[#SUPERTRIP 3] Senado Square, Ruins of St. Paul’s, dan Makan Egg Tart di Margaret’s Cafe e Nata Macau

Selamat pagi, Macau! Hari Jumat itu, 24 Mei 2019, gue berhasil mendisiplinkan diri gue sendiri dengan bangun jam 7 pagi. Eh, ini udah prestasi banget lho mengingat malam sebelumnya gue kurang tidur, bangun jam setengah lima pagi, berada dalam perjalanan sampai jam 9 malem, lalu masih jalan kaki keluyuran sampai tengah malem. Syukurlah meski kasurnya keras, kamar Hou Kong Hotel yang gue tempati punya kamar mandi juara! Luas, dinding dan lantainya dilapisi dengan ubin, dilengkapi air panas yang mengucur deras dari rainforest shower.

Baca cerita sebelumnya: Larut Malam Menyusuri Gang-Gang Macau, Menemukan Sisi yang Terduga

Setelah menggosok gigi dan ganti baju, gue langsung turun ke bawah dan keluar. Ya kalo gue mandi normal, bisa-bisa 1 jam kemudian baru keluar. Lagipula semalem juga tengah malem baru mandi kok.

Sama seperti semalem, gue sempet bingung membaca rute yang ditunjukin Google Maps dari hotel ke Senado Square. Beberapa menit pertama gue habiskan dengan berputar-putar di gang-gang sekeliling hotel. Setelah mencoba mencocokkan bangunan yang dilihat dengan peta dari Google Maps, barulah gue paham ke arah mana gue harus berjalan. Padahal jarak dari Hou Kong Hotel ke Senado Square cuma sekitar 500 meter aja lho.


Check Point 1: Senado Square

Setelah sebentar menyusuri gang, gue tiba di sebuah jalan raya bernama Avenida de Almeida Ribeiro. Nah, Senado Square ada di salah satu sudut jalan ini. Saat berjalan di trotoar Av. de Almeida Ribeiro, gue melihat ada beberapa penjual media massa cetak yang menggelar lapaknya. Senang menemukan satu sudut di bumi ini di mana media massa cetak masih diminati.

Senado Square Macau yang masih sepi di pagi hari

Municipal Affairs Bureau (Leal Senado Building) Macau

Senado Square atau Largo do Senado (議事亭前地) adalah sebuah plaza atau semacam alun-alun (minus pohon beringin kembar dan lapangan berumput) yang dikelilingi tempat makan, pertokoan, dan institusi yang menempati bangunan-bangunan tua Portugis dalam balutan warna-warna cerah khas Mediterania seperti kuning dan merah muda. Beberapa bangunan itu adalah Pastelaria Koi Kei (gedung berwarna merah muda itu, tempat beli egg tart dan oleh-oleh terkenal lainnya), Macau Business Tourism Center (gedung berwarna kuning), Holy House of Mercy (gedung berwarna putih), Macau Post Office, dan Municipal Affairs Bureau / Leal Senado Building (gedung megah persis di seberang Senado Square). Nah, Pastelaria Koi Kei ini ada banyak banget cabangnya, kalo di Bandung mungkin kayak Amanda Brownies. Jadi kalo kamu nggak sempet mampir di cabang ini, nggak usah khawatir. Di Av. de Almeida Ribeiro yang masih deket Senado Square aja masih ada cabang lagi.

Pagi itu, Macau masih basah karena kayaknya hujan turun saat dini hari tadi. Suasana Senado Square juga masih kondusif tanpa terlalu banyak wisatawan. Jadi kalo kamu mau menikmati suasana Senado Square yang sepi, datanglah pagi-pagi. Ini juga alasan gue bangun pagi-pagi. Saat gue ke sini lagi sekitar jam 12 siang aja, rakyat jelata udah memenuhi setiap sudut.

Pastelaria Koi Kei di Senado Square, Macau

Macau Post Office, Senado Square

Lancar internetan di Macau berkat Worldwide SIM Card Passpod

Karena sadar bahwa waktu gue terbatas, sangat sangaaattt terbatas, gue menahan diri buat nggak jalan-jalan berkeliling area seperti yang biasa gue lakukan di setiap tempat wisata atau landmark yang gue kunjungi. Jadi setelah cukup berfoto-foto di sekitar titik utama, gue langsung move on ke agenda berikutnya: makan egg tart di Margaret’s Café e Nata.


Check Point 2: Margaret’s Café e Nata

Ke Macau terasa nggak lengkap tanpa mengudap egg tart. Karena tempat makan egg tart ini ada banyak dan deket dengan tempat-tempat wisata, jadi misi ini gue masukkan ke dalam itinerary. Dari hasil browsing, tempat makan egg tart yang recommended sekaligus deket Senado Square adalah Margaret’s Café e Nata (瑪嘉烈蛋撻店). So, here we go.

Kesibukan Macau di pagi hari saat jam berangkat kerja

Sebuah jalan di Macau yang hijau

Berjalan-jalan saat pagi di hari kerja ternyata punya keseruannya sendiri. Gue jadi bisa melihat bagaimana warga lokal Macau memulai aktivitasnya sehari-hari. Pada satu persimpangan besar menuju Margaret’s Café, gue melihat warga lokal menyeberang jalan melalui zebra cross dari berbagai arah. Nggak seramai di Hong Kong, tapi tetap menarik diamati. Videonya bisa dilihat di highlight Instagram gue di @nugisuke. Sama seperti kota-kota beradab lainnya, jalanan Macau sudah dilengkapi dengan traffic lights untuk pejalan kaki. Menyeberang jadi aman, pengendara pun jadi nyaman.

Lokasi Margaret’s Café ini ada di dalam gang, jadi perlu kejelian dan kemampuan navigasi yang baik untuk menemukannya. Kedainya buka jam 8:30, tapi gue udah sampe beberapa menit sebelumnya bersama beberapa calon pembeli. Gue lalu duduk di atas kursi bar, menghadap ke jendela kedai. Pikir gue, pembelian akan dilakukan di situ. Beberapa menit kamudian, pintu dibuka dan seorang pemuda gempal membuka jendela di depan gue. Saat gue tengok ke arah orang-orang, ya elaaahhh mereka udah rapi ngantri di depan pintu. Salah strategi, eyke! Akhirnya gue bergabung dalam antrian 1 lajur itu. Gue jadi keduluan sama orang lain yang sebetulnya dateng belakangan. Seb naseb.

Ngantri beli egg tart di Margaret’s Cafe e Nata, Macau

Kesibukan di dalam Margaret’s Cafe e Nata, Macau

Selain egg tart, Margaret’s Cafe e Nata juga menjual beberapa kue

Para petugasnya melayani pembeli dengan gesit. Simbok yang di belakang meja bertugas sebagai kasir, sekaligus nyuruh-nyuruh orang lain buat bawain pesenan pelanggan. Selesai bayar membayar, dia segera beralih ke pembeli berikutnya tanpa repot-repot nunggu pembeli sebelumnya cabut dari situ. Saat sampai giliran, gue segera bilang dengan lugas, “Two egg tarts.” Gue menyerahkan uang, menerima kembalian, dan menerima 2 buah egg tart dalam kantung kertas dari mbak-mbak petugas. Ngantrinya 5 menit, transaksinya 5 detik!

Harga 1 buah egg tart adalah 10 MOP atau hampir Rp20.000,00. Buat yang pengen sekadar mengobati rasa penasaran kayak gue, 2 bijik juga cukup. Tekor kalo beli banyak-banyak, cuy! Selain egg tart, Margaret’s Café juga menjual macam-macam kue basah dan kering lainnya. Lalu kek mana sih egg tart itu? Seperti namanya, egg tart ini adalah semacam kue dengan isian telur. Renyah di luar, lembut di dalam. Gurihnya ada, manisnya ada. Sayang Margaret’s Café nggak ada kopi panas, cocok banget padahal.

Egg tart from Margaret’s Cafe e Nata Macau

Queueing at Margaret’s Cafe e Nata, Macau

Customers enjoying egg tart at Margaret’s Cafe e Nata, Macau

Sambil menikmati hasil buruan di salah satu bangku, gue update video di IG Stories biar netizen gue di tanah air bisa ikut ngerasain serunya perjalanan gue di Macau. Gue bisa tetep eksis berkat Worldwide SIM Card dari Passpod! Harganya cuma Rp120.000, dapet kuota internet 2 GB per hari selama 7 hari. Jadi total dapet 14 GB buat seminggu cuy! Buat yang mau beli di Passpod juga, gue ada kode kupon 10% buat kamu: NUGI23. Berlaku buat pembelian SIM Card di Passpod sampai 31 Agustus 2019, periode perjalanannya kapan aja.


Check Point 3: Ruins of St. Paul’s

Selain Senado Square, obyek wisata wajib lainnya di Macau adalah Ruins of St. Paul’s (大三巴牌坊). Secara singkat, cukuplah gue katakan kalo Ruins of St. Paul’s ini adalah sisa-sisa reruntuhan St. Paul Church (Gereja Santo Paulus), sebuah gereja kuno peninggalan Portugis, yang tinggal bagian depannya (fasad) aja. Ternyata lokasinya itu mblusuk-mblusuk, bukan di pinggir jalan raya kayak Senado Square. Dari jalan raya, Google Maps menggiring gue memasuki jalan-jalan kecil yang naik turun dan berkelok-kelok seperti semalam, lalu lanskapnya berubah lagi menjadi jalanan kecil berlapis batu, juga diapit trotoar berlapis batu. Pertokoan dan rumah-rumah susun penduduk berjajar di kedua sisinya. Aduh, pokoknya jalanan menuju Ruins of St. Paul’s ini cantik! Sayang saat itu gue sendiri dan nggak bawa tripod.

Memasuki jalan-jalan kecil menuju Ruins of St. Paul’s, Macau

Plaza kecil, air mancur, dan salib

A closer look

What a pretty neighborhood next to the cathedral, Macau

Sebelum sampai di Ruins of St. Paul’s, gue menemukan sebuah plaza kecil dengan air mancur, salib, dan jalanan kecil berlapis batu yang berkelok-kelok di sampingnya. Setelah gue melihat sekeliling, ternyata plaza itu berada di samping sebuah katedral bernama Cathedral of The Nativity of Our Lady (聖母誕辰主教座堂). Gue sempet masuk ke dalam, berdoa, mengagumi arsitekturnya, dan mengambil foto panorama dengan hape karena nggak mau mengganggu jemaat yang sedang berdoa. Tapi seperti yang gue bilang, seluruh foto hape gue di hari pertama dan setengah hari kedua terhapus, jadi silakan cek foto-foto di Google Maps di atas aja, ya.

Saat gue tiba, Ruins of St. Paul’s udah cukup cendol. Gue mencoba nyari alas datar buat naroh kamera sebagai tripod alami, tapi semuanya dalam keadaan basah. Ya udah, gue mengikhlaskan diri dengan mengambil foto bangunannya aja tanpa ada gue di situ. Tapi justru sesaat sebelum gue meninggalkan tempat itu, gue melihat ada bapak-bapak Chinese dengan kamera berlensa tele bersama anak gadisnya (kayaknya sih). Gue hampiri bapak itu, dan ternyata dia bisa berbahasa Inggris cukup baik. Hasil fotonya bagus dan bapaknya baik hati karena mau fotoin gue lagi setelah percobaan pertama.

Shops around Ruins of St. Paul’s Macau

Ruins of St. Paul’s Macau yang sudah riuh

Ini juga yang gue lakukan saat gue ke Senado Square lagi sekitar jam 12 siang. Gue melihat ada sepasang muda mudi Chinese yang lagi saling foto-foto dengan kamera mirrorless. Mereka juga ternyata bisa gue mintain tolong buat ambil foto. Yang fotoin gue yang cowok, tapi mbak-mbak di sampingnya memberi semacam panduan angle.

Inilah cara gue meminta pertolongan foto saat solo traveling: cari orang lain yang sama-sama bawa kamera DSLR atau mirrorless. Diusahakan bule, tapi kalo enggak pun gapapa. Pertama, itu berarti mereka (harusnya) bisa foto, minimal nggak miring deh, dan udah tau cara pake kamera DSLR. Kedua, membawa kamera berarti (menurut gue) mereka adalah traveler atau warga lokal yang travel enthusiast. Harapannya mereka bisa berbicara bahasa Inggris. Nah, di Macau ini gue jarang banget liat turis bule, hampir semuanya adalah turis etnis Tionghoa.

Hasil foto di Ruins of St. Paul’s Macau

Hasil foto di Senado Square, Macau

Petunjuk arah di Macau tersaji dalam 3 bahasa


Gue sampai Hou Kong Hotel sekitar jam 10 pagi dalam kondisi kaki pegal-pegal dan sekujur badan yang lengket oleh keringat. Bagian belakang kaos yang gue pake sampai basah kuyup! Cuaca Macau lembab pagi itu. Tapi meski capek, gue seneng banget seluruh itinerary gue di hari kedua di Macau itu terlaksana dengan baik. Senengnya lagi, gue masih ada waktu buat mandi berlama-lama, packing santai, dan gegoleran guling-guling sebelum waktu check-out jam 12:00. Sebelum beranjak turun, gue makan siang dulu dengaaannn―mie instan ABC cup. Bhaique.

Saat check-out, gue menerima kembali deposit 200 HKD yang gue serahkan saat check-in semalem. Kali ini front officer-nya adalah dedek-dedek cewek yang lebih ramah daripada kokoh-kokoh semalam. Sama seperti yang gue lakukan di Bandara Macau kemarin malem, gue konfirmasikan lagi rute menuju HZMB Macau Port sama petugas hotel itu. Gue tunjukin di Google Maps biar ada aksara Tionghoa-nya, in case dia nggak paham kalo cuma gue bilang nama dalam bahasa Inggris. Benar, nomor busnya adalah 101X, dan gue bisa naik dari halte di Av. de Almeida Ribeiro. Yay, tinggal jalan dikit dan nggak perlu naik bus 2 kali seperti hasil googling gue!

Pretty pedestrian street at Macau Historic Center near Ruins of St. Paul’s

Melalui jalan-jalan kecil Macau yang naik turun

Patung sejoli di Ruins of St. Paul’s Macau

Jangan ketinggalan lanjutan cerita perjalanan ini. Gue bakal cerita gimana perjalanan gue menyeberang ke Hong Kong naik bus melalui Hong Kong – Zhuhai – Macau Bridge (HZMB), sebuah cara yang terbilang baru dan unik di saat sebagian besar traveler memilih kapal ferry. Keep learning by traveling…

Iklan

53 komentar

  1. Ngantrinya lima menit, transaksinya lima detik, cepat sekali ya. Kalau disini mah bisa lebih, bisa kaki pegal, belum lagi soal kembalian. Wow, lumayan menyita waktu. Biasanya kan orang sana suka bangun pagi ya, kenapa sepi gitu.

    1. Petugasnya udah sangat terlatih, mas.

      Itu tempat wisata dan hari Jumat, mas. Warga lokal mah pagi-pagi sibuk sama kegiatan mereka sendiri 😀

  2. Ditunggu cerita selanjutnya..nyebrang ke Hongkong pake bus. Btw saya jadi penasaran gmn rasanya solo traveling..belum pernah soalnya hehe

    1. Siaaappp! Subscribe aja ya biar nggak ketinggalan ceritanya 😀

      Rasanya seruuu, bebas mau ke mana berapa lama naik apa. Nggak enaknya, susah kalo mau foto diri sendiri huhuhu

  3. Sepertinya petugasnya sudah hafall banget yah bang jadi transaksinya cepet banget hehe.
    Btw, dari tadi gue nyari foto egg tart-nya kok nggak ada di blog yaa bang apa ke skip sama gue wkwk …

    *brb cek ig*

    1. Eh iya, egg tart-nya lupa gue masukin haha. Brb edit.

  4. Ngakak di bagian: … alun-alun (minus pohon beringin kembar … yahelahhhh ….wkwkwkwk. Oya, aku suka cara menulisnya. Segar, asyik dan rapi. Ini kayanya pertama kali aku ke blog ini. Salam kenal ya.

    1. Waaa terima kasih apresiasinya, kak. Salam kenal ya. Semoga rajin mampir 😀

      1. Lha, saya baru mau komen yang sama kayak Mbak Wid. Ngakak pas kalimat itu. Kayaknya di sini alun-alun memang suka ada beringinnya hahaha.

        Ah iya, setuju, Egg tart enak tuh kalau ditemenin ma kopi 😀

      2. Ternyata lucu ya kalimat itu, hehe. Iyaaa andai di situ ada kopi panas :((

  5. ideannisa · · Balas

    Salah satu destinasi yang pengen aku kunjungi juga. Mudah-mudahan kesampaian. Btw, thanks kak ceritanya jadi ada referensi nanti kemana aja kalau ke Macau. hehehe.

    1. Aku dukung, kak! Terima kasih sudah mampir. Senang bisa membantu 🙂

  6. Jadi Ruins of St Paul’s itu sebetulnya apa? Gw ngeliatnya kayak semacam bangunan runtuh yang jadi kelihatan artistik, bener nggak sih?
    Pegel sekali jalan ke sana dari Cafe Margaret yang jualan eggtart itu. Gw baca cerita lu sambil nyusurin Google Maps di peta gw sendiri, jadi ikutan pegel, hihihihi

    1. Iya betul, kak. Ruins of St. Paul’s adalah sisa-sisa St. Paul Church yang tinggal fasad (bagian depan) aja, lalu jadi obyek favorit mainstream di Macau. Maap lupa menjelaskan soal ini.

      Pegel tapi menyenangkaaannn 😀

  7. ternyata di macau ngak semahal yang saya kira. heheh. diliat dari pengeluarannya selama beberapa episode ini ngak wah amat. bayangan saya yah macau kayak singapore gitu

    1. Biaya terbesar di Macau adalah hotel, bang. Buat obyek wisata sih gratis-gratis. Di sana bakal banyak jalan kaki karena lokasinya berdekatan. Sesekali naik bus, ongkosnya 6 MOP. Malah ada bus gratis buat ke kasino. Makan berat standarnya 50 MOP.

  8. […] Baca cerita sebelumnya: Senado Square, Ruins of St. Paul’s, dan Makan Egg Tart di Margaret’s Cafe e Nata […]

  9. dgoreinnamah · · Balas

    Kayaknga kalau mau ke tempat wisata yang hits memang harus datang jam 06:00 deh biar nggak cendol.

    Ahaha, kamu orangnya pemilih juga ya kayak saya. Saya juga biasa celingak celinguk dulu ngeliatin siapa orang yang kira-kira bisa dimintain tolong untuk foto. Kalau hasilnya jelek, kadang nggak enak untuk minta ulang. Ahahaha.

    Ke Macau nggak cobain judinya nih? LOL

    1. Oh iya, gue pemilih, nggak serta merta sembarang minta tolong orang buat fotoin meski sebelumnya dia minta tolong foto duluan 😀

      Gak sempet cobain judi bang, terlalu mepet.

  10. Wah asyik sekali menikmati cerita jalan2nya di sini.. Serasa ikut jalan2 ke sana langsung deh..

  11. Asyiiik..sekali baca cerita jalan2 di sini .serasa ikut jalan2 langsung ke sana..hehe..

  12. Travel Galau · · Balas

    Macau…. Pernah masuk di wishlist aku beberapa tahun lalu. Tapi kemudian aku tunda ceritanya biar fokus ngegalau main di Indonesia dulu. Tapi ngeliat tiket pesawat dalam negeri lagi horor gini, kayanya udah saatnya mengejar mimpi ke Macau kembali. Biar bisa menikmati egg tart di Macau.

    1. Kalo aku sih traveling gak pandang dalam atau luar negeri, kak. Mana yang lagi dipengeni, mana yang lagi murah, itu yang diwujudkan.

  13. Keseleo lidah bca judulnha, egg. .. Nya bikin ngiler.

    1. Hehe iya, nama cafe-nya belibet. Tapi harus biar banyak yg nyantol 😁

  14. Internet saat traveling gini emang penting banget ya… biar bisa sekalian update medsos.. sambil kerja online juga asik2 aja ya.. Ngiler jugaliat eggtart nya.. haha harganya lumayan juga ya.. kalo di Indo 20000 bisa dapet bbrp buah ya.. hehe

    1. Dan paling penting buat Google Maps, hehe.

      Iya, biaya hidup di sana mahal. Kalo di sini Rp20.000 udah dapet nasi padang pake 2 lauk 😂😂😂

  15. Nurul Sufitri · · Balas

    Wah, ternyata ukuran egg tart ga gede ya. Tapi mayan juga satunya 20K hihihihi. Iya, sayang ga ada kopi panas. 🙂 Atau minimal minum susu anget aja kali ya, Mas Matius hehehe. Biasanya mas kan suka halan2 sendirian ya kadang sampai malam. Tumben di sini ga. Saking padat jadwal perjalanan ya 😀

    1. Iya kecil, mbak. Kayak pia atau kue sus. Ada es susu kalo gak salah di situ.

      Jalan-jalan sampai malam kok, ini ceritanya masih bersambung hehe

  16. ngiringmelalifoto · · Balas

    Asik banget ih tripnya. Fotonya cakep-cakep banget
    Kerenlah bisa bangun pagi dengan semangat ya hahaha
    Btw itu petugasnya keren amat, transaksi bisa ekspres gitu
    Saking tiap harinya melakukan hal yang sama kali ya

    1. Trimakasih, kak Putu. Iya karena semangat jadi bisa bangun pagi hehe.

  17. Asik banget ih tripnya. Fotonya cakep-cakep banget
    Kerenlah bisa bangun pagi dengan semangat ya hahaha
    Btw itu petugasnya keren amat, transaksi bisa ekspres gitu
    Saking tiap harinya melakukan hal yang sama kali ya

  18. Pemandangannya indah pisan, bangunan bersejarahnya terawat, betah ya di sana, egg tartnya begitu menggiurkan, semoga bisa kesana suatu saat..ditunggu lanjutannya yaa birthday boy 🙂

    1. Iyaaa aku suka sama bangunan-bangunannya. Cocok buat pemuja arsitektur kayak aku hehe.

      Amin, segera diwujudkan mbak

  19. Jalan-jalan ke macau dengan cicit makanannya asik dah.. Apalagi sensasi kalau pas ngantri itu sesuatu banget

  20. Rach Alida Bahaweres · · Balas

    Kadang aku ya ikutan ngantri pas datang ke satu tempat untuk merasakan yang khas. Asal jangan keterlaluan aja ngantrinya. Hhehehe 🙂

    Bagus ya bangunan-bangunan kotanya masih terjaga dengan baik walaupun udah tua 🙂

    1. Yup, asal jangan keterlaluan dan jangan pas kelaperan setengah mati 😀

  21. Seneng baca blog ini. Nostalgia. Pernah ke sini, ber-11 cewe²…Mama² tepatnya, thn 2010. Blm ada WA, adanya sms, tapi udh ada FB (penting!). Jadi pengen nih napak-tilas. Walking tournya emang keren yah…
    Dulu blm ada Google Map, tapi ada Google Earth…mayan sih…mirip. Kayaknya HP juga blm android deh.

    Eegtaartnya engga ada yg ngalahin deh. Renyah, isinya tebel. Beli di Bali eegtaart juga, jauh uy…Hehe…

    1. Wah, 2010 itu seinget saya masih jaman Blackberry, mbak. Mungkin Android udah masuk tapi belum populer. Tahun itu saya belum traveling, masih jadi mahasiswa tahun kedua 😀

  22. Check point kedua kayaknya harus disambangi nih kalau nanti ke Macau, penasaran sama rasanya dan antriannya. Kalau aku biasanya pas liburan sama teman-teman baru bisa jalan-jalan untuk hunting foto dan kuliner. Kadang kalau sama keluarga suka beda haluan.

    1. Sekalian beli yang banyak dan cobain kue lainny, kak 😉

  23. Eh parah, gw ngiler dong liat eggtart nya malem2 gini -___-”
    Liat teksturnya kayanya so yummy banget sih :((
    Maklum penikmat kue dengan pinggiran krispi tapi dalemnya lumer gk bisa nahan kalo liat foto makanan kaya gitu. Apa lagi Margaret’s Cafe e Nata Macau nya dong minimalis tapi kaya feel home gitu gk sih.
    Dan cerita lu bang, kaya modal buat gw kalo mau jalan-jalan ke Macau.

    1. Waaahhh lo cocok banget sama egg tart kalo gitu, Put. Pas sama deskripsi lo.

      Ehehe makasih ya, senang bisa membantu 🙂

  24. Aku mah kenapa fokus banget ya sama bahasan egg tart. Pokoknya mendadak ngences deh apalagi egg tart buatan sana. Entah ngidam apa haha.

  25. Ngantri di Margaret’s cafe pun harus pakai strategi ya, biar gak keduluan sm pengunjung lain,, hhee
    Baru sekitar 2 minggu lalu aku anteng mantengin storynya moonella pas di HK, suka banget sm St. Pauls designnya elegant dan megah, kalao mau agak sepi harus pagi2 juga ya kesananya, siangan dikit udh cendol aja kayak di foto.
    Tripod Bang dont forget bsok pas jalan lagi, biar foto gak bingung take stock foto ganteng.

    1. Iya tripod sengaja ditinggal biar nggak overweight :((
      Emang harus pagi-pagi banget sih biar nggak cendol

  26. Egg tart Macau emang terkenal. Saat saya masih di Hong Kong setiap ada yang ke Macau selalu saling bawain egg tart. Lagian selain enak itu sudah jelas halal hehehe

    1. Pokoknya egg tart Macau mah wajib ya, meski cuma sepotong hehe

  27. Serasa kayak balik lagi jaman film Jacky Chan ya bro haha

  28. […] Baca ceritanya di: Senado Square, Ruins of St. Paul’s, dan Makan Egg Tart di Margaret’s Cafe e Nata […]

  29. Seru kayanya traveling sendirian gini yaa.. Apalagi Macau juga punya banyak destinasi wisata yang menarik gini. Tfs ya mas

    1. Yup, eksplor Macau sendirian juga seru kok. Senang bisa membantu.

  30. […] Baca ceritanya di: Senado Square, Ruins of St. Paul’s, dan Makan Egg Tart di Margaret’s Cafe e Nata Macau […]

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Jilbab Backpacker

Travel-Architecture-Halal Lifestyle Blog

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

Ferdi Cullen-The Microtraveller

A microtraveller is a journey local or overseas that is short, flexible, simple, cheap – yet still fun, exciting, challenging, refreshing and rewarding

Pink Traveler

Kemasi ranselmu dan pergilah melihat dunia

#FDCG

SEBUAH CATATAN TENGIK ANAK TEKNIK

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Andromeda Noholo

Yang terjadi di Andromeda

fainun.com

Family Blogger Indonesia

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

CERITA LIANA

Travel More, Share More

Casa Fasa

Travel & Life

Teppy and Her Other Sides

Eat well, live well, and be merry!

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

Jalancerita

Tiap perjalanan punya cerita

Tukang Ngider

Ngider terus, terus ngider. KUY, DER!

Liza-Fathia.Com

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

Eka Hei

Selalu ada cerita dalam setiap langkah

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

Papan Pelangi

tempat berjalan dan bercerita

Peregrination

Jalan-Jalan | Kuliner | Review

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

The Spiffy Traveler

Exploring Endless Paradise

Efenerr

mari berjalan, kawan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

virustraveling.com

Pack your dream and GO!!

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Travel Blog Evi Indrawanto

Cerita Perjalanan Wisata dan Budaya

Plus Ultra

Stories and photographs from places “further beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Fahmi Anhar

Travelogue

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Sharon Loh

Food dan Travel Blogger Indonesia

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Usemayjourney

Melihat, Mendengar, Memaknai

Winny Marlina

Winny Marlina– whatever you or dream can do, do it! travel

%d blogger menyukai ini: