda yang unjuk gigi dengan liukan dan gerakan ala breakdance boy dibantu dentum musik RnB atau Hip Hop.

Salah satu keunikan Thailand dibandingkan sebagian besar negara Asia Tenggara lainnya, khususnya negara mayoritas Islam seperti Indonesia, adalah terbukanya area prostitusi gay. Didorong oleh rasa penasaran melihat seperti apa penampakan “Bangla Street versi Gay”, kami berjalan kaki sekitar 1 kilometer dari Jalan Bangla menuju Paradise Complex.

Paradise Complex adalah sebuah kawasan bisnis yang mengelilingi The Royal Paradise Hotel. Ternyata, di jalanan yang menghubungkan pintu gerbang komplek dan hotel itulah, bar-bar dan club-club gay berjajar. Suasana Paradise Complex ternyata cenderung sepi jika dibandingkan dengan Bangla Street. Hanya satu dua bar yang menggaungkan suara musik enerjik, sementara sisanya hanya menggunakan para front officer (gue nggak tahu apa istilah yang tepat untuk mereka) untuk menggaet setiap pengunjung pria yang melintas―tak peduli apakah benar-benar gay atau hanya wisatawan normal seperti kami, atau bahkan tamu hotel. Dibandingkan para wanita di Bangla, para pria di Paradise Complex ini lebih sopan karena nggak buka-bukaan. Well, entah gimana kalau di dalam, ya.

:keren::keren:

paradise complex, lined with gay bars and clubs

Karena takut khilaf, kami kemudian berjalan memutar mencari rute lain begitu tiba di ujung jalan. Kami menemukan jalanan serupa yang lebih lengang. Dari jalan itu, kami kembali tiba di jalan raya. Sebelum terlalu larut dan kehabisan tuk-tuk atau taksi, kami akhirnya sepakat naik taksi (baca: mobil biasa yang dikomersilkan) seharga 500 Baht untuk kembali ke hotel.

 

Menyendiri di Kata Beach

Seperti yang udah gue sampaikan sebelumnya, meskipun gue bukan anak pantai dan juga bukan pemburu keindahan alam, tapi gue tetep pengen mantai di Phuket. Rencana A buat sewa paket one day tour ke Phi Phi Islands dan pulau-pulau lainnya kandas karena gue lagi bokek. Rencana B buat ke pantai-pantai sekitar Kata atau Patong juga batal karena travelmate gue belum mau mantai. Akhirnya, setelah berpisah pada hari Minggu pagi (mereka ke Krabi dan gue stay di Phuket), gue menyediakan waktu buat mantai sendirian.

:desperate::desperate:

Setelah mengantarkan mereka pagi-pagi ke jalan raya sampai mereka mendapat taksi yang mengantar mereka ke terminal bus, gue balik ke hotel dengan nafas sesak. Gue susah payah berjalan menapaki tanjakan curam untuk mencapai lokasi hotel yang berada lebih tinggi beberapa meter dari jalan utama. Tiba di dalam kamar, gue minum satu tablet salbutamol, duduk mengatur nafas beberapa saat, lalu kembali tidur. Gue lupa berapa jam gue tidur. Gue kemudian mandi, check-out, dan makan siang di salah satu rumah makan di Kata Main Street. Gue pesan nasi goreng dan segelas kopi hitam panas dengan harga total 150 Baht. Ternyata rasanya pun kurang menggugah selera, sama seperti makanan-makanan sebelumnya yang gue santap selama di Phuket.

fried rice | kata main street
kata main street, phuket
i think it is a good neighborhood to live, isn’t it?

Nafas gue udah cukup nyaman saat gue duduk atau nggak ngapa-ngapain, tapi begitu gue jalan kaki atau melakukan kegiatan fisik lainnya, nafas gue kembali sesak. Gue hanya menahannya, lalu mengatur nafas saat tiba di tempat tujuan.

:wait::wait:

Dari rumah makan, gue jalan kaki menuju Pantai Kata atau Kata Beach dengan ransel yang terpanggul di punggung. Lokasi hotel yang ternyata di atas tanjakan mengurungkan rencana gue sebelumnya untuk menitipkan tas di hotel dan baru mengambilnya kembali pas udah mau berangkat ke terminal bus Phuket.

Nggak ada yang spesial dari Pantai Kata. Bagus, sih, pantai pasir putih dengan bukit-bukit kecil, tapi pantai-pantai di Gunung Kidul juga gitu, ‘kan. Bedanya, di sini pengunjungnya lebih terbuka, percaya diri melenggang ke sana kemari dengan bikini, hihihi. Di salah satu sisi, terlihat bangunan-bangunan bertingkat yang memadati sebuah perbukitan. Ngomong-ngomong, nggak ada retribusi buat masuk ke pantai-pantai di sini. Menurut gue emang udah sewajarnya begini, sih, karena pantai adalah tempat umum milik negara (kecuali kalau pantai itu bagian dari taman nasional atau cagar alam)

food vendors of kata beach
kata beach and its white sand, phuket
kata beach and its white sand, phuket
kata beach and its white sand, phuket
laptop-ing on the beach? why not?

Sementara pengunjung lainnya asyik bermain air, gue cuma duduk di salah satu bangku, memesan jus mangga seharga 60 Baht, lalu buka laptop dan mulai menulis, nyahahahaha. Gue sendirian dan membawa banyak barang berharga, kakak. Jadi nggak banyak yang bisa gue lakukan selain menikmati suasana.

 

Dengan ini, selesai sudah cerita gue mengunjungi tempat-tempat wisata di Phuket, Thailand. Dari Pantai Kata, gue kembali ke Kata Main Street, lalu naik songthaew 40 Baht ke kota Phuket yang udah gue ceritakan di tulisan sebelumnya. Setibanya di kota Phuket, gue jalan-jalan (lagi) di kawasan kota tua Phuket dan menemukan 72nd Queen Sirikit Anniversary Park, yang juga udah gue ceritain di tulisan sebelumnya.

Selanjutnya, gue akan membagikan pengalaman menginap gue di Hotel Ibis Phuket Kata dan Kata on Sea by bGb Villas. Gue juga akan menceritakan penerbangan perdana gue bersama Malaysia Airlines dari Jakarta hingga tiba di Phuket.

Iklan

17 tanggapan untuk “Mengunjungi 7 Tempat Wisata di Thailand (Bagian 2)”

  1. Pantai Kata, boljug sih, tapi ya mirip-mirip beberapa pantai di Bali lah ya. Pas ke Pataya pernah juga tuh nyobain masuk ke klub-klub aneh gitu, cuma beberapa menit doang, karena pertunjukannya terlalu aneh secara visual buat saya. Akhirnya memilih buat nonton cabaret aja deh, yang kebih bisa dinikmati.

  2. Ceritanya lengkap banget Mas Nugie, serasa ikut jalan-jalan ke Phuket. Mengenai travel mate yang sudah menghilang sementara kita ambil foto, hahahaha, sering banget aku ngalami kalau jalan bareng keluarga. Tapi kalau sesama blogger atau fotografer sih, biasanya kita seirama hahaha

  3. Dari beberapa lokasi yang lo kunjungin dan diceritain disini, gue naksir sama Khao Rang dengan view yang amazing. Cuma sayang banget yah lo ga nyobain nyeruput kopi di resto yang telat tau nya itu, padahal bener kata lo itu, pemandangan gitu perfect buat jadi temen ngopi sama ngobrol-ngobrol. Selain Khao Rang, gue juga doyan Bangla Walking Street nya. Bukan karena gay nya lhoo, sama bukan karena cewe yang meliuk-liuk kayak belatung (tapi itu yakin kah cewe beneran? soalnya thailand sih) tapi guenaksir bangla karena suasana nya. Paduan lampu warna warni lampion yang digantung, ditambah cahaya neon dari kios-kios disana, cakep banget liatnya.

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.