Cek Dulu, 3 Hal di Singapura Berubah Setelah Pandemi

Keliatan nggak keriuhan manusia-manusia itu?

Ada yang berbeda dalam perjalanan ke Singapura bulan Juli 2022 lalu. Singapura setelah pandemi bukan Singapura yang dulu lagi. Perbedaan ini nggak hanya perkara menggunakan masker—rasanya sebagian warga Singapura malah sudah bebas beraktivitas tanpa masker—namun mencakup beberapa hal lainnya. 

Siang itu, gue dengan percaya diri membimbing Ara menuju Stasiun MRT Changi Airport di Terminal 3 setelah kami mendarat bersama maskapai AirAsia di Terminal 1, bertolak dari Jakarta. Sebelum pandemi, AirAsia beroperasi di Terminal 4. Tapi kayaknya saat itu T4 belum aktif kembali jadi kami mendarat di T1. Entahlah. 

Baca juga: Review Terminal 4 Changi Singapura

Gue melangkah santai menghampiri mesin tiket seperti yang sudah biasa gue lakukan, namun lalu tertegun begitu tiba di hadapannya. 

Ini dia hal pertama di Singapura yang berubah setelah pandemi. 


1 – Mesin Tiket MRT Tak Lagi Digunakan

Untuk mengurangi dan mengontrol penularan COVID-19, pemerintah Singapura menghimbau para penglaju untuk menggunakan metode pembayaran cashless seperti stored value card. Slot uang di mesin-mesin tiket sudah disegel, layarnya pun mati diganti dengan papan himbauan. Gue nggak tau apakah ini terjadi di semua stasiun, tapi lebih baik berjaga-jaga dan mencari aman. 

Gue lalu menghampiri loket untuk membeli tiket, yang kemudian diarahkan petugasnya untuk membeli kartu NETS Flashpay. Wah, kartu baru kayaknya, gue belum pernah lihat, pikir gue waktu itu. 

Satu buah kartu harganya 10 SGD dengan deposit sejumlah 5 SGD saja. 

NETS Flashpay Card, kartu serbaguna di Singapura

Buat kami yang cuma numpang bermalam di Singapura, ini ngeselin hahaha. Ngeselin, karena harus merogoh sekian puluh SGD cuma buat biaya pembelian kartu. Isi ulang saldonya pun minimal 10 SGD. Alhasil di akhir perjalanan, saldo kami di dalam kartu masih nyisa banyak 😂

Tanggung memang. Kalo nggak beli, susah ke mana-mana. Tapi kalo beli, durasi trip kami terlalu sebentar. 

Isi saldo atau top-up bisa dilakukan di stasiun-stasiun MRT. 

NETS Flashpay Card ini untungnya nggak cuma bisa buat transportasi umum (MRT, LRT, bus, tol) tapi juga bisa buat bayar makan dan belanja di beberapa merchant. Entah di mana aja tempat makan yang menerima pembayaran dengan NETS Flashpay Card, tapi yang jelas bisa buat belanja di 7-Eleven. Malam hari sebelum pagi-pagi berangkat ke Ho Chi Minh City, kami kuras sisa saldo di salah satu kartu kami buat jajan makanan dan minuman di 7-Eleven, hehe. 

Muka lelah habis mendarat di Singapura setelah semalam keretaan dari Jogja

Dulu sih gue biasa pake Singapore Tourist Pass (STP) atau EZ-Link. Rencananya kemarin juga gitu. Beli tiket sekali jalan sampai kota, terus beli kartu STP di Stasiun MRT Bugis. Nah, nggak tau deh sekarang apakah 2 kartu itu masih ada. 


2 – Paspor Nggak Dicap

Breaking news buat kamu yang perdana ke luar negeri dan memilih Singapura sebagai destinasi. Kalau kamu udah seneng membayangkan paspor tercinta bakal dicap petugas imigrasi Changi, buang-buang deh impian kecilmu. Paspormu nggak akan dicap! Ara juga gondhok gegara ini. 

Baca cerita kami mengurus persyaratan perjalanan ke Singapura dengan klik link ini.

Setelah kamu mengisi SG Arrival Card secara online, kamu akan menerima email semacam surat izin untuk memasuki Singapura selama 14 hari. Iya, untuk sementara 14 hari aja, nggak 30 hari seperti biasanya. 

Terus di konter imigrasi Bandara Changi diapain dong?

Petugas mencocokkan data di paspor dengan data yang sudah kamu submit di SG Arrival Card, scan 2 ibu jari, dan voila! Kamu sudah clear immigration, hahaha. Kalau mau sedikit mengobati, print out SG Arrival Card kamu terus ditempel di halaman paspor 😝

Baru saja mendarat di Terminal 1 Changi Airport [dokumentasi Ara]

Btw, hal serupa juga gue alami pada masa sebelum pandemi di Macau dan Hong Kong. Sebagai Special Administrative Region (SAR) dari Republik Rakyat Tiongkok, pemegang paspor Republik Indonesia bebas visa untuk memasuki wilayahnya, tapi nggak ada cap-cap paspor hehe. Sebagai gantinya, petugas akan memberikan secarik kertas kecil. Klik di sini buat baca ceritanya.


3 – Nggak Berlelet-lelet Pasca Mendarat

Gue baru aja keluar dari toilet Bandara Changi ketika, dengan nada agak panik, Ara meminta gue segera memroses diri kami ke security point. “Udah diburu-buru petugasnya, bilang ‘Lekas, lekas’ gitu!” katanya. 

Penerbangan kami dari Jakarta ke Singapura dengan AirAsia

Kayaknya dulu nggak gini-gini amat. Usai mendarat dan memasuki bangunan terminal, gue selalu punya cukup waktu untuk bersantai-santai di toilet, mengatur mifi atau SIM card lokal, atau menata ulang isi ransel. Mungkin karena masih pandemi, pihak Bandara Changi ingin setiap penumpang yang masuk lebih terkontrol alurnya. Jadinya penumpang-penumpang dalam range jadwal kedatangan yang (hampir) sama diminta menuntaskan proses imigrasi dalam range waktu yang sama juga. 

Saat proses pemeriksaan dan pemindaian pun kami melalui scanning di dalam tabung kaca raksasa yang memindai sekujur tubuh kami. 

Pengalaman kamu gimana?

Btw, dalam rangkaian perjalanan 3 negara ini, gue menyewa modem wifi dari JavaMifi yang review-nya bisa dibaca di sini.


Kayaknya itu aja sih 3 perbedaan traveling ke Singapura sebelum dan sesudah pandemi. Pas bertolak ke Ho Chi Minh City dengan maskapai Scoot, kami menjalani proses check-in dan imigrasi melalui mesin mandiri, tapi ini kayaknya memang Changi-nya aja yang udah canggih sih. 

Apakah tiap memasuki fasilitas publik harus scan barcode seperti di aplikasi PeduliLindungi? Enggak. Kami masuk-masuk aja. Beberapa warga bahkan udah nggak pake masker. Merlion Park aja udah CENDOL PARAAAHHH kayak bukan lagi pandemi. 

Ara dan Nugi bahagia di Singapura

Aplikasi TraceTogether udah kami install, karena memang tertera di persyaratan masuk Singapura di website resmi pemerintah. Tapi cuma kami aktifkan aja setibanya di Bandara Changi. Setelah itu, nggak ada lagi riwayat pemakaian TraceTogether. Nah, dari 3 perubahan di atas, mana yang paling jadi breaking news buat kamu?

14 komentar

  1. Aku kmaren pas balik dari Indonesia (bulan Mei) transit lama di Singapore, tapi malas mau keluar, karena waktu itu masih banyak birokrasinya keknya.

    Btw, soal kartu MRT; dulu perasaan bisa bayar tap credit card langsung ke mesinnya ya? Memang sekarang kudu beli kartu khusus?

    1. Wah nggak tau kalo credit card mas, nggak pernah pake cc secara offline wkwk

      1. Saya mbak, bukan mas. Tolong ya hahaha.

        Ini artikel dari BCA (bukan pesan sponsor) kalau kartunya contactless, bisa dipake.

      2. ah iya maaaaaaf, duh lupa terus kalo si kutubuku ini cewek hahaha. Oh, itu metode baru bukan yang contactless? Pake Jenius juga katanya udah bisa dari sejak dia muncul.

      3. Iya maksudku contactless. Kartu apapun kan. Soalnya aku terakhir di Singapore (sebelum 2020) kemana2 pake contactless cc naik MRT karena males beli kartu yg ada depositnya

  2. sy ke spore thn 2019 pas balik gak dicap juga paspornya udah pake machine dan memang agak sedih wkwkw, gak ada tandanya gitu ya

  3. Nurul Sufitri · · Balas

    Halo….. Ara dan Nugi eeaaa..pasangan romantis yang imut2 dan lucu, demen jalan2 terus. Oh, ternyata beberapa hal itu ya perubahan hal di Singapura pasca pandemi. Btw, untung kartu tersebut bisa dipakai jajan dan belanja, dikuras saldonya biar ga rugi ya di Seven Eleven wakakakaka. Wah, jadi kurang seru ya ga pake cap di paspor. Masa print scan 2 ibu jari hihihi gemesin nih. Kalau disuruh lekas2 jadi ga nikmati leluasa dong ya duuuh 😀

    1. Halo, mbak Nurul. Iya lumayan banget buat beli jajan di Sevel, cukup banget lah beli minum dan cemilan.
      Makasih udah mampir ya, mbak Nurul.

  4. Yg kartu justru aku lebih suka yg begitu mas 😄. Sama kayak Jepang, kartunya udh all in one. Bisa utk semua. Malah kadang aku LGS isi banyak, supaya ga sering top up. Trus pakein aja di mana2. Masih ada sisa pun, biasanya kami habiskan di bandara 🤣.

    Yg jengkelin pasport ga dicap itu sih. Aku paling suka ngeliat chap masing2 negara. Tapi ide mu boleh juga, ntr aku print arrival card nya, aku tempelin di pasport, sama kayak yg Macau 😄😄

    1. Jadi saldo di dalamnya lebih serbaguna ya, nggak cuma buat transport doang.
      Aku curiga ke depannya imigrasi sedunia akan mengurangi cap-capan gini.

  5. baideweii, aku belum ucapin selamat lho hehehe
    congrats ara dan nugie untuk weddingnya ya
    kayaknya semua breaking news ini bikin aku “kaget”, sampe sekarang aku masih nyimpen Ez-link dengan harapan ntar kalau balik lagi bisa dipakai lagi.
    huuu ternyata lumayan banyak perubahan aturan ya sekarang

  6. Wah, kayaknya harus cari informasi terbaru lagi nih kalo pengen keluar negeri. Gara2 pandemi itu emang banyak hal berbeda pas traveling.

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

Teppy and Her Other Sides

Eat well, live well, and be merry!

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

Jalancerita

Tiap Perjalanan Punya Cerita

LIZA FATHIA

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

PAPANPELANGI.ID

Berjalan, Bercerita; semoga kita terbiasa belajar dari perjalanan

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

Efenerr

mari berjalan, kawan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Eviindrawanto.Com

Cerita Perjalanan Wisata dan Budaya

Plus Ultra

Stories and photographs from places “further beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Winny Marlina

Winny Marlina - Whatever you or dream can do, do it! lets travel

Olive's Journey

What I See, Eat, & Read

tindak tanduk arsitek

Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.

dananwahyu.com

Menyatukan Jarak dan Waktu

%d blogger menyukai ini: